Meninggalkan hal yang tidak bermanfaat seringkali terasa seperti melepaskan beban berat yang selama ini tidak kita sadari telah kita panggul di pundak. Pernahkah kita merasa begitu lelah, padahal fisik tidak banyak bergerak? Atau merasa waktu begitu cepat berlalu, namun tak ada satu pun ayat Al-Qur’an yang berhasil kita simpan di dalam dada? Mungkin itu adalah sinyal bahwa batin kita sedang kepenuhan oleh kebisingan yang sebenarnya tidak kita butuhkan.

Kita hidup di dunia yang sangat riuh, di mana setiap detik ada informasi yang berebut masuk ke ruang kesadaran kita. Mulai dari notifikasi media sosial yang tak henti berdenting, gosip yang tak ada ujungnya, hingga perdebatan di dunia maya yang menguras energi. Tanpa sadar, kita membiarkan wadah hati kita terisi oleh air keruh, sehingga saat kita ingin menuangkan jernihnya wahyu Allah, tidak ada lagi ruang yang tersisa. Inilah mengapa konsep menjaga prioritas menjadi sangat krusial bagi keimanan kita.

مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيهِ

“Di antara kebaikan islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat” (HR. Tirmidzi no. 2317, Ibnu Majah no. 3976)

Apakah sulit untuk mulai menyaring hal yang masuk ke pikiran kita?

Wajar sekali jika kita merasa sulit untuk memulai. Kita sudah terbiasa dengan rangsangan visual dan suara yang terus-menerus. Saat suasana sunyi, kita justru merasa gelisah. Namun, jika kita berani mencoba perlahan, kita akan menemukan sebuah kelegaan yang luar biasa. Meninggalkan hal yang tidak bermanfaat bukan berarti kita menjadi antisosial atau menutup diri dari dunia. Ini adalah bentuk cinta kita kepada diri sendiri agar kita memiliki energi yang cukup untuk hal-hal yang benar-benar bernilai abadi.

Bayangkan jika energi yang kita gunakan untuk mengomentari hidup orang lain atau menggulir layar tanpa tujuan dialihkan untuk melisankan firman-Nya. Pasti rasanya sangat sejuk, ya? Hal ini sejalan dengan pengalaman banyak sahabat dalam program 28 Hari Hafal Qur’an, di mana mereka menemukan bahwa kedamaian sejati justru hadir saat kita mampu mengeliminasi gangguan dan memfokuskan seluruh indera hanya kepada Allah.

Bagaimana jika kita merasa terlalu sibuk untuk benar-benar fokus?

Seringkali kita beralasan bahwa kesibukan pekerjaan atau urusan rumah tangga membuat kita tidak bisa fokus menghafal. Namun, mari kita jujur pada diri sendiri, apakah kita benar-benar sibuk atau hanya sekadar “merasa” sibuk karena pikiran kita terpecah ke banyak arah? Kesibukan yang berkah adalah kesibukan yang tertata. Bagi kita yang memiliki aktivitas padat, ada Panduan Lengkap Menghafal Al-Qur’an untuk Dewasa & Sibuk yang bisa membantu kita memilah mana yang mendesak, mana yang penting, dan mana yang sebaiknya kita tinggalkan demi kualitas hafalan kita.

Ketahuilah bahwa menghafal Al-Qur’an bukan hanya tentang kecerdasan otak, melainkan tentang kesiapan hati. Hati yang penuh dengan urusan duniawi yang tidak perlu akan terasa berat untuk menerima cahaya Al-Qur’an. Dengan sengaja meninggalkan hal yang tidak bermanfaat, kita sebenarnya sedang membersihkan singgasana di hati kita agar layak ditempati oleh kalamullah. Rasakan dinginnya lantai masjid saat kita bersujud panjang, atau hangatnya air mata yang menetes saat satu ayat menyentuh lubuk hati terdalam—semua itu hanya bisa dirasakan saat pikiran kita tenang.

Membangun benteng pelindung untuk hafalan kita

Meninggalkan hal yang tidak bermanfaat juga merupakan bagian dari strategi menjaga hafalan atau murajaah. Saat kita memasukkan terlalu banyak informasi sampah ke dalam ingatan, memori kita akan kelelahan. Itulah mengapa lingkungan yang terkondisi sangat menentukan keberhasilan seseorang. Inilah yang menjadi Rahasia Fokus dalam metode karantina, di mana kita secara sadar memutus rantai gangguan luar agar frekuensi pikiran kita selaras dengan ayat-ayat yang sedang kita pelajari.

Kita bisa memulainya dari hal yang paling sederhana. Misalnya, mematikan notifikasi ponsel saat waktu subuh, atau memilih untuk tidak ikut campur dalam pembicaraan yang tidak membawa maslahat. Perubahan kecil ini, jika dilakukan dengan konsisten, akan menciptakan ruang kosong yang sangat luas di dalam jiwa kita. Ruang itulah yang nantinya akan kita isi dengan keindahan tilawah yang merdu.

Menikmati proses menjadi pribadi yang lebih berkualitas

Proses ini memang tidak instan, Sahabat. Kadang kita masih tergoda untuk kembali ke kebiasaan lama. Namun, setiap kali godaan itu datang, ingatlah kembali tujuan besar kita. Kita ingin menjadi sebaik-baik pribadi Muslim, dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberikan kuncinya: yakni dengan meninggalkan hal yang tidak bermanfaat bagi agama maupun dunia kita.

Mari kita saling merangkul dan menguatkan dalam perjalanan ini. Tak apa jika sesekali kita gagal, yang terpenting adalah kita mau bangkit dan kembali merapikan prioritas. Semoga dengan langkah kecil kita hari ini untuk lebih selektif dalam beraktivitas, Allah mudahkan lisan kita untuk terus bersenandung dengan ayat-ayat-Nya dan Allah jadikan hati kita rumah yang nyaman bagi Al-Qur’an.

Kesempurnaan iman kita tercermin dari bagaimana kita menghargai waktu dan perhatian yang Allah titipkan. Dengan sungguh-sungguh belajar meninggalkan hal yang tidak bermanfaat, kita sedang membuka pintu keberkahan yang jauh lebih besar bagi kehidupan kita di dunia maupun di akhirat kelak.


Daftar Referensi

  • Hadits Riwayat Tirmidzi nomor 2317 dan Ibnu Majah nomor 3976.

Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta

Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
Qur’an Learning Center Yogyakarta merupakan aset wakaf yang dikelola oleh Baitulmaal Muamalat untuk mencetak para Hafizh dan Hafizhah dalam program unggulan Executive Tahfizh.
Website: kunjungi halaman ini
WhatsApp: +6281224003100

Flyer Program Hafal Quran Executive Tahfizh
author avatar
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.,