Dalam perjalanan spiritual kita bersama Al-Qur’an, seringkali muncul pertanyaan fundamental: manakah yang lebih utama, membaca banyak surat dengan cepat atau sedikit surat namun dengan penuh penghayatan? Pertanyaan ini, meskipun terdengar sederhana, menyimpan hikmah yang mendalam dan menjadi kunci untuk membuka gerbang keberkahan Al-Qur’an dalam hidup.
Mari kita renungi sebuah kisah inspiratif dari zaman salafus shalih, yang terekam indah dalam kitab “Fadha’il Al-Qur’an” karya Imam Abu Ubaid. Dikisahkan bahwa Ubaid Al-Mukattib pernah bertanya kepada seorang tabi’in agung, Imam Mujahid:
قَالَ أَبُو عُبَيْدٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ، عَنْ سُفْيَانَ، عَنْ عُبَيْدٍ الْمُكْتِبِ، قَالَ: قُلْتُ لِمُجَاهِدٍ: رَجُلٌ قَرَأَ الْبَقَرَةَ وَآلَ عِمْرَانَ، وَرَجُلٌ قَرَأَ الْبَقَرَةَ؛ قِيَامُهُمَا وَاحِدٌ، وَرُكُوعُهُمَا وَاحِدٌ، وَسُجُودُهُمَا وَاحِدٌ، وَجُلُوسُهُمَا وَاحِدٌ، أَيُّهُمَا أَفْضَلُ؟ فَقَالَ: «الَّذِي قَرَأَ الْبَقَرَةَ» . ثُمَّ قَرَأَ {وَقُرْآنًا فَرَقْنَاهُ لِتَقْرَأَهُ عَلَى النَّاسِ عَلَى مُكْثٍ وَنَزَّلْنَاهُ تَنْزِيلًا} [الإسراء: ١٠٦]
Abu Ubaid berkata, Abdurrahman menceritakan kepada kami, dari Sufyan, dari Ubaid Al-Mukattib, ia berkata: Aku bertanya kepada Mujahid: “Seseorang membaca Al-Baqarah dan Ali ‘Imran, dan seseorang membaca Al-Baqarah saja. Qiyam (berdiri) keduanya sama, ruku’ keduanya sama, sujud keduanya sama, dan duduk keduanya sama. Manakah di antara keduanya yang lebih utama?” Maka beliau (Mujahid) menjawab: “Yang membaca Al-Baqarah (saja).” Kemudian beliau membaca firman Allah Ta’ala: “Dan Al-Qur’an itu telah Kami turunkan secara berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia, dan Kami menurunkannya sebagian demi sebagian.” (Q.S. Al-Isra: 106)
Kisah ini menghadirkan sebuah perbandingan yang menarik. Satu orang membaca dua surat panjang (Al-Baqarah dan Ali ‘Imran) sementara yang lain hanya membaca Al-Baqarah. Namun, semua aspek ibadah shalat mereka — berdiri, ruku’, sujud, dan duduk — sama lamanya. Lantas, mana yang lebih mulia? Jawaban Mujahid mungkin mengejutkan sebagian dari kita: “Yang membaca Al-Baqarah.”
Memahami Jawaban Imam Mujahid: Bukan Sekadar Angka
Mengapa Mujahid menjawab demikian? Bukankah secara kuantitas, membaca dua surat lebih banyak pahalanya? Di sinilah letak kearifan dan pemahaman mendalam para salaf. Mujahid melanjutkan jawabannya dengan mengutip Surah Al-Isra ayat 106:
وَقُرْآنًا فَرَقْنَاهُ لِتَقْرَأَهُ عَلَى النَّاسِ عَلَى مُكْثٍ وَنَزَّلْنَاهُ تَنْزِيلًا
“Dan Al-Qur’an itu telah Kami turunkan secara berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia, dan Kami menurunkannya sebagian demi sebagian.” (Q.S. Al-Isra: 106)
Ayat ini adalah kunci utama. Kata “على مكث” (ala mukth) berarti perlahan-lahan, tenang, dan tidak terburu-buru. Ini mengindikasikan bahwa tujuan utama diturunkannya Al-Qur’an bukan hanya untuk dibaca, melainkan untuk direnungi, dipahami, dan diresapi. Imam Mujahid ingin menegaskan bahwa keutamaan membaca Al-Qur’an dengan tadabbur dan penghayatan jauh melampaui sekadar jumlah ayat atau surat yang diselesaikan.
Jika kedua orang tersebut memiliki durasi ibadah yang sama, namun salah satunya hanya membaca Al-Baqarah, itu berarti ia membaca Al-Baqarah dengan tempo yang jauh lebih lambat, lebih tenang, dan memungkinkan untuk tadabbur yang lebih dalam dibandingkan dengan orang yang membaca dua surat sekaligus dalam durasi yang sama. Inilah inti dari kualitas.
Tadabbur: Menyelam ke Samudra Makna
Tadabbur, atau perenungan mendalam, adalah fondasi utama dalam meraih keutamaan membaca Al-Qur’an dengan tadabbur dan penghayatan. Ini bukan sekadar melafalkan huruf-hurufnya dengan tajwid yang benar, meski itu adalah hal yang sangat penting. Tadabbur adalah upaya untuk memahami pesan-pesan Ilahi, meresapi nasehat-nasehatnya, dan mengambil pelajaran dari setiap ayat yang dibaca. Allah berfirman:
كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِّيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُوُلُو الْأَلْبَابِ
“Ini adalah sebuah Kitab yang Kami turunkan kepadamu dengan penuh berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya orang-orang yang berakal mendapatkan pelajaran.” (Q.S. Shad: 29)
Ayat ini secara eksplisit memerintahkan kita untuk “memperhatikan ayat-ayatnya” (li yaddabbaru āyātih), yang merupakan esensi dari tadabbur. Al-Qur’an adalah petunjuk, dan petunjuk hanya akan berguna jika kita memahaminya, merenunginya, dan mengaplikasikannya dalam hidup. Tanpa tadabbur, tilawah kita mungkin hanya berhenti di lisan, tanpa menyentuh hati dan mengubah perilaku.
Bagaimana Meraih Penghayatan yang Mendalam?
Untuk mencapai keutamaan membaca Al-Qur’an dengan tadabbur dan penghayatan, ada beberapa langkah praktis yang bisa kita tempuh:
- Fokus dan Ketenangan: Pilihlah waktu dan tempat yang tenang, jauh dari gangguan. Hadirkan hati sepenuhnya saat membaca.
- Tartil dan Tajwid: Bacalah dengan tartil, yaitu perlahan-lahan dan dengan tajwid yang benar. Ini membantu lisan dan hati untuk menyelaraskan diri.
- Memahami Makna: Jangan ragu untuk melihat terjemahan dan tafsir ringkas setelah membaca beberapa ayat. Ini akan membuka wawasan kita terhadap pesan yang terkandung.
- Mengulang Ayat: Jika menemukan ayat yang menyentuh atau sulit dipahami, ulangilah beberapa kali. Rasulullah ﷺ seringkali mengulang satu ayat semalam suntuk.
- Merasakan Emosi Al-Qur’an: Ketika membaca ayat tentang surga, rasakan harap; saat membaca ayat tentang neraka, rasakan takut; saat membaca ayat perintah, niatkan untuk melaksanakannya; dan saat membaca ayat larangan, hindari sejauh mungkin.
- Berdoa: Mohonlah kepada Allah agar diberikan pemahaman dan taufik untuk mengamalkan Al-Qur’an.
Ketika kita membaca Al-Qur’an dengan cara ini, setiap ayat akan terasa hidup, seolah-olah diturunkan langsung kepada kita. Hati menjadi lebih lembut, jiwa lebih tenang, dan perilaku pun akan berangsur-angsur menjadi lebih baik, mencerminkan akhlak Al-Qur’an.
Buah Manis dari Kualitas Tilawah
Membiasakan diri dengan tilawah yang berkualitas, yang menekankan keutamaan membaca Al-Qur’an dengan tadabbur dan penghayatan, akan membuahkan hasil yang luar biasa. Kita tidak hanya mendapatkan pahala dari setiap huruf yang dibaca, tetapi juga:
- Peningkatan Iman: Pemahaman yang lebih dalam tentang ayat-ayat Allah akan menguatkan keyakinan kita.
- Hidayah dan Petunjuk: Al-Qur’an akan benar-benar menjadi ‘nur’ (cahaya) yang membimbing langkah kita dalam kegelapan hidup.
- Ketenangan Jiwa: Hati yang terpaut pada makna kalam Ilahi akan menemukan kedamaian sejati.
- Perubahan Perilaku: Ayat-ayat yang meresap ke dalam hati akan mendorong kita untuk beramal shalih dan meninggalkan kemaksiatan.
- Kedekatan dengan Allah: Merenungi firman-Nya adalah salah satu bentuk munajat terindah yang mendekatkan hamba dengan Rabb-nya.
Oleh karena itu, marilah kita senantiasa berikhtiar untuk memperbaiki kualitas tilawah kita. Janganlah terpedaya oleh godaan kuantitas semata, melainkan prioritaskanlah kedalaman makna dan penghayatan. Setiap huruf yang kita baca dengan kesungguhan hati akan menjadi saksi kebaikan kita di hadapan Allah kelak.
Apabila kita mendambakan bimbingan komprehensif untuk mendalami Al-Qur’an, mencapai hafalan yang mutqin, serta meresapi setiap maknanya dengan bimbingan para pengajar yang ahli dan berpengalaman, kami mengundang Anda untuk bergabung bersama kami di Qur’an Learning Center Yogyakarta. Temukan metode belajar yang transformatif, yang akan mengantarkan Anda menuju kedekatan sejati dengan Kalamullah.
Daftar Referensi
- Kitab Fadha’il Al-Qur’an, Abu Ubaid, Bab Ma Yustahabb li Qari’il Qur’an min At-Tarrusul fi Qira’atihi wat Tartil wat Tadabbur, halaman 158. (Dapat diakses melalui: sumber di Perpustakaan Islam Shamela)
- Al-Qur’an Surah Al-Isra (17) ayat 106
- Al-Qur’an Surah Shad (38) ayat 29
—-
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
kunjungi halaman ini
WhatsApp +6281224003100

