Kalamullah, Al-Qur’anul Karim, adalah pedoman hidup yang abadi, petunjuk bagi setiap insan yang merindukan cahaya kebenaran. Untuk menyelami samudra maknanya, kita dituntut untuk tidak hanya membaca, tetapi juga memahami konteks, sebab turunnya, dan di mana ayat-ayat itu diwahyukan. Di sinilah letak urgensi ilmu Makki dan Madani, sebuah disiplin ilmu yang fundamental dalam studi Al-Qur’an. Dengan mengenal ciri dan hikmah ayat Makki Madani Al-Qur’an, kita dapat menyingkap tabir makna yang lebih mendalam, merasakan sentuhan Ilahi dalam setiap petikan firman-Nya, dan mengaplikasikannya dalam kehidupan.

Mengapa Membedakan Makki dan Madani Itu Penting?

Mungkin ada yang bertanya, apakah pengetahuan tentang Makki dan Madani ini sebuah keharusan? Qadhi Abu Bakar dalam kitabnya, *Al-Intishar*, menjelaskan bahwa pengetahuan ini berasal dari hafalan para Sahabat dan Tabi’in. Rasulullah ﷺ sendiri tidak pernah secara eksplisit memerintahkan umatnya untuk mengetahui pembagian ini, karena Allah tidak menjadikannya sebagai salah satu kewajiban syariat.

قَالَ الْقَاضِي أَبُو بَكْرٍ فِي الِانْتِصَارِ: إِنَّمَا يَرْجِعُ فِي مَعْرِفَةِ الْمَكِّيِّ وَالْمَدَنِيِّ إِلَى حِفْظِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِينَ وَلَمْ يَرِدْ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ فِي ذَلِكَ قَوْلٌ لِأَنَّهُ لَمْ يُؤْمَرْ بِهِ وَلَمْ يَجْعَلِ اللَّهُ عِلْمَ ذَلِكَ مِنْ فَرَائِضِ الْأُمَّةِ وَإِنْ وَجَبَ فِي بَعْضِهِ عَلَى أَهْلِ الْعِلْمِ مَعْرِفَةُ تَارِيخِ النَّاسِخِ وَالْمَنْسُوخِ فَقَدْ يُعْرَفُ ذَلِكَ بِغَيْرِ نَصِّ الرَّسُولِ انْتَهَى.

Qadhi Abu Bakar berkata dalam kitab *Al-Intishar*: Sesungguhnya dalam mengetahui Makki dan Madani itu dikembalikan kepada hafalan para Sahabat dan Tabi’in. Tidak ada riwayat dari Nabi ﷺ mengenai hal tersebut karena beliau tidak diperintahkan dengannya, dan Allah tidak menjadikan ilmu tersebut termasuk kewajiban umat. Meskipun pada sebagiannya wajib bagi ahli ilmu untuk mengetahui sejarah *nasikh* dan *mansukh*, maka hal itu bisa diketahui tanpa nash (teks) dari Rasulullah. (Selesai)

Namun, Qadhi Abu Bakar juga menegaskan bahwa ilmu ini menjadi penting bagi ahli ilmu, khususnya dalam memahami *nasikh* (ayat yang menghapus) dan *mansukh* (ayat yang dihapus). Tanpa pengetahuan ini, bagaimana kita bisa memastikan ayat mana yang mendahului dan mana yang kemudian? Di sinilah signifikansi mengenal ciri dan hikmah ayat Makki Madani Al-Qur’an terpancar, ia menjadi fondasi untuk menggali kedalaman hukum dan syariat Islam yang diturunkan secara bertahap.

Metodologi Penentuan Makki dan Madani: Warisan Ilmu Para Sahabat

Penentuan apakah suatu ayat atau surah itu Makki atau Madani bukanlah hasil ijtihad semata, melainkan bersandar pada riwayat dan ingatan para Sahabat dan Tabi’in yang menyaksikan langsung turunnya wahyu. Mereka adalah generasi yang paling dekat dengan sumber kenabian, yang menjadi saksi mata setiap detail proses pewahyuan.

Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Ibnu Mas’ud, sebuah pengakuan yang menunjukkan kedalaman ilmunya tentang Al-Qur’an:

وَالَّذِي لَا إِلَهَ غَيْرُهُ مَا نَزَلَتْ آيَةٌ مِنْ كِتَابِ اللَّهِ تَعَالَى إِلَّا وَأَنَا أَعْلَمُ فِيمَنْ نَزَلَتْ وَأَيْنَ نَزَلَتْ.

Demi Allah yang tiada Tuhan selain Dia, tidaklah turun satu ayat pun dari Kitabullah kecuali aku tahu mengenai siapa ayat itu diturunkan dan di mana ayat itu diturunkan.

Kisah lain dari Ayub, yang menanyakan kepada Ikrimah tentang suatu ayat Al-Qur’an, dan Ikrimah menjawab, “Ayat itu turun di lereng gunung ini,” sambil menunjuk ke arah Gunung Sal’u. Ini menunjukkan betapa para ulama salaf memiliki pemahaman yang sangat detail, bahkan sampai ke lokasi spesifik turunnya ayat. Keakuratan ini membimbing kita untuk mengenal ciri dan hikmah ayat Makki Madani Al-Qur’an dengan pijakan yang kokoh.

Pandangan Ulama Klasik tentang Klasifikasi Makki dan Madani

Para ulama terdahulu telah berupaya mengklasifikasikan surah-surah Al-Qur’an ke dalam kategori Makki dan Madani. Ibnu Sa’ad dalam *At-Tabaqat* meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa ia bertanya kepada Ubay bin Ka’b tentang surah-surah yang turun di Madinah, lalu Ubay menjawab, “Ada dua puluh tujuh surah yang turun di Madinah, dan sisanya di Makkah.”

Abul Ja’far An-Nahhas dalam kitab *An-Nasikh wal Mansukh* meriwayatkan dari Abu Amru bin Al-Ala’, yang bertanya kepada Mujahid tentang ringkasan ayat-ayat Makki dan Madani. Mujahid pun menjawab bahwa ia telah bertanya kepada Ibnu Abbas, dan Ibnu Abbas menjelaskan:

  • Surah Al-An’am turun di Makkah secara keseluruhan, kecuali tiga ayat yang turun di Madinah: ﴿قُلْ تَعَالَوْا أَتْلُ﴾ hingga akhir tiga ayat tersebut. Dan surah-surah sebelumnya adalah Madaniyah.
  • Yang turun di Makkah adalah Surah Al-A’raf, Yunus, Hud, Yusuf, Ar-Ra’d, Ibrahim, Al-Hijr, An-Nahl (kecuali tiga ayat terakhirnya yang turun antara Makkah dan Madinah saat perjalanan pulang dari Uhud).
  • Dan Surah Bani Israil, Al-Kahfi, Maryam, Thaha, Al-Anbiya, Al-Hajj (kecuali tiga ayat: ﴿هَذَانِ خَصْمَانِ﴾ hingga akhir tiga ayat tersebut yang turun di Madinah).
  • Surah Al-Mukminun, Al-Furqan, Asy-Syu’ara (kecuali lima ayat terakhirnya yang turun di Madinah: ﴿وَالشُّعَرَاءُ يَتَّبِعُهُمُ الْغَاوُونَ﴾ hingga akhirnya).
  • Surah An-Naml, Al-Qasas, Al-Ankabut, Ar-Rum, Luqman (kecuali tiga ayat darinya yang turun di Madinah: ﴿وَلَوْ أَنَّمَا فِي الأَرْضِ مِنْ شَجَرَةٍ أَقْلامٌ﴾ hingga akhir ayat).
  • Surah As-Sajdah (kecuali tiga ayat: ﴿أَفَمَنْ كَانَ مُؤْمِنًا كَمَنْ كَانَ فَاسِقًا﴾ hingga akhir tiga ayat tersebut).
  • Surah Saba’, Fatir, Yasin, As-Saffat, Shad, Az-Zumar (kecuali tiga ayat yang turun di Madinah mengenai Wahsyi, pembunuh Hamzah: ﴿قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا﴾ hingga akhir tiga ayat).
  • Tujuh surah Hawamim, Qaf, Adz-Dzariyat, Ath-Thur, An-Najm, Al-Qamar, Ar-Rahman, Al-Waqi’ah, Ash-Shaff, At-Taghabun (kecuali ayat-ayat terakhirnya yang turun di Madinah).
  • Al-Mulk, Nun, Al-Haqqah, Sa’ala, Nuh, Al-Jinn, Al-Muzammil (kecuali dua ayat: ﴿إِنَّ رَبَّكَ يَعْلَمُ أَنَّكَ تَقُومُ﴾), Al-Muddaththir hingga akhir Al-Qur’an.
  • Kecuali: Adz-Zalzalah, An-Nasr, Al-Ikhlas, Al-Falaq, An-Nas, karena surah-surah ini Madaniyah.
  • Yang turun di Madinah adalah Surah Al-Anfal, Bara’ah (At-Taubah), An-Nur, Al-Ahzab, Muhammad, Al-Fath, Al-Hujurat, Al-Hadid, dan setelahnya hingga At-Tahrim.

Klasifikasi rinci ini, dengan sanad yang kuat, merupakan harta karun ilmu yang membantu kita dalam mengenal ciri dan hikmah ayat Makki Madani Al-Qur’an. Dari daftar ini saja, kita bisa melihat pola perbedaan dalam tema, gaya bahasa, dan penekanan. Ayat Makki seringkali berbicara tentang tauhid, keesaan Allah, hari kiamat, kisah-kisah umat terdahulu, dan penetapan dasar-dasar akidah. Sementara ayat Madani lebih banyak membahas syariat, hukum-hukum, tata negara, sosial kemasyarakatan, dan peperangan.

Refleksi Hikmah di Balik Pembagian Makki dan Madani

Pembagian Makki dan Madani bukan sekadar kategorisasi geografis atau temporal, melainkan sebuah manifestasi hikmah Ilahi dalam menyempurnakan risalah Islam. Ini mengajarkan kita tentang metodologi dakwah yang progresif dan adaptif. Di Makkah, saat umat Islam dalam fase awal dan tertindas, fokus utama adalah membangun fondasi keimanan yang kokoh. Ayat-ayatnya membakar semangat tauhid, menancapkan keyakinan akan hari akhir, dan menentang syirik dengan hujah yang kuat.

Ketika hijrah ke Madinah, dengan terbentuknya negara Islam, wahyu mulai mengarah pada pembentukan masyarakat yang adil dan beradab. Hukum-hukum sosial, ekonomi, politik, dan kemiliteran diturunkan untuk mengatur tatanan kehidupan. Dengan mengenal ciri dan hikmah ayat Makki Madani Al-Qur’an, kita dapat memahami betapa bijaksananya Allah dalam membimbing hamba-Nya, sedikit demi sedikit, setahap demi setahap, menuju kesempurnaan agama.

Membumikan Ilmu Makki dan Madani dalam Kehidupan Kita

Lantas, bagaimana ilmu ini relevan bagi kita yang hidup di zaman modern? Pemahaman ini membimbing kita untuk melihat Al-Qur’an sebagai sebuah kesatuan yang dinamis, bukan sekadar kumpulan ayat-ayat yang terpisah. Saat kita merenungkan sebuah ayat, kita bisa bertanya: “Konteks apa yang melingkupi turunnya ayat ini? Apa pesan utamanya di era itu? Bagaimana relevansinya dengan tantangan hari ini?” Ini adalah proses berpikir yang memberdayakan, yang menjadikan Al-Qur’an hidup dalam setiap denyut nadi kita.

Dengan mengenal ciri dan hikmah ayat Makki Madani Al-Qur’an, kita tidak akan salah dalam memahami prioritas dakwah, tidak keliru dalam menerapkan hukum, dan tidak gegabah dalam menyikapi perubahan. Ia melatih kepekaan kita terhadap konteks, mengajarkan kesabaran dalam berproses, dan memupuk keyakinan bahwa setiap fase kehidupan ada tuntunannya dari Rabb semesta alam.

Marilah kita terus mendalami Al-Qur’an, bukan hanya hafalannya, tetapi juga ilmu-ilmu yang mengelilinginya, termasuk Makki dan Madani. Inilah jalan para ulama salaf, jalan yang akan membukakan gerbang pemahaman yang lebih dalam dan menginspirasi kita untuk menjadi pribadi yang lebih bertaqwa. Semoga Allah memberkahi langkah kita dalam menuntut ilmu dan mengamalkannya.

Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta

Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
kunjungi halaman ini
WhatsApp +6281224003100

Flyer Program Hafal Quran Executive Tahfizh di Yogyakarta

Daftar Referensi

  • As-Suyuthi, Jalaluddin. *Al-Itqan fi Ulumil Quran*. Al-Haiah Al-Mishriyah Al-Ammah Lil Kitab, Kairo, 1394 H/1974 M.
  • Al-Bukhari, Muhammad bin Ismail. *Shahih Al-Bukhari*. Kitab Fada’ilul Qur’an, Bab Kaifa Nuzilatil Wahyu.
  • Ibnu Sa’ad, Muhammad. *At-Tabaqat Al-Kubra*.
  • An-Nahhas, Abu Ja’far. *An-Nasikh wal Mansukh*.
  • Abu Nu’aim Al-Isbahani. *Hilyatul Auliya wa Tabaqat Al-Asyfiya*.

author avatar
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.,