Dunia ini seringkali menyuguhkan kecepatan yang melenakan, membuat kita abai pada esensi. Namun, dalam hiruk-pikuknya, Allah subhanahu wa ta’ala senantiasa menawarkan oase ketenangan dan keberkahan melalui ibadah. Di antara bentangan ibadah yang luhur, shalat-shalat sunnah tampil sebagai pelengkap yang menyempurnakan, jembatan yang menghubungkan hamba dengan Tuhannya di luar kewajiban fardhu. Lebih dari sekadar gerakan, di dalamnya terkandung rahasia ketenangan dan kekuatan spiritual yang luar biasa. Tahukah kita, ada beberapa surah istimewa yang dianjurkan untuk dibaca dalam shalat-shalat sunnah tertentu, yang menjadikan ibadah kita kian berbobot dan bermakna?

Kajian mendalam tentang praktik Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dan para ulama salaf mengajarkan kepada kita tentang kekayaan sunnah yang terkadang luput dari perhatian. Salah satu aspek yang menawan adalah pemilihan surah-surah tertentu yang dibaca setelah Al-Fatihah dalam beberapa shalat sunnah. Ini bukan tanpa hikmah, melainkan sebuah tuntunan yang sarat makna, mengukir kekhusyukan dan menggali keberkahan yang lebih dalam. Mari kita selami lebih jauh tentang Surah Pilihan dalam Shalat Sunnah Fajar, Maghrib, Witir, Tawaf, dan Istikharah.

Menguatkan Awal Hari dengan Sunnah Fajar

Shalat sunnah Fajar, atau yang dikenal juga dengan sunnah Qabliyah Subuh, adalah dua rakaat ringan namun memiliki keutamaan yang agung, bahkan lebih baik dari dunia dan seisinya. Dalam dua rakaat ini, kita diajarkan untuk membaca surah-surah yang menguatkan tauhid dan penyerahan diri kita kepada Allah. Setelah membaca surah Al-Fatihah pada rakaat pertama, kita dianjurkan membaca surah Al-Kafirun, dan pada rakaat kedua, surah Al-Ikhlas. Kedua surah ini adalah deklarasi tauhid yang fundamental, menegaskan keesaan Allah dan penolakan terhadap segala bentuk kesyirikan.

قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ * لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ

Artinya: “Katakanlah (Muhammad), ‘Wahai orang-orang kafir! Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah.'” (QS. Al-Kafirun: 1-2)

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ * اللَّهُ الصَّمَدُ * لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ * وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُوًا أَحَدٌ

Artinya: “Katakanlah (Muhammad), ‘Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah tempat meminta segala sesuatu. (Allah) tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan Dia.'” (QS. Al-Ikhlas: 1-4)

Atau, sebagai alternatif yang juga diajarkan, pada rakaat pertama kita dapat membaca ayat dari surah Al-Baqarah: 136, yaitu (قولوا آمنا بالله وما أنزل إلينا الآية), dan pada rakaat kedua membaca ayat dari surah Ali ‘Imran: 64, yaitu (قل يا أهل الكتاب تعالوا إلى كلمة سواء بيننا وبينكم). Kedua pilihan ini sama-sama menyiratkan penegasan iman dan ajakan kepada kebenaran, membingkai pagi kita dengan fondasi akidah yang kokoh.

Menutup Hari dengan Keberkahan Sunnah Maghrib

Seiring senja merangkak, setelah menunaikan shalat fardhu Maghrib, kita dianjurkan untuk melanjutkan dengan dua rakaat shalat sunnah Maghrib. Dalam shalat sunnah ini, pola pembacaan surah kembali dipertemukan dengan Al-Kafirun pada rakaat pertama dan Al-Ikhlas pada rakaat kedua. Pemilihan ini tidak hanya sekadar mengulang, melainkan menegaskan kembali tauhid yang telah kita ikrarkan sepanjang hari. Ia menjadi pengingat dan penutup yang indah, memastikan hati kita senantiasa teguh dalam keyakinan, sebelum kita beranjak menikmati istirahat malam atau melanjutkan aktivitas lainnya.

Kesucian dalam Tawaf dan Petunjuk dalam Istikharah

Ibadah umrah dan haji merupakan impian setiap muslim. Salah satu rukunnya adalah thawaf mengelilingi Ka’bah. Setelah menyelesaikan thawaf, kita disunnahkan untuk menunaikan dua rakaat shalat di belakang Maqam Ibrahim. Dalam dua rakaat shalat thawaf ini, kembali kita mendapati anjuran untuk membaca surah Al-Kafirun pada rakaat pertama dan Al-Ikhlas pada rakaat kedua. Ini adalah simbolisasi kesucian niat, pemurnian tauhid di pusat peribadahan umat Islam, menegaskan bahwa seluruh gerak langkah kita di Tanah Suci hanya untuk-Nya semata.

Demikian pula halnya dengan shalat Istikharah. Ketika dihadapkan pada persimpangan hidup yang membingungkan, kita dianjurkan untuk memohon petunjuk kepada Allah melalui shalat Istikharah. Dalam dua rakaat ini, kembali kita dianjurkan membaca Al-Kafirun dan Al-Ikhlas. Ini adalah bentuk penyerahan total, bahwa dalam segala keputusan, kita hanya bersandar pada kehendak Allah, Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Membaca kedua surah ini seolah kita berkata, “Ya Allah, Engkau adalah satu-satunya tujuan dan penolongku, jauhkanlah aku dari keraguan dan berikanlah petunjuk-Mu yang murni.” Inilah implementasi praktis dari Surah Pilihan dalam Shalat Sunnah Fajar, Maghrib, Witir, Tawaf, dan Istikharah.

Kesempurnaan Witir dengan Surah-Surah Pilihan

Shalat Witir adalah penutup shalat malam yang sangat dianjurkan. Bagi yang menunaikan Witir tiga rakaat, ada tuntunan yang spesifik dalam pembacaan surah-surahnya. Pada rakaat pertama, kita dianjurkan membaca surah Al-A’la, yang memuji Allah Yang Maha Tinggi. Lalu, pada rakaat kedua, kita membaca surah Al-Kafirun, sebagai penegasan tauhid. Dan pada rakaat ketiga, kita membaca surah Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas. Kombinasi ini sangat indah, memulai dengan pujian, melanjutkan dengan penegasan akidah, dan menutup dengan permohonan perlindungan dari segala keburukan. Sebuah penutup ibadah malam yang sempurna, membentengi diri dengan zikir dan perlindungan ilahi.

Hikmah di Balik Pemilihan Surah

Mengapa surah-surah ini yang secara khusus dianjurkan? Tentu ada hikmah yang mendalam. Surah Al-Kafirun dan Al-Ikhlas, dengan tegas menyatakan tauhid dan berlepas diri dari kesyirikan, membentuk benteng akidah dalam hati seorang muslim. Keduanya adalah fondasi iman yang esensial. Dengan mengulanginya dalam berbagai shalat sunnah, kita seolah mengokohkan kembali janji setia kita kepada Allah, membersihkan hati dari noda-noda kesyirikan dan keraguan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, menjelaskan keutamaan Al-Ikhlas:

والذي نفسي بيده إنها لتعدل ثلث القرآن

Artinya: “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh surah ini (Al-Ikhlas) sebanding dengan sepertiga Al-Qur’an.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dan tentang Al-Kafirun:

فإنها براءة من الشرك

Artinya: “Sesungguhnya ia (Al-Kafirun) adalah pembebasan dari kesyirikan.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

Ini menunjukkan betapa agungnya kandungan makna kedua surah tersebut. Sementara Al-A’la mengingatkan kita akan keagungan penciptaan dan perintah untuk bertasbih, dan Al-Mu’awwidhatain (Al-Falaq dan An-Nas) adalah permohonan perlindungan komprehensif dari segala keburukan, baik yang tampak maupun tersembunyi. Dengan memahami Surah Pilihan dalam Shalat Sunnah Fajar, Maghrib, Witir, Tawaf, dan Istikharah, kita tidak hanya sekadar mengikuti tuntunan, melainkan meresapi setiap lafadznya sebagai nutrisi spiritual.

Merajut Kehidupan Penuh Makna

Memilih surah-surah ini dalam shalat sunnah bukanlah tindakan semata-mata tanpa tujuan. Ia adalah bagian dari upaya kita untuk merajut kehidupan yang lebih bermakna, penuh kesadaran akan kehadiran Allah. Setiap rakaat yang kita laksanakan, setiap ayat yang kita baca, adalah dialog pribadi yang mendalam dengan Sang Pencipta. Mengimplementasikan tuntunan ini berarti kita secara aktif mengundang keberkahan dan petunjuk dalam setiap aspek kehidupan, dari awal hari hingga akhir malam, dari perjalanan spiritual hingga keputusan-keputusan penting.

Memahami dan mengamalkan Surah Pilihan dalam Shalat Sunnah Fajar, Maghrib, Witir, Tawaf, dan Istikharah adalah langkah kecil yang memberikan dampak besar bagi kualitas ibadah dan spiritualitas kita. Mari kita hidupkan sunnah ini, mengisi setiap shalat sunnah dengan kekhusyukan dan pemahaman yang lebih mendalam, sehingga setiap sujud dan rukuk kita menjadi penegasan akan ketaatan dan cinta kita kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Semoga Allah senantiasa membimbing langkah-langkah kita.

Jika Anda merasakan panggilan untuk memperdalam hubungan Anda dengan Al-Qur’an, tidak hanya sekadar membaca tetapi menghafal dan meresapi setiap maknanya, Qur’an Learning Center Yogyakarta menawarkan program Executive Tahfizh yang didesain khusus untuk Anda. Sebuah perjalanan spiritual yang akan mengubah pola pikir dan tindakan Anda, dikuatkan dengan dasar teori dan aplikasi praktis Al-Qur’an. Bergabunglah bersama kami untuk meraih keberkahan dan kebahagiaan hakiki.

Daftar Referensi

  • Q.S. Al-Kafirun: 1-2
  • Q.S. Al-Ikhlas: 1-4
  • Q.S. Al-Baqarah: 136
  • Q.S. Ali ‘Imran: 64
  • H.R. Bukhari No. 5015 dan Muslim No. 811 (tentang keutamaan Al-Ikhlas)
  • H.R. Abu Dawud No. 1475 dan Tirmidzi No. 2893 (tentang keutamaan Al-Kafirun)

Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta

Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
kunjungi halaman ini
WhatsApp +6281224003100

Flyer Program Hafal Quran Executive Tahfizh di Yogyakarta
author avatar
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.,