Dalam dinamika kehidupan, seringkali kita berhadapan dengan perasaan cemburu atau iri hati. Sebuah emosi yang, jika tidak dikelola dengan baik, dapat mengikis keimanan dan menjauhkan kita dari ketenangan. Namun, tahukah kita bahwa ada bentuk cemburu yang justru dianjurkan, bahkan sangat mulia di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala? Inilah yang disebut dengan Dua Kecemburuan yang Terpuji dalam Islam, sebuah konsep yang mengajarkan kita untuk berlomba-lomba dalam kebaikan, bukan dalam kedengkian.

Iri hati yang tercela (hasad) adalah ketika kita menginginkan nikmat orang lain lenyap dan berpindah kepada kita. Sementara itu, iri hati yang terpuji (ghibtah) adalah ketika kita menginginkan nikmat seperti yang dimiliki orang lain, tanpa sedikit pun berharap nikmat itu hilang darinya. Ghibtah inilah yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sampaikan dalam sabdanya, yang menjadi landasan utama artikel kita kali ini:

حَدَّثَنَا أَبُو عُبَيْدٍ قَالَ حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ عُثْمَانَ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْمُبَارَكِ، عَنْ مَعْمَرٍ، عَنِ الزُّهْرِيِّ، عَنْ سَالِمِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ، عَنْ أَبِيهِ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ” لَا حَسَدَ إِلَّا فِي اثْنَتَيْنِ: رَجُلٍ آتَاهُ اللَّهُ الْقُرْآنَ فَهُوَ يَقُومُ بِهِ آنَاءَ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ، وَرَجُلٍ آتَاهُ اللَّهُ مَالًا فَهُوَ يُنْفِقُهُ فِي اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ ”

(Artinya: Telah menceritakan kepada kami Abu Ubaid, dia berkata, telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Utsman, dari Abdullah bin Mubarak, dari Ma’mar, dari Az-Zuhri, dari Salim bin Abdullah, dari bapaknya, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Tidak ada hasad (iri hati yang tercela) kecuali pada dua perkara: seseorang yang Allah anugerahkan Al-Qur’an kepadanya lalu ia menegakkan (mengamalkannya) di waktu malam dan siang, dan seseorang yang Allah anugerahkan harta kepadanya lalu ia menginfakkannya di waktu malam dan siang.”)

Hadits ini membuka cakrawala kita bahwa ada hal-hal luhur yang patut kita cemburui, yang akan memotivasi kita menuju puncak-puncak kebaikan. Mari kita selami lebih dalam dua jenis kecemburuan yang mulia ini.

Mengukir Kebaikan Bersama Al-Qur’an

Pribadi pertama yang layak mendapatkan kecemburuan positif kita adalah mereka yang dianugerahi Al-Qur’an oleh Allah, dan kemudian ia menunaikannya (membaca, menghafal, memahami, dan mengamalkannya) di sepanjang waktu, baik malam maupun siang. Ini adalah gambaran seorang hamba yang hidupnya menyatu dengan kalamullah. Bukan sekadar membaca, apalagi sekadar menghafal, namun menjadikannya panduan, cahaya, dan ruh dalam setiap langkah kehidupannya.

Mengapa sosok ini begitu istimewa? Karena Al-Qur’an adalah petunjuk, syifa (penyembuh), dan rahmat bagi orang-orang beriman. Seseorang yang menjadikan Al-Qur’an sebagai teman setia di setiap waktu, di kala sunyi malam ia bermunajat, di kala terang siang ia berinteraksi, berarti ia sedang membangun istana kemuliaan di sisi Rabb-nya. Ia sedang menyiapkan bekal terbaik untuk kehidupan abadi. Ghibtah terhadap mereka berarti kita termotivasi untuk merasakan manisnya dekat dengan Al-Qur’an, menjadi penghafal dan pengamal Al-Qur’an, serta menjadikan setiap ayat sebagai cermin introspeksi dan pemicu amal shaleh. Inilah salah satu bentuk Dua Kecemburuan yang Terpuji dalam Islam yang harus kita tanamkan.

Keindahan Al-Qur’an tidak hanya terletak pada lafaznya yang memukau, tetapi juga pada kedalaman maknanya yang tak terbatas. Saat seseorang berusaha untuk mendalami, menghafal, dan mengamalkannya, ia sedang mengundang keberkahan tak terhingga ke dalam hidupnya. Setiap huruf yang dibaca akan melipatgandakan pahala, setiap ayat yang dihafal akan meninggikan derajatnya di surga, dan setiap petunjuk yang diamalkan akan menuntunnya pada jalan kebahagiaan sejati. Maka, pantaslah jika kita menjadikan mereka yang akrab dengan Al-Qur’an sebagai teladan.

Keberkahan Harta Melalui Jalan Sedekah

Sosok kedua yang patut kita cemburui adalah mereka yang dianugerahi harta oleh Allah, kemudian ia menginfakkannya di jalan Allah, baik di waktu malam maupun siang. Ini adalah manifestasi dari pemahaman hakiki tentang harta: bahwa harta hanyalah titipan dan sarana untuk meraih keridaan Allah. Bukan harta yang menguasai dirinya, melainkan ia yang menguasai harta untuk tujuan-tujuan mulia.

Menginfakkan harta di jalan Allah bukan hanya tentang memberi, tetapi tentang keikhlasan dan keyakinan bahwa setiap yang dikeluarkan tidak akan mengurangi, melainkan justru akan dilipatgandakan oleh Allah. Mereka yang gemar bersedekah di siang hari, secara terang-terangan untuk memotivasi orang lain; dan di malam hari, secara sembunyi-sembunyi untuk menjaga keikhlasan, adalah pribadi yang telah memahami filosofi kehidupan yang sesungguhnya. Mereka sadar bahwa kebahagiaan sejati terletak pada memberi dan berbagi.

Kita tahu bahwa setiap harta yang kita miliki akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Beruntunglah mereka yang mampu menjadikan hartanya sebagai saksi atas kebaikan-kebaikannya. Ketika kita melihat seorang dermawan yang tak lelah berbagi, hati kita sepatutnya tergerak untuk meniru jejaknya, ingin memiliki semangat dan kemampuan untuk berbuat kebaikan serupa. Inilah esensi dari Dua Kecemburuan yang Terpuji dalam Islam, sebuah dorongan untuk menjadi pribadi yang lebih bermanfaat bagi sesama dan lebih dekat kepada Sang Pencipta.

خِتَامُهُ مِسْكٌ ۚ وَفِي ذَٰلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ الْمُتَنَافِسُونَ

(Artinya: Lakunya adalah kasturi; dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba.) (Q.S. Al-Mutaffifin: 26)

Menanamkan “Dua Kecemburuan yang Terpuji dalam Islam” dalam Diri Kita

Bagaimana kita dapat menanamkan dua kecemburuan mulia ini dalam diri kita? Kuncinya adalah pada tindakan nyata. Jika kita cemburu pada ahli Qur’an, mulailah dengan langkah kecil: luangkan waktu setiap hari untuk membaca Al-Qur’an, meskipun hanya satu halaman. Kemudian, tingkatkan dengan mencoba memahami maknanya, dan jika memungkinkan, mulailah menghafal ayat-ayatnya. Bergabunglah dengan komunitas penghafal Al-Qur’an atau program tahfizh yang terstruktur. Proses ini adalah investasi jangka panjang yang akan membuahkan hasil tak ternilai.

Demikian pula, jika kita cemburu pada seorang dermawan, jangan menunggu hingga kita kaya raya. Mulailah dengan apa yang kita miliki. Sedekah tidak harus selalu dengan uang dalam jumlah besar. Senyum, bantuan tenaga, ilmu yang bermanfaat, atau bahkan menyisihkan sebagian kecil dari rezeki harian kita secara rutin, sudah merupakan wujud sedekah. Biasakan untuk berinfak secara teratur, baik melalui kotak infak di masjid, lembaga sosial, atau membantu langsung orang-orang yang membutuhkan. Semangat untuk berbuat baik inilah yang akan memicu Dua Kecemburuan yang Terpuji dalam Islam menjadi sebuah energi positif.

Bukan Sekadar Iri Hati, Tapi Motivasi Berprestasi

Penting untuk diingat bahwa “iri hati” dalam konteks ini adalah sebuah motivasi, bukan kedengkian. Ini adalah dorongan untuk mencapai tingkat kebaikan yang sama, atau bahkan lebih baik, tanpa sedikit pun keinginan agar kebaikan itu hilang dari orang lain. Ini adalah bentuk kompetisi sehat dalam ketaatan kepada Allah, sebagaimana Allah berfirman dalam surat Al-Mutaffifin ayat 26, “untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba.”

Maka, mari kita jadikan kedua sosok yang disebutkan dalam hadits Nabi ini sebagai mercusuar inspirasi. Mereka adalah teladan nyata tentang bagaimana mengoptimalkan potensi diri – baik melalui kalamullah maupun melalui harta – untuk meraih keridaan ilahi. Dengan menanamkan Dua Kecemburuan yang Terpuji dalam Islam, kita tidak hanya memperbaiki diri sendiri, tetapi juga berkontribusi pada terciptanya masyarakat yang saling berlomba dalam kebaikan, tolong-menolong, dan menebarkan keberkahan.

Kehidupan ini adalah ladang amal. Setiap detik adalah kesempatan, setiap nikmat adalah ujian. Mari kita gunakan waktu dan karunia yang Allah berikan untuk meniti jejak para kekasih-Nya, menjadikan Al-Qur’an sebagai sahabat sejati, dan harta sebagai jembatan menuju surga. Semoga kita termasuk golongan yang selalu termotivasi untuk berbuat kebaikan, hingga kelak kita pun menjadi pribadi yang cemburui karena kemuliaan amal kita.

Anda ingin merasakan manisnya dekat dengan Al-Qur’an? Ingin menjadikan kalamullah sebagai penuntun hidup Anda, bahkan hingga Anda bisa menghafalnya dan mengamalkannya di setiap waktu?

Bergabunglah bersama kami di Qur’an Learning Center Yogyakarta melalui program Executive Tahfizh. Kami siap membimbing Anda dalam perjalanan mulia menghafal dan memahami Al-Qur’an, untuk membentuk pribadi yang akrab dengan firman Allah.

Daftar Referensi

  • Hadits diriwayatkan oleh Abu Ubaid dalam Kitab Fadha’ilul Qur’an, bab “Ma Yu’maru Bihi Hamilul Qur’ani Min Tilawatihi Bil Qira’ati Wal Qiyami Bihi Fis Shalah”, halaman 126, dari jalur Abdullah bin Mubarak, dari Ma’mar, dari Az-Zuhri, dari Salim bin Abdullah, dari bapaknya, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Sumber: sumber di Perpustakaan Islam Shamela)
  • Al-Qur’an Surat Al-Mutaffifin (83): 26.

—-

Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta

Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
kunjungi halaman ini
WhatsApp +6281224003100

Flyer Program Hafal Quran Executive Tahfizh di Yogyakarta
author avatar
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.,