Dalam bentangan sejarah Islam yang memesona, ada banyak kisah inspiratif dari para sahabat Nabi yang menunjukkan dedikasi luar biasa terhadap Al-Qur’an. Salah satunya adalah kisah Sayyidina Tamim Ad-Dari radhiyallahu ‘anhu, sebuah teladan yang mengajarkan kita tentang kedalaman tadabbur dan pengulangan ayat suci. Kisah ini bukan sekadar cerita lampau, melainkan sebuah undangan agung bagi kita untuk turut serta merenungi ayat Al-Jatsiyah 21 dan pengulangannya oleh Tamim Ad-Dari, agar hati kita pun tersentuh dan pikiran kita tercerahkan.

Pernahkah kita membayangkan, bagaimana rasanya berinteraksi dengan firman Allah sedalam itu, hingga satu ayat mampu mengikat hati dan pikiran kita semalaman suntuk? Kisah Tamim Ad-Dari memberikan gambaran nyata. Diriwayatkan bahwa suatu malam, Tamim Ad-Dari mendatangi Maqam, sebuah tempat mulia untuk beribadah. Beliau lalu mendirikan shalat, memulainya dengan membaca Surah Al-Jatsiyah. Ketika sampai pada ayat ke-21, beliau berhenti sejenak, lalu tenggelam dalam samudera maknanya, dan mengulang-ulang ayat tersebut hingga fajar menyingsing.

أَمْ حَسِبَ الَّذِينَ اجْتَرَحُوا السَّيِّئَاتِ أَنْ نَجْعَلَهُمْ كَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَوَاءً مَحْيَاهُمْ وَمَمَاتُهُمْ سَاءَ مَا يَحْكُمُونَ

(Apakah orang-orang yang mengerjakan kejahatan itu mengira bahwa Kami akan menjadikan mereka sama dengan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, yaitu sama kehidupan dan kematian mereka? Amat buruklah apa yang mereka sangka itu.) – Q.S. Al-Jatsiyah: 21

Bayangkan, satu ayat. Satu pertanyaan retoris dari Allah subhanahu wa ta’ala yang mengguncang asumsi paling mendasar tentang keadilan. Ayat ini secara tegas menolak pemikiran bahwa pelaku kejahatan dan pelaku kebaikan akan memiliki nasib yang sama, baik dalam hidup maupun setelah mati. Sebuah penolakan yang keras terhadap anggapan bahwa segala perbuatan akan berakhir sama, tanpa konsekuensi. Inilah yang membuat Tamim Ad-Dari terus merenungi ayat Al-Jatsiyah 21 dan pengulangannya oleh Tamim Ad-Dari, seakan ayat itu adalah cermin bagi seluruh keberadaan dan takdir manusia.

Mengapa Pengulangan Ayat Menjadi Sangat Penting?

Tindakan Tamim Ad-Dari yang mengulang-ulang ayat ini bukanlah sekadar rutinitas tanpa makna. Ini adalah puncak dari tadabbur, proses perenungan mendalam terhadap firman Allah. Ketika kita mengulang sebuah ayat, kita memberikan kesempatan kepada hati dan akal untuk menyelaminya, membongkar lapis demi lapis maknanya, hingga ia benar-benar meresap dan mengubah cara pandang kita. Ini adalah metode yang sangat efektif untuk membiarkan kalamullah mengukir jejak di relung jiwa kita, menumbuhkan rasa takut, harap, dan cinta.

Dalam konteks ayat ini, pengulangan tersebut seperti sebuah penegasan tanpa henti: “Apakah mungkin? Apakah pantas? Apakah adil?” Hati Tamim Ad-Dari terus-menerus memproses implikasi dari ayat ini, menyadari betapa fatalnya kesalahpahaman jika seseorang mengira bahwa kebaikan dan keburukan akan berakhir pada titik yang sama. Ini memicu muhasabah, introspeksi diri yang mendalam tentang pilihan-pilihan hidup yang telah dan akan kita ambil.

Pelajaran Hidup dari Kontras Kebaikan dan Kejahatan

Ayat ke-21 dari Surah Al-Jatsiyah ini adalah landasan filosofis bagi setiap muslim untuk senantiasa berorientasi pada amal saleh. Allah subhanahu wa ta’ala dengan tegas menepis asumsi keliru bahwa hidup ini adalah panggung tanpa hakim, di mana kejahatan bisa bersembunyi di balik bayang-bayang kebaikan, atau sebaliknya. Sebaliknya, setiap perbuatan, sekecil apa pun, memiliki bobot dan konsekuensinya.

Hidup orang-orang beriman yang beramal saleh dipenuhi keberkahan, ketenangan batin, dan harapan akan pahala. Kematian mereka adalah gerbang menuju kebahagiaan abadi. Sebaliknya, kehidupan orang-orang yang berbuat jahat, meskipun mungkin dihiasi kesenangan duniawi sesaat, seringkali diselimuti kegelisahan dan kehampaan. Kematian mereka adalah awal dari perhitungan yang pedih. Sungguh, betapa buruknya penilaian mereka yang menyamakan keduanya. Ini adalah inti dari mengapa merenungi ayat Al-Jatsiyah 21 dan pengulangannya oleh Tamim Ad-Dari adalah sebuah keharusan, untuk meluruskan perspektif kita tentang keadilan ilahi.

Ini bukan hanya tentang hukuman dan pahala di akhirat, tetapi juga tentang kualitas hidup di dunia. Seseorang yang hidup dalam ketaatan akan merasakan ketenteraman jiwa yang tak ternilai, sementara hati yang terus-menerus bergelut dengan dosa akan merasakan kekosongan dan kegelisahan, meskipun dikelilingi kemewahan.

Transformasi Diri Melalui Kalamullah

Kisah Tamim Ad-Dari mengajarkan kita bahwa Al-Qur’an bukanlah sekadar bacaan untuk diselesaikan, melainkan samudera hikmah untuk diselami. Cara kita berinteraksi dengan Al-Qur’an sangat menentukan sejauh mana ia akan mempengaruhi dan mengubah hidup kita. Jika kita hanya membacanya tanpa perenungan, ibarat meminum air dari wadah yang bocor; ia tidak akan meresap sepenuhnya.

Namun, jika kita mendalaminya, mengulang-ulang ayat-ayat yang menyentuh, bahkan hingga pagi menjelang, seperti yang dilakukan Tamim Ad-Dari, maka Al-Qur’an akan menjadi kekuatan transformatif yang dahsyat. Ia akan menjadi cahaya yang menerangi setiap langkah, penasihat yang paling bijak, dan pengingat yang tak pernah luput. Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman dalam Al-Qur’an:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

(Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.) – Q.S. Al-Hashr: 18

Ayat ini semakin menguatkan pentingnya muhasabah dan persiapan diri. Seperti Tamim Ad-Dari yang termangu oleh satu ayat, kita pun diajak untuk terus-menerus mengevaluasi diri, apa yang sudah kita persiapkan untuk “hari esok” yang abadi. Merenungi ayat Al-Jatsiyah 21 dan pengulangannya oleh Tamim Ad-Dari secara rutin dapat menjadi salah satu bentuk muhasabah yang paling kuat.

Semangat untuk tidak menyamakan kebaikan dan keburukan, serta kesadaran akan keadilan Allah, harus menjadi pendorong bagi kita untuk senantiasa memilih jalan kebaikan. Ini adalah panggilan untuk memperbaiki niat, menyempurnakan amal, dan menjauhi segala bentuk kezaliman. Jadikanlah setiap ayat Al-Qur’an sebagai jembatan menuju pemahaman yang lebih dalam, dan setiap pengulangan sebagai penguat tekad untuk hidup dalam rida-Nya.

Maka, mari kita ambil pelajaran berharga dari Tamim Ad-Dari. Mari kita luangkan waktu untuk benar-benar merenungi ayat Al-Jatsiyah 21 dan pengulangannya oleh Tamim Ad-Dari, tidak hanya membacanya. Biarkan ayat-ayat itu berbicara kepada hati, menuntun pikiran, dan menginspirasi tindakan kita sehari-hari. Sesungguhnya, Al-Qur’an adalah petunjuk bagi mereka yang mau merenung dan mengambil pelajaran.

—-

Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta

Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
kunjungi halaman ini
WhatsApp +6281224003100

Flyer Program Hafal Quran Executive Tahfizh di Yogyakarta

Daftar Referensi

  • Al-Qur’an Surah Al-Jatsiyah Ayat 21
  • Al-Qur’an Surah Al-Hashr Ayat 18
  • Kitab Fadha’il Al-Qur’an karya Abu Ubaid, Bab: Ma Yustahabbu li Qari’il Qur’an min Tikraril Ayati wa Tardi’diha, halaman 145.
  • Sumber Hadits: sumber di Perpustakaan Islam Shamela
author avatar
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.,