Surah Al-Fatihah dan Kedudukannya dalam Islam

Surah Al-Fatihah adalah surah pertama dalam Al-Qur’an yang memiliki kedudukan istimewa dalam ajaran Islam. Diberi nama “Al-Fatihah” yang bermakna “Pembuka”, surah ini menjadi gerbang awal dalam menyelami lautan makna Al-Qur’an. Bukan sekadar pembuka, Al-Fatihah juga memiliki nama-nama lain yang mencerminkan keagungan dan fungsinya, seperti Umm Al-Kitab (Induk Al-Qur’an), As-Sab’ul Matsani (Tujuh Ayat yang Diulang-ulang), dan Asy-Syifa’ (Penyembuh).

Surah Al-Fatihah terdiri dari tujuh ayat yang berbunyi:

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَۙ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِۙ مٰلِكِ يَوْمِ الدِّيْنِۗ اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُۗ اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَۙ صِرَاطَ الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ ەۙ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّاۤلِّيْنَ

Artikel ini akan mengupas keistimewaan Surah Al-Fatihah, mengapa ia menjadi pembuka Al-Qur’an, dan kenapa membacanya dalam shalat menjadi syarat keabsahan ibadah kita.

Kedudukan Al-Fatihah sebagai Pembuka Al-Qur’an

Sejarah Turunnya Al-Fatihah

Al-Fatihah merupakan salah satu surah yang diturunkan di Makkah (Makkiyah). Para ulama berbeda pendapat tentang kapan tepatnya surah ini diturunkan. Sebagian berpendapat bahwa Al-Fatihah adalah surah pertama yang diturunkan secara utuh kepada Nabi Muhammad SAW, sementara sebagian lainnya mengatakan bahwa wahyu pertama adalah lima ayat pertama Surah Al-‘Alaq.

Imam As-Suyuthi dalam kitabnya “Al-Itqan fi Ulumil Qur’an” (halaman 98) menyebutkan bahwa mayoritas ulama berpendapat Al-Fatihah diturunkan di Makkah sebelum hijrah. Ini menunjukkan bahwa Al-Fatihah merupakan bagian dari fondasi dasar ajaran Islam yang disampaikan pada masa awal dakwah Nabi Muhammad SAW.

Mengapa Dinamakan “Pembuka”?

Nama “Al-Fatihah” berasal dari kata “fataha” yang berarti membuka. Surah ini dinamakan demikian karena beberapa alasan:

  1. Pembuka Mushaf Al-Qur’an: Al-Fatihah ditempatkan di awal Al-Qur’an, sehingga menjadi pembuka bagi seluruh isi Al-Qur’an.
  2. Pembuka Dialog dengan Allah: Al-Fatihah merupakan bentuk dialog sempurna antara hamba dengan Tuhannya, dimulai dengan pujian kepada Allah, pengakuan terhadap kekuasaan-Nya, hingga permohonan petunjuk.
  3. Pembuka Pintu Rahmat: Membaca Al-Fatihah menjadi pembuka bagi turunnya rahmat Allah kepada hambanya.

Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “مَنْ صَلَّى صَلَاةً لَمْ يَقْرَأْ فِيهَا بِأُمِّ الْقُرْآنِ فَهِيَ خِدَاجٌ – ثَلَاثًا – غَيْرُ تَمَامٍ”

“Dari Abu Hurairah RA, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: ‘Barangsiapa mengerjakan shalat tanpa membaca Ummul Qur’an (Al-Fatihah), maka shalatnya kurang -beliau mengucapkannya tiga kali- tidak sempurna.'” (HR. Muslim no. 395)

Kandungan Makna Surah Al-Fatihah

Ringkasan Seluruh Al-Qur’an dalam Tujuh Ayat

Meskipun hanya terdiri dari tujuh ayat, Al-Fatihah memuat intisari seluruh kandungan Al-Qur’an. Ini sebabnya Al-Fatihah juga disebut sebagai “Ummul Kitab” atau “Ummul Qur’an” (Induk Al-Qur’an).

Ibnu Katsir dalam tafsirnya (1/22) menjelaskan bahwa Al-Fatihah mencakup tiga tema utama Al-Qur’an:

  1. Tauhid (Pengesaan Allah): Tercermin dalam ayat “Alhamdulillahi rabbil ‘alamin” dan “Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in”.
  2. Hukum dan Syariat: Tersirat dalam ayat “Ihdinash shiratal mustaqim”.
  3. Kisah Umat Terdahulu: Tercermin dalam ayat “Shiratal ladzina an’amta ‘alaihim, ghairil maghdubi ‘alaihim waladh dhallin”.

Penafsiran Ayat-ayat Al-Fatihah

1. بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang)

Basmalah merupakan pembuka yang mengajarkan kita untuk memulai segala sesuatu dengan nama Allah. Ini adalah pengakuan bahwa segala aktivitas kita harus diniatkan untuk Allah dan dengan pertolongan-Nya.

2. اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَۙ (Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam)

Ayat ini mengajarkan pentingnya bersyukur dan memuji Allah. “Rabb al-‘Alamin” menegaskan bahwa Allah adalah pencipta, pemelihara, dan pengatur seluruh alam semesta.

3. الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِۙ (Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang)

Ayat ini menekankan sifat kasih sayang Allah yang tak terbatas. “Ar-Rahman” menunjukkan kasih sayang Allah yang berlaku untuk semua makhluk di dunia, sedangkan “Ar-Rahim” menunjukkan kasih sayang khusus Allah kepada orang-orang beriman di akhirat.

4. مٰلِكِ يَوْمِ الدِّيْنِۗ (Pemilik Hari Pembalasan)

Ayat ini mengingatkan tentang adanya hari pembalasan (kiamat), dimana setiap jiwa akan menerima balasan atas amalnya. Ini mengajarkan konsep pertanggungjawaban dan keadilan Allah.

5. اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُۗ (Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan)

Ayat ini adalah inti dari tauhid dan perwujudan hubungan vertikal antara manusia dengan Allah. “Iyyaka na’budu” menegaskan bahwa ibadah hanya ditujukan kepada Allah, sementara “Iyyaka nasta’in” mengakui bahwa hanya Allah sumber pertolongan sejati.

6. اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَۙ (Tunjukilah kami jalan yang lurus)

Ayat ini merupakan doa universal setiap Muslim untuk selalu mendapatkan petunjuk Allah dalam menjalani kehidupan. “Ash-Shirat al-Mustaqim” merujuk pada jalan Islam yang lurus dan benar.

7. صِرَاطَ الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ ەۙ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّاۤلِّيْنَ (Yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka, bukan jalan orang-orang yang dimurkai dan bukan pula jalan orang-orang yang sesat)

Ayat ini menjelaskan karakteristik jalan yang lurus tersebut:

  • “Jalan orang-orang yang diberi nikmat” merujuk pada para nabi, shiddiqin (orang-orang jujur), syuhada (para syahid), dan shalihin (orang-orang saleh).
  • “Bukan jalan orang-orang yang dimurkai” merujuk pada orang-orang yang mengetahui kebenaran tetapi tidak mengamalkannya.
  • “Bukan pula jalan orang-orang yang sesat” merujuk pada orang-orang yang beribadah tanpa ilmu dan pemahaman yang benar.

Keistimewaan dan Keutamaan Surah Al-Fatihah

Al-Fatihah sebagai Ruqyah (Penyembuh)

Salah satu keistimewaan Al-Fatihah adalah kekuatannya sebagai penyembuh (ruqyah). Ini didasarkan pada hadits berikut:

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ نَاسًا مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانُوا فِي سَفَرٍ، فَمَرُّوا بِحَيٍّ مِنْ أَحْيَاءِ الْعَرَبِ، فَاسْتَضَافُوهُمْ فَلَمْ يُضِيفُوهُمْ، فَقَالُوا لَهُمْ: هَلْ فِيكُمْ رَاقٍ؟ فَإِنَّ سَيِّدَ الْحَيِّ لُدِغَ، فَقَالَ رَجُلٌ مِنْهُمْ: نَعَمْ، فَأَتَاهُ فَرَقَاهُ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ، فَبَرَأَ الرَّجُلُ، فَأُعْطِيَ قَطِيعًا مِنْ غَنَمٍ، فَأَبَى أَنْ يَقْبَلَهَا، وَقَالَ: حَتَّى أَذْكُرَ ذَلِكَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَأَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَكَرَ لَهُ ذَلِكَ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَاللَّهِ مَا رَقَيْتُ إِلَّا بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ، فَتَبَسَّمَ وَقَالَ: وَمَا أَدْرَاكَ أَنَّهَا رُقْيَةٌ؟ ثُمَّ قَالَ: خُذُوا مِنْهُمْ وَاضْرِبُوا لِي بِسَهْمٍ مَعَكُمْ

“Dari Abu Sa’id Al-Khudri RA, bahwa sekelompok sahabat Nabi SAW dalam suatu perjalanan, mereka singgah di sebuah perkampungan Arab. Mereka meminta jamuan tetapi penduduk kampung itu tidak mau menjamu mereka. Kemudian pemimpin kampung tersebut terkena sengatan, lalu mereka berusaha mengobatinya namun tidak berhasil. Sebagian dari mereka berkata: ‘Coba kalian datangi rombongan yang singgah itu, barangkali di antara mereka ada yang memiliki sesuatu (obat)’. Mereka pun mendatangi rombongan sahabat dan berkata: ‘Wahai rombongan, sesungguhnya pemimpin kami terkena sengatan dan kami telah berusaha mengobatinya namun belum berhasil, apakah salah seorang dari kalian memiliki sesuatu (obat)?’ Salah seorang sahabat menjawab: ‘Ya, demi Allah, aku akan meruqyah, tetapi tadi kami telah meminta jamuan kepada kalian namun kalian tidak mau menjamu kami. Maka aku tidak akan meruqyah sebelum kalian memberi kami upah.’ Akhirnya mereka bersepakat memberi rombongan sahabat itu kawanan kambing. Kemudian sahabat itu membaca Al-Fatihah dan mengumpulkan ludahnya kemudian meniupkannya (ke tempat yang disengat), maka sembuhlah pemimpin kampung tersebut… Nabi SAW bertanya: ‘Bagaimana engkau tahu bahwa Al-Fatihah adalah ruqyah?’ Kemudian beliau bersabda: ‘Kalian telah melakukan yang benar, bagilah upah tersebut dan beri aku bagian bersama kalian.'” (HR. Bukhari no. 5736)

Al-Fatihah sebagai Dialog dengan Allah

Keistimewaan lain dari Al-Fatihah adalah bahwa surah ini merupakan bentuk dialog langsung antara hamba dengan Allah. Hal ini dijelaskan dalam hadits qudsi:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: قَسَمْتُ الصَّلَاةَ بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي نِصْفَيْنِ، وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ، فَإِذَا قَالَ الْعَبْدُ: الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: حَمِدَنِي عَبْدِي، وَإِذَا قَالَ: الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ، قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: أَثْنَى عَلَيَّ عَبْدِي، وَإِذَا قَالَ: مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ، قَالَ: مَجَّدَنِي عَبْدِي، وَقَالَ مَرَّةً: فَوَّضَ إِلَيَّ عَبْدِي، فَإِذَا قَالَ: إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ، قَالَ: هَذَا بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي، وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ، فَإِذَا قَالَ: اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ، صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ، قَالَ: هَذَا لِعَبْدِي وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ”

“Dari Abu Hurairah RA, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: ‘Allah Ta’ala berfirman: Aku membagi shalat (Al-Fatihah) antara Aku dan hamba-Ku menjadi dua bagian, dan hamba-Ku akan mendapatkan apa yang ia minta. Jika hamba mengucapkan: ‘Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin’, Allah berkata: ‘Hamba-Ku telah memuji-Ku.’ Ketika hamba mengucapkan: ‘Ar-Rahmanir Rahim’, Allah berkata: ‘Hamba-Ku telah menyanjung-Ku.’ Ketika hamba mengucapkan: ‘Maliki yaumiddin’, Allah berkata: ‘Hamba-Ku telah mengagungkan-Ku.’ Pada kesempatan lain Allah berfirman: ‘Hamba-Ku telah menyerahkan urusannya kepada-Ku.’ Ketika hamba mengucapkan: ‘Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in’, Allah berkata: ‘Ini antara Aku dan hamba-Ku, dan hamba-Ku akan mendapatkan apa yang ia minta.’ Dan ketika hamba mengucapkan: ‘Ihdinash shirathal mustaqim, shirathal ladzina an’amta ‘alaihim ghairil maghdhubi ‘alaihim wa ladh dhallin’, Allah berkata: ‘Ini untuk hamba-Ku, dan hamba-Ku akan mendapatkan apa yang ia minta.”” (HR. Muslim no. 395)

Mengapa Al-Fatihah Wajib dalam Shalat

Hukum Membaca Al-Fatihah dalam Shalat

Membaca Al-Fatihah dalam shalat adalah wajib bagi setiap Muslim. Ini didasarkan pada berbagai hadits, di antaranya:

عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: “لَا صَلَاةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ”

“Dari Ubadah bin Shamit RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda: ‘Tidak sah shalat bagi yang tidak membaca Al-Fatihah.'” (HR. Bukhari no. 756 dan Muslim no. 394)

Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim (4/103) menjelaskan bahwa hadits ini merupakan dalil yang jelas tentang wajibnya membaca Al-Fatihah dalam shalat, dan ini adalah pendapat mayoritas ulama dari kalangan sahabat, tabi’in, dan generasi setelahnya.

Rahasia di Balik Kewajiban Membaca Al-Fatihah

Mengapa Al-Fatihah wajib dibaca dalam setiap rakaat shalat? Ada beberapa hikmah di balik hal ini:

  1. Merupakan Bentuk Dialog dengan Allah: Sebagaimana hadits qudsi di atas, Al-Fatihah merupakan dialog langsung antara hamba dengan Allah.
  2. Mengandung Intisari Ibadah: Al-Fatihah memuat pujian, pengakuan tauhid, dan permohonan petunjuk yang merupakan inti dari ibadah kepada Allah.
  3. Pengingat Tujuan Hidup: Pembacaan Al-Fatihah berulang kali dalam shalat mengingatkan kita akan tujuan hidup, yaitu beribadah kepada Allah dan memohon petunjuk-Nya.
  4. Menjaga Kesinambungan dengan Al-Qur’an: Membaca Al-Fatihah sebagai pembuka Al-Qur’an dalam shalat menjaga hubungan kita dengan kitab suci secara keseluruhan.

Metode Menghafal Al-Fatihah dengan Benar

Untuk menghafal Al-Fatihah dengan benar, berikut beberapa metode yang dapat diterapkan:

1. Tahap Persiapan

  • Berwudhu dan memilih tempat yang tenang
  • Niat dengan ikhlas untuk menghafal firman Allah
  • Memohon kemudahan kepada Allah

2. Teknik Menghafal

  • Metode Talqin: Mendengarkan bacaan dari guru atau rekaman oleh qari terpercaya
  • Metode Tikrar: Mengulang-ulang ayat hingga lancar
  • Metode Visualisasi: Melihat mushaf dan memperhatikan bentuk tulisan ayat
  • Metode Gerakan: Mengaitkan ayat dengan gerakan tangan untuk memudahkan ingatan (khususnya untuk anak-anak)

3. Tahap Pemantapan

  • Muraja’ah (mengulang) hafalan secara teratur
  • Membaca dalam shalat untuk memperkuat hafalan
  • Memahami arti dan tafsir ayat untuk memperdalam hafalan

Alhamdulillah, kami mengembangkan metode khusus bernama “Metode Yadain Litahfizhil Quran” yang terbukti efektif membantu santri menghafal Al-Qur’an, termasuk Surah Al-Fatihah, dengan cepat dan kuat. Metode ini menggabungkan pendekatan audio-visual, pemahaman makna, dan sistem muraja’ah terstruktur yang memudahkan proses menghafal.

Penerapan Al-Fatihah dalam Kehidupan Sehari-hari

Membumikan Nilai-nilai Al-Fatihah

Al-Fatihah bukan sekadar surah yang dibaca dalam shalat, tetapi nilai-nilainya perlu dibumikan dalam kehidupan sehari-hari:

  1. Syukur dan Pujian: Seperti “Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin”, kita perlu mengembangkan sikap bersyukur dalam segala keadaan.
  2. Kasih Sayang: Mencontoh sifat “Ar-Rahman” dan “Ar-Rahim” dengan menyebarkan kasih sayang kepada sesama.
  3. Pertanggungjawaban: Menyadari adanya “Maliki yaumiddin” dengan selalu mempertimbangkan konsekuensi akhirat dalam setiap tindakan.
  4. Tauhid dalam Tindakan: Mengimplementasikan “Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in” dengan menjadikan Allah sebagai tujuan utama dan tempat bergantung.
  5. Istiqamah di Jalan yang Benar: Selalu berusaha berada di “Ash-Shirat al-Mustaqim” dengan menjauhi jalan-jalan yang dimurkai Allah dan yang sesat.

Membaca Al-Fatihah di Luar Shalat

Membaca Al-Fatihah tidak terbatas pada shalat saja. Kita dianjurkan membacanya dalam berbagai kesempatan:

  1. Sebagai ruqyah (penyembuh) ketika sakit
  2. Sebagai doa untuk orang yang meninggal
  3. Sebagai pembuka majlis ilmu
  4. Sebagai bacaan pagi dan petang
  5. Sebagai doa memohon pertolongan dalam kesulitan

Kesimpulan

Surah Al-Fatihah memiliki kedudukan istimewa dalam Islam. Sebagai pembuka Al-Qur’an, surah ini mengandung intisari seluruh kandungan kitab suci. Kewajiban membacanya dalam shalat menegaskan pentingnya memahami dan menghayati pesan-pesan yang terkandung di dalamnya.

Melalui Al-Fatihah, kita diajarkan bagaimana berdialog dengan Allah, memuji-Nya, mengakui kekuasaan-Nya, dan memohon petunjuk-Nya. Surah ini juga mengajarkan kita tentang nilai-nilai fundamental dalam Islam yang perlu diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Menghafal dan memahami Al-Fatihah bukan sekadar kewajiban agama, tetapi juga investasi spiritual yang akan memberikan banyak manfaat di dunia dan akhirat. Untuk itu, mari kita pelajari dan hayati makna Al-Fatihah dengan sungguh-sungguh.

Doa Penutup

اَللّٰهُمَّ افْتَحْ لَنَا أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَأَخْرِجْنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّوْرِ، وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَبَارِكْ لَنَا فِيْ أَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُلُوْبِنَا وَأَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ، وَاجْعَلْنَا شَاكِرِيْنَ لِنِعْمَتِكَ، مُثْنِيْنَ بِهَا عَلَيْكَ، قَابِلِيْنَ لَهَا، وَأَتِمَّهَا عَلَيْنَا

“Ya Allah, bukakanlah untuk kami pintu-pintu rahmat-Mu, tunjukilah kami jalan keselamatan, keluarkanlah kami dari kegelapan menuju cahaya, jauhkanlah kami dari perbuatan keji baik yang tampak maupun yang tersembunyi, berkahilah pendengaran, penglihatan, hati, pasangan, dan keturunan kami. Terimalah taubat kami, sesungguhnya Engkau Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang. Jadikanlah kami orang-orang yang bersyukur atas nikmat-Mu, yang memuji-Mu dengannya, yang menerimanya dengan baik, dan sempurnakanlah nikmat itu atas kami.”

Informasi dan Pendaftaran
www.executivetahfizh.com

Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Kepala Quran Learning Center Yogyakarta
Founder Metode Yadain Litahfizhil Quran.

Program 28 Hari Hafal Quran
author avatar
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.,Kepala QLC Yogyakarta
Tokoh pendidikan Al-Qur'an di Indonesia yang dikenal sebagai Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an (dikembangkan sejak 2007). Ia merupakan pelopor gerakan akselerasi karantina tahfizh tingkat nasional yang telah berkiprah sejak 2014. Saat ini, beliau mengaplikasikan pengalamannya sebagai Pengasuh di Executive Tahfizh QLC-BMM Yogyakarta (mulai 2025) yang menjadi destinasi para penghafal dari dalam dan luar negeri