Membaca Al-Qur’an adalah sebuah perjalanan spiritual yang tiada habisnya, sebuah dialog suci antara hamba dan Penciptanya. Ia bukan sekadar deretan huruf dan kata, melainkan untaian petunjuk, cahaya, dan rahmat yang melimpah. Maka, sudah sepatutnya kita melantunkannya dengan sebaik-baiknya, seolah setiap huruf yang keluar adalah persembahan cinta kita kepada Ilahi Rabbi.

Dalam upaya menyempurnakan bacaan mulia ini, kita tak bisa lepas dari ilmu tajwid. Ilmu yang mengajarkan kita bagaimana mengeluarkan setiap huruf dari makhrajnya, memberikan hak dan mustahaknya, serta memperindah setiap lafazhnya. Salah satu pilar penting dalam ilmu tajwid yang wajib kita kuasai adalah memahami esensi

Hukum Nun Sakinah dan Tanwin dalam Tajwid Al-Qur’an

. Kaidah-kaidah ini seringkali menjadi penentu keindahan dan kebenaran tilawah kita.

Mengenal Lebih Dekat Nun Sakinah dan Tanwin

Sebelum menyelami lebih jauh seluk-beluk

Hukum Nun Sakinah dan Tanwin dalam Tajwid Al-Qur’an

, mari kita pahami terlebih dahulu apa sebenarnya Nun Sakinah dan Tanwin itu.

Nun Sakinah

Nun Sakinah adalah huruf Nun yang tidak berharakat, atau lebih tepatnya berharakat sukun (mati). Ia tidak memiliki vokal, baik fathah, kasrah, maupun dhammah. Keberadaannya bersifat tetap, baik dalam penulisan (خطا), pengucapan (لفظا), saat bersambung dengan kata lain (وصلا), maupun saat berhenti (وقفا). Nun Sakinah bisa ditemukan di tengah kata atau di akhir kata, dan dapat berada dalam kategori isim (kata benda), fi’il (kata kerja), atau huruf (partikel).

Tanwin

Tanwin adalah nun mati (sukun) tambahan yang melekat pada akhir isim (kata benda) dan hanya terucap saat bersambung dengan kata lain (لفظا ووصلا). Ia tidak tertulis secara harfiah sebagai huruf Nun mati, melainkan diwakili oleh tanda-tanda khusus, yaitu dua fathah (ً), dua kasrah (ٍ), atau dua dhammah (ٌ) di akhir kata. Uniknya, Tanwin ini akan hilang atau tidak diucapkan ketika kita berhenti membaca (وقفا) pada kata yang bertanwin. Keberadaan Tanwin selalu di akhir kata dan hanya ada pada isim.

Keduanya, Nun Sakinah dan Tanwin, memiliki pengaruh signifikan terhadap huruf yang berada setelahnya, melahirkan empat hukum dasar yang akan kita kupas tuntas.

Empat Pilar Hukum Nun Sakinah dan Tanwin

لِلنُّونِ إِنْ تَسْكُنْ وَلِلتَّنْوِينِ … أَرْبَعُ أَحْكَامٍ فَخُذْ تَبْيِينِي

Sebagaimana dinukil dari matan Tuhfatul Athfal di atas, Nun Sakinah dan Tanwin memiliki empat hukum, mari kita uraikan satu per satu.

1. Izhar Halqi (Penjelasan Jelas dari Tenggorokan)

Ini adalah hukum pertama dari

Hukum Nun Sakinah dan Tanwin dalam Tajwid Al-Qur’an

. ‘Izhar’ berarti jelas atau terang. ‘Halqi’ merujuk pada ‘halq’ atau tenggorokan. Jadi, Izhar Halqi adalah keadaan di mana Nun Sakinah atau Tanwin harus dibaca dengan jelas, tanpa dengung (ghunnah), jika bertemu dengan salah satu dari enam huruf tenggorokan (huruf halq). Keenam huruf tersebut adalah:

  • ء (Hamzah)
  • هـ (Ha)
  • ع (Ain)
  • ح (Haa)
  • غ (Ghain)
  • خ (Kha)

Ketika Nun Sakinah atau Tanwin bertemu dengan huruf-huruf ini, kita mengucapkan Nun Sakinah atau Tanwin tersebut dengan terang dan tidak memantulkannya atau menyamarkannya. Contohnya:

مِنْ هَادٍ

(Min Hādin),

كُلٌّ آمَنَ

(Kullun Āmana),

أَنْعَمْتَ

(An’amta).

فَالأَوَّلُ الإظْهَارُ قَبْلَ أَحْرُفِ … لِلْحَلْقِ سِتٌّ رُتِّبَتْ فَلْتَعْرِفِ
هَمْزٌ فَهَاءٌ ثُمَّ عَيْنٌ حَاءُ … مُهْمَلَتَانِ ثُمَّ غَيْنٌ خَاءُ

Maka yang pertama adalah Izhar (jelas) sebelum huruf-huruf tenggorokan yang enam, telah tersusun, maka ketahuilah: hamzah, ha, kemudian ain, ha (dua huruf tanpa titik), kemudian ghain dan kha.

2. Al-Idgham (Meleburkan)

Idgham berarti meleburkan atau memasukkan. Dalam konteks

Hukum Nun Sakinah dan Tanwin dalam Tajwid Al-Qur’an

, Idgham terjadi ketika Nun Sakinah atau Tanwin bertemu dengan salah satu dari enam huruf yang terkumpul dalam frasa

يَرْمَلُونَ

(Yarmalūn). Idgham dibagi menjadi dua jenis:

a. Idgham bi Ghunnah (Melebur dengan Dengung)

Ini terjadi jika Nun Sakinah atau Tanwin bertemu dengan empat huruf yang terkumpul dalam frasa

يَنْمُو

(Yanmū): yaitu Yā’, Nūn, Mīm, dan Wāw. Nun Sakinah atau Tanwin dileburkan ke huruf berikutnya disertai dengan suara dengung yang keluar dari rongga hidung. Contoh:

مَنْ يَقُولُ

(May Yaqūlu),

مِنْ نُورٍ

(Min Nūrin).

Penting untuk diingat, Idgham bi Ghunnah hanya berlaku jika Nun Sakinah atau Tanwin dan huruf Idgham berada dalam dua kata yang berbeda. Jika Nun Sakinah dan huruf Idgham (khususnya Ya’ atau Waw) berada dalam satu kata, maka hukumnya menjadi Izhar Mutlaq (Izhar yang mutlak), bukan Idgham. Contohnya adalah kata

دُنْيَا

(Dunyā),

بُنْيَانٌ

(Bunyānun),

قِنْوَانٌ

(Qinwānun), dan

صِنْوَانٌ

(Ṣinwānun).

b. Idgham bila Ghunnah (Melebur tanpa Dengung)

Ini terjadi jika Nun Sakinah atau Tanwin bertemu dengan dua huruf, yaitu Lām (

ل

) dan Rā (

ر

). Nun Sakinah atau Tanwin dileburkan sempurna ke huruf berikutnya tanpa disertai suara dengung. Contoh:

مِنْ لَدُنْهُ

(Mil Ladunhu),

مِنْ رَبِّهِمْ

(Mir Rabbihim).

وَالثَّانِ إِدْغَامٌ بِسِتَّةٍ أَتَتْ … فِي (يَرْمَلُونَ) عِنْدَهُمْ قَدْ ثَبَتَتْ
لَكِنَّهَا قِسْمَانِ قِسْمٌ يُدْغَمَا … فِيهِ بِغُنَّةٍ (بِيَنْمُو) عُلِمَا
إِلاَّ إِذَا كَانَا بِكِلْمَةٍ فَلاَ … تُدْغِمْ كَدُنْيَا ثُمَّ صِنْوَانٍ تَلاَ
وَالثَّانِ إِدْغَامٌ بِغَيْرِ غُنَّهْ … فِي اللاَّمِ وَالرَّا ثُمَّ كَرِّرَنَّهْ

Yang kedua adalah Idgham pada enam huruf yang datang, dalam (yarmalūn) menurut mereka telah tetap. Namun ia terbagi dua: satu bagian diidghamkan padanya dengan ghunnah, diketahui pada (yanmū). Kecuali jika keduanya dalam satu kata, maka janganlah engkau idghamkan seperti dunya dan kemudian shinwan. Dan yang kedua adalah Idgham tanpa ghunnah pada Lam dan Ra, kemudian ulangi ia.

3. Al-Iqlab (Mengubah)

Kemudian, kita akan bertemu dengan Iqlab, salah satu kaidah fundamental dalam

Hukum Nun Sakinah dan Tanwin dalam Tajwid Al-Qur’an

. ‘Iqlab’ berarti mengubah atau membalik. Hukum ini terjadi ketika Nun Sakinah atau Tanwin bertemu dengan satu-satunya huruf Iqlab, yaitu Ba (

ب

). Ketika hal ini terjadi, Nun Sakinah atau Tanwin tersebut akan diubah atau diganti menjadi suara huruf Mim (

م

) yang disertai dengan dengung (ghunnah) sepanjang dua harakat. Cara membacanya adalah dengan merapatkan bibir atas dan bawah seperti mengucapkan huruf Mim, namun tanpa menekan terlalu kuat. Contoh:

أَنبِئْهُمْ

(Ambi’hum),

سَمِيعٌ بَصِيرٌ

(Samī’um Baṣīrun).

وَالثَّالثُ الإِقْلاَبُ عِنْدَ الْبَاءِ … مِيمًا بِغُنَّةٍ مَعَ الإِخْفَاءِ

Yang ketiga adalah Iqlab pada huruf Ba, menjadi Mim dengan ghunnah beserta Ikhfa.

4. Al-Ikhfa Al-Haqiqi (Menyamarkan Sejati)

Terakhir, tak kalah pentingnya adalah Ikhfa Hakiki, yang juga merupakan bagian integral dari

Hukum Nun Sakinah dan Tanwin dalam Tajwid Al-Qur’an

. ‘Ikhfa’ berarti menyamarkan atau menyembunyikan. Ikhfa Hakiki terjadi ketika Nun Sakinah atau Tanwin bertemu dengan salah satu dari lima belas huruf sisa hijaiyah (setelah dikurangi huruf Izhar, Idgham, dan Iqlab). Lima belas huruf tersebut adalah: ص (Ṣād), ذ (Dhāl), ث (Tsā’), ك (Kāf), ج (Jīm), ش (Shīn), ق (Qāf), س (Sīn), د (Dāl), ط (Ṭā’), ز (Zāy), ف (Fā’), ت (Tā’), ض (Ḍād), ظ (Ẓā’).

Pada hukum Ikhfa, Nun Sakinah atau Tanwin dibaca samar antara Izhar dan Idgham, disertai dengan ghunnah dua harakat, dan tanpa tasydid (penekanan) pada huruf setelahnya. Posisi lidah tidak menempel sempurna ke makhraj huruf Nun, melainkan bersiap-siap menuju makhraj huruf Ikhfa berikutnya. Suara dengungnya pun disesuaikan dengan makhraj huruf Ikhfa yang mengikutinya. Contoh:

مَنْصُورًا

(Manṣūran),

مِنْ ذِكْرٍ

(Min Dhikrin),

عَمَلًا صَالِحًا

(‘Amalan Ṣāliḥan).

وَالرَّابِعُ الإِخْفَاءُ عِنْدَ الْفَاضِلِ … مِنَ الحُرُوفِ وَاجِبٌ لِلْفَاضِلِ
فِي خَمْسَةٍ مِنْ بَعْدِ عَشْرٍ رَمْزُهَا … فِي كِلْمِ هَذَا البَيْتِ قَد ضَّمَّنْتُهَا
صِفْ ذَا ثَنَا كَمْ جَادَ شَخْصٌ قَدْ سَمَا … دُمْ طَيِّبًا زِدْ فِي تُقًى ضَعْ ظَالِمَا

Dan yang keempat adalah Ikhfa pada huruf-huruf yang tersisa, wajib bagi yang bijak. Pada lima belas huruf yang lambangnya aku sematkan dalam kata-kata bait ini: (ṣif dhā thanā kam jāda shakhṣun qad samā, dum ṭayyiban zid fī tuqā ḍa’ ẓālimā).

Mengapa Tajwid Begitu Penting dalam Kehidupan Kita?

Mempelajari

Hukum Nun Sakinah dan Tanwin dalam Tajwid Al-Qur’an

dan kaidah tajwid lainnya bukanlah sekadar latihan teknis membaca. Ini adalah bagian dari penghormatan kita terhadap firman Allah, sebuah upaya tulus untuk menjaga kemurnian dan keotentikannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلًا

Dan bacalah Al-Qur’an itu dengan tartil. (Q.S. Al-Muzzammil: 4)

Ayat ini adalah perintah langsung dari Allah untuk membaca Al-Qur’an dengan tartil, yaitu perlahan-lahan, jelas, dan benar sesuai kaidah tajwid. Ketika kita membaca dengan tajwid, kita tidak hanya menghindari kesalahan yang bisa mengubah makna, tetapi juga membuka pintu hati untuk lebih meresapi keindahan dan hikmah di dalamnya.

Seorang Muslim yang berusaha menyempurnakan bacaan Al-Qur’annya adalah pribadi yang dekat dengan kebaikan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya. (H.R. Bukhari)

Maka, mari kita jadikan setiap usaha kita dalam memahami tajwid sebagai bagian dari amal shalih yang tak terputus. Setiap Nun Sakinah dan Tanwin yang kita baca dengan benar, setiap ghunnah yang kita tunaikan, adalah langkah kecil menuju kesempurnaan dan kedekatan dengan Al-Qur’an.

Perjalanan belajar Al-Qur’an adalah sebuah anugerah. Dengan memahami dan mengaplikasikan

Hukum Nun Sakinah dan Tanwin dalam Tajwid Al-Qur’an

, kita bukan hanya memperbaiki bacaan, tetapi juga mengukir jejak kebaikan dalam setiap hela nafas. Jangan biarkan keraguan menghalangi langkah kita. Semakin kita mendalami, semakin terbuka pula pintu-pintu keberkahan dan hikmah. Mari bergabunglah bersama kami di Qur’an Learning Center Yogyakarta, tempat di mana setiap huruf Al-Qur’an dibimbing dengan penuh cinta dan keilmuan, untuk meraih kenikmatan tilawah yang sesungguhnya.

Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta

Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
kunjungi halaman ini
WhatsApp +6281224003100

Flyer Program Hafal Quran Executive Tahfizh di Yogyakarta

Daftar Referensi

  • Q.S. Al-Muzzammil: 4
  • H.R. Bukhari No. 5027
  • Matan Tuhfatul Athfal
author avatar
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.,