Kalaulah kita renungi perjalanan hidup ini, ada pilar-pilar kokoh yang menopang keberkahan dan kemuliaan. Salah satu pilar fundamental itu adalah adab, cara kita berinteraksi dengan keagungan yang Allah anugerahkan. Bukan sekadar norma sosial, melainkan manifestasi iman yang tulus, sebuah cerminan penghormatan kita kepada Sang Pencipta.
Adab ini mengajarkan kita tentang bagaimana menempatkan setiap hal pada porsi yang semestinya, termasuk dalam menyikapi keistimewaan yang Allah berikan kepada hamba-Nya. Kemuliaan tidak terletak pada seberapa banyak yang kita kuasai, melainkan pada seberapa bijak kita memperlakukan anugerah tersebut dengan penuh kesantunan dan tanggung jawab.
Dalam khazanah ajaran kita, terdapat sebuah mutiara hikmah yang menuntun pada pemahaman esensial tentang kemuliaan. Diriwayatkan dari Abu Musa Al-Asy’ari, Rasulullah ﷺ bersabda:
حَدَّثَنَا أَبُو عُبَيْدٍ حَدَّثَنَا مُعَاذُ بْنُ مُعَاذٍ، عَنْ عَوْفِ بْنِ أَبِي جَمِيلَةَ، عَنْ زِيَادِ بْنِ مِخْرَاقٍ، عَنْ أَبِي كِنَانَةَ، عَنْ أَبِي مُوسَى الْأَشْعَرِيِّ، قَالَ: «إِنَّ مِنْ إِجْلَالِ اللَّهِ تَعَالَى إِكْرَامَ ذِي الشَّيْبَةِ الْمُسْلِمِ، وَحَامِلِ الْقُرْآنِ غَيْرِ الْغَالِي فِيهِ وَلَا الْجَافِي عَنْهُ، وَذِي السُّلْطَانِ الْمُقْسِطِ»
Sesungguhnya termasuk mengagungkan Allah Ta’ala adalah memuliakan orang Islam yang beruban, pembawa Al-Qur’an yang tidak berlebihan dan tidak pula menjauhi (mengabaikan)nya, serta penguasa yang adil.
Hadits yang mulia ini menggarisbawahi tiga golongan yang dihormati sebagai bagian dari upaya kita mengagungkan Allah. Pertama, orang Islam yang beruban, yang mencerminkan kebijaksanaan, pengalaman hidup, dan keteguhan dalam beribadah seiring berjalannya waktu. Memuliakan mereka adalah bentuk pengakuan kita atas perjalanan hidup yang telah dilalui dalam ketaatan.
Kedua, seorang penguasa yang adil. Keadilan adalah fondasi utama tegaknya sebuah tatanan masyarakat. Penguasa yang adil adalah cerminan dari salah satu Asmaul Husna Allah, yaitu Al-Adl (Yang Maha Adil). Memuliakan mereka adalah bentuk dukungan kita terhadap tegaknya keadilan dan keteraturan dalam kehidupan.
Harmoni dalam Interaksi dengan Al-Qur’an
Namun, perhatian kita secara khusus tertuju pada golongan kedua: pembawa Al-Qur’an yang tidak berlebihan dan tidak pula menjauhinya. Frasa “ghairil ghali fihi wa la al-jafi anhu” mengandung makna yang sangat mendalam dan relevan bagi setiap Muslim yang berinteraksi dengan Kalamullah.
Menghindari Sikap Berlebihan (Al-Ghuluw)
Sikap ‘ghali’ atau berlebihan dalam menyikapi Al-Qur’an bisa termanifestasi dalam berbagai bentuk yang justru menjauhkan kita dari esensi ajarannya. Ini bukan hanya tentang terlampau fanatik dalam satu penafsiran hingga menafikan yang lain tanpa dasar ilmiah, melainkan juga bisa berarti:
- Menggunakan Al-Qur’an sebagai alat untuk mencapai tujuan duniawi, popularitas, atau keuntungan pribadi, alih-alih sebagai petunjuk ke surga.
- Merasa diri paling benar atau superior hanya karena telah menghafal atau memahami sebagian darinya, lalu meremehkan orang lain yang ilmunya belum setinggi itu.
- Menafsirkan ayat-ayatnya secara kaku dan tekstual tanpa mempertimbangkan konteks, asbabun nuzul, dan kaidah-kaidah syariat lainnya, sehingga memicu ekstremisme atau kekerasan.
- Terlalu fokus pada aspek tertentu dari Al-Qur’an hingga melupakan sunnah Nabi ﷺ atau aspek lain dari ajaran Islam yang juga penting dalam keseimbangan hidup.
Sikap berlebihan seperti ini akan menghilangkan keberkahan Al-Qur’an dalam hati dan kehidupan, mengubahnya dari sumber rahmat menjadi potensi fitnah.
Menjauhkan Diri dari Kelalaian (Al-Jafa’)
Di sisi lain, sikap ‘jafi’ atau menjauhi/mengabaikan Al-Qur’an juga merupakan cela yang besar. Ini adalah manifestasi ketidakpedulian terhadap petunjuk ilahi yang paling agung. Bentuk-bentuk kelalaian ini meliputi:
- Menjadikan Al-Qur’an hanya sebagai pajangan di rumah atau kendaraan, tanpa pernah membukanya, membacanya, atau merenungi maknanya.
- Jarang membaca atau mendengarkan ayat-ayatnya, sehingga hati menjadi kering dan jauh dari siraman rohani.
- Tidak berusaha memahami isi kandungannya atau mengamalkan ajarannya dalam kehidupan sehari-hari, seolah-olah Al-Qur’an hanyalah sebuah kitab ritual belaka.
- Mengabaikan nasihat dan larangan yang terkandung di dalamnya, sehingga hidup jauh dari tuntunan syariat.
- Tidak menjadikannya sebagai pedoman utama dalam mengambil keputusan, melainkan mengikuti hawa nafsu atau pandangan manusia semata.
Al-Qur’an adalah hudan linnas, petunjuk bagi manusia. Jika kita menjauhinya, maka kita telah kehilangan kompas terbaik dalam menavigasi bahtera kehidupan.
Jalan Tengah: Keseimbangan dan Moderasi
Maka, ‘pembawa Al-Qur’an yang tidak berlebihan dan tidak pula menjauhi’ adalah sosok yang ideal. Mereka adalah pribadi yang memegang teguh Al-Qur’an dengan penuh hormat, memahami kedalamannya, mengamalkan tuntunannya, namun dengan sikap yang tawadhu’ (rendah hati) dan penuh kebijaksanaan. Mereka adalah ‘umat pertengahan’ yang disebut dalam firman Allah:
وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِّتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا ۗ
Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) ‘umat pertengahan’ agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. (Q.S. Al-Baqarah: 143)
Sikap wasathiyyah atau moderasi ini menuntut kita untuk membaca Al-Qur’an dengan tadabbur (perenungan), berusaha memahami konteksnya, serta mengaplikasikannya dalam kehidupan dengan hikmah. Ini berarti tidak memaksakan diri atau orang lain untuk menerima satu pandangan semata, melainkan membuka ruang untuk pemahaman yang beragam selama masih dalam koridor syariat yang sahih.
Seorang pembawa Al-Qur’an yang sejati juga menjaga hatinya tetap rendah hati, tidak merasa paling benar atau paling suci. Ia memahami bahwa Al-Qur’an adalah ujian sekaligus amanah. Ilmu Al-Qur’an yang ia miliki justru mendorongnya untuk semakin mendekat kepada Allah, bukan untuk mencari pujian atau kedudukan di mata manusia.
Aplikasi Praktis dalam Kehidupan Sehari-hari
Lantas, bagaimana kita dapat mengaplikasikan sikap moderat ini dalam keseharian kita? Langkah pertama adalah dengan membangun rutinitas yang konsisten bersama Al-Qur’an. Ini bisa dimulai dengan membaca beberapa ayat setiap hari, merenungi terjemahannya, atau mendengarkan lantunan ayat suci dengan penuh kekhusyukan.
Kemudian, carilah bimbingan dari guru-guru Al-Qur’an yang memiliki sanad ilmu yang jelas dan berakhlak mulia. Mereka akan membantu kita memahami kedalaman makna Al-Qur’an tanpa terjerumus pada penafsiran yang menyimpang atau berlebihan. Ilmu yang sahih akan menjadi benteng dari segala bentuk penyimpangan.
Yang terpenting, jadikanlah Al-Qur’an sebagai pedoman utama dalam setiap aspek kehidupan. Biarkan ia menuntun keputusan kita, membentuk karakter kita, dan menjadi solusi atas setiap permasalahan. Al-Qur’an bukan sekadar bacaan ritual, melainkan konstitusi hidup yang membimbing kita menuju kebahagiaan dunia dan akhirat. Mari kita jauhi perdebatan yang tidak bermanfaat mengenai tafsir Al-Qur’an dan fokuslah pada pengamalan yang menyatukan hati.
Maka, marilah kita senantiasa memupuk adab terbaik kepada Kitabullah. Bukan dengan formalitas semata, melainkan dengan ketulusan hati yang meresap hingga ke sanubari. Mengagungkan Al-Qur’an berarti memuliakannya sebagai petunjuk hidup, menempatkannya di posisi sentral namun dengan sikap yang seimbang, penuh kasih sayang, dan kebijaksanaan. Ini adalah jalan menuju keberkahan abadi, menuju pribadi yang senantiasa berada dalam naungan rida-Nya.
Bagi kita yang merindukan bimbingan mendalam dalam memahami dan menghafal Al-Qur’an, Qur’an Learning Center (QLC) Yogyakarta hadir sebagai oase ilmu. Dengan pendekatan yang holistik dan pembimbing yang ahli, QLC Yogyakarta berkomitmen untuk membimbing setiap individu menjadi “hāmili al-Qur’ān” yang sejati, yang tidak berlebihan dan tidak pula menjauhinya, insya Allah.
Bergabunglah bersama kami untuk menapaki jalan kemuliaan ini.
Daftar Referensi
- Hadits riwayat Abu Ubaid dalam Kitab Fadhailil Qur’an, Bab I’zham Ahlil Qur’an wa Taqdimihim wa Ikramihim, hlm. 90.
- Q.S. Al-Baqarah: 143
—-
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
kunjungi halaman ini
WhatsApp +6281224003100

