Al-Qur’an, kalamullah yang agung, adalah mukjizat tak lekang oleh zaman. Ia bukan sekadar deretan huruf dan kata, melainkan petunjuk hidup, sumber cahaya, dan penawar hati bagi setiap jiwa yang dahaga akan kebenaran. Kedudukannya yang mulia menuntut kita untuk senantiasa memperlakukannya dengan penuh penghormatan dan pengagungan, baik dalam bentuk fisiknya maupun dalam setiap aspek keberadaannya.
Salah satu wujud penghormatan yang seringkali luput dari perhatian kita terekam dalam sebuah riwayat yang sampai kepada kita. Dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, beliau menyampaikan sebuah adab yang mendalam:
حَدَّثَنَا أَبُو عُبَيْدٍ وَحَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ، وَعَلِيُّ بْنُ هَاشِمٍ، كِلَاهُمَا عَنِ الْأَعْمَشِ، عَنْ إِبْرَاهِيمَ، عَنْ عَلِيٍّ، أَنَّهُ كَانَ يَكْرَهُ أَنْ يُكْتَبَ الْقُرْآنُ فِي الشَّيْءِ الصَّغِيرِ
“Abu Ubaid menceritakan kepada kami, dan Abu Mu’awiyah serta Ali bin Hasyim keduanya menceritakan kepada kami, dari Al-A’masy, dari Ibrahim, dari Ali, bahwa beliau membenci (atau tidak menyukai) Al-Qur’an ditulis pada sesuatu yang kecil.”
Memahami Makna “Membenci” Tulisan Kecil
Pernyataan Sayyidina Ali ini, meski terkesan sederhana, menyimpan hikmah yang besar. “Membenci” dalam konteks ini bukan berarti haram secara mutlak, melainkan menunjukkan ketidaksukaan yang bersumber dari rasa hormat dan pemuliaan terhadap firman Allah. Mengapa beliau tidak menyukai Al-Qur’an ditulis pada benda atau media yang kecil? Terdapat beberapa perspektif yang bisa kita renungkan.
Pertama, terkait dengan kemuliaan dan keagungan Al-Qur’an itu sendiri. Kalamullah adalah sesuatu yang besar, fundamental, dan universal. Menuliskannya pada media yang kecil, seperti jimat, pernak-pernik mungil, atau bahkan sobekan kertas, dapat mereduksi kedudukannya yang mulia. Ia seolah diperlakukan sebagai objek remeh yang bisa diletakkan di mana saja tanpa kekhususan, bahkan berpotensi menjatuhkan martabatnya ke tempat yang tidak layak.
Kedua, menyangkut aspek keterbacaan dan pemahaman. Ayat-ayat Al-Qur’an diciptakan untuk dibaca, direnungkan, dan diamalkan. Jika ia ditulis dalam ukuran yang sangat kecil, akan sulit bagi seseorang untuk membacanya dengan jelas, apalagi memahami isinya. Ini bertentangan dengan tujuan utama diturunkannya Al-Qur’an sebagai petunjuk yang terang dan mudah diakses oleh umat manusia. Kesulitan membaca bisa menghambat tadabbur, dan akhirnya mengurangi kesempatan kita untuk mendapatkan keberkahan dari membacanya.
Ketiga, mengenai pemeliharaan dan perlindungan. Media yang kecil cenderung lebih mudah hilang, rusak, atau terabaikan. Sayyidina Ali, sebagai salah satu sahabat terkemuka yang sangat memahami dan mengagungkan Al-Qur’an, tentu ingin firman Allah senantiasa terjaga dari segala bentuk peremehan atau kerusakan. Menjaga kemuliaan Al-Qur’an dengan tidak menulisnya di benda kecil adalah bagian dari ikhtiar untuk memelihara keaslian dan kesuciannya.
Menjaga Kemuliaan Al-Qur’an dengan Tidak Menulisnya di Benda Kecil: Implementasi di Era Modern
Prinsip yang diajarkan oleh Sayyidina Ali ini tetap relevan hingga hari ini. Meskipun kita hidup di zaman yang serba digital dan banyak media cetak, esensi penghormatan terhadap Al-Qur’an tidak boleh pudar. Bagaimana kita bisa mengaplikasikan adab ini dalam kehidupan sehari-hari?
Kita sering melihat potongan ayat Al-Qur’an dicetak pada kalung, gantungan kunci, atau bahkan tato. Meskipun niatnya mungkin baik, yaitu untuk senantiasa mengingat Allah, namun tindakan tersebut patut ditinjau ulang. Apakah benda-benda tersebut menjamin kemuliaan ayat-ayat suci itu? Bagaimana jika kalung tersebut terjatuh ke tempat yang kotor? Atau gantungan kunci itu tergeletak di lantai? Tato, apalagi, akan dibawa ke mana pun, termasuk ke toilet, dan tidak bisa dihapus. Inilah poin penting dalam menjaga kemuliaan Al-Qur’an dengan tidak menulisnya di benda kecil, demi menjaga adab dan kesuciannya.
Perlakuan kita terhadap mushaf cetak juga mencerminkan adab ini. Meletakkan mushaf di tempat yang tinggi, tidak menumpuknya dengan buku lain yang tidak selevel, dan selalu berwudu saat membacanya adalah wujud pengagungan. Bahkan saat menyimpan Al-Qur’an digital di gawai, kita tetap perlu menjaga kehati-hatian. Hindari membuka aplikasi Al-Qur’an di tempat yang tidak pantas, atau membiarkannya terbuka di layar saat kita melakukan aktivitas yang kurang beradab.
Allah SWT sendiri telah menegaskan kedudukan Al-Qur’an yang sangat mulia:
إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ
“Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (Q.S. Al-Hijr: 9)
Ayat ini menunjukkan bahwa Allah sendiri yang menjamin pemeliharaan Al-Qur’an. Namun, pemeliharaan ini juga melibatkan peran serta hamba-hamba-Nya yang beriman untuk senantiasa mengagungkan dan menjaganya. Termasuk di dalamnya adalah kehati-hatian dalam menjaga kemuliaan Al-Qur’an dengan tidak menulisnya di benda kecil, sehingga tidak merendahkan martabatnya.
Menginternalisasi Penghormatan dalam Hati
Adab terhadap Al-Qur’an tidak hanya sebatas pada fisik atau tulisan semata, tetapi juga berakar pada keimanan dan ketakwaan dalam hati. Ketika hati kita dipenuhi rasa hormat dan cinta kepada Allah dan firman-Nya, secara otomatis tindakan kita akan selaras dengan perasaan tersebut. Kita akan secara spontan menghindari segala sesuatu yang berpotensi meremehkan atau menodai kemuliaan Al-Qur’an.
Bukan hanya tidak menuliskan di benda kecil, penghormatan juga berarti membaca Al-Qur’an dengan tartil, berusaha memahami maknanya, dan yang terpenting, mengamalkan ajaran-ajarannya dalam kehidupan sehari-hari. Inilah puncak dari pengagungan terhadap Al-Qur’an. Kita menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup, rujukan utama dalam setiap keputusan, dan cahaya penerang dalam setiap kegelapan.
Maka, mari kita terus menerus memupuk rasa hormat dan takzim kita kepada Al-Qur’an. Jadikan setiap interaksi dengan Al-Qur’an sebagai momen sakral, penuh kekhusyukan dan kesadaran akan keagungan-Nya. Dengan demikian, kita telah berpartisipasi aktif dalam menjaga kemuliaan Al-Qur’an dengan tidak menulisnya di benda kecil maupun dalam setiap aspek kehidupan kita. Adab ini adalah cerminan kematangan spiritual dan kecintaan kita yang tulus kepada Rabbul ‘Alamin.
Semoga Allah senantiasa membimbing kita untuk menjadi hamba-hamba-Nya yang senantiasa memuliakan Al-Qur’an, meresapi setiap ayatnya, dan mengamalkan setiap petunjuknya. Dengan begitu, Al-Qur’an akan menjadi syafaat bagi kita di hari akhir kelak.
—-
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
kunjungi halaman ini
WhatsApp +6281224003100

Daftar Referensi
- Kitab Fadha’il Al-Qur’an oleh Abu Ubaid, Bab: Ma Yustahabbu li Hamilil Qur’an min Ikramil Qur’an wa Ta’dzimihi wa Tanzihih, halaman 120.
- Al-Qur’an Surah Al-Hijr (15): Ayat 9.
