Kisah turunnya Al-Qur’an adalah sebuah narasi agung yang senantiasa menggetarkan jiwa. Ia bukan sekadar catatan sejarah, melainkan pondasi iman yang membentuk peradaban. Kita seringkali bertanya, “Bagaimana permulaan wahyu ini?” Pertanyaan ini membawa kita pada penelusuran tentang ayat Al-Quran pertama kali turun, sebuah momen krusial yang menandai titik balik kehidupan Nabi Muhammad ﷺ dan seluruh umat manusia.
Para ulama telah menelaah dengan cermat, menghimpun riwayat, dan mengkaji setiap detail untuk mengungkap misteri ini. Perbedaan pandangan memang ada, namun mayoritas ulama dan bukti-bukti sahih menunjukkan pada satu titik kebenaran yang tidak terbantahkan. Pemahaman akan momen ini bukan hanya memperkaya wawasan keislaman kita, tetapi juga membukakan cakrawala baru tentang esensi pesan ilahi yang pertama kali diterima oleh Sang Rasul.
Menguak Tirai Wahyu: Ketika “Iqra'” Pertama Kali Turun
Mayoritas ulama bersepakat, dan ini adalah pandangan yang paling sahih, bahwa ayat Al-Quran pertama kali turun adalah lima ayat pertama dari Surah Al-Alaq. Peristiwa agung ini terjadi di Gua Hira, sebuah tempat yang menjadi saksi bisu transformasinya seorang Muhammad menjadi Nabi dan Rasul.
Kisah ini diriwayatkan secara luas oleh para imam hadits seperti Imam Bukhari dan Muslim, dari Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha. Beliau mengisahkan bagaimana permulaan wahyu yang diterima Rasulullah ﷺ adalah melalui mimpi yang benar. Setiap mimpi yang beliau alami selalu terwujud terang benderang seperti cahaya fajar. Kemudian, beliau mulai menyenangi kesendirian dan berkhalwat di Gua Hira, beribadah di sana selama beberapa malam, membawa bekal, dan kembali kepada Khadijah untuk dibekali lagi. Hingga akhirnya, kebenaran itu datang secara tiba-tiba di gua tersebut. Malaikat Jibril ‘alaihissalam mendatanginya dan berkata, “Bacalah!”
Rasulullah ﷺ yang pada saat itu belum pernah menerima wahyu, menjawab, “Aku tidak bisa membaca.” Jibril kemudian memeluk beliau dengan erat hingga mencapai batas kekuatannya, lalu melepaskannya dan kembali berkata, “Bacalah!” Rasulullah ﷺ kembali menjawab, “Aku tidak bisa membaca.” Peristiwa ini terulang hingga tiga kali, dan setiap kali dipeluk, Rasulullah ﷺ merasakan beratnya beban wahyu. Pada kali ketiga, Jibril melepaskan beliau dan menyampaikan firman Allah:
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ (١) خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ (٢) اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ (٣) الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ (٤) عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ (٥)
Terjemahan: “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Mulia. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (Q.S. Al-Alaq: 1-5)
Dengan gemetar dan hati yang berdegup kencang, Rasulullah ﷺ pulang membawa ayat-ayat ini kepada Khadijah. Ini adalah momen monumental, ketika ayat Al-Quran pertama kali turun mengukir sejarah dan membuka lembaran baru bagi kenabian.
Hikmah di Balik Perintah Membaca (Iqra’)
Pesan pertama yang Allah sampaikan melalui wahyu-Nya adalah perintah “Iqra'” – Bacalah! Ini adalah perintah yang penuh makna, jauh melampaui sekadar membaca tulisan. Iqra’ adalah seruan untuk menjelajahi, merenungkan, memahami, dan mempelajari. Ia adalah fondasi dari setiap kemajuan, baik secara individu maupun peradaban.
Ketika kita merenungi mengapa ayat Al-Quran pertama kali turun berbicara tentang membaca, kita menyadari betapa pentingnya literasi, pengetahuan, dan pemahaman dalam Islam. Membaca bukan hanya membuka gerbang ilmu, tetapi juga gerbang hati untuk mengenal pencipta-Nya. Perintah ini datang dengan tambahan “dengan nama Tuhanmu yang menciptakan”, menunjukkan bahwa setiap upaya belajar dan mencari ilmu harus dilandasi oleh kesadaran akan kebesaran Allah, dengan niat yang lurus dan tujuan yang mulia.
Dalam kehidupan kita saat ini, hikmah dari “Iqra'” menjadi semakin relevan. Di tengah banjir informasi dan berbagai tantangan, kita dituntut untuk terus “membaca” realitas, “membaca” tanda-tanda kebesaran Allah di alam semesta, dan “membaca” diri kita sendiri. Membaca dengan nama Tuhan berarti menimbang segala sesuatu dengan timbangan kebenaran Ilahi, mencari petunjuk-Nya dalam setiap langkah, dan menggunakan ilmu yang kita dapatkan untuk kemaslahatan umat.
Pandangan Lain: Ayat “Al-Muddathir” sebagai Awal Mula Dakwah
Meskipun pandangan yang paling sahih menunjuk pada Surah Al-Alaq, ada juga riwayat yang menyebutkan Surah Al-Muddathir sebagai yang pertama kali turun. Riwayat ini datang dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhuma, sebagaimana tercatat dalam Shahih Bukhari dan Muslim. Jabir menceritakan bahwa ia bertanya kepada Rasulullah ﷺ, “Ayat Al-Qur’an mana yang turun lebih dulu?” Beliau menjawab, “Wahai orang yang berselimut (Al-Muddathir).”
Rasulullah ﷺ kemudian bercerita tentang pengalaman beliau setelah menyelesaikan masa berkhalwat di Gua Hira. Ketika beliau turun dari gua dan menyusuri lembah, beliau melihat ke segala arah, lalu mendongak ke langit. Di sana, beliau melihat Jibril ‘alaihissalam. Beliau merasa ketakutan, lalu pulang ke rumah Khadijah dan meminta untuk diselimuti. Kemudian Allah menurunkan firman-Nya:
يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ (١) قُمْ فَأَنْذِرْ (٢)
Terjemahan: “Wahai orang yang berselimut! Bangunlah, lalu berilah peringatan!” (Q.S. Al-Muddathir: 1-2)
Bagaimana kita menyelaraskan kedua pandangan ini? Para ulama menjelaskan bahwa tidak ada kontradiksi di antara keduanya. Surah Al-Alaq adalah ayat Al-Quran pertama kali turun dalam konteks permulaan kenabian (nubuwah), yang menandai dimulainya penerimaan wahyu oleh Nabi Muhammad ﷺ. Sementara itu, Surah Al-Muddathir adalah yang pertama kali turun dalam konteks permulaan risalah (dakwah), yaitu perintah kepada Nabi Muhammad ﷺ untuk bangkit dan berdakwah secara terang-terangan setelah periode fatrah al-wahyi (terputusnya wahyu untuk sementara waktu).
Ini menunjukkan tahapan yang logis dan sistematis dalam perjalanan dakwah. Pertama, kesiapan pribadi dengan penerimaan wahyu dan pengenalan diri kepada Pencipta melalui perintah membaca. Kedua, setelah kesiapan itu matang, muncullah perintah untuk menyampaikannya kepada umat, untuk memberi peringatan dan membimbing mereka ke jalan yang benar. Dengan demikian, kedua pandangan ini saling melengkapi, memberikan gambaran utuh tentang perjalanan wahyu dan dakwah Nabi Muhammad ﷺ.
Mengapa Kita Perlu Memahami Urutan Wahyu?
Mempelajari tentang ayat Al-Quran pertama kali turun dan urutan turunnya ayat-ayat lain bukan sekadar pengetahuan historis. Ada banyak hikmah dan pelajaran berharga yang bisa kita petik. Pemahaman terhadap tarikh Al-Qur’an membantu kita mengapresiasi keagungan risalah ini, memahami bagaimana syariat berkembang secara bertahap, dan bagaimana Allah mempersiapkan Nabi-Nya untuk sebuah misi yang maha besar.
Ketika kita memahami konteks dan urutan wahyu, kita dapat merasakan betapa Islam adalah agama yang realistis, yang turun secara bertahap sesuai dengan kebutuhan dan kesiapan masyarakat saat itu. Hal ini juga memperkuat keyakinan kita akan kesempurnaan dan kebenaran Al-Qur’an sebagai pedoman hidup. Lebih dari itu, pengetahuan ini memotivasi kita untuk terus mendalami Al-Qur’an, tidak hanya menghafalnya tetapi juga memahami makna dan mengaplikasikan ajarannya dalam setiap aspek kehidupan.
Kisah ayat Al-Quran pertama kali turun adalah panggilan universal untuk belajar, merenung, dan bertindak. Ia mengajarkan kita bahwa setiap perjalanan besar dimulai dengan langkah pertama, seringkali dengan keraguan dan tantangan, namun dengan bimbingan dan pertolongan Allah, segala kesulitan dapat dilalui.
Maka, mari kita jadikan inspirasi dari wahyu pertama ini untuk senantiasa menumbuhkan semangat “Iqra'” dalam diri kita, membaca dan memahami tanda-tanda kebesaran-Nya, serta berjuang di jalan-Nya. Semoga setiap huruf yang kita baca, setiap ilmu yang kita pelajari, menjadi wasilah bagi kita untuk semakin dekat dengan Allah SWT.
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
kunjungi halaman ini
WhatsApp +6281224003100

Daftar Referensi
- Al-Qur’an Surah Al-Alaq: 1-5
- Al-Qur’an Surah Al-Muddathir: 1-2
- Shahih Bukhari, Kitab Bad’il Wahyi (Permulaan Wahyu)
- Shahih Muslim, Kitab Al-Iman (Iman)
- As-Suyuthi, Jalaluddin. Al-Itqan fi Ulumil Qur’an. Tahqiq: Muhammad Abu Al-Fadl Ibrahim. Penerbit: Al-Hai’ah Al-Mishriyah Al-‘Ammah lil Kitab, Cet. 1394 H/1974 M.
