Mukadimah: Merayakan Keberagaman dalam Bingkai Iman
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي جَعَلَ الِاخْتِلَافَ فِي أُمَّتِنَا رَحْمَةً، وَأَمَرَنَا بِالِاعْتِصَامِ بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ.
“Segala puji bagi Allah yang menjadikan perbedaan di antara umat kita sebagai rahmat, dan memerintahkan kita untuk berpegang teguh pada tali Allah bersama-sama dan janganlah bercerai-berai. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah hamba serta utusan-Nya. Ya Allah, limpahkanlah selawat dan salam kepada junjungan kita Muhammad, keluarga, serta para sahabatnya.”
Puji syukur kita panjatkan kepada Allah Subhanahu Wata’ala, yang telah memberikan kita keluasan ilmu untuk memahami syariat-Nya. Selawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, sosok yang membawa kedamaian dan menyatukan hati manusia di atas fondasi kasih sayang.
Indahnya Ukhuwah di Tengah Perbedaan
Hadirin yang dirahmati Allah, hampir setiap tahun kita dihadapkan pada potensi perbedaan awal Ramadhan dan Lebaran. Fenomena ini terkadang memicu perdebatan yang tidak perlu di media sosial atau di tengah masyarakat. Padahal, perbedaan metode antara Rukyatul Hilal (melihat bulan secara langsung) dan Hisab Astronomi adalah ranah ijtihad yang semuanya memiliki landasan syar’i yang kuat.
Allah SWT mengingatkan kita untuk tetap menjaga persatuan dalam Surah Ali ‘Imran ayat 103:
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا
“Dan berpegang teguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai…”
Hadirin sekalian, perbedaan memulai puasa atau merayakan Idulfitri tidak seharusnya membuat ukhuwah islamiyah kita retak. Persatuan umat tidak harus berarti keseragaman dalam segala hal, melainkan kesepakatan untuk saling menghormati pilihan masing-masing.
Prinsip Ijtihad dan Keluasan Syariat
Dalam Islam, perbedaan pendapat di kalangan ulama dalam masalah cabang (furu’iyah) adalah sebuah keniscayaan. Rasulullah SAW memberikan kelonggaran bagi mereka yang bersungguh-sungguh mencari kebenaran melalui sabda beliau:
إِذَا حَكَمَ الْحَاكِمُ فَاجْتَهَدَ ثُمَّ أَصَابَ فَلَهُ أَجْرَانِ، وَإِذَا حَكَمَ فَاجْتَهَدَ ثُمَّ أَخْطَأَ فَلَهُ أَجْرٌ
“Apabila seorang hakim memutuskan perkara lalu ia berijtihad dan benar, maka ia mendapat dua pahala. Dan apabila ia memutuskan perkara lalu berijtihad dan salah, maka ia mendapat satu pahala.” (HR. Bukhari & Muslim)
Berdasarkan hadis ini, baik pihak yang mengikuti metode rukyat maupun hisab, keduanya berpeluang mendapatkan pahala di sisi Allah. Oleh karena itu, tidak dibenarkan jika salah satu pihak merasa paling benar dan merendahkan pihak lainnya. Puasa adalah urusan ketulusan hati kepada Allah, bukan ajang pamer kelompok.
Kisah Toleransi Imam Syafi’i
Mari kita meneladani adab Imam Syafi’i. Suatu ketika beliau berkunjung ke wilayah yang penduduknya mengikuti mazhab Imam Abu Hanifah. Saat shalat Shubuh, Imam Syafi’i tidak membaca doa Qunut, padahal dalam mazhab beliau, Qunut Shubuh adalah sunnah yang sangat ditekankan. Ketika ditanya mengapa beliau melakukannya, beliau menjawab: “Aku melakukannya karena menghormati orang yang ada di dalam kubur ini (Imam Abu Hanifah).”
Kisah ini mengajarkan kita bahwa adab dan persatuan lebih tinggi kedudukannya daripada mempertahankan pendapat pribadi di tengah khalayak. Jika para imam besar saja bisa saling menghormati, mengapa kita yang hanya pengikut biasa justru sering bertikai?
Sikap Bijak dalam Keseharian
Hadirin sekalian, bagaimana kita menyikapi perbedaan ini dalam keseharian? Pertama, hindari debat kusir yang hanya akan mengeraskan hati. Kedua, ikutilah keputusan otoritas atau organisasi yang hadirin yakini kebenarannya tanpa perlu mencela yang lain. Ketiga, jadikan perbedaan ini sebagai momen untuk melatih kelapangan dada.
Jika tetangga kita Lebaran lebih dulu, janganlah sinis. Sebaliknya, jika kita yang Lebaran lebih dulu, janganlah merasa lebih unggul. Yang terpenting bukanlah hari apa kita mulai, tetapi kualitas takwa yang kita hasilkan setelah bulan Ramadhan berakhir.
Penutup: Doa Persatuan Umat
Sebagai kesimpulan, perbedaan awal Ramadhan dan Lebaran adalah rahmat bagi mereka yang berpikir luas. Mari kita jaga lisan dan hati agar tetap bersih dari kebencian. Idulfitri adalah hari kemenangan bagi setiap jiwa yang telah berjuang, kapan pun hari itu jatuh.
اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ
“Ya Allah, lembutkanlah hati kami, damaikanlah perselisihan di antara kami, dan tunjukkanlah kami jalan-jalan keselamatan.”
Semoga Allah SWT senantiasa menjaga persatuan umat Islam dan menerima amal ibadah kita semua. Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
Qur’an Learning Center Yogyakarta merupakan aset wakaf yang dikelola oleh Baitulmaal Muamalat.
Website: kunjungi halaman ini
WhatsApp: +6281224003100

