Menghitung Kekayaan yang Tersembunyi dalam Nafas Kita

Pernahkah Anda membayangkan jika setiap hirupan oksigen yang masuk ke paru-paru harus dibayar dengan tarif rumah sakit? Atau jika cahaya matahari yang menyinari bumi setiap pagi dikenakan biaya langganan oleh penguasa alam? Seringkali manusia terjebak dalam perlombaan mengejar angka-angka di buku tabungan, hingga mereka lupa bahwa aset paling berharga dalam hidup justru diberikan secara cuma-cuma oleh Sang Pencipta. Kita sering merasa miskin karena belum memiliki rumah mewah, padahal kita sedang menggenggam triliunan nikmat dalam bentuk kesehatan, panca indera, dan waktu yang tidak akan pernah bisa dibeli kembali meski dengan seluruh emas di dunia.

Kecenderungan manusia adalah baru menyadari nilai sebuah nikmat ketika nikmat tersebut dicabut. Kita baru menghargai kesehatan saat terbaring lemah, menghargai waktu saat ajal mendekat, dan menghargai kedamaian saat konflik melanda. Padahal, nikmat Allah yang gratis ini adalah bukti cinta yang paling nyata. Allah SWT tidak menuntut pembayaran berupa materi, melainkan menuntut pengakuan dan rasa syukur dari hati yang tulus. Jika kita mau membuka mata batin, kita akan menyadari bahwa kita sebenarnya adalah miliarder spiritual yang bergelimang karunia tanpa batas.

Daftar Karunia Tak Terbatas yang Sering Terlupakan

Mari kita inventarisir sebagian kecil dari karunia-Nya yang tak ternilai harganya. Mulai dari oksigen yang melimpah ruah, cahaya matahari yang menghangatkan, waktu yang terus berjalan, hingga mekanisme tubuh yang bekerja otomatis seperti detak jantung dan kedipan mata. Jangan lupakan juga nikmat rasa aman, kemampuan untuk mengecap rasa makanan, indahnya pemandangan alam, hembusan angin, air hujan yang menyuburkan, hingga kemampuan otak untuk berpikir dan mengingat. Semuanya adalah fasilitas VIP dari Allah SWT untuk hamba-Nya.

وَإِن تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا ۗ إِنَّ اللَّهَ لَغَفُورٌ رَّحِيمٌ

“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nahl: 18)

Ayat di atas menegaskan bahwa kapasitas matematika manusia tidak akan pernah sanggup mengkalkulasi pentingnya menghargai waktu dan nikmat lainnya. Di antara sekian banyak nikmat tersebut, yang paling tinggi derajatnya adalah hidayah. Hidayah adalah permata yang tidak diberikan kepada semua orang, melainkan hanya kepada hati yang rindu akan kebenaran. Bagi mereka yang aktif di Executive Tahfizh, mereka memahami bahwa kemampuan untuk mencintai Al-Quran adalah bentuk hidayah yang jauh lebih mahal daripada harta karun mana pun.

Kisah Syukur Ulama: Satu Suapan yang Bernilai Dunia

Seorang ulama besar bernama Ibnu as-Sammak pernah masuk ke ruangan Khalifah Harun ar-Rasyid. Saat sang Khalifah hendak meminum segelas air, Ibnu as-Sammak bertanya, “Wahai Amirul Mukminin, seandainya engkau sangat haus dan dilarang meminum air ini kecuali dengan menyerahkan separuh kerajaanmu, apakah engkau akan melakukannya?” Khalifah menjawab, “Ya.” Setelah minum, ulama itu bertanya lagi, “Seandainya air itu tertahan di tubuhmu dan tidak bisa keluar kecuali dengan separuh kerajaanmu yang tersisa, apakah engkau akan menyerahkannya?” Khalifah kembali menjawab, “Ya.”

Ibnu as-Sammak kemudian berkata, “Maka janganlah engkau tertipu oleh kerajaan yang harganya bahkan tidak sebanding dengan segelas air.” Kisah ini menjadi hikmah ketaatan yang luar biasa bagi kita semua. Jika buang air kecil saja memiliki nilai separuh kerajaan, betapa kayanya kita yang setiap hari bisa melakukannya dengan lancar tanpa bantuan alat medis. Inilah hakikat rezeki dari Allah yang seringkali luput dari doa-doa kita yang penuh ambisi duniawi.

Hidayah: Karunia Gratis yang Menyelamatkan Akhirat

Jika oksigen menjamin kehidupan biologis, maka hidayah menjamin kehidupan abadi. Hidayah tidak bisa diwariskan, tidak bisa dibeli dengan ijazah setinggi apa pun, dan tidak bisa dipaksakan. Ia adalah murni hak prerogatif Allah SWT. Betapa banyak orang yang cerdas secara intelektual namun buta secara spiritual. Maka, ketika kita masih memiliki keinginan untuk sujud, masih merasa bergetar saat mendengar lantunan ayat suci, itu adalah bukti bahwa hidayah adalah karunia terbesar yang kita miliki.

Banyak orang rela menghabiskan miliaran rupiah untuk operasi kecantikan demi kepuasan sesaat, namun mengabaikan kesehatan ruhani yang gratis didapatkan melalui dzikir dan tafakkur. Padahal, kecantikan fisik akan sirna dimakan tanah, sedangkan kecantikan ruhani akan dibawa menghadap Ilahi. Menyadari bahwa hidayah adalah gratis bukan berarti kita boleh bersantai, justru kita harus menjaganya dengan amal shaleh agar nikmat tersebut tidak dicabut kembali.

Cara Bersyukur: Menggunakan Nikmat untuk Sang Pemberi

Bagaimana cara bersyukur kepada Allah atas semua karunia gratis ini? Syukur bukan sekadar ucapan “Alhamdulillah” di lisan, melainkan menggunakan seluruh nikmat tersebut sesuai dengan keinginan Sang Pemberi. Syukurnya mata adalah dengan melihat yang halal, syukurnya telinga adalah dengan mendengar ilmu, dan syukurnya waktu adalah dengan mengisinya dengan ketaatan. Menggunakan nikmat Allah untuk bermaksiat kepada-Nya adalah bentuk kekufuran yang paling nyata.

Saat kita diberikan nafas gratis, gunakanlah untuk beristighfar. Saat diberikan kesehatan otot, gunakanlah untuk melangkah ke masjid. Saat diberikan kecerdasan, gunakanlah untuk memahami syariat-Nya. Orang yang pandai bersyukur akan mendapati bahwa hidupnya terasa lapang, meskipun ia tidak memiliki kemewahan yang dielu-elukan orang lain. Ketenangan hati adalah “bonus” instan yang Allah berikan kepada hamba-hamba-Nya yang pandai berterima kasih.

Paradoks Kehidupan: Mengejar yang Berbayar, Melupakan yang Tak Ternilai

Kita sering melihat manusia bekerja keras siang dan malam hingga jatuh sakit hanya untuk mengejar benda-benda yang memiliki label harga. Namun, mereka lupa menjaga kesehatan yang harganya tak ternilai. Mereka lupa berkumpul dengan keluarga karena sibuk mencari uang untuk membelikan barang mewah bagi keluarga tersebut. Ini adalah sebuah paradoks kehidupan. Pentingnya menghargai waktu seringkali baru disadari di ranjang rumah sakit atau di liang lahat.

Islam mengajarkan kita untuk menjadi pribadi yang moderat. Mencari nafkah adalah kewajiban, namun jangan sampai hal itu membutakan kita dari nikmat-nikmat “basic” yang sudah Allah sediakan. Keseimbangan antara mengejar rezeki yang berbayar (usaha) dan mensyukuri rezeki yang gratis (pemberian mutlak) adalah kunci dari kebahagiaan yang hakiki. Jangan sampai kita menjadi orang kaya yang miskin karena tidak pernah merasa cukup dengan apa yang Allah berikan.

Kesimpulan: Menjadi Hamba yang Pandai Menghargai

Dunia ini hanyalah tempat mampir sejenak. Segala fasilitas yang kita nikmati saat ini, mulai dari udara hingga hidayah Islam, adalah modal untuk menabung di akhirat. Jika kita mampu menghargai pemberian gratis dari sesama manusia, maka tentu kita harus jauh lebih menghargai pemberian dari Rabb semesta alam. Mari kita ubah sudut pandang kita; setiap bangun tidur, jangan tanyakan “Apa yang belum aku miliki?”, tapi tanyakanlah “Nikmat gratis mana lagi yang belum aku syukuri hari ini?”

Dengan bersyukur, Allah berjanji akan menambah nikmat tersebut. Sebaliknya, kekufuran hanya akan membawa kita pada penyempitan hidup dan siksa yang pedih. Semoga kita termasuk golongan orang-orang yang sedikit, yaitu hamba-hamba Allah yang pandai berterima kasih atas segala karunia-Nya yang tak terhingga.

Ya Allah Jadikanlah Kami Hamba Yang Selalu Memuji-Mu Atas Setiap Nafas Detak Jantung Dan Hidayah Islam Yang Telah Engkau Berikan Secara Cuma-Cuma Kepada Kami


Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.

Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an

Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta

Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
Qur’an Learning Center Yogyakarta merupakan aset wakaf yang dikelola oleh Baitulmaal Muamalat.
Website: kunjungi halaman ini
WhatsApp: +6281224003100

Flyer Program Karantina Tahfidz Quran Jogja
author avatar
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.,