Di antara karunia terindah yang Allah janjikan kepada para pencinta Al-Qur’an adalah naiknya derajat di surga seiring banyaknya ayat yang dibaca. Setiap ayat yang dilantunkan bukan sekadar suara yang berlalu, melainkan tangga yang mengangkat seorang hamba menuju kedudukan yang lebih tinggi di sisi Allah. Inilah keistimewaan luar biasa yang menjadikan Al-Qur’an sebagai sahabat sejati, baik di dunia maupun di akhirat.

Janji ini menumbuhkan semangat bagi setiap muslim untuk tidak pernah berhenti berinteraksi dengan kalam Allah. Sebab semakin banyak ayat yang dibaca, dipahami, dan diamalkan, semakin tinggi pula derajat yang akan diraih di kampung keabadian. Al-Qur’an menjadi penolong, pemberi syafaat, sekaligus penentu kedudukan seorang hamba di surga kelak.

Dalil dari Al-Qur’an bahwa Allah Meninggikan Derajat Orang Beriman dan Berilmu

Al-Qur’an menegaskan bahwa Allah meninggikan derajat orang-orang beriman dan berilmu, dan di antara ilmu yang paling mulia adalah ilmu Al-Qur’an. Allah berfirman dalam Surah Al-Mujadalah ayat 11:

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

Artinya: “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadalah: 11)

Allah juga menjelaskan bahwa kedudukan manusia di akhirat bertingkat-tingkat sesuai dengan amalnya. Dalam Surah Al-An’am ayat 132 Allah berfirman:

وَلِكُلٍّ دَرَجَاتٌ مِّمَّا عَمِلُوا

Artinya: “Dan masing-masing orang memperoleh derajat-derajat sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-An’am: 132)

Membaca Al-Qur’an termasuk amal yang paling utama, sehingga ia menjadi sebab terangkatnya derajat seorang hamba. Allah pun memuliakan Al-Qur’an sebagai kitab yang penuh berkah agar manusia merenungkan ayat-ayatnya, sebagaimana firman-Nya dalam Surah Shad ayat 29, bahwa Al-Qur’an diturunkan agar manusia menghayati ayat-ayatnya dan agar orang-orang berakal mengambil pelajaran.

Dalil dari Hadits Bacalah Naiklah

يُقَالُ لِصَاحِبِ الْقُرْآنِ: اقْرَأْ وَارْتَقِ وَرَتِّلْ كَمَا كُنْتَ تُرَتِّلُ فِي الدُّنْيَا، فَإِنَّ مَنْزِلَتَكَ عِنْدَ آخِرِ آيَةٍ تَقْرَؤُهَا

“Akan dikatakan kepada pembaca (penghafal) Al-Qur’an: ‘Bacalah dan naiklah serta tartillah sebagaimana engkau mentartilnya di dunia. Karena kedudukanmu berada pada akhir ayat yang engkau baca.’“

Janji naiknya derajat surga seiring ayat yang dibaca dijelaskan secara gamblang dalam hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dari Abdullah bin Amr bin al-Ash radhiyallahu ‘anhuma, Nabi bersabda bahwa kelak kepada pembaca Al-Qur’an akan dikatakan untuk membaca dan naik serta membaca dengan tartil sebagaimana ia membacanya di dunia, karena sesungguhnya kedudukannya berada pada akhir ayat yang ia baca. Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Tirmidzi, dan dinilai hasan shahih.

Hadits ini menunjukkan bahwa setiap ayat yang dibaca dan dihafal di dunia akan menjadi tangga yang menaikkan kedudukan seseorang di surga. Semakin banyak ayat yang dibaca dengan baik, semakin tinggi derajat yang diraih, hingga puncaknya bagi mereka yang menghafal seluruh Al-Qur’an.

Membaca Al-Qur’an Terbata-Bata

وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا ، قَالَتْ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – : (( الَّذِي يَقْرَأُ القُرْآنَ وَهُوَ مَاهِرٌ بِهِ مَعَ السَّفَرَةِ الكِرَامِ البَرَرَةِ ، وَالَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَتَتَعْتَعُ فِيهِ وَهُوَ عَلَيْهِ شَاقٌّ لَهُ أجْرَانِ )) متفقٌ عَلَيْهِ .

Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Orang yang membaca Al-Qur’an dan ia mahir membacanya, maka ia bersama para malaikat yang mulia (bersih dari maksiat) dan taat dalam kebaikan. Sedangkan orang yang membaca Al-Qur’an dengan terbata-bata dan merasa kesulitan ketika membacanya, maka baginya dua pahala.” (Muttafaqun ‘alaih)

Dalam riwayat lain dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah bersabda bahwa orang yang mahir membaca Al-Qur’an akan bersama para malaikat yang mulia lagi berbakti, sedangkan orang yang membaca Al-Qur’an dengan terbata-bata dan ia merasa kesulitan, maka baginya dua pahala. Hadits ini diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim. Ini menegaskan bahwa usaha membaca Al-Qur’an, meskipun belum lancar, tetap bernilai mulia dan berbuah pahala berlipat.

وَعَنِ ابْنِ مَسْعُوْدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ “مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللهِ فَلَهُ حَسَنَةٌ وَالحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا , لاَ أَقُوْلُ الم حَرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلاَمٌ حَرْفٌ وَمِيْمٌ حَرْفٌ”

رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ وَقَالَ حَدِيْثٌ حَسَنٌ صَحِيْحٌ

Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa yang membaca satu huruf dari kitab Allah, maka baginya satu kebaikan. Satu kebaikan itu dibalas dengan sepuluh kali lipatnya. Aku tidak mengatakan alif laam miim itu satu huruf, tetapi aliif itu satu huruf, laam itu satu huruf, dan miim itu satu huruf.” [HR. Tirmidzi].

Rasulullah juga menjelaskan keutamaan setiap huruf yang dibaca. Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Nabi bersabda bahwa siapa yang membaca satu huruf dari Kitabullah maka baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh, beliau tidak mengatakan alif lam mim sebagai satu huruf, tetapi alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim satu huruf. Hadits ini diriwayatkan oleh Tirmidzi. Maka dapat dibayangkan betapa besar pahala dan tingginya derajat bagi mereka yang membaca ayat demi ayat dengan istiqamah.

Kisah Para Sahabat dan Generasi Salaf dengan Al-Qur’an

Para sahabat Nabi adalah generasi yang paling memahami janji ini, sehingga mereka berlomba-lomba membaca, menghafal, dan mengamalkan Al-Qur’an. Mereka menyadari bahwa setiap ayat adalah investasi akhirat yang akan mengangkat kedudukan mereka di surga.

Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu dikenal sebagai sahabat yang sangat dekat dengan Al-Qur’an. Beliau termasuk yang paling banyak menghafal dan paling memahami maknanya, hingga Rasulullah memujinya. Kecintaannya kepada Al-Qur’an menjadikannya rujukan para sahabat dalam bacaan dan pemahaman ayat-ayat Allah.

Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu, khalifah ketiga, dikenal sangat mencintai Al-Qur’an hingga beliau sering mengkhatamkannya dalam shalat malam. Bahkan disebutkan bahwa beliau wafat dalam keadaan mushaf berada di pangkuannya. Kecintaan ini lahir dari keyakinan akan keutamaan setiap ayat yang dibaca dan derajat tinggi yang dijanjikan Allah.

Demikian pula Ubay bin Ka’ab radhiyallahu ‘anhu yang dijuluki sebagai penghulu para qari. Rasulullah pernah secara khusus mengabarkan kepadanya bahwa Allah memerintahkan beliau membacakan Al-Qur’an kepadanya, sebuah kemuliaan yang membuat Ubay menangis haru. Para sahabat memahami bahwa kemuliaan di sisi Allah berbanding lurus dengan kedekatan mereka terhadap kalam-Nya.

Generasi salaf setelah para sahabat pun meneladani semangat ini. Mereka membagi waktu malam dan siang untuk membaca Al-Qur’an, menghafalnya, dan menjaganya, karena meyakini bahwa setiap ayat yang dibaca akan menjadi tangga menuju derajat yang lebih tinggi di surga. Inilah teladan yang sepatutnya kita warisi di masa kini.

Pembahasan

Naiknya derajat surga seiring ayat yang dibaca mengandung beberapa pelajaran penting. Pertama, Al-Qur’an bukan sekadar bacaan ritual, melainkan amal yang memiliki nilai abadi. Setiap huruf berbuah kebaikan yang dilipatgandakan, dan setiap ayat menjadi sarana terangkatnya kedudukan seorang hamba. Karena itu, membaca Al-Qur’an seharusnya menjadi kebiasaan harian yang tidak pernah ditinggalkan.

Kedua, janji ini mendorong umat untuk tidak hanya membaca, tetapi juga memperbaiki kualitas bacaan dan menghafal. Hadits tentang membaca dan naik di surga menunjukkan bahwa kedudukan seseorang ditentukan oleh sejauh mana ia berinteraksi dengan Al-Qur’an. Penghafal Al-Qur’an yang menjaga hafalannya memiliki peluang meraih derajat tertinggi, sebagaimana mereka membacanya dengan tartil di dunia.

Ketiga, keutamaan ini bersifat terbuka bagi siapa saja. Orang yang lancar membacanya mendapat kedudukan bersama para malaikat, sementara orang yang masih terbata-bata dan bersungguh-sungguh mendapat dua pahala. Tidak ada alasan bagi siapa pun untuk berputus asa, karena setiap usaha mendekati Al-Qur’an dihargai oleh Allah.

Keempat, derajat yang dijanjikan tidak hanya berkaitan dengan jumlah ayat, tetapi juga dengan keikhlasan, pemahaman, dan pengamalan. Al-Qur’an yang dibaca, dihayati, dan diamalkan akan menjadi pemberi syafaat dan pengangkat derajat yang sebenarnya di hari kiamat.

Cara Meraih Derajat Tinggi melalui Al-Qur’an

Untuk meraih keutamaan ini, ada beberapa langkah yang dapat ditempuh. Pertama, jadikan membaca Al-Qur’an sebagai rutinitas harian dengan target yang konsisten, meskipun sedikit. Kedua, perbaiki bacaan dengan mempelajari tajwid agar lebih baik dan benar. Ketiga, mulailah menghafal secara bertahap, karena penghafal Al-Qur’an memiliki keutamaan yang besar. Keempat, pahami makna ayat yang dibaca melalui terjemah dan tafsir agar bacaan menjadi lebih berbobot. Kelima, amalkan kandungan ayat dalam kehidupan sehari-hari sebagai bukti kecintaan kepada Al-Qur’an.

Konsistensi adalah kunci utama. Sedikit bacaan yang rutin lebih dicintai daripada banyak bacaan yang terputus. Dengan menjaga interaksi harian bersama Al-Qur’an, seorang hamba sedang menyusun tangga demi tangga menuju derajat tertinggi di surga. Maka sepatutnya tidak ada satu hari pun yang berlalu tanpa membaca kalam Allah.

Kedudukan Hamba Allah Seuai Kenaikan Ayat Al-Quran yang Dibaca

Naiknya derajat surga seiring ayat yang dibaca adalah janji mulia yang Allah dan Rasul-Nya tegaskan melalui dalil Al-Qur’an dan hadits. Setiap ayat yang dibaca menjadi tangga yang mengangkat kedudukan seorang hamba, setiap huruf berbuah kebaikan yang dilipatgandakan, dan puncak keutamaan diraih oleh mereka yang menghafal serta mengamalkan Al-Qur’an. Para sahabat dan generasi salaf telah memberikan teladan terbaik dalam mencintai dan menjaga kalam Allah.

Semoga Allah menjadikan kita termasuk ahli Al-Qur’an yang merupakan keluarga Allah dan orang-orang istimewa-Nya. Semoga setiap ayat yang kita baca menjadi cahaya di dunia, pemberi syafaat di akhirat, dan tangga yang mengangkat kita menuju derajat tertinggi di surga-Nya.

Biografi Penulis

Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd., Al-Hafizh adalah founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an di Qur’an Learning Center Yogyakarta. Beliau aktif mengembangkan pendekatan pembelajaran Al-Qur’an yang memadukan tahfizh, tadabbur, visualisasi makna, dan pembinaan spiritual agar masyarakat semakin dekat dengan Al-Qur’an.

Program Executive Tahfizh Yogyakarta

Bagi kaum muslimin yang ingin memperbaiki bacaan, memahami makna, dan menguatkan hafalan Al-Qur’an secara lebih terarah, silakan mengenal program Executive Tahfizh Yogyakarta.

Flyer Program Hafal Quran Executive Tahfizh

kunjungi halaman ini

author avatar
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.,