Kalamullah adalah cahaya penerang, penuntun jiwa, dan sumber keberkahan yang tiada tara. Membacanya adalah ibadah, memahami maknanya adalah hikmah, dan mengamalkannya adalah jalan menuju kebahagiaan sejati. Namun, pernahkah kita merenung, seberapa seringkah kita berinteraksi dengan firman-Nya? Seberapa dalam jalinan kita dengan lembaran-lembaran mushaf yang mulia?
Para generasi awal umat ini, yang kita kenal sebagai Salafush Shalih, telah memberikan teladan agung dalam hal kecintaan mereka terhadap Al-Qur’an. Kehidupan mereka berlumuran dengan tilawah, seolah setiap hembusan napas adalah zikir dan setiap detik yang berlalu adalah kesempatan untuk berinteraksi dengan Kitabullah. Kisah-kisah tentang bagaimana mereka Meneladani Kebiasaan Salaf dalam Mengkhatamkan Al-Qur’an adalah oase inspirasi yang tak pernah kering, mengajak kita untuk merenungkan kembali prioritas kita terhadap Kalamullah.
Mengapa Tilawah Tiada Henti? Fondasi Kehidupan Muslim
Al-Qur’an bukanlah sekadar bacaan ritual semata; ia adalah petunjuk hidup yang komprehensif. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَّن تَبُورَ
Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca Kitab Allah dan mendirikan shalat serta menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi.” (Q.S. Fathir: 29)
Ayat ini dengan gamblang menjelaskan bahwa tilawah Al-Qur’an adalah fondasi yang menyertai ibadah fundamental lainnya, yaitu shalat dan infak. Ini adalah perniagaan spiritual yang keuntungan akhirnya adalah kebahagiaan abadi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:
“Bacalah Al-Qur’an, karena sesungguhnya ia akan datang pada hari Kiamat sebagai pemberi syafaat bagi para pembacanya.” (H.R. Muslim)
Melalui tilawah, hati kita menjadi lebih tenang, jiwa kita tercerahkan, dan arah hidup kita semakin jelas. Ia adalah sumber energi rohani yang tak terhingga, menopang kita dalam menjalani setiap episode kehidupan.
Meneladani Kebiasaan Salaf dalam Mengkhatamkan Al-Qur’an: Sebuah Spektrum Inspirasi
Ibnu Abi Dawud meriwayatkan dari para Salaf, kebiasaan mereka dalam mengkhatamkan Al-Qur’an sungguh beragam, menunjukkan bahwa setiap jiwa memiliki kapasitas dan kesempatan yang berbeda, namun kesemua mereka terpaut erat dengan kalamullah. Beberapa dari mereka mengkhatamkan Al-Qur’an:
- Setiap dua bulan sekali.
- Setiap bulan sekali.
- Setiap sepuluh malam sekali.
- Setiap delapan malam sekali.
- Sebagian besar dari mereka mengkhatamkan setiap tujuh malam sekali.
- Sebagian lain setiap enam, lima, atau empat malam sekali.
- Banyak dari mereka mengkhatamkan setiap tiga malam sekali.
- Bahkan ada yang setiap dua malam sekali.
Yang lebih mencengangkan, sebagian Salaf mengkhatamkan Al-Qur’an setiap hari dan malam. Di antara mereka adalah Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu, Tamim Ad-Dari, Sa’id bin Jubair, Mujahid, dan Imam Syafi’i rahimahumullah. Mereka adalah pribadi-pribadi agung yang menjadikan Al-Qur’an sebagai teman setia, bukan hanya pengisi waktu luang.
Teladan Para Juara Khatam: Dari Dua Hingga Delapan Kali Sehari Semalam
Kisah-kisah para Salaf dalam tilawah tidak berhenti pada satu khatam sehari semalam. Ada yang melampaui itu, memberikan gambaran betapa dahsyatnya kecintaan mereka terhadap Al-Qur’an:
- Sulem bin Amr radhiyallahu ‘anhu: Qadhi Mesir di masa kekhalifahan Muawiyah, diriwayatkan mengkhatamkan Al-Qur’an tiga kali dalam sehari semalam. Bahkan, Abu Bakar bin Abi Dawud dan Abu Umar Al-Kindi meriwayatkan bahwa beliau mengkhatamkan empat kali dalam satu malam!
- Ibnu Al-Katib radhiyallahu ‘anhu: Disebutkan oleh Syaikh Abu Abdurrahman As-Sulami dari Syaikh Abu Utsman Al-Maghribi bahwa beliau mengkhatamkan Al-Qur’an delapan kali dalam sehari semalam; empat kali di siang hari dan empat kali di malam hari. Ini adalah jumlah terbanyak yang sampai kepada kita dari tilawah dalam sehari semalam.
- Abbad At-Tabi’in radhiyallahu ‘anhu: Melalui riwayat Ahmad Ad-Dauraki dari Manshur bin Zadan, Abbad mengkhatamkan Al-Qur’an antara shalat Dzuhur dan Ashar, serta antara Maghrib dan Isya di bulan Ramadhan hingga seperempat malam.
- Mujahid dan Ali Al-Azdi: Diriwayatkan secara sahih oleh Abu Dawud, Mujahid mengkhatamkan Al-Qur’an antara Maghrib dan Isya. Demikian pula Ali Al-Azdi, mengkhatamkan pada waktu yang sama setiap malam di bulan Ramadhan.
- Ayah Ibrahim bin Sa’d: Beliau disebutkan duduk bersila (ihtiḥbā’) dan tidak melepaskan silaannya hingga selesai mengkhatamkan Al-Qur’an.
Khatam dalam Satu Raka’ah: Puncak Kekhusyuan dan Keberkahan
Ada pula golongan Salaf yang saking khusyuk dan mendalamnya interaksi mereka dengan Al-Qur’an, mampu mengkhatamkan seluruh Al-Qur’an dalam satu raka’ah shalat! Jumlah mereka tak terhitung karena saking banyaknya. Di antara para pendahulu yang melakukan hal ini adalah Utsman bin Affan, Tamim Ad-Dari, dan Sa’id bin Jubair radhiyallahu ‘anhum, dan mereka melakukannya di dalam Ka’bah yang mulia.
Esensi Meneladani Kebiasaan Salaf dalam Mengkhatamkan Al-Qur’an: Lebih dari Sekadar Angka
Melihat begitu beragam dan intensnya kebiasaan tilawah para Salaf, mungkin sebagian dari kita merasa kecil hati. Namun, esensi dari Meneladani Kebiasaan Salaf dalam Mengkhatamkan Al-Qur’an bukanlah tentang memaksakan diri mencapai jumlah khatam yang sama persis, apalagi jika itu mengabaikan tadabbur atau pemahaman. Kisah-kisah ini justru adalah undangan untuk:
- Meningkatkan Prioritas: Menempatkan Al-Qur’an pada posisi utama dalam jadwal harian kita.
- Menemukan Ritme Terbaik: Setiap orang memiliki kapasitas dan kondisi yang berbeda. Temukan durasi khatam yang paling memungkinkan kita istiqamah, tanpa merasa terbebani dan tanpa mengabaikan tadabbur. Lebih baik sedikit tapi konsisten dan meresap, daripada banyak tapi terputus-putus atau terburu-buru.
- Menguatkan Kecintaan: Kisah-kisah Salaf mengajarkan kita tentang kecintaan yang luar biasa. Biarkan cinta ini yang menggerakkan kita untuk senantiasa berinteraksi dengan firman-Nya.
- Memaksimalkan Waktu: Mereka memanfaatkan setiap celah waktu. Apakah kita sudah memanfaatkan waktu-waktu luang kita untuk tilawah?
Yang terpenting adalah keistiqamahan dan kualitas interaksi kita dengan Al-Qur’an. Jadikanlah setiap ayat yang kita baca sebagai renungan, sebagai petunjuk, dan sebagai bekal hidup. Dengan begitu, kita telah benar-benar Meneladani Kebiasaan Salaf dalam Mengkhatamkan Al-Qur’an dalam ruh dan substansinya.
Mari kita mulai dari diri kita sendiri, meskipun hanya satu lembar setiap selesai shalat, atau satu juz setiap hari. Yang utama adalah konsistensi dan keinginan untuk terus meningkatkan kedekatan kita dengan Kalamullah. Al-Qur’an adalah harta karun tak ternilai yang akan menerangi jalan kita di dunia dan akhirat.
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
kunjungi halaman ini
WhatsApp +6281224003100

Daftar Referensi
- Al-Qur’an Surat Fathir ayat 29.
- Hadits Riwayat Muslim dari Abu Umamah Al-Bahili.
- Riwayat dari Ibnu Abi Dawud dalam Kitab Al-Mashahif.
