Mengapa Wafatnya Ulama Adalah Musibah Terbesar bagi Umat?

Dunia terasa semakin gelap setiap kali kita mendengar kabar duka tentang berpulangnya seorang ulama yang istiqamah. Mereka bukan sekadar individu, melainkan pilar-pilar peradaban yang menyangga langit ilmu di bumi ini. Tanpa kehadiran mereka, masyarakat kehilangan kompas moral dan arah tujuan hidup yang benar.

Rasulullah ﷺ telah memperingatkan umatnya tentang bahaya ini sejak empat belas abad yang lalu:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَادِ، وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ، حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالًا، فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ، فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا

“Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dengan cara menariknya dari para hamba, akan tetapi Allah mencabut ilmu dengan cara mewafatkan para ulama, hingga apabila tidak tersisa seorang alim pun, manusia mengangkat pemimpin-pemimpin yang bodoh. Mereka ditanya lalu berfatwa tanpa ilmu, maka mereka sesat dan menyesatkan.” 
(HR. Al-Bukhari, no. 100; Muslim, no. 2673)

Perhatikan bahwa hadis ini tidak berhenti pada kalimat “mewafatkan para ulama” saja — Rasulullah ﷺ melanjutkan dengan menggambarkan skenario terburuk yang akan terjadi setelahnya: munculnya generasi yang berbicara tentang agama tanpa ilmu, sehingga mereka sesat dan menyesatkan. Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fath Al-Bari menjelaskan bahwa hadis ini mengandung peringatan keras agar umat senantiasa menjaga kesinambungan ilmu dengan cara menuntutnya dari para ulama sebelum mereka wafat.

Fenomena ini bukan ancaman masa depan semata — ia sedang terjadi saat ini. Sumber-sumber mata air hikmah mulai mengering, dan kita dituntut untuk segera bergerak mengisi kekosongan tersebut sebelum kegelapan benar-benar menyelimuti pemikiran umat.

Ilmu Adalah Cahaya, dan Al-Quran Adalah Sumbernya

Allah ﷻ menyebut Al-Quran sebagai cahaya dan petunjuk yang menerangi kegelapan:

قَدْ جَآءَكُم مِّنَ ٱللَّهِ نُورٌ وَكِتَـٰبٌ مُّبِينٌ ○ يَهْدِى بِهِ ٱللَّهُ مَنِ ٱتَّبَعَ رِضْوَٰنَهُۥ سُبُلَ ٱلسَّلَـٰمِ وَيُخْرِجُهُم مِّنَ ٱلظُّلُمَـٰتِ إِلَى ٱلنُّورِ بِإِذْنِهِۦ وَيَهْدِيهِمْ إِلَىٰ صِرَٰطٍ مُّسْتَقِيمٍ

“Sungguh, telah datang kepadamu cahaya dari Allah dan Kitab yang menjelaskan. Dengan Kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya dengan izin-Nya, serta menunjuki mereka ke jalan yang lurus.” (QS. Al-Ma’idah [5]: 15–16)

Imam Ath-Thabari dalam Jami’ Al-Bayan menafsirkan bahwa “nur” (cahaya) dalam ayat ini merujuk kepada Al-Quran itu sendiri yang menerangi jalan kebenaran dan menghilangkan kegelapan kebodohan. Ketika para ulama — yang merupakan penjaga dan penafsir cahaya ini — satu per satu berpulang, maka tanggung jawab menjaga cahaya tersebut berpindah kepada generasi setelahnya.

Inilah mengapa setiap ayat yang kita hafal dan pelajari bukan sekadar ibadah personal — melainkan satu langkah nyata untuk mencegah padamnya cahaya Islam di muka bumi ini.

Menuntut Ilmu: Kewajiban Setiap Muslim, Bukan Hanya Tugas Para Kiai

Salah satu kesalahpahaman yang menyebar luas di masyarakat adalah anggapan bahwa menjaga ilmu agama hanya tugas para kiai, ustadz, atau santri. Padahal Rasulullah ﷺ menegaskan bahwa menuntut ilmu adalah kewajiban setiap individu muslim tanpa terkecuali:

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

“Menuntut ilmu adalah kewajiban atas setiap muslim.” 

(HR. Ibnu Majah, no. 224 )

Dan Allah ﷻ sendiri menjanjikan derajat yang tinggi bagi orang-orang yang berilmu:

يَرْفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا مِنكُمْ وَٱلَّذِينَ أُوتُوا ٱلْعِلْمَ دَرَجَـٰتٍ

“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” 
(QS. Al-Mujadalah [58]: 11)

Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa keutamaan menuntut ilmu mencakup ilmu syar’i secara umum, dan yang paling utama di antaranya adalah mempelajari dan menghafal Kitabullah, karena Al-Quran merupakan sumber dari segala ilmu dalam Islam.

Kita seringkali terlena dengan kemudahan akses informasi di internet, mengira bahwa mesin pencari bisa menggantikan peran seorang guru. Padahal, ilmu bukan sekadar deretan teks digital — melainkan keberkahan yang terpancar dari ketulusan dan adab. Para ulama terdahulu seperti Imam Asy-Syafi’i menempuh perjalanan ribuan kilometer hanya untuk mendapatkan satu hadis atau memahami satu hukum. Beliau pernah berkata:

“Aku menghafal Al-Quran ketika usiaku tujuh tahun, dan aku menghafal Al-Muwaththa’ ketika usiaku sepuluh tahun.”
— Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam Manaqib Asy-Syafi’i dan Adz-Dzahabi dalam Siyar A’lam An-Nubala’ (10/5)

Semangat juang inilah yang harus kita nyalakan kembali dalam diri kita.

Sebaik-baik Manusia: Mereka yang Mempelajari dan Mengajarkan Al-Quran

Jika wafatnya para ulama adalah cara Allah mencabut ilmu dari muka bumi, maka mempelajari dan mengajarkan Al-Quran adalah cara kita menjaga ilmu tersebut tetap hidup. Rasulullah ﷺ bersabda:

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Quran dan mengajarkannya.” 
(HR. Al-Bukhari, no. 5027)

Imam Ibnu Hajar menjelaskan dalam Fath Al-Bari bahwa hadis ini menempatkan ahli Al-Quran sebagai manusia terbaik di antara umat ini — baik mereka yang sedang dalam proses belajar maupun yang sudah mengajarkannya kepada orang lain. Setiap muslim yang terlibat dalam proses ini, pada hakikatnya sedang menyambung rantai sanad yang menghubungkan dirinya dengan Rasulullah ﷺ melalui para ulama dari generasi ke generasi.

بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً

“Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat.” 
(HR. Al-Bukhari, no. 3461)

Hadis ini menunjukkan bahwa setiap muslim memiliki tanggung jawab untuk menjadi mata rantai dalam penyebaran ilmu — dimulai dari satu ayat, satu hadis, satu pelajaran yang kita pahami dan amalkan.

Bahaya Berbicara tentang Agama Tanpa Ilmu

Saat ini, fitnah pemikiran menyebar dengan sangat masif melalui berbagai platform media. Tanpa fondasi Al-Quran dan pemahaman yang benar, seseorang akan sangat mudah terseret ke dalam pemahaman yang menyimpang. Allah ﷻ memberikan peringatan tegas tentang bahaya berbicara tentang agama tanpa ilmu:

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِۦ عِلْمٌ ۚ إِنَّ ٱلسَّمْعَ وَٱلْبَصَرَ وَٱلْفُؤَادَ كُلُّ أُولَـٰٓئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔولًا

“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungjawabannya.” 
(QS. Al-Isra’ [17]: 36)

Ayat ini, sebagaimana dijelaskan oleh Imam Al-Qurthubi dalam Al-Jami’ li Ahkam Al-Quran, merupakan larangan tegas untuk berkata, berfatwa, atau bertindak tanpa dasar ilmu yang benar. Inilah skenario yang digambarkan dalam hadis di awal artikel — ketika para ulama telah tiada dan digantikan oleh orang-orang yang berbicara tanpa ilmu.

Kehadiran kita sebagai penghafal Al-Quran yang memahami esensi agama akan menjadi penyeimbang di tengah carut-marut opini publik. Kita harus menyadari bahwa tanggung jawab menjaga agama ini kini berada di pundak kita semua.

Wafatnya Ulama: Cambuk untuk Lebih Serius dalam Belajar

Mari kita jadikan wafatnya para ulama sebagai cambuk untuk lebih serius dalam belajar, bukan sekadar duka yang berlalu tanpa aksi nyata. Luangkan waktu di tengah kesibukan kita untuk duduk bersimpuh, mengeja kembali ayat demi ayat, dan memahami kehendak Allah melalui firman-Nya.

Langkah konkret yang bisa kita mulai hari ini:

  • ✅ Mulai hafalan Al-Quran — meskipun satu ayat per hari, konsistensi lebih penting daripada kuantitas
  • ✅ Berguru kepada ahlinya — carilah guru yang memiliki sanad dan kompetensi, jangan hanya mengandalkan internet
  • ✅ Bergabung dengan komunitas ilmu — lingkungan yang mendukung akan mempercepat pertumbuhan spiritual dan intelektual
  • ✅ Amalkan dan ajarkan — ilmu yang diamalkan dan disebarkan adalah ilmu yang hidup dan terjaga
  • ✅ Jangan menunda — karena kita tidak tahu kapan kesempatan belajar dari para guru akan berakhir

Melalui program Executive Tahfizh, kita berkesempatan untuk menyambung sanad ilmu dan hafalan yang menjadi warisan paling berharga dari para pendahulu kita. Dengan menjaga hafalan dan mengamalkannya, kita sedang membangun jembatan cahaya yang menghubungkan keberkahan masa lalu dengan harapan masa depan yang lebih cerah.

Jangan tunggu sampai tidak ada lagi guru yang bisa mengajar kita. Cahaya itu tidak boleh padam, dan kitalah yang harus menjaganya agar tetap benderang.

Penutup

Semoga Allah merahmati para ulama kita dan menjadikan kita penerus mereka yang setia dalam menjaga kemurnian ajaran Islam hingga Hari Kiamat. Aamiin.

Referensi

  1. Al-Bukhari, Muhammad bin Ismail. Shahih Al-Bukhari. Damaskus: Dar Thauq An-Najah, 1422 H.
  2. An-Naisaburi, Muslim bin al-Hajjaj. Shahih Muslim. Beirut: Dar Ihya’ at-Turats al-‘Arabi, t.t.
  3. Ibnu Majah, Muhammad bin Yazid. Sunan Ibni Majah. Beirut: Dar Ihya’ al-Kutub al-‘Arabiyyah, t.t.
  4. Ibnu Hajar Al-Asqalani, Ahmad bin Ali. Fath Al-Bari Syarh Shahih Al-Bukhari. Beirut: Dar al-Ma’rifah, 1379 H.
  5. Ath-Thabari, Muhammad bin Jarir. Jami’ Al-Bayan fi Ta’wil Al-Quran. Beirut: Mu’assasah ar-Risalah, 2000.
  6. Al-Qurthubi, Muhammad bin Ahmad. Al-Jami’ li Ahkam Al-Quran. Kairo: Dar al-Kutub al-Mishriyyah, 1964.
  7. An-Nawawi, Yahya bin Syaraf. Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim. Beirut: Dar Ihya’ at-Turats al-‘Arabi, 1392 H.
  8. Adz-Dzahabi, Muhammad bin Ahmad. Siyar A’lam An-Nubala’. Beirut: Mu’assasah ar-Risalah, 1985.
  9. Ibnu Abdil Barr, Yusuf bin Abdillah. Jami’ Bayan Al-‘Ilmi wa Fadhlih. Kairo: Dar al-Hadith, 1994.


Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an

Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
Qur’an Learning Center Yogyakarta merupakan aset wakaf yang dikelola oleh Baitulmaal Muamalat.
🌐 Website: executivetahfizh.com
📱 WhatsApp: +6281224003100

Flyer Program Executive Tahfidz di Yogyakarta
author avatar
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.,