Dalam sebuah pertemuan yang sarat makna, hati-hati para sahabat bergetar dan air mata mereka berlinang. Rasulullah ﷺ, dengan kebijaksanaan dan kelembutan yang tak terhingga, menyampaikan sebuah nasihat yang begitu menyentuh, seolah-olah itu adalah pesan perpisahan dari seorang kekasih. Suasana khidmat itu begitu membekas, mendorong para sahabat untuk memohon lebih, “Wahai Rasulullah, berilah kami wasiat!” Dan dari lisan mulia beliau, terucaplah untaian kata yang menjadi panduan abadi bagi umatnya, menegaskan pentingnya mendengar dan taat serta berpegang teguh pada Sunnah sebagai kompas kehidupan.
Wasiat agung Nabi ﷺ ini, yang diriwayatkan oleh Abu Najih Al-Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ‘anhu, adalah fondasi kokoh yang menuntun kita melintasi gelombang zaman yang penuh gejolak. Ia mengajarkan kita untuk kembali pada esensi keislaman, menata ulang prioritas, dan mengokohkan pijakan di tengah arus perubahan. Kita diajak untuk memahami bahwa kedamaian hakiki, keberkahan, dan keselamatan di dunia dan akhirat, hanya bisa diraih melalui ketaatan yang tulus dan kesetiaan pada ajaran yang murni.
Wasiat Agung Nabi ﷺ: Fondasi Ketakwaan dan Ketaatan
Pesan pertama yang Rasulullah ﷺ sampaikan adalah “Ushikum bi taqwallaah” – aku wasiatkan kalian untuk bertakwa kepada Allah. Takwa, bukan sekadar ketakutan, melainkan sebuah kesadaran mendalam akan pengawasan Ilahi yang mendorong kita untuk senantiasa melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Takwa adalah perisai yang melindungi hati dari godaan dan pikiran dari kerancuan. Ia adalah inti dari setiap amal kebaikan, sumber kekuatan dalam menghadapi cobaan, dan bekal utama menuju kebahagiaan abadi.
Selanjutnya, beliau mewasiatkan “was-sam’i wat-thaa’ah” – mendengar dan taat. Ketaatan ini tidak terbatas pada Allah dan Rasul-Nya saja, tetapi juga meluas kepada pemimpin yang sah, bahkan jika yang memimpin adalah seorang hamba sahaya. Ini adalah sebuah prinsip fundamental dalam menjaga stabilitas dan keteraturan umat. Dalam sistem Islam, ketaatan kepada pemimpin adalah bentuk ketaatan kepada Allah, selama perintahnya tidak bertentangan dengan syariat. Karena tanpa ketaatan, tatanan akan hancur, kekacauan akan merajalela, dan umat akan mudah terpecah belah. Kita belajar dari sini bahwa menjaga persatuan dan kesatuan umat adalah tujuan syariat yang sangat ditekankan, dan ketaatan kepada pemimpin yang sah adalah salah satu jalannya.
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنكُمْ ۖ فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan Ulil Amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (Q.S. An-Nisa: 59)
Pentingnya Mendengar dan Taat serta Berpegang Teguh pada Sunnah di Tengah Perbedaan
Rasulullah ﷺ yang mulia, dengan pandangan jauh ke depan, telah mengisyaratkan realitas yang akan kita hadapi: “Fainnahu man ya’isy minkum fasayaraa ikhtilaafan katsiraa” – barangsiapa di antara kalian yang hidup setelahku, niscaya akan melihat perselisihan yang banyak. Ini adalah sebuah peringatan sekaligus persiapan mental bagi kita. Dunia ini memang akan selalu berubah, dan perbedaan pendapat, bahkan fitnah, akan selalu muncul. Namun, di tengah semua itu, beliau memberikan solusi yang terang benderang:
فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ، عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ
Artinya: “Maka hendaklah kalian berpegang teguh pada sunnahku dan sunnah para Khulafaur Rasyidin yang mendapatkan petunjuk. Gigitlah ia dengan gigi geraham.”
Pernyataan ini menegaskan kembali pentingnya mendengar dan taat serta berpegang teguh pada Sunnah. Sunnah Rasulullah ﷺ adalah jalan yang paling benar, karena beliau adalah teladan yang sempurna. Sementara sunnah Khulafaur Rasyidin adalah aplikasi praktis dari ajaran Nabi ﷺ yang telah terbukti keberhasilannya. Metafora “menggigit dengan gigi geraham” bukan sekadar ungkapan, melainkan seruan untuk memegang teguh Sunnah dengan kekuatan penuh, tak tergoyahkan oleh godaan atau keraguan, seakan-akan Sunnah itu adalah satu-satunya harta yang paling berharga.
Menghindari Bid’ah: Menjaga Kemurnian Ajaran
Sebagai penutup dari nasihat agungnya, Rasulullah ﷺ juga memberikan peringatan tegas: “Wa iyyakum wa muhdatsaatil umuur, fainna kulla bid’atin dhalaalah” – Dan jauhilah oleh kalian perkara-perkara yang baru (dalam agama), karena sesungguhnya setiap bid’ah itu adalah kesesatan. Bid’ah, atau inovasi dalam urusan agama, adalah virus yang dapat menggerogoti kemurnian ajaran Islam. Ia berpotensi mengaburkan batasan antara yang hak dan yang batil, menggeser prioritas, dan pada akhirnya menjauhkan umat dari Sunnah yang asli.
Peringatan ini adalah bentuk kasih sayang Nabi ﷺ kepada umatnya agar tidak terjerumus dalam kesesatan. Menjaga kemurnian ajaran agama adalah sebuah amanah besar. Oleh karena itu, kita harus selektif dan kritis terhadap setiap amalan atau pemahaman baru yang muncul, selalu mengembalikannya kepada Al-Qur’an dan Sunnah yang telah dicontohkan oleh beliau dan para sahabat. Ini adalah wujud konkret dari pentingnya mendengar dan taat serta berpegang teguh pada Sunnah.
Mengaplikasikan Pentingnya Mendengar dan Taat serta Berpegang Teguh pada Sunnah dalam Kehidupan Sehari-hari
Bagaimana kita mengaplikasikan wasiat agung ini dalam keseharian? Pertama, dengan memperkuat takwa kita. Mulailah dari hal-hal kecil, seperti menjaga salat tepat waktu, membaca Al-Qur’an setiap hari, dan berzikir. Lalu, perluas pada interaksi sosial, seperti berkata jujur, menepati janji, dan berbuat baik kepada tetangga.
Kedua, dengan menumbuhkan semangat mendengar dan taat. Dalam keluarga, ini berarti menghormati dan menaati orang tua serta pasangan dalam hal kebaikan. Dalam masyarakat, ini berarti mematuhi peraturan yang berlaku selama tidak melanggar syariat. Dan yang terpenting, selalu mendengarkan dan menaati petunjuk Allah dan Rasul-Nya yang termaktub dalam Al-Qur’an dan Sunnah. Ketika ada keraguan, kembalikanlah pada dua sumber utama ini.
Ketiga, dengan berpegang teguh pada Sunnah. Ini bukan hanya tentang ritual ibadah, tetapi juga mencakup akhlak, muamalah, bahkan cara berpakaian dan makan. Teladani Rasulullah ﷺ dalam setiap aspek kehidupan. Pelajari sirah beliau, hadis-hadisnya, dan pemahaman para ulama salaf yang shalih. Dengan demikian, kita akan memiliki panduan yang jelas dan kokoh dalam menghadapi setiap persoalan, sehingga kita senantiasa dalam koridor kebenaran.
Wasiat Nabi ﷺ dalam hadis ini adalah peta jalan menuju keselamatan, fondasi persatuan umat, dan benteng dari segala bentuk penyimpangan. Mari kita renungkan dan amalkan dengan sepenuh hati, karena di dalamnya terdapat keberkahan, kedamaian, dan kebahagiaan sejati. Pentingnya mendengar dan taat serta berpegang teguh pada Sunnah adalah kunci untuk meraih ridha Allah subhanahu wa ta’ala dan meraih surga-Nya.
Jika Anda rindu mendalami Al-Qur’an dan Sunnah dengan bimbingan yang terstruktur, Qur’an Learning Center Yogyakarta siap menjadi mitra perjalanan spiritual Anda. Bergabunglah bersama kami untuk merasakan pengalaman belajar Al-Qur’an yang mendalam dan bermakna.
Daftar Referensi
- H.R. Abu Dawud No. 4607
- H.R. Tirmidzi No. 2676
- Q.S. An-Nisa: 59
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
kunjungi halaman ini
WhatsApp +6281224003100

