Al-Qur’an bukanlah sekadar deretan kata. Ia adalah Kalamullah, firman suci yang diturunkan kepada Nabi Muhammad ﷺ, pedoman hidup yang abadi. Mengapa demikian banyak dari kita, dalam keseharian, masih seringkali terlupa akan esensi kemuliaan ini? Barangkali, kita terlalu terbiasa dengan rutinitas membaca, hingga luput menyadari kedalaman adab yang semestinya menyertai setiap interaksi dengan Kitabullah. Salah satu aspek adab yang sering terlewatkan namun mengandung hikmah mendalam adalah bagaimana kita menyikapi fenomena alamiah seperti menguap, khususnya saat sedang membaca Al-Qur’an.

Mari kita renungkan sebuah nasihat berharga dari para ulama salaf, yang menggarisbawahi pentingnya menjaga kesantunan dalam setiap kondisi saat berinteraksi dengan Al-Qur’an, bahkan dalam hal yang sepele sekalipun. Nasihat ini datang dari seorang tabi’in mulia, Ikrimah, yang diriwayatkan oleh Abu Ubaid:

قَالَ أَبُو عُبَيْدٍ: وثنا يَزِيدُ، عَنْ جَرِيرِ بْنِ حَازِمٍ، عَنْ يَعْلَى بْنِ حَكِيمٍ، عَنْ عِكْرِمَةَ، قَالَ: «إِذَا تَثَاءَبَ أَحَدُكُمْ وَهُوَ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ فَلْيَسْكُتْ، وَلَا يَقُلْ هَاهَا وَهُوَ يَقْرَأُ»

Abu Ubaid berkata: Yazid meriwayatkan kepada kami, dari Jarir bin Hazim, dari Ya’la bin Hakim, dari Ikrimah, ia berkata: “Apabila salah seorang di antara kalian menguap saat membaca Al-Qur’an, maka hendaklah ia diam, dan janganlah ia berkata ‘ha ha’ saat membacanya.”

Kutipan ini, yang terabadikan dalam Kitab Fadhail Al-Qur’an oleh Abu Ubaid, pada bab “Apa yang Disukai Bagi Pembawa Al-Qur’an berupa Memuliakan Al-Qur’an, Mengagungkannya, dan Mensucikannya”, adalah pengingat yang kuat. Ia menegaskan bahwa etika menguap saat membaca Al-Qur’an bukanlah perkara remeh. Justru, di dalamnya terkandung nilai penghormatan dan pengagungan terhadap Kalamullah yang patut kita selami dan amalkan.

Memahami Makna di Balik Diam Saat Menguap

Mengapa Ikrimah menasihatkan kita untuk diam dan tidak mengeluarkan suara “ha ha” ketika menguap saat membaca Al-Qur’an? Ini bukan hanya tentang suara, melainkan tentang substansi kehormatan. Menguap, secara fisiologis, seringkali dikaitkan dengan rasa kantuk, kurang fokus, atau kelelahan. Kondisi ini, jika disertai dengan suara yang tidak semestinya, dapat mengurangi kekhidmatan dan kesucian interaksi kita dengan firman Allah.

Ketika kita mengizinkan diri kita mengeluarkan suara saat menguap, seolah-olah kita sedang bersikap lalai, tidak serius, atau bahkan meremehkan apa yang sedang kita baca. Padahal, Al-Qur’an adalah sumber hidayah, yang setiap hurufnya mengandung pahala dan kebaikan. Maka, menjaga fokus dan ketenangan saat membaca adalah krusial. Nasihat ini mengajarkan kita untuk menjaga konsentrasi dan adab, bahkan di tengah-tengah godaan rasa kantuk atau keletihan. Ini adalah manifestasi dari adab seorang hamba yang berhati-hati, selalu berusaha menampilkan yang terbaik di hadapan Tuhannya.

Etika Menguap Saat Membaca Al-Qur’an: Lebih dari Sekadar Diam

Tindakan diam saat menguap sebenarnya adalah cerminan dari kesadaran spiritual. Ini adalah upaya untuk menekan godaan setan yang, sebagaimana dalam riwayat lain, menyukai orang yang menguap dengan tidak menutup mulut atau bersuara. Dengan menutup mulut dan menahan diri dari suara, kita secara tidak langsung sedang berjuang melawan godaan untuk lalai dan menunjukkan rasa hormat kita kepada Allah dan firman-Nya. Ini juga sejalan dengan anjuran umum dalam Islam untuk menahan dan menutup mulut saat menguap, sebagai bagian dari kesopanan dan kebersihan.

Aplikasi praktis dari nasihat ini mengubah pola pikir kita. Setiap kali kita merasa kantuk dan akan menguap saat membaca Al-Qur’an, insting pertama kita seharusnya bukan untuk melanjutkan bacaan dengan suara terdistorsi, melainkan untuk berhenti sejenak, menahan napas, menutupi mulut, dan memulihkan konsentrasi. Ini adalah momen untuk merefleksikan kembali niat kita dalam membaca Al-Qur’an: apakah kita membacanya hanya sebagai rutinitas ataukah dengan sepenuh hati, memahami bahwa kita sedang berkomunikasi dengan Pencipta?

Selain itu, pentingnya menjaga adab ini ditekankan dalam banyak konteks lain dalam Al-Qur’an. Allah SWT berfirman:

وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

“Dan apabila dibacakan Al-Qur’an, maka dengarkanlah baik-baik dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat.” (Q.S. Al-A’raf: 204)

Ayat ini, meskipun berbicara tentang mendengarkan, menegaskan prinsip ‘ansitu’ (perhatikanlah dengan tenang). Ketenangan dan perhatian penuh adalah kunci dalam interaksi dengan Al-Qur’an, baik saat mendengarkan maupun membaca. Etika menguap saat membaca Al-Qur’an adalah bagian integral dari prinsip ini. Ia melatih kita untuk selalu hadir secara mental dan spiritual, menjaga agar tidak ada gangguan sekecil apa pun yang merusak kekhusyukan kita.

Transformasi Diri Melalui Adab Berinteraksi dengan Al-Qur’an

Menerapkan adab seperti ini secara konsisten, meskipun terlihat kecil, sesungguhnya membawa dampak besar pada pola pikir dan tindakan kita. Ia menanamkan rasa hormat yang mendalam, tidak hanya terhadap Al-Qur’an, tetapi juga terhadap segala sesuatu yang suci dalam agama kita. Ia melatih kesabaran, pengendalian diri, dan kesadaran akan kehadiran Allah dalam setiap aspek kehidupan.

Kita diajak untuk melihat Al-Qur’an bukan hanya sebagai buku bacaan, melainkan sebagai sebuah mukjizat yang hidup, yang menuntut perlakuan istimewa. Dengan menjaga etika menguap saat membaca Al-Qur’an, kita secara aktif membangun fondasi spiritual yang kuat, yang akan memengaruhi bagaimana kita memahami dan mengamalkan ajaran-ajarannya dalam kehidupan sehari-hari.

Ketika adab ini telah terinternalisasi, membaca Al-Qur’an tidak lagi terasa seperti kewajiban, melainkan sebuah pertemuan suci yang dinanti. Setiap kali kita membuka mushaf, kita akan melakukannya dengan kesadaran penuh, dengan hati yang bersih, dan dengan segala bentuk penghormatan. Ini adalah jalan menuju keberkahan, ketenangan batin, dan pencerahan yang hakiki.

Marilah kita menjadikan setiap sesi membaca Al-Qur’an sebagai sebuah momen yang bermakna, penuh dengan adab dan kekhusyukan. Dengan memahami dan mengamalkan nasihat para ulama tentang etika menguap saat membaca Al-Qur’an, kita tidak hanya meningkatkan kualitas bacaan kita, tetapi juga memperdalam hubungan spiritual kita dengan Allah SWT. Ini adalah langkah kecil yang dapat membawa kita pada perjalanan spiritual yang lebih agung, membentuk pribadi yang lebih baik, dan mendekatkan kita kepada Ridha-Nya.

Jika Anda merasakan panggilan untuk menyelami Al-Qur’an lebih dalam, tidak hanya sebatas membaca namun hingga menghafalnya dengan metode yang efektif dan terstruktur, kami mengundang Anda untuk bergabung dengan keluarga besar Qur’an Learning Center Yogyakarta. Di sini, Anda akan dibimbing untuk memahami dan menghafal Kalamullah dengan adab, kekhusyukan, dan metode yang telah terbukti menghasilkan para penghafal Al-Qur’an yang berkualitas.

Daftar Referensi

  • Kitab Fadhail Al-Qur’an, Abu Ubaid Al-Qasim bin Sallam, hlm. 119.
  • Q.S. Al-A’raf: 204.

—-

Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta

Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
kunjungi halaman ini
WhatsApp +6281224003100

Flyer Program Hafal Quran Executive Tahfizh di Yogyakarta
author avatar
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.,