Ada sebuah peta harta karun terbentang di hadapan kita setiap hari. Peta yang berisi petunjuk, kisah, perumpamaan, dan kunci menuju segala kebaikan. Peta itu adalah Al-Qur’an. Namun, seringkali kita hanya mengagumi sampulnya, melantunkan isinya dengan merdu, tanpa pernah benar-benar mengikuti arahannya untuk menemukan harta karun yang sesungguhnya: ilmu. Pernahkah kita bertanya, bagaimana cara para pendahulu kita yang mulia memandang dan berinteraksi dengan peta agung ini?

Al-Qur’an: Samudra Ilmu yang Perlu Digugah

Kita sering mendengar nasihat untuk “membaca” atau “mempelajari” Al-Qur’an. Namun, sahabat mulia Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu memberikan sebuah kata kunci yang jauh lebih dalam dan bertenaga. Beliau menasihati kita dengan sebuah kalimat yang menyentuh kesadaran.

إِذَا أَرَدْتُمُ الْعِلْمَ فَأَثِيرُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّ فِيهِ خَبَرَ الْأَوَّلِينَ وَالْآخِرِينَ

“Jika kalian menginginkan ilmu, maka gugahlah (atsîrû) Al-Qur’an, karena di dalamnya terdapat kabar orang-orang terdahulu dan orang-orang yang akan datang.” (Diriwayatkan oleh Abu ‘Ubaid dalam Fadha’il Al-Qur’an)

Perhatikan kata “atsîrû”. Kata ini tidak sekadar berarti ‘bacalah’. Ia berasal dari akar kata yang bermakna membangkitkan, menggugah, memprovokasi, atau bahkan membajak tanah agar menjadi subur. Ini adalah sebuah ajakan untuk berinteraksi secara aktif. Kita diajak untuk tidak hanya menjadi pembaca pasif, melainkan menjadi seorang penjelajah yang bertanya, merenung, dan terus berusaha menggali ilmu dari Al-Qur’an. Ia adalah sumber yang tidak akan pernah kering, menyimpan hikmah masa lalu dan petunjuk untuk masa depan, menanti untuk kita “gugah”.

Cermin Keterbatasan Kita di Hadapan Kalam-Nya

Ketika kita mulai menyelam, kita akan segera menyadari betapa luasnya samudra Al-Qur’an dan betapa terbatasnya kemampuan kita. Perasaan ini bukanlah pertanda kelemahan, melainkan awal dari sebuah kesadaran yang penuh berkah. Lihatlah bagaimana seorang tabi’in senior, Masruq bin al-Ajda’, mengungkapkan sebuah kejujuran yang menampar.

مَا نَسْأَلُ أَصْحَابَ مُحَمَّدٍ ﷺ عَنْ شَيْءٍ إِلَّا وَعِلْمُهُ فِي الْقُرْآنِ، وَلَكِنْ عِلْمُنَا قَصَّرَ عَنْهُ

“Tidaklah kami bertanya kepada para sahabat Muhammad ﷺ tentang sesuatu, melainkan ilmunya ada di dalam Al-Qur’an, akan tetapi ilmu kamilah yang tak mampu menjangkaunya.” (Diriwayatkan oleh Abu ‘Ubaid dalam Fadha’il Al-Qur’an)

Subhanallah. Ini adalah pengakuan yang lahir dari kedalaman ilmu dan kerendahan hati. Masalahnya bukan pada Al-Qur’an yang kurang lengkap, tetapi pada diri kita yang ilmunya kurang dalam. Pengakuan ini seharusnya tidak membuat kita putus asa, melainkan memompa semangat kita untuk terus belajar, mencari guru, dan memohon kepada Allah agar dibukakan pintu pemahaman. Setiap ayat adalah lautan, dan kita baru berada di tepiannya.

Rasa Gundah yang Terpuji: Ketika Tak Memahami Ayat-Nya

Bagaimana seharusnya perasaan kita ketika melewati sebuah ayat namun tak memahaminya? Apakah kita berlalu begitu saja? Para salaf mengajarkan kita sebuah standar perasaan yang luar biasa. Al-Hasan Al-Bashri berkata bahwa Allah sangat suka jika hamba-Nya berusaha mengetahui sebab turunnya ayat dan apa maksud di baliknya. Lebih dalam lagi, ‘Amr bin Murrah menuturkan sebuah kegelisahan yang mulia.

إِنِّي لَأَمُرُّ بِالْمَثَلِ مِنْ كِتَابِ اللَّهِ عز وجل وَلَا أَعْرِفُهُ، فَأَغْتَمُّ بِهِ

“Sungguh, aku melewati sebuah perumpamaan (mathal) dari Kitabullah ‘Azza wa Jalla dan aku tidak memahaminya, maka aku pun merasa gundah karenanya.”

Mengapa beliau merasa gundah? Karena beliau teringat firman Allah:

وَتِلْكَ الْأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ وَمَا يَعْقِلُهَا إِلَّا الْعَالِمُونَ

“Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buat untuk manusia; dan tidak ada yang dapat memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu.” (Q.S. Al-‘Ankabut: 43)

Rasa gundah karena tidak memahami firman Allah adalah tanda kehidupan iman di dalam hati. Itu adalah sebuah kegelisahan suci yang mendorong pemiliknya untuk mencari tahu, bertanya, dan berdoa. Inilah puncak dari kesadaran tentang pentingnya menggali ilmu dari Al-Qur’an. Bukan sekadar kewajiban, tapi sebuah kebutuhan jiwa.

Maka, mari kita tanyakan pada diri kita: Sudahkah kita “menggugah” Al-Qur’an? Sudahkah kita mengakui keterbatasan ilmu kita di hadapannya? Dan yang terpenting, pernahkah kita merasa gundah saat tak memahami pesan cinta dari-Nya? Perjalanan menggali ilmu dari Al-Qur’an ini bukanlah perjalanan singkat, melainkan perjalanan seumur hidup yang penuh kenikmatan. Ia adalah perjalanan yang layak ditempuh bersama pembimbing yang tepat agar kita tidak tersesat di tengah samudra ilmunya yang maha luas.

Semoga Allah menganugerahkan kita semangat para salaf dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an, dan menjadikan kita termasuk golongan al-‘alimun yang mampu memahami perumpamaan-perumpamaan-Nya. Di Qur’an Learning Center Yogyakarta, kami siap mendampingi Anda dalam perjalanan mulia ini, menapaki jejak para pecinta ilmu Al-Qur’an.

Daftar Referensi

  • Abu ‘Ubaid Al-Qasim bin Sallam. Fadha’il Al-Qur’an. (Mekkah: Dar Ibn Katsir).
  • Q.S. Al-‘Ankabut: 43

Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta

Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
Website: kunjungi halaman ini
WhatsApp: +6281224003100

Flyer Program Hafal Quran Executive Tahfizh
author avatar
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.,