Khutbah Pertama

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. يَا أَيُّهَا النَّاسُ، اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ. أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ: ذَرْهُمْ يَأْكُلُوا وَيَتَمَتَّعُوا وَيُلْهِهِمُ الْأَمَلُ فَسَوْفَ يَعْلَمُونَ

Jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah, mari kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan sebenar-benarnya takwa. Menjalankan perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya adalah satu-satunya jalan keselamatan di dunia dan akhirat. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada uswatun hasanah kita, Rasulullah Muhammad SAW, beserta keluarga, sahabat, dan pengikutnya yang setia hingga akhir zaman.

Di era modern saat ini, kita sering mendengar istilah overthinking. Sebuah kondisi di mana pikiran seseorang dipenuhi dengan kekhawatiran berlebih, kegelisahan akan masa depan, atau penyesalan mendalam akan masa lalu. Hati menjadi tidak tenang, tidur menjadi tidak nyenyak, dan ibadah pun sering kali terganggu karena pikiran yang terus menerus berputar. Fenomena ini sejatinya memiliki akar permasalahan yang mendalam dalam perspektif spiritual, yaitu hilangnya kendali atas angan-angan yang tidak terkendali.

Islam memberikan solusi yang sangat elegan dan menenangkan jiwa, yaitu dengan cara memendekkan angan-angan. Dalam sebuah nasihat yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Rasulullah SAW pernah berwasiat kepada sahabat beliau, Ibnu Umar, agar hidup di dunia seolah-olah sebagai orang asing atau pengembara. Pesan ini bukan sekadar kalimat, melainkan filosofi hidup untuk memfokuskan energi kita pada saat ini, bukan pada bayang-bayang masa depan yang belum tentu terjadi.

Memendekkan angan-angan bukan berarti kita tidak boleh memiliki cita-cita atau rencana masa depan. Namun, memendekkan angan-angan adalah menjaga agar hati tidak terikat dan terobsesi secara berlebihan pada sesuatu yang belum pasti. Overthinking sering kali muncul karena kita ingin mengontrol sesuatu yang sepenuhnya berada di luar kendali kita. Kita mencemaskan hari esok yang belum tentu kita temui, padahal Allah SWT adalah pemilik segala ketetapan. Jika kita memendekkan angan-angan, kita akan menyadari bahwa tugas manusia hanyalah berikhtiar dengan maksimal hari ini, sementara hasil akhirnya berada di tangan Allah SWT.

Ketika seseorang terlalu jauh menggantungkan angan-angan, ia akan kehilangan fokus pada kewajibannya saat ini. Padahal, waktu yang kita miliki saat ini adalah modal utama. Rasulullah SAW mengingatkan bahwa angan-angan yang panjang dapat melalaikan manusia dari mengingat kematian. Padahal, mengingat kematian adalah obat paling manjur untuk menghentikan pola pikir yang tidak produktif dan membuat kita kembali bersyukur atas setiap tarikan napas.

ذَرْهُمْ يَأْكُلُوا وَيَتَمَتَّعُوا وَيُلْهِهِمُ الْأَمَلُ فَسَوْفَ يَعْلَمُونَ

Biarkanlah mereka (di dunia ini) makan dan bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan (kosong), maka kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatannya). (QS. Al-Hijr: 3)

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Kehidupan dunia ini sering kali menipu pandangan manusia. Keindahan, fasilitas, dan kesenangan yang ada di dalamnya tidak jarang membuat manusia lupa akan hakikat penciptaan mereka, yaitu untuk beribadah kepada Allah dan mempersiapkan bekal menuju akhirat.

Allah Subhana wa Ta’ala memberikan peringatan yang sangat keras di dalam Al-Qur’an, khususnya dalam Surat Al-Hijr ayat 3, mengenai kaum yang membiarkan dirinya tenggelam dalam syahwat dan angan-angan kosong. Allah berfirman:

ذَرْهُمْ يَأْكُلُوا۟ وَيَتَمَتَّعُوا۟ وَيُلْهِهِمُ ٱلْأَمَلُ ۖ فَسَوْفَ يَعْلَمُونَ

Artinya: “Biarkanlah mereka (di dunia ini) makan dan bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan (kosong), maka kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatan mereka).”

Sumber Dalil:Surat Al-Hijr Ayat 3

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Jika kita merujuk pada penjelasan para ulama tafsir, ayat ini memuat ancaman dan peringatan yang sangat serius:

  • Tafsir Al-Muyassar menjelaskan bahwa ayat ini merupakan teguran halus namun tajam. Allah memerintahkan Rasul-Nya untuk membiarkan orang-orang yang ingkar itu sibuk dengan kerakusan dunia, makan, dan menikmati kesenangan sesaat layaknya hewan ternak. Namun, kesudahan mereka di akhirat kelak hanyalah kerugian yang nyata.
  • Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di dalam tafsirnya menambahkan, yang dimaksud dengan “dilalaikan oleh angan-angan kosong” adalah mengimpikan keabadian hidup di dunia. Hal inilah yang memutus semangat manusia untuk bertobat, beriman, dan beramal saleh. Mereka berpikir ajal masih jauh, sehingga terus menunda-nunda kebaikan.

Ketika manusia membiarkan dirinya hanya fokus pada isi perut (ya’kuluu) dan kesenangan fisik (yatamatta’uu), maka akal sehat dan hatinya akan mati dari mengingat Allah. Kalimat “Fasaufa ya’lamun” (maka kelak mereka akan mengetahui) di akhir ayat menjadi penutup yang menggetarkan hati, bahwa penyesalan terbesar akan datang ketika tirai kematian telah disingkap.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Bagaimana cara kita mempraktikkan hal ini? Pertama, fokuslah pada apa yang ada di depan mata. Kerjakanlah shalat seolah-olah itu adalah shalat terakhir kita. Tunaikanlah amanah pekerjaan hari ini dengan sebaik-baiknya tanpa harus dihantui oleh ketakutan yang belum tentu datang. Kedua, kurangi ketergantungan pada persepsi manusia dan mulailah membangun kepercayaan penuh kepada Allah. Overthinking sering dipicu oleh rasa takut akan penilaian orang lain atau ketakutan kehilangan duniawi.

Memendekkan angan-angan adalah kunci untuk mengembalikan ketenangan batin. Ketika kita menyadari bahwa dunia hanyalah tempat singgah sementara, beban di pundak kita akan terasa lebih ringan. Kita tidak lagi diperbudak oleh rencana-rencana yang sebenarnya hanya akan menambah kegelisahan. Sebaliknya, kita menjadi manusia yang lebih tangguh, sabar, dan bersyukur.

Semoga Allah SWT menyucikan hati kita dari penyakit hati, memberikan ketenangan di dalam pikiran kita, dan membimbing kita untuk selalu beramal shalih sebelum ajal menjemput. Amin ya Rabbal Alamin.

أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ أَنْعَمَنَا بِنِعْمَةِ الْاِيْمَانِ وَالْاِسْلَامِ. وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ خَيْرِ الْأَنَامِ. وَعَلٰى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْكِرَامِ. أَشْهَدُ اَنْ لَا اِلٰهَ اِلَّا اللهُ الْمَلِكُ الْقُدُّوْسُ السَّلَامُ وَأَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا وَحَبِيْبَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَاحِبُ الشَّرَفِ وَالْإِحْتِرَامِ   أَمَّا بَعْدُ. فَيَاأَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى اِنَّ اللهَ وَ مَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَ سَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا  

 اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلٰى أٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فْي الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ   اَللّٰهُمَّ وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ. وَعَنْ اَصْحَابِ نَبِيِّكَ اَجْمَعِيْنَ. وَالتَّابِعِبْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ وَ تَابِعِهِمْ اِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ   اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ.

اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالطَّاعُوْنَ وَالْاَمْرَاضَ وَالْفِتَنَ مَا لَا يَدْفَعُهُ غَيْرُكَ عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا اِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ. عِبَادَ اللهِ اِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ. وَ اشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ. وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرُ

Biografi Penulis

Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd., Al-Hafizh adalah founder Metode Yadain Litahfizhil Quran di Qur’an Learning Center Yogyakarta. Beliau aktif mengembangkan pendekatan pembelajaran Al-Qur’an yang memadukan tahfizh, tadabbur, visualisasi makna, dan pembinaan spiritual agar masyarakat semakin dekat dengan Al-Qur’an.

Melalui website https://executivetahfizh.com, naskah khutbah ini disusun sebagai bagian dari ikhtiar dakwah untuk menghadirkan pesan-pesan Al-Qur’an yang menyentuh hati, aplikatif, dan relevan dengan kehidupan umat.

Program Executive Tahfizh Yogyakarta

Bagi kaum muslimin yang ingin memperbaiki bacaan, memahami makna, dan menguatkan hafalan Al-Qur’an secara lebih terarah, silakan mengenal program Executive Tahfizh Yogyakarta.

Flyer Program Hafal Quran Executive Tahfizh



author avatar
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.,