Ada kisah yang menorehkan jejak mendalam tentang betapa agungnya Al-Qur’an di hati para salafus shalih. Sebuah riwayat sederhana, namun mengandung samudera makna tentang bagaimana seharusnya kita menempatkan kalamullah. Diceritakan oleh Abu Ubaid, dari Ali bin Tsabit, dari Said bin Abi Arubah, bahwa ia mendengar Qatadah, seorang tabi’in mulia, berkata:
«مَا أَكَلْتُ الْكُرَّاثَ مُنْذُ قَرَأْتُ الْقُرَّآنَ»
Yang artinya, “Aku tidak pernah makan daun bawang (kurrats) sejak aku membaca Al-Qur’an.” Sebuah pengakuan yang mungkin terdengar remeh di telinga sebagian orang, namun di baliknya tersembunyi sebuah puncak keagungan dalam memahami dan mengamalkan adab menjaga kemuliaan Al-Qur’an.
Mengapa Qatadah sampai pada titik menjauhi sejenis sayuran yang baunya menyengat hanya karena ia telah membaca Al-Qur’an? Ini bukan tentang haram atau halal. Daun bawang, sebagaimana bawang merah dan putih, hukumnya mubah dan halal. Namun, tindakan Qatadah ini adalah refleksi dari kepekaan hatinya yang luar biasa terhadap kehormatan dan kesucian Al-Qur’an. Beliau khawatir jika bau mulutnya tidak sedap, hal itu akan mengurangi kekhusyukan dan kemuliaan saat ia berinteraksi dengan Kalamullah, baik saat membaca, menghafal, maupun sekadar merenungkannya. Ini adalah bentuk ketawadhuan yang paripurna, sebuah manifestasi nyata dari hati yang dipenuhi rasa hormat dan cinta.
Kisah ini bukan sekadar anekdot sejarah, melainkan sebuah mercusuar yang menerangi jalan bagi kita untuk meneladani. Ia mengajarkan bahwa menjadi seorang pembaca, penghafal, atau pengkaji Al-Qur’an tidak hanya sebatas melafazkan huruf-hurufnya dengan tajwid yang benar, tetapi juga mencakup seluruh dimensi kehidupan kita. Termasuk di dalamnya adalah kebersihan diri, kesucian hati, dan keluhuran akhlak yang selalu terjaga saat kita berhadapan dengan firman Tuhan semesta alam.
Memahami Makna Luas Adab Menjaga Kemuliaan Al-Qur’an
Ketika kita merenungkan pernyataan Qatadah, kita diundang untuk menelaah lebih dalam tentang apa sebenarnya makna adab menjaga kemuliaan Al-Qur’an. Ini bukan hanya tentang menghindari bau mulut. Ini adalah tentang sikap batin dan lahir yang senantiasa menempatkan Al-Qur’an pada posisi tertinggi dalam hidup kita. Adab adalah cerminan dari rasa hormat yang tumbuh dari pemahaman akan kebesaran dan kesucian Al-Qur’an itu sendiri. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
إِنَّهُ لَقُرْآنٌ كَرِيمٌ فِي كِتَابٍ مَّكْنُونٍ لَّا يَمَسُّهُ إِلَّا الْمُطَهَّرُونَ
Yang artinya, “Sesungguhnya (Al-Qur’an) ini adalah bacaan yang sangat mulia, dalam Kitab yang terpelihara (Lauh Mahfuzh), tidak ada yang menyentuhnya kecuali hamba-hamba yang disucikan.” (QS. Al-Waqi’ah: 77-79).
Ayat ini menegaskan betapa agungnya Al-Qur’an, keberadaannya di tempat yang sangat mulia dan hanya disentuh oleh yang disucikan. Walaupun konteks “menyentuh” di sini bisa diartikan secara luas, baik secara fisik maupun spiritual, ia menekankan pentingnya kesucian. Qatadah memahami ini bukan hanya sebagai kewajiban fiqih, tetapi sebagai sikap hati yang memuliakan. Ia melihat Al-Qur’an sebagai tamu agung di dalam hatinya, sehingga ia ingin selalu menyambutnya dalam keadaan terbaik. Kita perlu belajar dari ketajaman batin Qatadah dalam menghayati kedalaman makna Al-Qur’an.
Aplikasi Praktis dalam Menjaga Kehormatan Kalamullah
Kisah Qatadah menginspirasi kita untuk menerapkan adab menjaga kemuliaan Al-Qur’an dalam keseharian. Berikut beberapa aplikasi praktis yang bisa kita renungkan:
- Kebersihan Lahir dan Batin: Sebelum berinteraksi dengan Al-Qur’an, biasakan diri untuk bersuci, tidak hanya wudu, tetapi juga membersihkan diri dari hal-hal yang tidak sedap, termasuk bau mulut. Lebih jauh lagi, bersihkan hati dari prasangka buruk, dengki, dan segala kotoran spiritual yang bisa menghalangi kita untuk menerima cahaya Al-Qur’an.
- Fokus dan Khusyuk: Ketika membaca atau menghafal, berikanlah seluruh perhatian kita. Jauhkan diri dari gangguan, baik fisik maupun mental. Pahami bahwa kita sedang berkomunikasi dengan Allah, pencipta alam semesta.
- Menghargai Mushaf: Perlakukan mushaf dengan sangat hormat. Letakkan di tempat yang tinggi dan bersih. Jangan biarkan ia tergeletak sembarangan atau bercampur dengan benda-benda yang tidak pantas. Hindari meletakkan apapun di atas mushaf.
- Menjaga Lisan dan Perilaku: Seorang hamba yang memuliakan Al-Qur’an seharusnya menjaga lisan dan perilakunya. Bagaimana mungkin kita memuliakan Al-Qur’an dengan membaca atau menghafalnya, namun lisan kita masih sering berucap kotor, ghibah, atau dusta? Ini adalah kontradiksi yang perlu kita perbaiki.
- Mengamalkan Ajarannya: Puncak dari adab adalah mengamalkan apa yang terkandung dalam Al-Qur’an. Sebagaimana firman Allah:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُم مَّوْعِظَةٌ مِّن رَّبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِّمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ
Yang artinya, “Wahai manusia! Sungguh, telah datang kepadamu pelajaran (Al-Qur’an) dari Tuhanmu, penyembuh bagi penyakit yang ada dalam dada, dan petunjuk serta rahmat bagi orang yang beriman.” (QS. Yunus: 57). Al-Qur’an adalah petunjuk, dan petunjuk hanya akan berguna jika diamalkan. Mengamalkannya adalah bentuk tertinggi dari adab kita terhadapnya.
Sungguh, adab menjaga kemuliaan Al-Qur’an adalah jembatan yang menghubungkan hati kita dengan cahaya ilahi. Ia bukan sekadar tata krama, melainkan sebuah filosofi hidup yang membentuk karakter, menuntun perilaku, dan mengangkat derajat seorang hamba. Dengan menerapkan adab ini, kita tidak hanya sekadar membaca atau menghafal, tetapi juga menghidupkan Al-Qur’an dalam setiap detak jantung dan langkah kaki kita.
Ketika kita menghayati kisah Qatadah, kita diajak untuk melihat bahwa Al-Qur’an bukanlah sekadar teks, melainkan manifestasi firman Allah yang hidup, yang senantiasa membersamai kita. Ia adalah sumber petunjuk, cahaya, dan rahmat. Oleh karena itu, perlakuan kita terhadapnya harus mencerminkan pengakuan kita atas kedudukannya yang mulia. Mari kita renungkan, sejauh mana kita telah menghormati “tamu agung” ini dalam kehidupan kita?
Adab adalah gerbang utama menuju keberkahan. Ketika adab kita terhadap Al-Qur’an terjaga, maka Allah akan membukakan pintu-pintu pemahaman, kemudahan dalam menghafal, serta kekuatan untuk mengamalkannya. Ia akan menjadi syafaat kita di akhirat, penerang di alam kubur, dan penyejuk hati di dunia.
Mari bersama-sama meningkatkan kepekaan hati kita, meneladani para salafus shalih dalam memuliakan Al-Qur’an. Jadikan setiap interaksi dengan Al-Qur’an sebagai momen sakral yang membutuhkan persiapan lahir dan batin yang terbaik. Semoga Allah SWT senantiasa membimbing kita untuk menjadi hamba-hamba-Nya yang tidak hanya fasih membaca, tetapi juga luhur adabnya terhadap Kitabullah.
—-
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
kunjungi halaman ini
WhatsApp +6281224003100

Daftar Referensi
- QS. Al-Waqi’ah: 77-79
- QS. Yunus: 57
- Kitab Fadhail Al-Qur’an Abu Ubaid, Bab Ma Yustahabbu li Hamilil Qur’an min Ikramil Qur’an wa Ta’dzimihi wa Tanzihihi, halaman 117. sumber di Perpustakaan Islam Shamela
