Pendahuluan: Lisan Sebagai Cerminan Hati
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِلإِيمَانِ، وَجَعَلَ اللِّسَانَ تَرْجُمَانَ الْجَنَانِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمَبْعُوثِ بِتَمَامِ مَكَارِمِ الأَخْلَاقِ
“Segala puji bagi Allah yang telah memberi kita petunjuk kepada iman, dan menjadikan lisan sebagai penerjemah isi hati. Shalawat serta salam bagi junjungan kita Nabi Muhammad yang diutus untuk menyempurnakan akhlak mulia.”
Hadirin yang dirahmati Allah, lisan adalah salah satu nikmat terbesar yang Allah berikan kepada manusia. Dengan lisan kita berdzikir, dengan lisan kita berdakwah, dan dengan lisan pula kita berkomunikasi. Namun, lisan ibarat pedang bermata dua; jika tidak dijaga, ia dapat menjadi sebab tergelincirnya seseorang ke dalam jurang neraka.
Perintah Allah untuk Berkata Baik
Allah Subhanahu Wata’ala memerintahkan hamba-Nya untuk selalu memilih kata-kata yang terbaik dalam berinteraksi. Kata-kata yang buruk tidak hanya menyakiti sesama, tetapi juga mengundang murka Allah. Allah berfirman:
وَقُلْ لِعِبَادِي يَقُولُوا الَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْزَغُ بَيْنَهُمْ
“Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku: ‘Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya syaitan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka’.” (QS. Al-Isra: 53)
Hadirin sekalian, menjaga lisan adalah kunci keselamatan. Banyak permusuhan, perceraian, hingga pertumpahan darah bermula dari lisan yang tidak terkendali.
Jaminan Keselamatan dari Rasulullah
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memberikan standar yang sangat tinggi dalam etika berbicara. Beliau menghubungkan antara iman kepada Allah dengan cara kita menjaga kata-kata. Beliau bersabda:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُطْ
“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaknya ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari & Muslim)
Diam bukan berarti lemah, melainkan bentuk kecerdasan emosional dan spiritual. Lebih baik diam daripada berbicara namun menyakiti hati orang lain atau menyebarkan kebohongan (hoax).
Kisah Inspiratif: Nasihat Luqman Al-Hakim
Suatu ketika, Luqman Al-Hakim diminta oleh majikannya untuk menyembelih seekor kambing dan membawakan dua bagian tubuh yang terbaik. Beliau membawakan lidah dan hati. Kemudian di hari lain, beliau diminta membawakan dua bagian tubuh yang terburuk, dan beliau kembali membawakan lidah dan hati.
Majikannya bertanya, “Mengapa bagian terbaik dan terburuknya sama?” Luqman menjawab, “Jika keduanya baik, tidak ada yang lebih baik darinya. Namun jika keduanya buruk, tidak ada yang lebih buruk darinya.” Kisah ini mengingatkan kita bahwa lisan sangat bergantung pada kondisi hati. Hati yang bersih akan melahirkan kata-kata yang menyejukkan.
Kesimpulan dan Penutup
Keselamatan seorang muslim sangat bergantung pada kemampuannya menjaga lisan. Mari kita gunakan lisan kita untuk hal-hal yang bermanfaat: memperbanyak dzikir, menyambung silaturahmi, dan memberikan motivasi kebaikan. Hindarilah ghibah, fitnah, dan namimah (adu domba) agar hidup kita penuh berkah.
Mari kita memohon kepada Allah agar lisan kita dijaga dari keburukan:
اللَّهُمَّ اجْعَلْ لِسَانِي رَطْبًا بِذِكْرِكَ وَنَقِّ لِسَانِي مِنَ الْكَذِبِ وَالْغِيبَةِ
“Ya Allah, jadikanlah lisanku basah dengan dzikir kepada-Mu, dan bersihkanlah lisanku dari kedustaan serta ghibah.”
Semoga Allah senantiasa membimbing lisan kita menuju kebenaran. Mohon maaf atas segala kekurangan.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
Qur’an Learning Center Yogyakarta merupakan aset wakaf yang dikelola oleh Baitulmaal Muamalat.
Website: kunjungi halaman ini
WhatsApp: +6281224003100

