Fitrah manusia, seringkali dibungkus oleh rasa gelisah, khawatir, dan kecenderungan untuk berkeluh kesah. Kita sering merasa tidak cukup, merasa kurang, atau terlampau cemas akan masa depan. Hati kita seolah tak pernah benar-benar tenang, selalu ada saja yang mengganjal, selalu ada saja yang membuat kita merasa tak nyaman. Ini adalah cerminan dari sebuah sifat dasar yang Allah gambarkan dalam Al-Qur’an, yaitu ‘halu’a’.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Surah Al-Ma’arij:

إِنَّ الْإِنسَانَ خُلِقَ هَلُوعًا
إِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوعًا
وَإِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوعًا
إِلَّا الْمُصَلِّينَ

Artinya: “Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir, kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat.” (QS. Al-Ma’arij: 19-22)

Ayat ini membuka mata hati kita akan realitas diri. Ketika kesusahan menghampiri, kita mudah panik, putus asa, dan mengeluh. Namun, ketika kebaikan atau nikmat datang, kita cenderung menjadi kikir, enggan berbagi, dan takut kehilangan. Pola ini seolah melekat dalam diri kita, menjadi sebuah lingkaran setan yang menghalangi kita dari ketenangan sejati. Namun, Allah, dengan segala kasih sayang-Nya, tidak membiarkan kita terperosok dalam lingkaran ini tanpa jalan keluar. Ada pengecualian yang jelas, sebuah “filter” yang bisa membebaskan kita dari belenggu keluh kesah ini: “kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat.”

Siapa Mereka yang Terbebas dari Keluh Kesah?

Pengecualian ini bukan hanya tentang gerakan shalat semata, melainkan esensi dari ketaatan yang mendalam dan aplikasi praktis dalam hidup. Ayat-ayat selanjutnya dari Surah Al-Ma’arij (23-35) secara gamblang menjelaskan karakteristik insan-insan istimewa ini. Ini adalah peta jalan bagi kita untuk mengubah pola pikir dan tindakan, dari pribadi yang mudah berkeluh kesah menjadi pribadi yang tenang dan berketahanan.

1. Mereka yang Tetap Mengerjakan Shalatnya

Shalat bukan sekadar kewajiban, melainkan sarana komunikasi terindah antara hamba dengan Penciptanya. Bagi mereka yang terbebas dari keluh kesah, shalat adalah penenang jiwa, penguat mental, dan sumber energi spiritual. Mereka menjaga shalatnya dengan khusyuk, tepat waktu, dan memahami maknanya. Shalat menjadi jangkar di tengah badai kehidupan, mengingatkan kita bahwa ada kekuatan yang Maha Besar di atas segalanya. Melalui shalat, kita belajar menyerahkan segala urusan kepada Allah, menumbuhkan keyakinan bahwa setiap kesulitan pasti ada jalan keluarnya.

2. Mereka yang dalam Hartanya Ada Hak untuk Orang Lain

Jiwa yang kikir adalah salah satu penyebab utama keluh kesah. Kita takut kehilangan, takut kekurangan. Namun, mereka yang dimuliakan Allah memahami bahwa harta yang mereka miliki adalah titipan, dan di dalamnya ada hak bagi orang miskin dan yang membutuhkan. Dengan menunaikan zakat dan bersedekah, mereka membersihkan harta dan jiwa. Memberi bukan mengurangi, justru melapangkan rezeki dan melapangkan hati. Kepedulian terhadap sesama menumbuhkan rasa syukur dan menghilangkan sifat kikir yang melahirkan kegelisahan.

3. Mereka yang Membenarkan Hari Pembalasan

Keyakinan akan adanya hari perhitungan, hari pembalasan, adalah fondasi penting untuk mengatasi keluh kesah. Orang yang yakin akan akhirat tidak akan terlalu tenggelam dalam kesenangan dunia yang fana, juga tidak akan terlalu terpuruk oleh kesusahan duniawi. Mereka menjalani hidup dengan tujuan yang jelas, setiap tindakan diperhitungkan sebagai investasi untuk kehidupan abadi. Perspektif akhirat ini memberikan ketenangan karena tahu bahwa penderitaan di dunia ini hanya sementara, dan kebahagiaan sejati menanti di sisi Allah.

4. Mereka yang Takut Terhadap Azab Tuhannya

Rasa takut di sini bukanlah ketakutan yang melumpuhkan, melainkan ketakutan yang memotivasi untuk selalu berada di jalan kebaikan. Takut akan azab Allah membuat kita hati-hati dalam bertindak, menjauhi maksiat, dan selalu berusaha memperbaiki diri. Ketakutan inilah yang menjadi rem bagi hawa nafsu dan pendorong untuk istiqamah dalam ketaatan. Hati yang senantiasa menjaga diri dari dosa akan lebih tenang dan tenteram.

5. Mereka yang Memelihara Kemaluannya

Menjaga kehormatan diri, menjauhi segala bentuk kemaksiatan yang berhubungan dengan syahwat, adalah tanda kesucian jiwa. Mereka yang mampu mengendalikan hawa nafsunya akan merasakan ketenangan batin yang luar biasa. Kemaksiatan hanya akan membawa kegelisahan dan kekosongan, sedangkan menjaga diri membawa keberkahan dan ketenteraman.

6. Mereka yang Menunaikan Amanah dan Jani-Janjinya

Integritas adalah mahkota pribadi mukmin. Mereka adalah orang-orang yang dapat dipercaya, yang memegang teguh amanah, dan menepati jani-janjinya. Sifat ini membangun kepercayaan, baik dari sesama manusia maupun dari Allah. Hati yang bersih dari pengkhianatan dan dusta akan merasa damai, bebas dari beban rasa bersalah dan kekhawatiran akan konsekuensi negatif.

7. Mereka yang Teguh Kesaksiannya

Berani berdiri di atas kebenaran, menjadi saksi yang adil, meskipun itu pahit dan mungkin merugikan diri sendiri atau orang terdekat. Mereka tidak gentar menyuarakan kebenaran dan menolak kebatilan. Kejujuran dan keberanian dalam bersaksi menunjukkan kekuatan iman dan kemantapan hati, yang berujung pada ketenangan jiwa.

8. Mereka yang Tetap Memelihara Shalatnya

Penegasan kembali tentang shalat di akhir rangkaian karakteristik ini menunjukkan betapa sentralnya ibadah ini. Ini bukan hanya tentang mendirikan shalat, tetapi “memelihara” shalat, menjaganya dari kelalaian, kesembronoan, dan kekosongan makna. Mereka adalah orang-orang yang menjadikan shalat sebagai inti dari segala aktivitas hidup, senantiasa kembali kepada shalat untuk mencari kekuatan dan petunjuk.

Perjalanan Menuju Ketenangan Hakiki

Mengubah fitrah dasar ‘halu’a’ memang tidak mudah, namun bukan berarti mustahil. Allah telah memberikan kita “resep” yang jelas dalam Surah Al-Ma’arij. Ini adalah sebuah perjalanan transformasi pola pikir dan tindakan. Mulailah dengan menata kembali hubungan kita dengan shalat, jadikan ia sebagai kebutuhan primer jiwa. Latih diri kita untuk lebih peduli terhadap sesama, hilangkan rasa kikir dengan berbagi. Perkuat keyakinan akan akhirat, sehingga kita tidak mudah terbuai oleh dunia. Hadirkan rasa takut akan azab Allah sebagai kontrol diri. Jaga kehormatan, tunaikan amanah, dan teguhlah dalam kebenaran.

Ingatlah sabda Nabi Muhammad ﷺ:

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

Artinya: “Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Seluruh urusannya adalah kebaikan baginya. Apabila ia diberi kenikmatan, ia bersyukur dan syukur itu baik baginya. Apabila ia ditimpa musibah, ia bersabar dan sabar itu baik baginya.” (HR. Muslim)

Inilah puncak dari ketenangan hati, ketika keluh kesah berubah menjadi syukur dan sabar. Mari kita jadikan Al-Qur’an sebagai panduan hidup, menerapkan setiap ajarannya agar kita menjadi pribadi yang tangguh, damai, dan penuh keberkahan. Inilah makna sejati dari menjadi insan yang terbebas dari keluh kesah, insan yang hatinya selalu terpaut pada Allah.

Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta

Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
kunjungi halaman ini
WhatsApp +6281224003100

Flyer Program Hafal Quran Executive Tahfizh di Yogyakarta
author avatar
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.,