Menorehkan Cahaya di Atas Cahaya
Setiap kali jemari kita menyentuh mushaf, pernahkah terlintas sebuah renungan: bagaimana lembaran-lembaran ini ditulis? Di balik setiap huruf yang tersusun rapi, ada sebuah samudra kemuliaan dan adab yang dalam. Ini bukan sekadar tentang tinta dan kertas, melainkan tentang bagaimana kita memuliakan Kalamullah bahkan sebelum ia terbaca. Sebuah pesan agung dari sahabat yang paling dekat dengan pintu ilmu Rasulullah, Ali bin Abi Thalib, memberikan kita sebuah jendela untuk menatap keagungan ini.
Kisah ini sampai kepada kita melalui kitab Fadhā’il al-Qur’ān karya Imam Abu ‘Ubaid al-Qasim bin Sallam. Seorang penulis mushaf bernama Abu Hukaimah al-‘Abdi sedang tekun menorehkan ayat-ayat suci. Tiba-tiba, Sang Gerbang Ilmu, Sayyidina Ali, berhenti di sisinya, mengamati dengan saksama. Lalu, terucaplah sebuah nasihat yang abadi.
فَقَامَ يَنْظُرُ إِلَى كِتَابِي فَقَالَ: «أَجْلِلْ قَلَمَكَ» . قَالَ: فَقَصَمْتُ مِنْ قَلَمِي قَصَمَةً ثُمَّ جَعَلْتُ أَكْتُبُ. فَقَالَ: «هَكَذَا نَوِّرْهُ كَمَا نَوَّرَهُ اللَّهُ عز وجل»
Maka ia (Ali bin Abi Thalib) berdiri melihat tulisanku lalu berkata, ‘Ajjil qalamaka (Besarkan/jelaskan tulisan penamu).’ Abu Hukaimah berkata, ‘Maka aku pun memotong (meraut) sebagian dari penaku, lalu aku mulai menulis lagi.’ Ali kemudian berkata, ‘Begitulah, buatlah ia bercahaya (jelas) sebagaimana Allah ‘Azza wa Jalla telah membuatnya bercahaya.’ (Diriwayatkan oleh Abu ‘Ubaid dalam Fadhā’il al-Qur’ān)
Makna di Balik Perintah “Perjelas Penamu”
Perintah “Ajjil qalamaka” bukanlah sekadar instruksi teknis untuk mempertebal goresan tinta. Ia adalah sebuah pelajaran fundamental tentang adab menulis Al-Quran. Sayyidina Ali mengajarkan bahwa Kalamullah harus disajikan dalam bentuk terbaiknya. Tulisannya harus agung, jelas, mudah dibaca, dan memancarkan keindahan yang layak bagi Sang Pemilik Kalam.
Saat sang penulis meraut kembali penanya untuk menghasilkan tulisan yang lebih tebal dan jelas, Sayyidina Ali menyempurnakan nasihatnya, “Begitulah, buatlah ia bercahaya sebagaimana Allah telah membuatnya bercahaya.” Subhanallah. Al-Quran adalah An-Nur, cahaya itu sendiri. Maka, tugas kita saat berinteraksi dengannya, termasuk saat menuliskannya, adalah menjadi medium yang memancarkan kembali cahaya tersebut, bukan meredupkannya. Menulis Al-Quran menjadi sebuah ibadah, sebuah upaya untuk menghadirkan kemegahan firman-Nya secara visual.
Mengapa Menghindari Tulisan yang Terlalu Kecil?
Prinsip memuliakan tulisan Al-Quran ini dipertegas dalam riwayat lain yang masih bersumber dari Sayyidina Ali. Beliau menunjukkan ketidaksukaan terhadap penulisan Al-Quran pada media yang terlampau kecil.
أَنَّهُ كَانَ يَكْرَهُ أَنْ يُكْتَبَ الْقُرْآنُ فِي الشَّيْءِ الصَّغِيرِ
Bahwasanya beliau (Ali bin Abi Thalib) tidak menyukai Al-Quran ditulis pada sesuatu yang kecil. (Diriwayatkan oleh Abu ‘Ubaid dalam Fadhā’il al-Qur’ān)
Pesan ini begitu relevan hingga hari ini. Terkadang kita menemukan mushaf dalam ukuran mini atau tulisan yang begitu rapat dan kecil, hingga menyulitkan mata saat membacanya. Pesan Sayyidina Ali mengingatkan kita bahwa tujuan utama penulisan Al-Quran adalah untuk dibaca, ditadabburi, dan diamalkan. Ukuran yang layak dan tulisan yang jelas adalah bagian dari adab menulis Al-Quran yang menunjang tujuan mulia tersebut. Ini adalah bentuk penghormatan kita kepada Kitab Suci, memastikan setiap hurufnya dapat ditangkap oleh mata dan meresap ke dalam jiwa tanpa halangan.
Pelajaran untuk Jiwa Kita
Sahabat, dua pesan singkat dari Sayyidina Ali ini sejatinya adalah pelajaran tentang bagaimana kita memposisikan Al-Quran dalam hidup kita. Apakah ia menjadi sesuatu yang kita agungkan dalam segala aspek, atau hanya menjadi pajangan yang tak terbaca?
- Memuliakan Lahir dan Batin: Sebagaimana kita berusaha membersihkan hati saat membacanya, begitulah para salaf mengajarkan untuk memuliakan bentuk fisiknya.
- Menjadi Penyampai Cahaya: Setiap interaksi kita dengan Al-Quran—membaca, menghafal, menulis, mengajarkan—adalah upaya untuk “membuatnya bercahaya” di tengah kehidupan.
- Mengutamakan Kemudahan: Menulis dengan jelas dan dalam ukuran yang pantas adalah wujud kasih sayang agar orang lain mudah mengakses petunjuk Allah. Ini adalah esensi dari adab menulis Al-Quran.
Semoga Allah menganugerahkan kita kemampuan untuk tidak hanya membaca Al-Quran, tetapi juga memuliakannya dalam setiap tarikan napas dan perbuatan kita. Mempelajari kedalaman makna dan adab seperti ini adalah bagian tak terpisahkan dari perjalanan menghafal dan memahami firman-Nya. Sebuah perjalanan suci yang membutuhkan bimbingan dan lingkungan yang mendukung.
Di Qur’an Learning Center Yogyakarta, kami percaya bahwa menghafal Al-Quran adalah proses membangun adab dan cinta kepada Kalamullah, bukan sekadar menumpuk hafalan. Mari bersama-sama menapaki jalan cahaya ini dengan ilmu dan kemuliaan.
Daftar Referensi
- Abu ‘Ubaid al-Qasim bin Sallam. Fadhā’il al-Qur’ān. (Tahqiq: Marwan al-‘Athiyah, dkk). Damaskus: Dar Ibn Katsir, 1415 H/1995 M.
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
Website: kunjungi halaman ini
WhatsApp: +6281224003100

