Kerap kali, kita merasa terpukau dengan indahnya lantunan ayat suci Al-Qur’an, atau kagum pada mereka yang dianugerahi kemampuan menghafalnya. Dua hal ini memang mulia, suatu anugerah tak ternilai dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Namun, di balik keindahan dan keagungan tersebut, ada sebuah hakikat yang lebih dalam, sebuah inti sari yang seringkali luput dari perhatian kita. Sebuah pesan luhur yang disampaikan oleh ulama salaf, Hasan Al-Bashri, menegaskan bahwa sesungguhnya Orang yang Paling Berhak atas Al-Qur’an adalah yang Mengamalkannya, sekalipun mungkin ia tidak termasuk golongan yang banyak membaca apalagi menghafalnya secara sempurna.
Kutipan berharga dari Imam Abu Ubaid dalam Kitab Fadhail Al-Qur’an melalui riwayat Syuja’ bin Al-Walid, dari Amr bin Qais Al-Mula’i, dari Al-Hasan (Al-Bashri) ini patut kita renungkan bersama:
إِنَّ أَوْلَى النَّاسِ بِهَذَا الْقُرْآنِ مَنِ اتَّبَعَهُ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ يَقْرَؤُهُ
Yang artinya, “Sesungguhnya orang yang paling berhak atas Al-Qur’an ini adalah orang yang mengikutinya (mengamalkannya), meskipun dia tidak menghafalnya (atau tidak banyak membacanya).”
Pernyataan ini seolah membuka tabir pemahaman kita tentang keutamaan Al-Qur’an. Ini bukan tentang kuantitas bacaan, apalagi semata-mata pamer hafalan. Lebih dari itu, ia adalah tentang kualitas pengamalan, tentang seberapa jauh nilai-nilai Al-Qur’an meresap dalam setiap tarikan napas dan langkah hidup kita. Orang yang Paling Berhak atas Al-Qur’an adalah yang Mengamalkannya, inilah esensi yang semestinya menjadi panduan utama dalam berinteraksi dengan Kitabullah.
Memahami Makna “Mengikuti” Al-Qur’an dengan Sepenuh Hati
Ketika Hasan Al-Bashri mengatakan “mengikuti” (ittaba’ahu), ia tidak sekadar merujuk pada pemahaman literal. Mengikuti Al-Qur’an berarti menjadikannya pedoman hidup yang komprehensif, bukan hanya sebagian saja. Ini mencakup:
1. Mendengarkan dan Merenungkan
Langkah awal dalam mengikuti Al-Qur’an adalah dengan mendengarkan dan merenungkan ayat-ayatnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِّيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ
“(Ini adalah) sebuah Kitab yang Kami turunkan kepadamu dengan penuh berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya orang-orang yang mempunyai pikiran mengambil pelajaran.” (Q.S. Shad: 29)
Ayat ini jelas menegaskan tujuan diturunkannya Al-Qur’an: untuk direnungkan (liyadabbiru ayatihi) dan diambil pelajaran (liyatakazzakara ulul albab). Perenungan inilah yang membuka pintu hati untuk menerima petunjuk, memahami perintah, dan menjauhi larangan. Tanpa perenungan, Al-Qur’an hanya menjadi sekumpulan huruf yang tidak membekas dalam jiwa.
2. Memahami Makna dan Konteks
Setelah merenungkan, langkah berikutnya adalah berusaha memahami makna dan konteks ayat-ayat tersebut. Ini mungkin membutuhkan pembelajaran tafsir, hadis, atau bertanya kepada para ahli ilmu. Pemahaman yang benar akan mencegah kita dari salah tafsir atau mengambil kesimpulan yang keliru. Ilmu adalah fondasi dari amal, dan pemahaman adalah jembatan menuju pengamalan yang benar.
3. Mengamalkan dalam Kehidupan Sehari-hari
Inilah puncak dari “mengikuti” Al-Qur’an, di mana Orang yang Paling Berhak atas Al-Qur’an adalah yang Mengamalkannya secara konkret. Setiap perintah harus diusahakan untuk dilaksanakan, dan setiap larangan harus ditinggalkan. Baik dalam hal ibadah mahdhah seperti shalat, zakat, puasa, dan haji, maupun dalam ibadah ghairu mahdhah yang meliputi akhlak mulia, muamalah yang jujur, hubungan sosial yang harmonis, hingga cara kita berpikir dan mengambil keputusan.
Al-Qur’an bukan hanya petunjuk spiritual semata, melainkan juga manual kehidupan yang sempurna. Ia mengajari kita bagaimana menjadi anak yang berbakti, orang tua yang bijaksana, tetangga yang baik, pemimpin yang adil, hingga warga negara yang bertanggung jawab. Mengamalkan Al-Qur’an berarti membiarkan setiap aspek kehidupan kita diwarnai oleh nilai-nilai Ilahi.
Transformasi Diri dengan Menjadikan Al-Qur’an Sebagai Panduan
Mengamalkan Al-Qur’an adalah sebuah perjalanan transformasi. Ia membentuk karakter, memurnikan hati, dan meluruskan niat. Ketika kita sungguh-sungguh menerapkan ajarannya, kita akan merasakan perubahan dalam diri: kesabaran, kejujuran, kedermawanan, empati, dan sikap rendah hati akan semakin menguat. Kita menjadi pribadi yang lebih damai, tidak mudah putus asa, dan selalu optimis dalam menghadapi tantangan hidup.
Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kita untuk taat kepada-Nya dan Rasul-Nya, karena di dalamnya terdapat kebaikan dunia dan akhirat. Firman-Nya:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنكُمْ ۖ فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا
“Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (Q.S. An-Nisa: 59)
Ayat ini mengukuhkan bahwa ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya, yang diwujudkan melalui pengamalan Al-Qur’an dan Sunnah, adalah inti dari keimanan. Inilah alasan mengapa Orang yang Paling Berhak atas Al-Qur’an adalah yang Mengamalkannya. Mengamalkan bukan berarti kita harus sempurna, tetapi terus berproses, berjuang, dan berusaha sekuat tenaga untuk menjadikan setiap ajaran Al-Qur’an sebagai bimbingan dalam setiap aspek kehidupan kita.
Memadukan Tilawah, Hafalan, dan Amal: Kesempurnaan Interaksi dengan Al-Qur’an
Meski Hasan Al-Bashri menekankan pentingnya amal bahkan bagi mereka yang tidak banyak membaca atau menghafal, ini bukan berarti membaca dan menghafal Al-Qur’an tidak penting. Justru, ketiganya—tilawah (membaca), hifzh (menghafal), dan amal (mengamalkan)—adalah rangkaian yang saling melengkapi. Tilawah adalah gerbang awal untuk berinteraksi dengan firman Allah. Hafalan adalah upaya untuk menyimpan permata-permata Ilahi di dalam dada, agar senantiasa dekat dan mudah diakses.
Namun, tanpa amal, tilawah dan hafalan berisiko menjadi aktivitas kosong belaka. Bayangkan seseorang yang mahir membaca dan hafal seluruh Al-Qur’an, tetapi lisannya penuh dusta, perilakunya zalim, dan hatinya kotor. Apakah ia pantas disebut sebagai orang yang paling berhak atas Al-Qur’an? Tentu tidak. Sebaliknya, seseorang mungkin tidak hafal seluruh juz, bacaannya mungkin masih terbata-bata, tetapi ia jujur dalam perkataan, adil dalam tindakan, dan penuh kasih sayang terhadap sesama—semuanya karena ia berpegang teguh pada nilai-nilai Al-Qur’an yang ia ketahui. Di sinilah letak keutamaan sesungguhnya. Maka, benar adanya bahwa Orang yang Paling Berhak atas Al-Qur’an adalah yang Mengamalkannya.
Mari kita jadikan hadis di atas sebagai pengingat dan motivasi. Mari kita fokus pada inti dari keberadaan Al-Qur’an, yaitu sebagai petunjuk hidup. Jika kita ingin menjadi bagian dari golongan yang paling berhak atas Al-Qur’an, maka tiada jalan lain kecuali dengan menjadikannya teman setia dalam setiap langkah, penasihat utama dalam setiap keputusan, dan cermin bagi setiap perbuatan kita. Sebab, sesungguhnya Orang yang Paling Berhak atas Al-Qur’an adalah yang Mengamalkannya.
Semoga Allah senantiasa membimbing kita untuk menjadi hamba-Nya yang tidak hanya mencintai Al-Qur’an dengan lisan dan hafalan, tetapi juga dengan seluruh jiwa dan raga, yang diwujudkan dalam setiap amal perbuatan.
Jika Anda memiliki semangat untuk mendalami Al-Qur’an, baik dalam tilawah, tahfizh, maupun tadabbur yang berujung pada pengamalan, Qur’an Learning Center Yogyakarta dengan program Executive Tahfizh siap menjadi mitra perjalanan spiritual Anda. Bergabunglah bersama kami untuk merasakan indahnya membersamai Al-Qur’an dalam setiap aspek kehidupan Anda.
Daftar Referensi
- Q.S. Shad: 29
- Q.S. An-Nisa: 59
- Kitab Fadhail Al-Qur’an oleh Abu Ubaid, Bab: Ma Yusofu bihi Hamili Al-Qur’an min Tilawatihi bil Ittiba’ wa Ath-Tha’ah lahu wal ‘Amal bihi, hal. 134, via shamela.ws
—-
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
kunjungi halaman ini
WhatsApp +6281224003100

