Kalamullah adalah cahaya yang tak pernah padam, petunjuk yang tak lekang oleh zaman. Bagi setiap insan yang berinteraksi dengannya, baik sebagai pengajar maupun pembelajar, ada sebuah kedudukan istimewa yang menanti. Namun, kemuliaan itu tidak datang semata karena aktivitas fisik membaca atau menghafal, melainkan tersembunyi dalam esensi niat dan penghayatan. Artikel ini akan mengajak kita menyelami kedalaman bagaimana mengukuhkan adab ikhlas dalam menghafal dan membaca Al-Qur’an, sebuah fondasi yang tak tergoyahkan dalam perjalanan spiritual kita bersama firman-Nya.

Keutamaan Ahli Al-Qur’an: Sebuah Panutan

Islam menempatkan pembaca dan penghafal Al-Qur’an pada martabat yang tinggi. Mereka adalah pemimpin spiritual yang seyogianya menjadi teladan. Sebagaimana yang diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud Al-Anshari Al-Badri radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يؤم القوم أقرؤهم لكتاب الله تعالى

Artinya: “Yang mengimami suatu kaum adalah yang paling banyak (atau paling baik) bacaan Kitabullahnya.” (H.R. Muslim)

Hadits ini secara jelas menunjukkan bahwa keunggulan dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an mengangkat derajat seseorang. Bahkan, para ulama bersepakat bahwa membaca Al-Qur’an itu lebih utama daripada tasbih, tahlil, atau dzikir lainnya. Kehadiran para qurra’ (pembaca Al-Qur’an) di majelis Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu, baik dari kalangan tua maupun muda, sebagai tempat beliau meminta nasihat, adalah bukti nyata kedudukan mulia mereka di mata para sahabat. Ini adalah bukti pertama betapa esensialnya mengukuhkan adab ikhlas dalam menghafal dan membaca Al-Qur’an, tidak hanya untuk diri sendiri tetapi juga untuk kemaslahatan umat.

Menghormati Pembawa Al-Qur’an: Gerbang Keberkahan

Memuliakan ahli Al-Qur’an adalah bagian dari mengagungkan syiar-syiar Allah. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

ذلك ومن يعظم شعائر الله فإنها من تقوى القلوب

Artinya: “Demikianlah (perintah Allah). Dan barang siapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.” (Q.S. Al-Hajj: 32)

Penghormatan ini juga menjadi bentuk pengagungan kita kepada Allah Ta’ala. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إن من إجلال الله تعالى إكرام ذي الشيبة المسلم وحامل القرآن غير الغالي فيه والجافي عنه وإكرام ذي السلطان المقسط

Artinya: “Sesungguhnya termasuk dari mengagungkan Allah Ta’ala adalah memuliakan orang muslim yang sudah beruban (lanjut usia), pembawa Al-Qur’an yang tidak berlebihan dan tidak menjauhinya, dan memuliakan penguasa yang adil.” (H.R. Abu Dawud, hadits hasan)

Bahkan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutamakan orang yang lebih banyak hafalan Al-Qur’annya dalam penguburan syuhada Uhud, menempatkannya di liang lahat terlebih dahulu. Ini menunjukkan betapa tinggi derajat mereka. Sebaliknya, menyakiti atau meremehkan ahli Al-Qur’an, apalagi para ulama yang hakikatnya adalah pewaris Nabi, adalah perbuatan yang sangat tercela dan dapat mendatangkan murka Allah. Allah berfirman:

والذين يؤذون المؤمنين والمؤمنا ت بغير ما اكتسبوا فقد احتملوا بهتانا وإثما مبينا

Artinya: “Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan, tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.” (Q.S. Al-Ahzab: 58)

Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam Hadits Qudsi, “Siapa yang menyakiti wali-Ku, maka sungguh Aku telah menyatakan perang kepadanya.” Menjaga lisan dan hati dari mencela mereka adalah wujud ketakwaan dan bagian penting dari mengukuhkan adab ikhlas dalam menghafal dan membaca Al-Qur’an.

Ikhlas: Fondasi Setiap Amalan Al-Qur’an

Inilah puncak dari segala adab dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an, baik bagi pengajar maupun pembelajar. Keikhlasan adalah tujuan utama, ridha Allah semata adalah porosnya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وما أمروا إلا ليعبدوا الله مخلصين له الدين حنفاء ويقيموا الصلاة ويؤتوا الزكاة وذلك دين القيمة

Artinya: “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (Q.S. Al-Bayyinah: 5)

Segala amal perbuatan, termasuk menghafal dan membaca Al-Qur’an, akan dinilai berdasarkan niatnya. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

إنما الأعمال بالنيات وإنما لكل امرئ ما نوى

Artinya: “Sesungguhnya setiap amalan itu tergantung pada niatnya, dan sesungguhnya setiap orang itu akan mendapatkan balasan sesuai dengan apa yang diniatkannya.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Imam Abu Al-Qasim Al-Qusyairi menjelaskan bahwa ikhlas adalah memurnikan tujuan dalam ketaatan hanya untuk Allah Ta’ala. Bukan untuk mencari pujian, popularitas, atau hal-hal duniawi lainnya dari manusia. Ini adalah pembersihan amal dari segala bentuk campur tangan makhluk, baik dalam tampilan lahir maupun batin. Dzun Nun Al-Mishri bahkan menyebutkan tiga tanda keikhlasan: kesamaan antara pujian dan celaan dari manusia, melupakan amal perbuatan yang telah dilakukan, serta hanya mengharapkan pahala amal di akhirat.

Al-Fudhail bin Iyadh mengingatkan bahwa meninggalkan amal karena ingin dilihat orang adalah riya’, sedangkan beramal karena ingin dilihat orang adalah syirik. Keikhlasan, menurut beliau, adalah ketika Allah menyelamatkan kita dari keduanya. Kita perlu terus berjuang untuk mengukuhkan adab ikhlas dalam menghafal dan membaca Al-Qur’an, memastikan bahwa setiap gerakan dan diam kita adalah semata-mata karena-Nya, tanpa ada campuran nafsu, hawa, maupun ambisi duniawi.

Praktik Mengukuhkan Adab Ikhlas dalam Menghafal dan Membaca Al-Qur’an

Lalu, bagaimana kita menerapkan prinsip keikhlasan ini dalam keseharian kita bersama Al-Qur’an? Para ulama terdahulu memberikan kita teladan yang terang. Seorang yang tulus (ash-shadiq) tidak akan peduli jika kedudukannya di mata manusia hilang demi kebaikan hatinya di sisi Allah. Ia tidak ingin orang lain mengetahui kebaikan-kebaikannya sekecil apapun, dan ia tidak membenci jika orang lain mengetahui keburukan-keburukannya, karena kebencian itu justru menunjukkan ia masih mencari tempat di hati manusia. Inilah inti dari mengukuhkan adab ikhlas dalam menghafal dan membaca Al-Qur’an.

Bagi para pengajar, niat untuk mengajarkan Al-Qur’an haruslah demi keridhaan Allah, untuk menyebarkan kalam-Nya, dan meraih pahala dari-Nya, bukan untuk kemasyhuran atau imbalan materi semata. Bagi para pembelajar, semangat menghafal dan mempelajari haruslah untuk mendekatkan diri kepada Allah, memahami petunjuk-Nya, dan mengamalkannya, bukan untuk sekadar pujian atau ijazah. Jika kita berinteraksi dengan Al-Qur’an dengan niat yang murni dan ikhlas, maka Allah akan membukakan mata hati kita untuk melihat keajaiban-keajaiban dunia dan akhirat. Maka, mari senantiasa menata hati, membersihkan niat, dan berjuang bersama untuk mengukuhkan adab ikhlas dalam menghafal dan membaca Al-Qur’an, demi meraih cinta dan ridha-Nya.

Semoga setiap huruf yang kita baca, setiap ayat yang kita hafalkan, menjadi saksi keikhlasan kita di hadapan Allah Ta’ala. Mari bersama-sama menjadi bagian dari mereka yang mencintai Al-Qur’an dengan sepenuh hati dan jiwa yang bersih.

Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta

Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
kunjungi halaman ini
WhatsApp +6281224003100

Flyer Program Hafal Quran Executive Tahfizh di Yogyakarta

Daftar Referensi

  • H.R. Muslim, Kitab Shalat Musafirin dan Qasharnya, Bab Siapa yang Lebih Utama untuk Mengimami.
  • Q.S. Al-Hajj: 32
  • H.R. Abu Dawud, Kitab Adab, Bab Mengagungkan Ahlul Kitab.
  • Q.S. Al-Ahzab: 58
  • H.R. Bukhari, Kitab Ar-Riqaaq, Bab Tawadhu.
  • Q.S. Al-Bayyinah: 5
  • H.R. Bukhari dan Muslim, Kitab Permulaan Wahyu.
  • Imam An-Nawawi, At-Tibyan fi Adabi Hamalatil Qur’an.
author avatar
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.,