Di Balik Lara, Ada Cahaya: Wasiat Agung dari Zaman Wabah

Ada kalanya, sayatan takdir terasa begitu pedih. Ketika musibah datang tanpa permisi, merenggut apa yang kita cintai, meninggalkan ruang hampa yang dingin. Dalam senyapnya duka, seringkali jiwa bertanya, di manakah harus mencari pegangan? Sebuah kisah abadi dari seorang ulama salaf, Maymun bin Mihran, memberikan kita sebuah kompas, sebuah jawaban yang cahayanya menembus lorong waktu.

Kisah ini bermula dari selembar surat. Yunus bin ‘Ubaid, seorang alim yang hidup sezaman, mengirim surat kepada Maymun bin Mihran untuk menanyakan kabar keluarganya pasca wabah tha’un yang melanda negerinya. Jawaban yang datang bukanlah keluh kesah, melainkan untaian hikmah yang terlahir dari rahim penderitaan. Sebuah surat yang sarat akan makna dan menjadi wasiat berharga, terutama tentang nasihat kembali kepada Al-Qur’an.

كَتَبْتَ إِلَيَّ تَسْأَلُنِي عَنْ أَهْلِي، وَإِنَّهُ مَاتَ مِنْ حَامَّتِي سَبْعَةَ عَشَرَ، وَإِنِّي أَكْرَهُ الْبَلَاءَ إِذَا أَقْبَلَ، فَإِذَا أَدْبَرَ لَمْ يَسُرُّنِي أَنَّهُ لَمْ يَكُنْ. وَعَلَيْكَ بِكِتَابِ اللَّهِ تَعَالَى، فَإِنَّ النَّاسَ قَدْ بَهُوا بِهِ وَاخْتَارُوا عَلَيْهِ الْأَحَادِيثَ؛ أَحَادِيثَ الرِّجَالِ. وَلَا تُمَارِيَنَّ بِهِ عَالِمًا وَلَا جَاهِلًا؛ فَإِنَّكَ إِذَا مَارَيْتَ الْجَاهِلَ خَشَّنَ بِصَدْرِكَ، وَلَمْ يُطِعْكَ، وَإِذَا مَارَيْتَ الْعَالِمَ خَزَنَ عَنْكَ عِلْمَهُ، وَلَمْ يُبَالِ مَا صَنَعْتَ

“Engkau menulis surat kepadaku menanyakan tentang keluargaku. Sungguh, telah wafat tujuh belas orang dari kerabat dekatku. Sesungguhnya aku membenci bencana ketika ia datang, namun apabila ia telah berlalu, tidaklah membuatku senang jika seandainya bencana itu tidak pernah terjadi. Hendaklah engkau berpegang teguh pada Kitabullah Ta’ala, karena sesungguhnya manusia telah lalai darinya dan lebih memilih hadits-hadits (ucapan-ucapan) manusia di atasnya. Dan janganlah engkau mendebat orang alim maupun orang bodoh dengan (menggunakan) Al-Qur’an. Karena jika engkau mendebat orang bodoh, ia akan mengeraskan hatimu dan tidak akan menaatimu. Dan jika engkau mendebat orang alim, ia akan menyembunyikan ilmunya darimu dan tidak akan peduli dengan apa yang engkau perbuat.” (Diriwayatkan oleh Abu ‘Ubaid dalam Fadhail Al-Qur’an)

Mutiara di Balik Ujian yang Telah Berlalu

Perhatikan kalimat pertama yang begitu menyentuh: “Aku membenci bencana ketika ia datang, namun apabila ia telah berlalu, tidaklah membuatku senang jika seandainya bencana itu tidak pernah terjadi.” Inilah cermin jiwa yang telah mencapai tingkat ridha yang tinggi. Beliau tidak menafikan rasa sakit dan benci saat musibah menerpa—itu fitrah kemanusiaan. Namun, setelah awan kelabu itu berlalu, ia mampu melihat pelangi hikmah di baliknya. Ada pelajaran, ada penguatan, ada kedekatan dengan Allah yang mungkin tidak akan pernah diraih jika jalan hidupnya selalu mulus. Bekas luka itu telah menjadi pengingat abadi akan kebesaran-Nya.

Wasiat Inti: Hendaklah Engkau Berpegang pada Kitabullah

Di tengah suasana duka, di saat hati begitu rapuh, wasiat terpenting yang keluar dari lisan Maymun bin Mihran adalah, “‘Alaika bi Kitabillah Ta’ala” (Hendaklah engkau berpegang teguh pada Kitabullah). Mengapa? Karena beliau melihat sebuah fenomena yang mengkhawatirkan: manusia mulai lalai dari sumber utama dan lebih tertarik pada “hadits-hadits manusia”. Bukan berarti hadits Nabi ﷺ tercela, namun yang dimaksud adalah ucapan, kisah, dan perdebatan manusia yang melalaikan dari sumber segala sumber petunjuk, yakni Al-Qur’an.

Sungguh, betapa relevannya nasihat kembali kepada Al-Qur’an ini di zaman kita. Di tengah banjir informasi, hiruk pikuk media sosial, dan perdebatan tak berujung, seringkali kita menjadikan Al-Qur’an hanya sebagai pajangan atau bacaan seremonial. Kita lebih asyik menyimak kutipan-kutipan, potongan-potongan ceramah, atau perdebatan sengit yang justru seringkali mengeruhkan hati, daripada menenggelamkan diri dalam samudra Kalamullah yang menenangkan. Wasiat ini adalah panggilan untuk kembali ke pusat, ke jangkar yang akan menjaga kapal jiwa kita tetap stabil di tengah badai fitnah.

Jauhi Debat Kusir, Jaga Cahaya Ilmu

Nasihat agung ini ditutup dengan sebuah adab yang mulia: jangan menjadikan Al-Qur’an sebagai senjata untuk berdebat. Baik kepada orang yang bodoh maupun yang berilmu. Logikanya sangat indah:

  • Mendebat orang bodoh hanya akan melahirkan kekerasan hati. Hatinya tertutup untuk menerima kebenaran, dan hati kita pun ikut terkikis oleh energi negatif perdebatan. Hasilnya nihil, yang tersisa hanya kelelahan batin.
  • Mendebat orang alim akan membuatnya “menyimpan” ilmunya dari kita. Orang berilmu yang bijak tidak akan melayani perdebatan yang tujuannya bukan mencari kebenaran, melainkan untuk menang-menangan. Akibatnya, kita sendiri yang rugi karena kehilangan kesempatan untuk menimba ilmu darinya.

Al-Qur’an diturunkan bukan untuk menjadi bahan perdebatan, melainkan untuk menjadi petunjuk (hudan), obat (syifa’), dan rahmat. Ia adalah teman dialog kita di keheningan malam, bukan amunisi di medan pertempuran lisan.

Maka, mari kita resapi wasiat dari Maymun bin Mihran ini. Di setiap ujian, ada hikmah yang menanti untuk dipetik. Dan di tengah segala simpang siur kehidupan, jalan pulang yang paling aman adalah dengan memeluk Kitabullah. Inilah esensi dari nasihat kembali kepada Al-Qur’an, sebuah jalan untuk menemukan ketenangan sejati dan menjaga kemurnian hati.

Daftar Referensi

  • Abu ‘Ubayd al-Qasim bin Sallam. Fadha’il al-Qur’an. Dar Ibnu Katsir.

Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta

Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
Website: kunjungi halaman ini
WhatsApp: +6281224003100

Flyer Program Hafal Quran Executive Tahfizh
author avatar
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.,