Kedermawanan adalah salah satu sifat agung Allah SWT, Al-Jawad, Sang Maha Pemberi. Kecintaan-Nya pada kedermawanan tidak hanya terbatas pada pemberian materi, melainkan juga terpancar dalam tatanan nilai kehidupan, termasuk anjuran-Nya untuk senantiasa menjunjung tinggi akhlak mulia. Sebaliknya, hal-hal yang remeh-temeh dan jauh dari kemuliaan adalah sesuatu yang dibenci-Nya. Pola pikir ini sejatinya menjadi fondasi bagi kita dalam menata setiap langkah, agar senantiasa berorientasi pada kemuliaan, bukan sebaliknya terjerumus dalam kehampaan yang tak bernilai.

Mengagungkan Allah SWT sejatinya bukan hanya melalui ibadah ritual semata. Ia meluas hingga pada bagaimana kita menghargai dan memuliakan ciptaan-Nya yang mengemban amanah-amanah luhur. Rasulullah ﷺ, sang teladan agung, pernah menyampaikan sebuah pedoman yang begitu mendalam, menyingkap siapa saja yang layak kita hormati sebagai bagian dari upaya mengagungkan kebesaran Allah:

إِنَّ اللَّهَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى جَوَادٌ يُحِبُّ الْجُودَ، وَيُحِبُّ مَعَالِيَ الْأَخْلَاقِ، وَيَبْغَضُ أَوْ قَالَ: وَيَكْرَهُ سِفْسَافَهَا، فَإِنَّ مِنْ تَعْظِيمِ جَلَالِ اللَّهِ تَعَالَى إِكْرَامَ ثَلَاثَةٍ: الْإِمَامِ الْمُقْسِطِ، وَذِي الشَّيْبَةِ الْمُسْلِمِ، وَحَامِلِ الْقُرْآنِ غَيْرِ الْغَالِي فِيهِ وَلَا الْجَافِي عَنْهُ

“Sesungguhnya Allah SWT adalah Maha Dermawan, mencintai kedermawanan, mencintai akhlak-akhlak mulia, dan membenci atau tidak menyukai perkara-perkara yang remeh-temeh. Sesungguhnya termasuk mengagungkan kebesaran Allah SWT adalah memuliakan tiga golongan: pemimpin yang adil, orang tua Muslim, dan pembawa Al-Qur’an yang tidak berlebihan (ghuluw) di dalamnya dan tidak pula mengabaikannya (jafa’).”

Tiga Pilar Kemuliaan dalam Pandangan Ilahi

Hadits ini menuntun kita untuk memahami bahwa mengagungkan Allah bukanlah sekadar pengakuan lisan, melainkan manifestasi dalam tindakan nyata. Ada tiga golongan yang disebut secara spesifik untuk dimuliakan, dan masing-masing memiliki peran strategis dalam membangun peradaban yang berlandaskan keimanan.

1. Pemimpin yang Adil (الْإِمَامِ الْمُقْسِطِ)

Keadilan adalah tiang utama sebuah negara dan masyarakat. Pemimpin yang adil adalah cerminan dari salah satu nama Allah, Al-Adl (Yang Maha Adil). Memuliakan pemimpin yang berpegang teguh pada keadilan berarti mendukung tegaknya syariat dan maslahat umat, serta menunjukkan penghormatan pada hukum dan ketertiban yang diridhai oleh Allah.

2. Orang Tua Muslim (ذِي الشَّيْبَةِ الْمُسْلِمِ)

Rambut yang memutih adalah simbol kebijaksanaan, pengalaman, dan pengabdian. Orang tua Muslim telah melewati berbagai liku kehidupan, mengukir sejarah pengabdian mereka kepada Allah dan sesama. Memuliakan mereka adalah bentuk penghormatan pada usia, pengalaman, dan sekaligus wujud ketaatan pada perintah Allah untuk berbakti kepada orang tua. Dalam diri mereka, kita melihat jejak waktu dan pelajaran berharga tentang kesabaran, keistiqamahan, dan harapan.

3. Pembawa Al-Qur’an yang Moderat (حَامِلِ الْقُرْآنِ غَيْرِ الْغَالِي فِيهِ وَلَا الْجَافِي عَنْهُ)

Inilah inti pembahasan kita. “Pembawa Al-Qur’an” atau yang sering kita sebut dengan penghafal Al-Qur’an (hafizh/hafizhah) memiliki kedudukan yang sangat istimewa. Mengapa? Karena mereka adalah wadah bagi Kalamullah, firman suci yang merupakan petunjuk dan rahmat bagi seluruh alam. Namun, kemuliaan ini datang dengan syarat: mereka tidak boleh berlebihan (ghuluw) dan tidak pula mengabaikan (jafa’) terhadap Al-Qur’an.

Menyelami Makna “Ghairi al-Ghali fihi wala al-Jafi anhu”

Konsep moderasi dalam Islam adalah kunci. Ghuluw (berlebihan) dan Jafa’ (mengabaikan) adalah dua kutub ekstrem yang harus dihindari oleh seorang pembawa Al-Qur’an:

  • Tidak Berlebihan (Ghuluw)

    Ghuluw berarti melampaui batas dalam segala hal, termasuk dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an. Ini bisa berarti mengklaim diri paling benar, menghakimi orang lain secara ekstrem hanya berdasarkan satu ayat tanpa pemahaman konteks yang komprehensif, atau berpegang pada tafsir yang kaku hingga menutup pintu hikmah dan kemudahan. Seorang penghafal yang ghuluw mungkin cenderung eksklusif, merasa paling suci, atau bahkan menggunakan Al-Qur’an untuk membenarkan tindakan-tindakan yang menyimpang dari ruh Islam yang rahmatan lil ‘alamin. Kemuliaan Al-Qur’an seharusnya membawa pada kerendahan hati, bukan kesombongan atau fanatisme buta.

  • Tidak Mengabaikan (Jafa’)

    Jafa’ berarti bersikap cuek, lalai, atau acuh tak acuh terhadap Al-Qur’an setelah menghafalnya. Ini bisa berupa lupa akan hafalan, tidak lagi muraja’ah (mengulang), tidak berusaha memahami maknanya, apalagi mengamalkannya dalam kehidupan. Seorang yang mengabaikan Al-Qur’an mungkin memiliki hafalan yang kokoh di dada, tetapi hatinya kering dari cahaya petunjuknya, lisannya jauh dari tilawah, dan perilakunya tidak mencerminkan nilai-nilai Al-Qur’an. Kemuliaan menjadi pembawa Al-Qur’an adalah amanah besar, yang menuntut kontinuitas dalam menjaga, memahami, dan mengamalkannya.

Seorang pembawa Al-Qur’an yang ideal adalah mereka yang berada di tengah, dalam koridor moderasi (wasathiyyah). Mereka adalah para penghafal yang memahami Al-Qur’an dengan kedalaman, mengamalkannya dengan penuh keikhlasan, mengajarkannya dengan hikmah, serta berinteraksi dengan sesama dengan akhlak mulia yang terpancar dari cahaya Al-Qur’an itu sendiri. Mereka adalah mercusuar yang memancarkan kesejukan dan petunjuk, bukan bara api yang membakar atau kegelapan yang menyesatkan.

Mengapa Memuliakan Pembawa Al-Qur’an?

Memuliakan pembawa Al-Qur’an adalah bentuk penghormatan terhadap Kalamullah yang ada di dada mereka. Mereka telah mengorbankan waktu, tenaga, dan pikiran untuk menjaga kemurnian wahyu Ilahi. Dalam diri mereka, terhimpun sebuah keberkahan yang tak terhingga. Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ:

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.”

Hadits ini menegaskan betapa tingginya kedudukan para ahli Al-Qur’an. Mereka adalah agen kebaikan yang tak hanya belajar untuk diri sendiri, tetapi juga menyebarkan ilmunya kepada orang lain. Oleh karena itu, menghormati mereka adalah menghormati ilmu, menghormati petunjuk, dan menghormati salah satu jalan utama menuju ridha Allah.

Ketika kita memuliakan mereka, sejatinya kita sedang menumbuhkan ekosistem yang kondusif bagi Al-Qur’an untuk berkembang dan diamalkan dalam masyarakat. Kita mengirim pesan bahwa Al-Qur’an itu penting, mulia, dan harus dijunjung tinggi. Ini akan memotivasi generasi muda untuk ikut serta menjadi bagian dari ‘ahlul Qur’an’, para keluarga Allah di muka bumi.

Membentuk Pribadi Qur’ani: Refleksi dan Aplikasi

Maka, mari kita renungkan, apakah sikap kita terhadap para pembawa Al-Qur’an sudah mencerminkan kemuliaan yang diajarkan oleh Rasulullah ﷺ? Apakah kita sudah berusaha meneladani akhlak mulia yang terpancar dari Al-Qur’an itu sendiri?

Mengagungkan pembawa Al-Qur’an berarti memberikan perhatian, dukungan, dan kasih sayang kepada mereka. Mengambil pelajaran dari perjalanan mereka, dan menjadikan mereka inspirasi untuk lebih dekat dengan Al-Qur’an. Lebih dari itu, memuliakan Al-Qur’an juga berarti kita sendiri berusaha menjadi bagian dari para pembawanya, dengan belajar, menghafal, memahami, dan mengamalkannya sesuai dengan tuntunan sunnah Rasulullah ﷺ, jauh dari sikap berlebihan dan pengabaian.

Bila kita mendambakan keberkahan hidup, kemuliaan di dunia dan akhirat, serta ingin menjadi bagian dari mereka yang dimuliakan Allah, maka tidak ada jalan lain kecuali mendalami Al-Qur’an. Bergabunglah dalam perjalanan spiritual nan mendalam di Qur’an Learning Center Yogyakarta, sebuah tempat di mana setiap jiwa diajak untuk menyelami samudra Al-Qur’an, bukan sekadar menghafalnya, melainkan juga menjiwainya. Di sini, kita bersama-sama berikhtiar menjadi “Hamilul Qur’an” yang sejati, yang tidak berlebihan dan tidak pula lalai, melainkan istiqamah dan penuh hikmah.

Daftar Referensi

  • Kitab Fadha’il Al-Qur’an karya Abu Ubaid Al-Qasim bin Sallam, Bab “I’zham Ahli Al-Qur’an wa Taqdimihim wa Ikramihim”, hal. 89, Maktabah Syamilah. (Hadits tentang mengagungkan tiga golongan)
  • Shahih Bukhari, Hadits No. 5027 (Hadits “Khairukum man ta’allamal Qur’ana wa ‘allamahu”)

—-

Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta

Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
kunjungi halaman ini
WhatsApp +6281224003100

Flyer Program Hafal Quran Executive Tahfizh di Yogyakarta
author avatar
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.,