Sahabat Qur’an yang semoga senantiasa dijaga hatinya oleh Allah. Pernah tidak, saat kita sedang berbicara dengan orang lain, tiba-tiba muncul bisikan halus di dalam dada: “Ah, dia tahu apa sih? Ilmu saya jauh lebih tinggi dari dia.” Atau saat melihat penampilan seseorang yang sederhana, kita membatin, “Kasihan ya, dia tidak selevel dengan saya.”

Wajar kok kalau sesekali rasa bangga itu mampir. Kita manusia yang punya ego. Tapi hati-hati, Sahabat. Jika perasaan “saya lebih baik” itu dibiarkan tumbuh subur, ia akan berubah menjadi kanker ganas bernama Takabbur. Ini bukan sekadar percaya diri, ini adalah penyakit mematikan.

Rasanya mungkin enak di awal, kepala mendongak, dada membusung. Tapi tahukah kita? Inilah dosa pertama yang terjadi di langit sebelum ada dosa apa pun di bumi. Sebuah dosa warisan.

Jebakan “Aku Lebih Baik Darinya”

Mari kita putar waktu ke belakang. Ingat kisah Iblis? Dia bukan makhluk sembarangan. Dia ahli ibadah yang levelnya sudah setara malaikat. Tapi, semua amal ribuan tahun itu hangus seketika hanya karena satu kalimat logika yang cacat: “Ana khairun minhu” (Aku lebih baik daripadanya).

Iblis merasa dirinya “Emas” karena diciptakan dari api, sedangkan Adam hanyalah “Lumpur” karena diciptakan dari tanah. Intinya begini, Takabbur itu terjadi saat kita mulai menolak kebenaran dan meremehkan orang lain. Kita merasa kaca mata kita yang paling jernih, sedangkan orang lain buram.

Rasulullah SAW memberikan definisi yang sangat menohok tentang kesombongan:

الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

“Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” (HR. Muslim)

Hati yang Terkunci dari Hidayah

Sahabat Qur’an, bayangkan sebuah gelas yang tertutup rapat. Meski disiram air bah sekalipun, bagian dalamnya tidak akan pernah basah. Begitulah hati orang yang sombong. Hidayah itu sifatnya cair dan mengalir ke tempat yang rendah. Ia tidak akan pernah bisa naik ke hati yang “mendongak” tinggi.

Ngeri sekali dampaknya. Orang yang sombong akan sulit menerima nasihat. Baginya, nasihat adalah serangan. Kritik adalah penghinaan. Akhirnya? Ia berjalan sendirian menuju jurang kehancuran seperti Firaun, yang tenggelam karena merasa dirinya Tuhan.

Dan yang paling membuat air mata kita menetes karena takut adalah ancaman Rasulullah SAW: “Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi.” Sekecil itu. Hanya sebutir debu kesombongan bisa menjadi penghalang kita mencium wangi surga.

Sadari Asal Usul: Kita Hanyalah Tanah

Lalu, apa obatnya? Bagaimana cara mengikis gunung ego yang bercokol di dada ini?

Jawabannya adalah lihat ke bawah.

Sahabat, cobalah raba kulit tangan kita. Halus? Bersih? Ingatlah, aslinya kita ini dari tanah. Tanah yang diinjak-injak, tanah yang kotor. Dan nanti, kita akan kembali menjadi tanah, dimakan cacing. Apa yang mau disombongkan? Baju mahal? Itu kain dari ulat atau kapas. Jabatan? Itu cuma titipan yang bisa diambil besok pagi.

Al-Qur’an mengingatkan kita dengan bahasa yang sangat indah sekaligus “menampar” kesadaran kita agar kita berjalan di muka bumi ini dengan Tawadhu (rendah hati).

وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّكَ لَنْ تَخْرِقَ الْأَرْضَ وَلَنْ تَبْلُغَ الْجِبَالَ طُولًا

“Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung.” (QS. Al-Isra: 37)

Mari Menunduk Agar Selamat

Padi semakin berisi semakin merunduk. Orang yang benar-benar mulia di sisi Allah adalah mereka yang paling rendah hati kepada sesama manusia. Mereka yang kalau berjalan tidak membusungkan dada. Mereka yang kalau bicara menatap mata dengan kasih sayang, bukan dengan tatapan merendahkan.

Mulai hari ini, yuk kita latihan. Kalau bertemu orang yang lebih muda, katakan dalam hati: “Dia dosanya lebih sedikit dari saya.” Kalau bertemu orang yang lebih tua, katakan: “Dia amalnya lebih banyak dari saya.”

Buang jubah kesombongan itu. Berat. Panas. Gantilah dengan jubah ketawadhuan yang sejuk dan ringan. Karena hanya dengan merendahkan hati di hadapan Allah dan manusia, derajat kita akan diangkat setinggi-tingginya.

Tetap rendah hati ya, Sahabat Qur’an.


Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.

Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an

Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta

Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:

Qur’an Learning Center Yogyakarta merupakan aset wakaf yang dikelola oleh Baitulmaal Muamalat untuk mencetak para Hafizh dan Hafizhah dalam program unggulan Executive Tahfizh.

Website: website resmi Executive Tahfizh

WhatsApp: +6281224003100

Flyer Program Hafal Quran Executive Tahfizh
author avatar
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.,