Ada kalanya sesuatu yang halal terasa kurang pantas, dan tindakan yang sejatinya lurus bisa tampak bengkok di mata orang lain. Di sinilah letak sebuah konsep agung dalam adab Islam yang sering terabaikan: muruah. Ia bukan sekadar tentang menjaga nama baik, melainkan sebuah seni melindungi kehormatan ilmu yang kita emban. Kemampuan untuk menjaga muruah dan menghindari fitnah adalah cerminan dari kedalaman iman dan kebijaksanaan seseorang, terutama bagi mereka yang menjadi panutan.
Makna Mendalam di Balik Menjaga Muruah dan Menghindari Fitnah
Muruah adalah keluhuran budi pekerti yang mendorong seseorang untuk senantiasa mengerjakan hal-hal terpuji dan menjauhkan diri dari segala yang nista. Kitab Ādāb al-‘Ulamā’ wa al-Muta‘allimīn menggariskan sebuah prinsip penting: seorang penuntut ilmu atau alim selayaknya menjauhkan diri dari profesi atau perbuatan yang secara tabiat dianggap rendah atau yang secara adat dan syariat dipandang makruh. Pada masa lalu, contoh yang diberikan adalah pekerjaan seperti bekam, penyamakan kulit, atau jual beli emas dan perak yang erat dengan riba.
Poin utamanya bukanlah mengharamkan profesi tersebut, sebab semua itu adalah pekerjaan halal. Namun, fokusnya adalah pada persepsi publik yang dapat menodai citra seorang pembawa risalah ilmu. Ketika kepercayaan publik tergerus akibat tindakan yang dianggap tidak pantas—meskipun halal—maka nilai dari ilmu yang disampaikannya pun akan ikut memudar. Ia secara tidak langsung telah membangun dinding antara dirinya dan orang-orang yang seharusnya bisa mengambil manfaat dari ilmunya.
Inilah mengapa seorang yang bijak akan sangat berhati-hati, menjauhi tempat-tempat yang dapat menimbulkan syak wasangka (mauādi’ at-tuham) sejauh mungkin. Ia tidak akan melakukan sesuatu yang dapat mengurangi kehormatannya, sekalipun perbuatan itu pada hakikatnya dibolehkan. Sebab, dengan melakukannya, ia telah membuka dua pintu keburukan: pertama, menjadikan dirinya sasaran tuduhan, dan kedua, menjerumuskan orang lain ke dalam dosa prasangka buruk.
Bahaya Laten di Balik Sikap “Yang Penting Halal”
Dalam kehidupan modern, kita sering mendengar argumen, “Tidak masalah, yang penting kan halal.” Logika ini terdengar benar, namun mengabaikan dimensi sosial dan spiritual yang lebih dalam. Sikap ini melupakan bahwa tindakan kita tidak hanya berdampak pada diri sendiri, tetapi juga pada bagaimana orang lain memandang kita dan, yang lebih penting, memandang nilai-nilai yang kita representasikan. Ketika kita melakukan hal yang secara ظاهر (tampak luar) aneh atau tidak lazim, kita sedang menyodorkan diri kita pada prasangka.
Al-Qur’an secara tegas mengingatkan kita untuk menjauhi prasangka, karena sebagian darinya adalah dosa.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ
Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. (Q.S. Al-Hujurat: 12)
Ayat ini ditujukan kepada orang yang berprasangka. Namun, ia juga mengandung isyarat bagi kita agar tidak menjadi pemicu lahirnya prasangka tersebut. Dengan kata lain, kita diperintahkan untuk tidak hanya menjadi orang baik, tetapi juga tampak baik di hadapan sesama untuk menjaga keharmonisan dan menutup pintu-pintu keburukan.
Teladan Terbaik dalam Menjaga Muruah dan Menghindari Fitnah
Kisah paling agung dalam hal ini datang langsung dari teladan kita, Rasulullah ﷺ. Suatu malam, beliau sedang berjalan bersama istri beliau, Shafiyyah binti Huyay. Lalu, dua orang sahabat dari Anshar lewat. Ketika melihat Rasulullah ﷺ, mereka mempercepat langkahnya. Namun, Rasulullah ﷺ memanggil mereka.
عَلَى رِسْلِكُمَا، إِنَّهَا صَفِيَّةُ بِنْتُ حُيَىٍّ. فَقَالاَ: سُبْحَانَ اللَّهِ يَا رَسُولَ اللَّهِ. قَالَ: إِنَّ الشَّيْطَانَ يَجْرِى مِنَ الإِنْسَانِ مَجْرَى الدَّمِ، وَإِنِّى خَشِيتُ أَنْ يَقْذِفَ فِى قُلُوبِكُمَا شَرًّا – أَوْ قَالَ – شَيْئًا
“Pelan-pelanlah, sesungguhnya dia ini adalah Shafiyyah binti Huyay.” Keduanya berkata, “Subhanallah, wahai Rasulullah (mana mungkin kami berprasangka buruk padamu).” Beliau bersabda, “Sesungguhnya setan itu mengalir dalam diri manusia sebagaimana aliran darah. Dan aku khawatir ia akan membisikkan sesuatu (keburukan) di hati kalian berdua.” (H.R. Bukhari)
Subhanallah, lihatlah kemuliaan akhlak beliau! Manusia paling terpercaya di muka bumi, yang perkataannya adalah wahyu, masih merasa perlu untuk memberikan klarifikasi demi melindungi hati sahabatnya dari bisikan setan. Beliau tidak berkata, “Urusan kalian jika berburuk sangka, yang penting saya benar.” Tidak sama sekali. Justru beliau proaktif menutup celah fitnah sekecil apa pun. Inilah puncak dari aplikasi menjaga muruah dan menghindari fitnah.
Langkah Praktis Menjaga Kehormatan di Era Digital
Menerapkan prinsip muruah di zaman sekarang menjadi tantangan sekaligus kebutuhan. Kehidupan yang serba terbuka di media sosial membuat setiap tindakan kita menjadi konsumsi publik yang dapat dengan mudah disalahartikan. Maka, beberapa langkah praktis perlu kita renungkan.
1. Selektif dalam Berinteraksi dan Berpenampilan
Pilihlah lingkungan pergaulan dan cara kita menampilkan diri, baik di dunia nyata maupun maya. Pertimbangkan selalu, “Apakah tindakan atau postingan ini berpotensi menimbulkan salah paham? Apakah ini pantas bagi seseorang yang sedang belajar atau mengajarkan Al-Qur’an?”
2. Beri Penjelasan Jika Diperlukan
Mengikuti teladan Rasulullah ﷺ, jika kita terpaksa berada dalam situasi yang ambigu atau berpotensi menimbulkan fitnah karena sebuah kebutuhan mendesak, jangan ragu untuk memberikan penjelasan kepada orang yang melihatnya. Transparansi yang jujur akan memutus rantai prasangka sebelum ia sempat menjalar.
3. Sadari Bahwa Kita Adalah Duta Agama
Setiap dari kita adalah cerminan dari nilai-nilai yang kita yakini. Sikap dan perilaku kita, sekecil apa pun, berkontribusi pada citra Islam di mata orang lain. Oleh karena itu, menjaga muruah dan menghindari fitnah bukan lagi pilihan, melainkan sebuah tanggung jawab keimanan.
Pada akhirnya, muruah bukanlah tentang pencitraan yang kosong. Ia adalah perisai yang kita bangun dengan kesadaran penuh untuk melindungi kemuliaan ilmu, menjaga hati saudara kita dari dosa prasangka, dan yang terpenting, menutup setiap celah yang mungkin dimanfaatkan setan untuk memecah belah kita. Semoga Allah membimbing kita untuk memiliki keluhuran budi pekerti ini dalam setiap langkah kehidupan.
Mari bersama-sama kita memuliakan diri dengan memuliakan Al-Qur’an. Qur’an Learning Center Yogyakarta hadir untuk mendampingi perjalanan Anda, para eksekutif dan profesional, dalam menghafal dan memahami Kalamullah dengan metode yang teruji dan waktu yang fleksibel. Jadikan kesibukan Anda sebagai ladang pahala, bukan penghalang dari cahaya-Nya.
Daftar Referensi
- Al-Qur’an, Surah Al-Hujurat: 12.
- Hadits Riwayat al-Bukhari, dalam Shahih al-Bukhari, Kitab al-I’tikaf, Bab Hal Yakhruju al-Mu’takif li Hawā’ijihi ilā Bāb al-Masjid, No. 2035.
- Al-Yamanī, Al-Ḥusayn ibn al-Manṣūr Billāh. Ādāb al-‘Ulamā’ wa al-Muta‘allimīn.
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
kunjungi halaman ini
WhatsApp +6281224003100


