Akhir Pekan: Sekadar Habis atau Menjadi Warisan?
Sahabat, coba kita pejamkan mata sejenak. Apa yang terbayang saat mendengar kata “akhir pekan”? Mungkin hiruk pikuk pusat perbelanjaan, aroma kopi di kafe favorit, atau serunya jalan-jalan ke tempat wisata. Semua itu indah, semua itu perlu untuk menyegarkan pikiran. Tapi, pernahkah kita merasa ada sesuatu yang kurang? Sebuah kekosongan yang tak terisi meski tawa riang terdengar di sepanjang perjalanan. Mungkin, inilah saatnya kita mencoba sebuah murajaah bersama keluarga, sebuah quality time yang berbeda.
Wajar kok kalau kita merasa lelah setelah sepekan bekerja. Rasanya ingin memanjakan diri dan keluarga dengan hal-hal yang menyenangkan. Namun, bagaimana jika kesenangan itu bisa kita rangkai menjadi sesuatu yang abadi, yang cahayanya tak hanya terasa di dunia, tapi juga sampai ke akhirat nanti? Inilah esensi dari membangun Baiti Jannati, rumahku surgaku. Bukan rumah yang megah, tapi rumah yang di setiap sudutnya bergetar lantunan ayat suci.
Mengubah Persepsi: Dari Beban Menjadi Permainan Seru
Jujur saja, kata “murajaah” atau “ngaji bareng” kadang terdengar kaku dan serius, ya? Seolah-olah ini adalah sesi ujian yang menegangkan. Padahal, kita bisa mengubahnya menjadi sebuah permainan yang hangat dan penuh tawa. Lupakan sejenak suasana formal, yuk kita gelar karpet di ruang keluarga dan ciptakan arena bermain kita sendiri.
Coba bayangkan ini: Kita duduk melingkar. Ayah memulai dengan satu ayat, lalu Ibu menyambung, kemudian si kakak, dan si adik. Siapa yang lupa, boleh dibantu atau kena “hukuman” lucu seperti mencium pipi anggota keluarga yang lain. Tawa renyah si kecil saat ayahnya keliru menyambung ayat adalah musik terindah. Ini bukan tentang siapa yang paling hafal, tapi tentang kebersamaan dalam mengingat firman-Nya.
Atau, kita bisa bermain “Tebak Surat”. Cukup bacakan artinya, lalu biarkan anggota keluarga yang lain menebak itu surat apa. “Demi masa. Sesungguhnya manusia kerugian…” Siapa yang paling cepat menjawab, dialah pemenangnya! Hadiahnya? Tak perlu mahal. Sebuah pelukan hangat, sepotong kue buatan ibu, atau hak memilih film untuk ditonton bersama malam itu. Sederhana, tapi maknanya dalam banget.
Saat Canggung Melanda: “Aku Malu, Nanti Salah…”
Pasti ada perasaan ini, terutama di antara kita sebagai pasangan. Ada gemuruh kecil di dada, “Nanti bacaanku dikoreksi…”, “Suaraku nggak sebagus dia…”, “Aku malu kalau salah tajwid.” Sahabat, perasaan itu manusiawi sekali. Wajar banget.
Kunci untuk mencairkan kebekuan ini adalah kesepakatan. Sebelum memulai, mari kita saling berpegangan tangan dan berbisik, “Ini adalah sesi belajar kita bersama, bukan panggung penghakiman.” Tegaskan bahwa tujuan kita bukan untuk saling menguji, tapi untuk saling mendukung. Saling menyimak bacaan (tasmi’) menjadi momen untuk saling menguatkan, bukan mencari-cari kesalahan.
Anggap saja ini seperti kita belajar naik sepeda bersama. Saat pasangan kita oleng, kita memegang boncengannya, bukan menertawakannya. Begitu pula dalam murajaah. Saat ada bacaan yang kurang pas, kita luruskan dengan senyuman, bukan dengan tatapan tajam. Di sinilah cinta dan sakinah itu tumbuh subur.
Buah Manisnya: Saat Rumah Terasa Seperti Surga
Apa sih yang kita dapat dari semua ini? Lebih dari sekadar hafalan yang terjaga, ada berkah tak kasat mata yang akan menyelimuti rumah kita. Rumah yang di dalamnya sering dibacakan Al-Qur’an akan terasa berbeda. Ada kelapangan yang menenangkan. Ada cahaya yang membuat hati tenteram.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan kita sebuah perumpamaan yang indah:
مَثَلُ الْبَيْتِ الَّذِي يُذْكَرُ اللهُ فِيهِ، وَالْبَيْتِ الَّذِي لَا يُذْكَرُ اللهُ فِيهِ، مَثَلُ الْحَيِّ وَالْمَيِّتِ
“Perumpamaan rumah yang disebut nama Allah di dalamnya dan rumah yang tidak disebut nama Allah di dalamnya adalah seperti perumpamaan orang yang hidup dan orang yang mati.” (HR. Muslim no. 779)
Subhanallah. Kita tidak ingin rumah kita menjadi seperti “kuburan” yang sepi dari rahmat, bukan? Lebih dari itu, saat anak-anak melihat kita, ayah dan ibunya, begitu menikmati interaksi dengan Al-Qur’an, kita sedang menanamkan sebuah warisan. Mereka belajar bahwa Al-Qur’an bukanlah pajangan, tapi sahabat sejati. Kita menjadi teladan nyata, bukan sekadar pemberi perintah.
Jadi, Sahabat Qur’an, akhir pekan ini mau coba? Sisihkan satu jam saja. Matikan televisi, letakkan gawai, dan mari kita ciptakan kenangan surgawi. Karena sejatinya, tujuan utama dari murajaah bersama keluarga bukanlah sekadar lancarnya hafalan, melainkan terjalinnya hati yang terpaut pada sumber kebahagiaan yang sama: Al-Qur’an. Jika kita merasa butuh ‘bensin’ tambahan untuk memulai, mungkin mencari lingkungan yang mendukung bisa menjadi langkah awal yang baik untuk menguatkan semangat bersama.
Daftar Referensi
- Shahih Muslim
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
Qur’an Learning Center Yogyakarta merupakan aset wakaf yang dikelola oleh Baitulmaal Muamalat untuk mencetak para Hafizh dan Hafizhah dalam program unggulan Executive Tahfizh.
Website: kunjungi halaman ini
WhatsApp: +6281224003100


