Mengelola rasa bersalah saat terlambat setoran seringkali menjadi beban yang lebih berat daripada proses menghafal itu sendiri. Kita mungkin pernah berada di posisi ini: menatap layar ponsel dengan perasaan was-was saat melihat pesan dari pembimbing, atau justru merasa sesak di dada ketika melihat mushaf yang sudah beberapa hari tidak terbuka. Ada rasa tidak enak, rasa gagal, bahkan terkadang rasa malu yang membuat kita justru semakin menjauh dari Al-Qur’an.
Mungkin saat ini kita sedang merasakan debaran jantung yang tidak menentu setiap kali teringat target yang terlewati. Seolah-olah ada suara kecil di kepala yang terus berbisik bahwa kita tidak cukup disiplin atau tidak pantas menyandang gelar penghafal. Namun, mari kita tarik napas dalam-dalam. Mari kita rasakan aliran udara yang masuk ke paru-paru dan sadari bahwa perjalanan kita bersama kalam-Nya adalah perjalanan cinta, bukan sekadar perlombaan dengan waktu.
Kenapa ya rasa bersalah ini justru bikin kita makin malas melangkah?
Kita sering terjebak dalam siklus yang aneh: merasa bersalah karena terlambat, lalu karena merasa bersalah, kita jadi malu untuk memulai lagi, dan akhirnya keterlambatan itu semakin menumpuk. Ini adalah jebakan emosi yang manusiawi. Rasa bersalah yang berlebihan justru bisa mematikan motivasi kita. Kita merasa seolah-olah pintu sudah tertutup, padahal Allah SWT selalu membukakan pintu bagi hamba-Nya yang ingin kembali berinteraksi dengan kitab-Nya.
Penting bagi kita untuk memahami bahwa rasa bersalah ini sebenarnya adalah tanda bahwa iman di hati kita masih hidup. Kita peduli pada hafalan kita. Namun, jika rasa bersalah itu membuat kita berhenti, maka itu bukan lagi berasal dari ketulusan, melainkan bisikan keputusasaan. Hal ini sangat mirip dengan bagaimana kita perlu belajar cara berdamai dengan lupa hafalan Qur’an agar kita tidak terjebak dalam kesedihan yang tak berujung.
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
“Katakanlah: ‘Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.'” (QS. Az-Zumar: 53)
Gimana kalau kita benar-benar sibuk sampai target berantakan?
Kita hidup di dunia yang penuh dengan tuntutan. Ada pekerjaan yang harus diselesaikan, keluarga yang butuh perhatian, dan berbagai urusan yang menguras energi. Seringkali, keterlambatan setoran bukan karena kita malas, tapi karena kapasitas energi kita sedang diuji. Mengelola rasa bersalah saat terlambat setoran berarti kita juga harus bersikap jujur pada diri sendiri mengenai prioritas dan manajemen waktu.
Jika kesibukan menjadi penghalang, cobalah untuk tidak melihat target sebagai beban yang kaku. Kita bisa menggunakan pendekatan yang lebih mengalir. Misalnya, jika biasanya kita menyetor satu halaman, cobalah untuk menyetor dua atau tiga ayat saja asalkan konsisten. Strategi ini sangat membantu bagi rekan-rekan yang mencari tips khatam Quran sambil kerja agar tetap bisa menjaga kedekatan dengan Al-Qur’an di tengah hiruk pikuk kantor.
Apa yang harus kita katakan ke pembimbing saat belum siap?
Salah satu sumber rasa bersalah terbesar adalah rasa sungkan kepada guru atau musyrif. Kita takut dianggap tidak serius. Namun, percayalah, seorang pembimbing Al-Qur’an lebih bahagia melihat kita datang dengan jujur meskipun membawa hafalan yang sedikit, daripada kita menghilang tanpa kabar (ghosting). Kejujuran adalah kunci untuk melepaskan beban di pundak kita.
Sampaikan saja apa adanya: “Mohon maaf Ustadz/Ustadzah, pekan ini kondisi saya sedang kurang stabil, saya baru bisa setoran sekian ayat.” Kalimat sederhana ini akan memutus rantai rasa bersalah kita. Dengan berkomunikasi, kita tidak lagi memikul beban sendirian. Dukungan dari lingkungan yang tepat, seperti saat kita mengikuti program Karantina Tahfizh Jogja, bisa membantu kita membangun kembali ritme yang sempat hilang.
Yuk, kita mulai lagi dari langkah yang paling kecil
Menghilangkan rasa bersalah bukan berarti kita memaklumi kemalasan, tapi memberikan ruang bagi jiwa kita untuk sembuh dan melangkah kembali. Cobalah untuk duduk sejenak di tempat yang tenang, rasakan tekstur kertas mushaf di jari-jari kita, dan mulailah membaca. Tidak perlu langsung menghafal, cukup baca dengan tartil. Biarkan ketenangan dari ayat-ayat tersebut membasuh rasa gelisah kita.
Ingatlah bahwa setiap huruf yang kita baca adalah pahala, terlepas dari apakah itu bagian dari setoran yang terlambat atau bukan. Allah tidak melihat hasil akhirnya saja, tapi Allah sangat menghargai setiap tetes keringat dan perjuangan kita untuk tetap bertahan. Mengelola rasa bersalah saat terlambat setoran pada akhirnya adalah tentang membangun hubungan yang lebih sehat dengan Al-Qur’an—hubungan yang didasarkan pada cinta, bukan sekadar kewajiban.
Mari kita sepakati satu hal: hari ini adalah awal yang baru. Tidak perlu menyesali hari kemarin yang sudah lewat, dan jangan mencemaskan target esok hari yang belum tiba. Fokuslah pada apa yang bisa kita setorkan hari ini, meskipun itu hanya satu baris. Karena bagi Allah, yang paling dicintai adalah amalan yang dilakukan secara konsisten meskipun sedikit. Kita pasti bisa melaluinya bersama-sama.
Daftar Referensi
- Al-Qur’anul Karim, Surat Az-Zumar Ayat 53 tentang Luasnya Rahmat Allah.
- Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim tentang amalan yang paling dicintai Allah adalah yang berkelanjutan (istiqomah) meskipun sedikit.
- Kitab At-Tibyan fi Adabi Hamalatil Qur’an karya Imam An-Nawawi tentang adab dan mentalitas penghafal Qur’an.
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
Qur’an Learning Center Yogyakarta merupakan aset wakaf yang dikelola oleh Baitulmaal Muamalat untuk mencetak para Hafizh dan Hafizhah dalam program unggulan Executive Tahfizh.
Website: kunjungi halaman ini
WhatsApp: +6281224003100

