Al-Qur’an, kalamullah yang mulia, adalah samudra hikmah tak bertepi. Setiap ayatnya menyimpan permata petunjuk, setiap lafaznya mengandung rahasia yang menggetarkan jiwa. Untuk menyelaminya, kita membutuhkan bimbingan, terlebih lagi dari mereka yang paling dekat dengan sumber wahyu: para sahabat Nabi Muhammad ﷺ. Kisah-kisah interaksi mereka dengan Al-Qur’an, termasuk ragam bacaan (qira’at) dan tafsir, membuka cakrawala pemahaman yang lebih luas, mengajak kita untuk mendalami kekayaan makna Al-Qur’an melalui riwayat qira’at sahabat.
Dalam khazanah keilmuan Islam, kita mengenal karya-karya agung yang mengumpulkan mutiara-mutiara ini, salah satunya adalah kitab Fadha’il Al-Qur’an oleh Abu Ubaid Al-Qasim bin Sallam (wafat 224 H). Meskipun bab yang disebutkan terkait dengan hukum menyentuh mushaf, riwayat-riwayat di dalamnya justru banyak mengungkap nuansa bacaan dan interpretasi para sahabat yang begitu mendalam. Ini menunjukkan betapa Al-Qur’an bukan sekadar deretan huruf, melainkan hidup dalam pemahaman dan penghayatan mereka.
Memahami Jaringan Makna: Tafsir Ibnu Abbas
Mari kita menelusuri beberapa contoh bagaimana para sahabat, dengan kejeniusan dan kedalaman ilmu mereka, membantu kita mendalami kekayaan makna Al-Qur’an melalui riwayat qira’at sahabat. Salah satu contoh paling menonjol adalah dialog antara Umar bin Khattab dan Abdullah bin Abbas mengenai firman Allah kepada istri-istri Nabi ﷺ dalam Surah Al-Ahzab ayat 33:
وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَىٰ
“…dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliah yang dahulu.” (Q.S. Al-Ahzab: 33)
Umar bertanya kepada Ibnu Abbas, “Apakah Jahiliah itu bukan hanya satu?” Sebuah pertanyaan yang mengusik, karena kata “pertama” (الْأُولَىٰ) mengindikasikan adanya “kedua” atau “terakhir”. Dengan kefasihan dan ilmunya, Ibnu Abbas menjawab, “Wahai Amirul Mukminin, apakah engkau tidak pernah mendengar kata ‘pertama’ kecuali pasti ada ‘terakhirnya’?” Kemudian ia menguatkan argumennya dengan mengutip firman Allah:
جَاهِدُوا فِي اللَّهِ حَقَّ جِهَادِهِ كَمَا جَاهَدْتُمْ أَوَّلَ مَرَّةٍ
“Berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al Quran) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, karena itu dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berpegang teguhlah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong.” (Q.S. Al-Hajj: 78, penggalan ayat).
Dalam riwayat lain, dari kitab Abu Ubaid, Ibnu Abbas menafsirkan penggalan ayat ini untuk Umar, yang menunjukkan adanya “jihad pertama kali” yang mengisyaratkan akan ada jihad-jihad berikutnya. Analogi ini menunjukkan kedalaman pemikiran Ibnu Abbas dalam mengaitkan satu ayat dengan ayat lain, membuka pemahaman bahwa istilah “Jahiliah yang pertama” tidak menafikan kemungkinan adanya bentuk “jahiliah” di kemudian hari. Ini adalah bentuk tafsir yang menginspirasi, mengajak kita untuk tidak berhenti pada makna harfiah, melainkan merenungkan implikasi yang lebih luas.
Qira’at yang Memperkaya Perspektif
Tidak hanya dalam tafsir, ragam bacaan (qira’at) Al-Qur’an juga menjadi jendela lain untuk mendalami kekayaan makna Al-Qur’an melalui riwayat qira’at sahabat. Pertimbangkan Surah An-Nur ayat 27, yang sebagian kita kenal dengan lafaz:
حَتَّى تُسَلِّمُوا عَلَى أَهْلِهَا وَتَسْتَأْذِنُوا
“…hingga kamu meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya…” (Q.S. An-Nur: 27)
Namun, dalam riwayat dari Ibnu Abbas melalui jalur Hasyim dari Abi Bisyr dari Said bin Jubair, beliau dahulu membaca, “حَتَّى تُسَلِّمُوا عَلَى أَهْلِهَا وَتَسْتَأْنِسُوا” (hatta tusallimu ‘ala ahliha wa tasta’nisu), yang berarti “hingga kamu memberi salam kepada penghuninya dan mencari keakraban/keramahan (meminta izin)”. Perbedaan antara “تَسْتَأْذِنُوا” (meminta izin) dan “تَسْتَأْنِسُوا” (mencari keakraban/keramahan, yang secara implisit berarti meminta izin dengan cara yang lembut dan menyenangkan) memberikan nuansa makna yang lebih halus. Ini mengajarkan kita etika bertamu yang tidak hanya sekadar formalitas izin, tetapi juga membangun kenyamanan dan keakraban sebelum masuk.
Contoh lain terdapat dalam Surah An-Nur ayat 35, yang menggambarkan cahaya Allah:
مَثَلُ نُورِ الْمُؤْمِنِ كَمِشْكَاةٍ فِيهَا مِصْبَاحٌ
“Perumpamaan cahaya-Nya, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar.” (Q.S. An-Nur: 35)
Melalui riwayat Hajjaj dari Ibnu Juraij dari Mujahid, beliau membacanya “مَثَلُ نُورِ الْمُؤْمِنِ كَمِشْكَاةٍ فِيهَا مِصْبَاحٌ” (matalu nuril mu’mini kamisykatin fiha mishbah) yaitu “Perumpamaan cahaya orang mukmin…”. Sementara itu, riwayat dari Ubay bin Ka’b, seperti yang disampaikan Abu Al-Aliyah melalui Khalid bin Amr dari Abu Ja’far Ar-Razi dari Ar-Rabi’ bin Anas, beliau membacanya “مِثْلُ نُورِ مَنْ آمَنَ بِهِ” (mitslu nuri man amana bihi) atau “مِثْلُ مَنْ آمَنَ بِهِ” (mitslu man amana bihi), yang berarti “perumpamaan cahaya orang yang beriman kepada-Nya” atau “perumpamaan orang yang beriman kepada-Nya”. Perbedaan ini tidak mengurangi esensi ayat, melainkan memperkaya gambaran tentang siapa yang menerima cahaya ilahi tersebut. Ini menunjukkan bahwa cahaya itu tidak hanya milik mukmin secara umum, tetapi spesifik bagi mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, sebuah penekanan yang memperdalam pesan.
Memaknai Perintah dan Refleksi Diri
Bahkan dalam redaksi perintah sekalipun, kita dapat mendalami kekayaan makna Al-Qur’an melalui riwayat qira’at sahabat. Dalam Surah An-Naml ayat 92, tentang perintah membaca Al-Qur’an, ada variasi menarik. Dalam huruf Ibnu Mas’ud, perintahnya adalah “وَأَنِ اتْلُ الْقُرْآنَ” (wa anitl-Qur’an), yang berarti “dan bacalah Al-Qur’an”, bersifat umum. Sementara dalam huruf Ubay bin Ka’b, “وَاتْلُ عَلَيْهِمِ الْقُرْآنَ” (watlu ‘alaihimul Qur’an), yang berarti “dan bacakanlah Al-Qur’an kepada mereka”, menambahkan dimensi dakwah dan penyampaian kepada orang lain. Kedua bacaan ini saling melengkapi; tidak hanya membaca untuk diri sendiri, tetapi juga menyampaikannya kepada sesama. Ini adalah pelajaran penting bagi kita semua, bahwa ilmu Al-Qur’an harus diamalkan dan disebarkan.
Kisah-kisah riwayat qira’at sahabat, dan tafsir mereka, adalah sebuah undangan untuk menenggelamkan diri lebih dalam dalam lautan Al-Qur’an. Ini bukan sekadar sejarah linguistik, melainkan panduan spiritual yang mengajarkan kita untuk merenung, bertanya, dan mencari makna yang lebih kaya dalam setiap firman Allah. Melalui riwayat-riwayat ini, kita melihat betapa para sahabat menghargai setiap huruf, setiap kata, dan setiap nuansa dalam Kitab Suci, sehingga kita pun termotivasi untuk melakukan hal yang sama.
Dengan mendalami kekayaan makna Al-Qur’an melalui riwayat qira’at sahabat, kita tidak hanya memperluas pengetahuan, tetapi juga menguatkan keimanan dan membentuk karakter yang lebih mulia. Setiap variasi, setiap penafsiran, adalah bukti keagungan Al-Qur’an yang tak lekang oleh waktu dan selalu relevan untuk setiap zaman. Mari kita terus belajar, menggali, dan mengaplikasikan petunjuk-petunjuk Ilahi ini dalam kehidupan sehari-hari.
Bagi Anda yang merindukan pemahaman Al-Qur’an yang mendalam dan ingin menghafalnya dengan metode yang efektif serta sanad yang bersambung, Qur’an Learning Center Yogyakarta siap menjadi teman perjalanan spiritual Anda. Bergabunglah bersama kami, dan rasakan pengalaman transformatif dalam berinteraksi dengan Kalamullah.
Daftar Referensi
- Q.S. Al-Ahzab: 33
- Q.S. Al-Hajj: 78
- Q.S. An-Nur: 27
- Q.S. An-Nur: 35
- Q.S. An-Naml: 92
- Abu Ubaid Al-Qasim bin Sallam. Fadha’il Al-Qur’an. Bab المصحف يمسه المشرك أو المسلم الذي ليس بطاهر.
—-
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
kunjungi halaman ini
WhatsApp +6281224003100

