Pernahkah kita merasakan satu ayat begitu menyentuh hingga tak ingin beranjak? Seakan-akan firman itu turun langsung untuk menjawab segala resah dan gelisah di dalam dada. Ternyata, perasaan mendalam saat berinteraksi dengan Kalamullah hingga bergetar jiwa dan lisan, serta keinginan untuk terus mengulang satu ayat Al-Quran adalah sunnah agung yang diajarkan langsung oleh Baginda Rasulullah ﷺ. Ini bukan sekadar tentang kuantitas, melainkan kualitas sebuah dialog suci antara hamba dengan Sang Pencipta.
Kisah menakjubkan ini diabadikan dengan indah dalam kitab Fadhailul Qur’an karya Imam Abu ‘Ubayd al-Qasim bin Sallam, seorang ulama besar yang wafat pada tahun 224 Hijriah. Beliau meriwayatkan sebuah kesaksian langsung dari sahabat mulia, Abu Dzar al-Ghifari, yang merekam sebuah potret ibadah malam Rasulullah ﷺ yang penuh kekhusyukan.
Satu Malam, Satu Ayat, Sejuta Makna
Bayangkanlah keheningan sepertiga malam terakhir. Di saat banyak mata terlelap, Sang Kekasih Allah ﷺ berdiri, larut dalam munajat. Malam itu, lisannya tidak berpindah dari satu surat ke surat lain. Beliau hanya melantunkan satu ayat yang sama, berulang-ulang. Ayat itu menemaninya saat berdiri, saat ruku’, dan saat bersujud, hingga fajar menjelang. Sebuah pemandangan yang menggetarkan hati.
Kisah lengkapnya dituturkan oleh Jasrah binti Dajajah dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu:
قَامَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ لَيْلَةً مِنَ اللَّيَالِي، فَقَرَأَ آيَةً وَاحِدَةً اللَّيْلَ كُلَّهُ حَتَّى أَصْبَحَ، بِهَا يَقُومُ، وَبِهَا يَرْكَعُ، وَبِهَا يَسْجُدُ. فَقَالَ الْقَوْمُ لِأَبِي ذَرٍّ: أَيُّ آيَةٍ هِيَ؟ فَقَالَ: ﴿إِنْ تُعَذِّبْهُمْ فَإِنَّهُمْ عِبَادُكَ وَإِنْ تَغْفِرْ لَهُمْ فَإِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ﴾
Rasulullah ﷺ mendirikan shalat pada suatu malam. Beliau membaca satu ayat yang sama semalam suntuk hingga pagi. Dengan ayat itu beliau berdiri, dengan ayat itu beliau ruku’, dan dengan ayat itu pula beliau bersujud. Orang-orang pun bertanya kepada Abu Dzar: “Ayat apakah itu?” Beliau menjawab: “(Ayat itu adalah) ‘Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Mu, dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkaulah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.’” (Diriwayatkan oleh Abu ‘Ubayd dalam Fadhailul Qur’an)
Puncak Tadabbur dan Kasih Sayang
Praktik mengulang satu ayat Al-Quran ini bukanlah tentang ketidakmampuan untuk melanjutkan bacaan, melainkan puncak dari tadabbur—sebuah perenungan yang mendalam. Rasulullah ﷺ tidak sekadar membaca, tetapi beliau sedang menyelami samudra makna, merasakan setiap getaran firman, dan berdialog dengan Rabb-nya melalui ayat tersebut.
Ayat yang beliau pilih, Surat Al-Ma’idah ayat 118, adalah puncak kepasrahan dan permohonan. Meskipun konteks aslinya adalah ucapan Nabi Isa ‘alaihissalam, Rasulullah ﷺ mengulanginya sebagai bentuk permohonan dan ungkapan cinta yang luar biasa untuk umatnya. Beliau seakan berkata, “Wahai Allah, mereka adalah hamba-Mu. Jika Engkau menghukum karena dosa mereka, itu adalah keadilan-Mu. Namun jika Engkau ampuni, sungguh Engkau Mahaperkasa untuk melakukan apa pun dan Mahabijaksana dalam setiap ketetapan-Mu.” Di dalam pengulangan itu, ada harapan, ada cinta, dan ada pengagungan yang tiada tara kepada Allah.
Menemukan Ayat Hati Kita
Lalu, bagaimana kita bisa meneladani sunnah yang indah ini? Tentu, kita mungkin tidak sanggup melakukannya semalam suntuk. Namun, esensinya bisa kita raih dalam ibadah kita sehari-hari.
- Temukan Ayat yang Menyentuh: Saat kita membaca Al-Quran, pasti ada satu atau dua ayat yang seolah “berbicara” langsung kepada kita. Jangan terburu-buru melewatinya. Berhentilah sejenak.
- Ulangi dengan Perlahan: Coba ulangi ayat itu beberapa kali dalam shalat sunnah, saat sujud, atau ketika berdzikir setelah shalat. Rasakan setiap katanya meresap ke dalam jiwa.
- Renungkan Maknanya: Tanyakan pada diri sendiri, “Pesan apa yang Allah ingin sampaikan kepadaku melalui ayat ini?” Kaitkan dengan kondisi hidup kita, dengan harapan dan ketakutan kita.
Inilah esensi dari mengulang satu ayat Al-Quran. Ia mengubah interaksi kita dari sekadar membaca menjadi sebuah dialog spiritual yang intim. Dari target kuantitas menjadi pencapaian kualitas kekhusyukan. Kita akan menyadari bahwa satu ayat yang direnungkan secara mendalam bisa jadi lebih berdampak daripada berlembar-lembar bacaan yang tergesa-gesa.
Semoga Allah menganugerahkan kita kemampuan untuk tidak hanya membaca firman-Nya, tetapi juga meresapi dan menjadikannya cahaya dalam setiap langkah kehidupan. Jika getaran seperti ini yang kita rindukan dalam interaksi dengan Al-Quran, maka inilah saatnya untuk belajar lebih dalam, dibimbing dalam lingkungan yang mendukung. Qur’an Learning Center Yogyakarta hadir untuk mendampingi perjalanan spiritual kita bersama Al-Quran.
Daftar Referensi
- Al-Qasim bin Sallam, Abu ‘Ubayd. Fadhailul Qur’an. (Maktabah Syamilah).
- Q.S. Al-Ma’idah: 118
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
Website: kunjungi halaman ini
WhatsApp: +6281224003100


