Menjelajahi samudra ilmu adalah perjalanan suci yang membutuhkan komitmen mendalam, bukan hanya dari sisi intelektual, tetapi juga spiritual. Terlebih lagi dalam ilmu syar’i, di mana niat menjadi pondasi utama yang menentukan bobot amalan dan keberkahan yang akan diraih. Kita, sebagai pembelajar maupun pengajar, seyogianya memahami esensi adab guru dan murid dalam menuntut ilmu syar’i dengan ikhlas agar setiap langkah dan ucapan senantiasa berada dalam ridha-Nya.

Ikhlas adalah kunci pembuka pintu kebaikan. Tanpa keikhlasan, ibadah dan amal shaleh, termasuk menuntut dan mengajarkan ilmu, akan kehilangan ruhnya. Betapa banyak dari kita yang mungkin tanpa sadar tergelincir dalam pusaran keinginan duniawi saat menimba ilmu agama. Ada yang berharap kekayaan, jabatan, ketenaran, pujian dari manusia, atau sekadar pengakuan dari sesama. Padahal, tujuan utama seorang penuntut ilmu hanyalah satu: meraih keridhaan Allah Ta’ala.

Al-Qur’an telah mengingatkan kita tentang pentingnya niat ini dengan sangat tegas. Allah berfirman:

مَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الْآخِرَةِ نَزِدْ لَهُ فِي حَرْثِهِ وَمَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الدُّنْيَا نُؤْتِهِ مِنْهَا وَمَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ نَصِيبٍ

Artinya: “Barangsiapa menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya, dan barangsiapa menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian darinya (keuntungan dunia), tetapi dia tidak akan mendapat bagian sedikit pun di akhirat.” (Q.S. Asy-Syura: 20)

Ayat ini menjadi pengingat yang kuat bagi kita semua. Mengapa harus menukar keabadian akhirat dengan kenikmatan dunia yang fana? Bahkan, Rasulullah ﷺ pun telah memperingatkan keras tentang bahaya ini. Dalam sebuah hadits, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا يَبْتَغِي بِهِ وَجْهَ اللَّهِ تَعَالَى لَا يَتَعَلَّمُهُ إِلَّا لِيُصِيبَ بِهِ غَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Artinya: “Barangsiapa menuntut ilmu yang seharusnya bertujuan mencari wajah Allah Ta’ala, tetapi ia tidak menuntutnya melainkan untuk mendapatkan tujuan duniawi, niscaya ia tidak akan mendapatkan harumnya surga pada hari Kiamat.” (H.R. Abu Daud)

Ancaman ini bukan main-main. Harum surga saja tak didapati, apalagi masuk ke dalamnya. Ini adalah konsekuensi dari ketidakikhlasan yang menggerogoti niat suci. Begitu pula bagi para pengajar, hendaknya tidak terjerat dalam jebakan mengharapkan imbalan materi atau jasa dari murid-muridnya, bahkan dalam bentuk hadiah sekalipun, jika hadiah itu tidak akan diberikan seandainya ia tidak mengajarkan ilmu.

Ikhlas sebagai Pondasi Utama dalam Mengajar

Seorang pengajar sejati, yang memahami esensi adab guru dan murid dalam menuntut ilmu syar’i dengan ikhlas, tidak akan memiliki ambisi untuk memperbanyak jumlah murid atau merasa bangga dengan banyaknya orang yang menuntut ilmu kepadanya. Lebih jauh lagi, ia tidak akan merasa tidak senang jika murid-muridnya belajar dari guru lain yang juga memberinya manfaat. Sikap seperti ini, jika ada, justru merupakan indikasi yang jelas akan buruknya niat dan rusaknya hati seorang pengajar.

Apabila seorang pengajar benar-benar ikhlas karena Allah dalam mengajarkan ilmu, niscaya ia tidak akan membenci hal tersebut. Sebaliknya, ia akan berkata pada dirinya sendiri, “Aku mengajarkan ilmu ini semata untuk mencari keridhaan Allah, dan itu sudah tercapai. Adapun muridku mencari ilmu tambahan dari guru lain, itu adalah upaya untuk meningkatkan ilmunya, jadi tidak ada yang perlu disesalkan.”

Kisah Imam Syafi’i rahimahullah mengajarkan kita tentang puncak keikhlasan seorang guru. Beliau pernah berkata, “Aku sangat berharap agar semua manusia mempelajari ilmu ini – yang beliau maksud adalah ilmunya dan kitab-kitabnya – tanpa sedikit pun dinisbatkan kepadaku.” Sebuah ungkapan yang menunjukkan betapa beliau ingin ilmunya tersebar luas dan bermanfaat, tanpa ada sedikit pun kebanggaan diri atau keinginan untuk diakui.

Makarimul Akhlak: Perhiasan Jiwa Seorang Pendidik

Sebagai teladan bagi para penuntut ilmu, seorang guru hendaknya senantiasa menghiasi dirinya dengan kemuliaan akhlak. Sifat-sifat terpuji yang dicontohkan oleh syariat, seperti zuhud (tidak berlebihan dalam mencintai dunia), murah hati, berlapang dada, dan berwajah ceria tanpa melewati batas yang tidak pantas, adalah cerminan dari hati yang tulus. Kesabaran, ketenangan, tawadhu’ (rendah hati), menghindari perolehan harta dari jalan yang hina, serta menjauhi sifat hasad, riya’, dan ‘ujub (membanggakan diri) adalah karakter fundamental.

Seorang guru juga perlu mempraktikkan sunnah-sunnah kebersihan seperti memotong kuku, merapikan kumis, menyisir janggut, dan menghilangkan bau tidak sedap. Semua ini bukan hanya masalah penampilan, melainkan bagian dari kesempurnaan adab seorang muslim, terutama bagi mereka yang memikul amanah ilmu. Dengan demikian, ia menjadi cerminan sejati dari adab guru dan murid dalam menuntut ilmu syar’i dengan ikhlas.

Kelembutan dan Ketulusan Hati terhadap Murid

Hubungan antara guru dan murid seharusnya dilandasi oleh rasa kasih sayang dan kebaikan. Seorang guru hendaknya bersikap lembut, ramah, dan memperlakukan muridnya dengan baik sesuai keadaannya. Diriwayatkan dari Abu Harun Al-‘Abdi, ia berkata, “Kami pernah mendatangi Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, lalu beliau berkata, ‘Selamat datang wahai wasiat Rasulullah ﷺ! Sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda, ‘Sesungguhnya manusia itu mengikutimu, dan sesungguhnya akan datang kepadamu beberapa orang dari berbagai penjuru bumi untuk menuntut ilmu agama, maka jika mereka datang kepadamu, berilah wasiat yang baik kepada mereka’.” (H.R. Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Ini menunjukkan betapa mulianya kedudukan penuntut ilmu di mata syariat, dan betapa pentingnya bagi seorang guru untuk memberikan pelayanan terbaik. Mengamalkan nasihat ini adalah bagian tak terpisahkan dari adab guru dan murid dalam menuntut ilmu syar’i dengan ikhlas.

Memberikan Nasihat Terbaik dengan Penuh Kasih Sayang

Memberikan nasihat tulus adalah inti dari ajaran agama. Rasulullah ﷺ bersabda, “Agama itu adalah nasihat.” Kami bertanya, “Untuk siapa?” Beliau menjawab, “Untuk Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin kaum Muslimin, dan kaum Muslimin pada umumnya.” (H.R. Muslim)

Termasuk dalam nasihat kepada Allah dan Kitab-Nya adalah memuliakan pembaca dan penuntut Al-Qur’an, membimbing mereka kepada kebaikan, bersikap lembut, membantu mereka semampunya dalam mencari ilmu, dan meluluhkan hati mereka. Seorang guru harus bersedia mengajar dengan sabar, penuh kelembutan, dan memotivasi muridnya untuk terus belajar. Mengingatkan mereka akan keutamaan ilmu akan membangkitkan semangat dan meningkatkan gairah mereka. Menanamkan sikap zuhud terhadap dunia dan mengingatkan mereka agar tidak terlena dengan tipu daya dunia, serta mengingatkan keutamaan berinteraksi dengan Al-Qur’an dan ilmu syar’i lainnya, adalah jalan para ‘arifin dan hamba-hamba Allah yang shalih.

Seorang guru hendaknya mencintai untuk muridnya kebaikan sebagaimana ia mencintai kebaikan untuk dirinya sendiri, dan membenci kekurangan pada muridnya sebagaimana ia membenci kekurangan pada dirinya. Sikap ini adalah perwujudan kasih sayang seorang pendidik sejati. Ia menganggap muridnya seperti anaknya sendiri, bersabar menghadapi kekasaran atau perilaku buruk mereka, dan memaafkan kekurangan adab mereka, terutama jika mereka masih muda, karena manusia memang rentan terhadap kekurangan.

Pada akhirnya, perjalanan menuntut dan mengajarkan ilmu syar’i adalah ibadah agung yang menuntut keikhlasan total dari setiap jiwa. Mari kita bersama-sama mengukir jejak-jejak keikhlasan, mengamalkan adab guru dan murid dalam menuntut ilmu syar’i dengan ikhlas, demi meraih keberkahan ilmu dan keridhaan Illahi Rabbi.

—-

Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta

Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
kunjungi halaman ini
WhatsApp +6281224003100

Flyer Program Hafal Quran Executive Tahfizh di Yogyakarta

Daftar Referensi

  • Q.S. Asy-Syura: 20
  • H.R. Abu Daud No. 3666
  • H.R. Muslim No. 55
author avatar
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.,