Ada sebuah cakrawala pemahaman yang diwariskan oleh para ulama terdahulu, sebuah prinsip agung yang menjadi kompas moral bagi para pengemban risalah Al-Qur’an. Prinsip ini berpusar pada satu pertanyaan fundamental: bagaimana seorang penuntut ilmu harus bersikap di hadapan kekuasaan? Pada dasarnya, ilmu adalah cahaya yang meninggikan, bukan sesuatu yang merendahkan pemiliknya untuk mengejar fatamorgana duniawi. Karena itu, para ulama salaf sangat berhati-hati dalam pergaulan mereka dengan para penguasa. Namun, dalam kondisi tertentu, interaksi ini menjadi sebuah keniscayaan. Inilah seni menjaga kemuliaan ilmu saat berinteraksi dengan penguasa, sebuah kebijaksanaan yang membedakan antara niat luhur dan ambisi pribadi.

Prinsip Dasar: Ilmu Mengangkat, Bukan Merendahkan

Sebagai titik tolak, kita harus memahami bahwa Allah sendirilah yang memuliakan ilmu dan para pemiliknya. Kemuliaan ini adalah anugerah langsung dari-Nya, sebuah martabat yang tidak sepatutnya ditukar dengan pengakuan atau fasilitas dari manusia, sekalipun mereka adalah raja atau pejabat tertinggi. Ilmu diturunkan untuk menjadi pemandu, bukan pengikut hawa nafsu atau kepentingan sesaat. Allah SWT berfirman:

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

“…Niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat…” (Q.S. Al-Mujadilah: 11).

Ayat ini menjadi fondasi bagi harga diri seorang Muslim yang berilmu. Derajat yang dijanjikan Allah jauh lebih tinggi dan abadi daripada kedudukan apa pun di dunia. Inilah mengapa para ulama seperti Sufyan ats-Tsauri dikenal sangat menjaga jarak dari pintu istana. Mereka khawatir kilau dunia akan memadamkan cahaya ilmu di dalam dada mereka. Mereka paham bahwa mendatangi penguasa tanpa ada hajat syar’i yang mendesak berpotensi menodai kemurnian ilmu itu sendiri.

Pengecualian Emas: Ketika Maslahat Umat Memanggil

Meski prinsip dasarnya adalah menjaga jarak, syariat kita adalah syariat yang fleksibel dan memahami realitas. Ada kalanya, seorang alim justru dituntut untuk proaktif mendekati penguasa. Namun, ini bukan sembarang kunjungan. Ia terikat oleh syarat-syarat ketat yang berlandaskan pada kemaslahatan yang lebih besar (maslahah diniyah), bukan kepentingan pribadi. Sebagaimana disebutkan dalam kitab Ādāb al-‘Ālim wa al-Muta’allim, jika ada kebutuhan mendesak, darurat, atau ada maslahat agama yang jelas lebih besar daripada mudaratnya, maka hal itu diperbolehkan.

Niat Suci sebagai Kunci Menjaga Kemuliaan Ilmu Saat Berinteraksi dengan Penguasa

Di sinilah letak barometer utamanya: niat. Kisah Imam Asy-Syafi’i yang mendatangi beberapa pemimpin pada masanya seringkali dijadikan dalih. Padahal, kita harus melihatnya dengan kacamata yang jernih. Beliau tidak datang untuk mencari jabatan atau memperkaya diri. Beliau datang membawa misi dakwah, memberikan nasihat, mencegah kezaliman, atau memperjuangkan hak-hak umat. Niatnya suci, tujuannya luhur, dan cara yang ditempuh pun terhormat. Inilah yang membedakan antara ulama rabbani dan ulama duniawi. Tindakan yang sama bisa bernilai surga atau justru menjadi penyebab tergelincirnya seseorang, semua bergantung pada apa yang terbesit di dalam hati.

Kompas Moral Bernama Niat

Rasulullah SAW telah memberikan kita sebuah kaidah universal yang menuntun setiap perbuatan kita. Beliau bersabda:

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan.” (H.R. Bukhari).

Hadits ini adalah pedang pemisah. Sebelum melangkah ke sebuah forum yang melibatkan para pemangku kebijakan, tanyakan pada diri kita: “Untuk apa saya ke sana? Untuk kemaslahatan umat dan agama Allah, atau untuk secuil pengakuan dan keuntungan pribadi?” Jawaban jujur atas pertanyaan ini adalah penentu apakah langkah kita akan menambah kemuliaan ilmu atau justru meruntuhkannya.

Indahnya Tradisi Saling Mengunjungi Demi Ilmu

Berbeda halnya jika interaksi itu terjadi di antara sesama ahli ilmu atau dengan orang-orang saleh. Di sini, suasananya bukan lagi tentang kekuasaan dan dunia, melainkan tentang kerendahan hati untuk saling memberi dan menerima faedah. Para ulama salaf memberikan teladan yang luar biasa dalam hal ini.

Dikisahkan bahwa seorang ulama besar sekaliber Sufyan ats-Tsauri tidak segan berjalan mendatangi Ibrahim bin Adham, seorang ahli ibadah dan zuhud, untuk memberikan faedah ilmu kepadanya. Begitu pula Abu ‘Ubaid al-Qasim bin Sallam, seorang pakar bahasa dan hadits, rela berjalan menuju kediaman Ali bin al-Madini untuk memperdengarkan hadits-hadits yang dianggap asing (gharib). Ini adalah tradisi mulia yang menunjukkan bahwa ilmu dicari, didatangi, dan dibagikan dengan penuh tawadhu, tanpa memandang siapa yang lebih senior atau lebih populer. Tujuannya satu: keberkahan ilmu itu sendiri.

Refleksi bagi Kita: Membawa Izzah Al-Qur’an di Zaman Modern

Prinsip menjaga kemuliaan ilmu saat berinteraksi dengan penguasa ini sangat relevan bagi kita hari ini, terutama bagi para penghafal Al-Qur’an. “Penguasa” di zaman kita mungkin tidak selalu berbentuk raja atau khalifah. Bisa jadi ia adalah atasan di kantor, seorang tokoh berpengaruh di masyarakat, atau siapa pun yang memiliki otoritas. Sebagai pembawa Kalamullah di dalam dada, kita memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga kehormatan ayat-ayat yang kita hafal. Jangan sampai hafalan kita menjadi alat untuk mencari muka atau mendapatkan proyek. Sebaliknya, jadikan ia sebagai cahaya yang memberi nasihat dengan hikmah, yang menyuarakan kebenaran dengan santun, dan yang hadir di lingkar kekuasaan untuk membawa maslahat, bukan untuk menjadi bagian dari masalah. Di sinilah letak ujian sesungguhnya dari sebuah hafalan.

Pada akhirnya, menyeimbangkan antara izzah (kemuliaan diri) dan maslahat adalah sebuah seni yang membutuhkan bimbingan ilmu, kejernihan hati, dan niat yang lurus karena Allah. Semoga kita semua, khususnya para pengemban Al-Qur’an, dimampukan untuk meneladani akhlak para ulama salaf dalam menjaga amanah besar ini.

Mari terus berupaya menjadi pribadi yang tidak hanya hafal huruf-huruf Al-Qur’an, tetapi juga mampu memancarkan kemuliaan cahayanya dalam setiap langkah dan interaksi kita. Di Qur’an Learning Center Yogyakarta, kami mengajak Anda untuk mendalami Al-Qur’an tidak hanya sebagai hafalan, tetapi sebagai panduan hidup yang membentuk karakter mulia.

Daftar Referensi

  • Al-Qur’an, Surah Al-Mujadilah: 11
  • Shahih al-Bukhari, Hadits No. 1
  • Al-Yamanī, al-Ḥusayn ibn al-Manṣūr Billāh. Ādāb al-‘Ālim wa al-Muta’allim.

Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta

Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
kunjungi halaman ini
WhatsApp +6281224003100

Flyer Program Hafal Quran Executive Tahfizh di Yogyakarta
author avatar
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.,Kepala QLC Yogyakarta
Tokoh pendidikan Al-Qur'an di Indonesia yang dikenal sebagai Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an (dikembangkan sejak 2007). Ia merupakan pelopor gerakan akselerasi karantina tahfizh tingkat nasional yang telah berkiprah sejak 2014. Saat ini, beliau mengaplikasikan pengalamannya sebagai Pengasuh di Executive Tahfizh QLC-BMM Yogyakarta (mulai 2025) yang menjadi destinasi para penghafal dari dalam dan luar negeri