Dalam riwayat yang sampai kepada kita dari Ibnu al-Mubarak, dari Mis’ar, dari Ali bin al-Arqam, dari Abu al-Ahwas, sebuah gambaran menakjubkan dilukiskan. Ia berkata, “Dahulu, seseorang memasuki tenda dan mendengar di dalamnya seperti dengungan lebah. Mengapa mereka (manusia sekarang) merasa aman dari apa yang dahulu mereka (generasi awal) takutkan?” Kisah ini, yang terekam dalam Kitab Fadha’il al-Qur’an oleh Abu Ubaid, pada bab tentang apa yang diperintahkan kepada penghafal Al-Qur’an mengenai tilawah dan penegakannya dalam salat, mengundang kita untuk merenung jauh. Ini adalah ajakan untuk menghidupkan kembali semangat generasi awal menjaga Al-Qur’an, sebuah spirit yang mungkin mulai meredup dalam relung hati kita.

Dengungan lebah yang diceritakan Abu al-Ahwas bukanlah suara madu yang dibuat, melainkan metafora indah dari lantunan ayat-ayat suci yang tiada henti. Bayangkan sebuah tenda, di tengah keheningan malam atau hiruk pikuk siang, dipenuhi dengan alunan Kalamullah yang terus-menerus. Itu adalah gambaran betapa intensnya interaksi para sahabat dan generasi setelahnya dengan Al-Qur’an. Mereka tidak sekadar membaca, tetapi hidup bersama Al-Qur’an; setiap hembusan napas seolah menjadi saksi getaran ayat-ayat suci yang meresap ke dalam jiwa. Ini adalah manifestasi nyata dari hati yang hidup dan jiwa yang tunduk pada keagungan firman-Nya.

Mengapa Kita Merasa Aman dari Ketakutan Generasi Awal Menjaga Al-Qur’an?

Pertanyaan Abu al-Ahwas sungguh menusuk: “Mengapa mereka (manusia sekarang) merasa aman dari apa yang dahulu mereka (generasi awal) takutkan?” Ini bukan sekadar retorika, melainkan cambuk bagi hati yang lalai. Generasi terdahulu, para pendahulu saleh, merasakan ketakutan yang mendalam jika sampai luput dari kewajiban terhadap Al-Qur’an. Mereka khawatir tidak mampu memenuhi hak-hak Al-Qur’an, baik dari sisi tilawah, tadabbur, apalagi mengamalkannya. Ketakutan ini bukanlah ketakutan yang melumpuhkan, melainkan ketakutan yang memacu, yang mendorong mereka untuk terus-menerus berinteraksi dengan Kalamullah.

Lantas, apa yang membuat kita saat ini, di tengah kemudahan akses terhadap mushaf dan teknologi, justru merasa aman dan nyaman dalam kelalaian? Apakah kita telah kehilangan sensitivitas spiritual yang membuat hati bergetar saat Al-Qur’an dilantunkan? Atau jangan-jangan, kita telah terlalu jauh dari hakikat bahwa Al-Qur’an adalah pedoman hidup, penenang jiwa, dan bekal utama menuju akhirat? Jika kita tidak memiliki semangat generasi awal menjaga Al-Qur’an, kita berisiko kehilangan banyak keberkahan.

اُتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلَاةَ ۖ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ ۗ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ

Bacalah Kitab (Al-Qur’an) yang telah diwahyukan kepadamu (Muhammad) dan laksanakanlah salat. Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar. Dan (ketahuilah) mengingat Allah (salat) itu lebih besar (keutamaannya dari ibadah yang lain). Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Q.S. Al-Ankabut: 45)

Ayat ini menegaskan betapa pentingnya tilawah Al-Qur’an dan menegakkan salat. Keduanya adalah pilar yang akan membentengi diri dari perbuatan dosa. Namun, tilawah bukan sekadar membaca, melainkan sebuah interaksi aktif yang membawa kesadaran dan ketaatan. Inilah yang dihidupkan oleh generasi terdahulu, sebuah teladan yang patut kita renungi mendalam.

Menghidupkan Kembali Semangat Generasi Awal Menjaga Al-Qur’an

Pertanyaannya kemudian, bagaimana kita dapat menghidupkan kembali semangat generasi awal menjaga Al-Qur’an di era modern ini? Kuncinya terletak pada pembaruan niat dan kesadaran akan hakikat Al-Qur’an. Al-Qur’an bukanlah sekadar bacaan ritual, melainkan petunjuk, cahaya, dan penyembuh. Dengan kesadaran ini, kita akan termotivasi untuk kembali merajut kedekatan dengannya.

Interaksi Harian dengan Al-Qur’an

Pertama, jadikan Al-Qur’an sebagai bagian tak terpisahkan dari rutinitas harian. Alokasikan waktu khusus setiap hari untuk membacanya, meskipun hanya satu lembar atau beberapa ayat. Kuantitas bisa bertambah seiring berjalannya waktu, namun konsistensi adalah kunci. Ibarat seorang sahabat, semakin sering kita menyapanya, semakin akrab hubungan yang terjalin.

Kedua, bukan hanya membaca, tetapi juga merenungkan maknanya. Ambil jeda setelah membaca beberapa ayat, lalu coba pahami pesan yang terkandung di dalamnya. Jika memungkinkan, gunakan tafsir sebagai penuntun. Hati yang tadinya keras, perlahan akan melunak dan terbuka untuk menerima hidayah. Ini adalah proses pembentukan diri yang berkelanjutan, yang akan mengikis karat-karat kelalaian dari hati.

Ketiga, jangan lupakan peran Al-Qur’an dalam salat. Salat adalah mikraj seorang mukmin, tempat kita berkomunikasi langsung dengan Rabb semesta alam. Lantunkan ayat-ayat suci dengan tartil dan penghayatan dalam salat, baik salat fardu maupun salat sunah. Dengan demikian, kita akan merasakan bahwa “dengungan lebah” itu tidak hanya terjadi di masa lalu, tetapi juga dapat kita hadirkan dalam setiap sujud dan rukuk kita. Sesungguhnya, Al-Qur’an adalah cahaya yang akan menerangi jalan kita.

اِقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِهِ

Bacalah Al-Qur’an, karena sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafaat bagi para pembacanya. (H.R. Muslim)

Hadits ini adalah motivasi yang luar biasa untuk terus menjaga ikatan dengan Al-Qur’an. Bayangkan, di hari yang tiada penolong kecuali Dia, Al-Qur’an akan datang membela kita, para pembacanya. Inilah buah dari semangat generasi awal menjaga Al-Qur’an yang telah mereka tanamkan dalam hidup mereka. Sebuah jaminan keselamatan dan kemuliaan yang tak ternilai harganya. Mari kita jadikan kekhawatiran generasi salaf akan kelalaian sebagai pendorong untuk lebih giat lagi berinteraksi dengan Kalamullah, bukan malah merasa aman dalam kelalaian yang merugikan.

Sebagai penutup, marilah kita senantiasa muhasabah diri. Apakah hati kita masih bergetar ketika mendengar lantunan ayat suci? Apakah kita merindukan saat-saat berdua dengan Al-Qur’an? Jika belum, ini adalah saatnya untuk kembali merajut cinta yang mungkin sempat renggang. Mari kita warisi semangat para salafus saleh, agar hidup kita penuh berkah dan Al-Qur’an menjadi cahaya penerang di dunia dan syafaat di akhirat. Jadikan Al-Qur’an sebagai teman sejati yang tak pernah lekang oleh waktu, dan biarkan ia mendengung di setiap sudut hati kita.

—-

Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta

Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
kunjungi halaman ini
WhatsApp +6281224003100

Flyer Program Hafal Quran Executive Tahfizh di Yogyakarta

Daftar Referensi

  • Kitab Fadha’il al-Qur’an oleh Abu Ubaid, Bab ما يؤمر به حامل القرآن من تلاوته بالقراءة والقيام به في الصلاة, halaman 128.
  • Al-Qur’an Surah Al-Ankabut Ayat 45.
  • Hadits Riwayat Muslim Nomor 804, dari Abu Umamah Al-Bahili.
author avatar
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.,