Pernahkah Kita merasa begitu bersemangat saat mendengar kabar miring tentang tetangga, teman kantor, atau tokoh publik, hingga jari-jari kita seolah tak tahan untuk segera mencari tahu lebih dalam melalui media sosial mereka? Ada rasa puas yang aneh saat kita berhasil menemukan “lubang” kekurangan orang lain, seolah-olah dengan melihat cacat mereka, kita menjadi terlihat lebih sempurna. Sahabat Qur’an yang saya cintai, berhati-hatilah, karena sensasi memuaskan itu sebenarnya adalah racun bernama tajassus—sebuah hobi kotor yang tidak hanya merusak hubungan antarmanusia, tetapi perlahan-lahan sedang membunuh kelembutan hati kita sendiri.
Tajassus: Spionase yang Menghancurkan Ukhuwah
Dalam khazanah akhlak Islam, tajassus diartikan sebagai upaya mencari-cari kesalahan, kekurangan, atau rahasia pribadi orang lain yang seharusnya tertutup. Di era digital seperti sekarang, tajassus menjadi sangat mudah dilakukan. Cukup dengan menelusuri komentar lama seseorang atau memata-matai aktivitas mereka di dunia maya, kita sudah merasa menjadi detektif yang hebat. Padahal, setiap manusia memiliki privasi dan “ruang gelap” yang tidak ingin diketahui orang lain.
Masalahnya, kita seringkali jauh lebih sibuk mengurusi kotoran di mata orang lain, sementara “gajah” di pelupuk mata sendiri tidak terlihat. Waktu kita habis untuk menguliti aib orang, sehingga tidak ada lagi waktu tersisa untuk memperbaiki diri sendiri (muhasabah). Dampaknya sangat merusak; hilangnya rasa saling percaya, munculnya kebencian, hingga hancurnya reputasi seseorang yang dibangun bertahun-tahun hanya karena satu kesalahan masa lalu yang kita bongkar dengan sengaja.
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱجْتَنِبُوا۟ كَثِيرًا مِّنَ ٱلظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ ٱلظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا۟ …
“Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain…” (QS. Al-Hujurat: 12)
Solusi Qur’ani: Berhenti Menjadi Detektif Keburukan
Sahabat Qur’an, Allah SWT memberikan instruksi yang sangat lugas dalam Surah Al-Hujurat ayat 12: Wala tajassasu—dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain. Ayat ini diawali dengan perintah untuk menjauhi prasangka (dzan). Mengapa demikian? Karena tajassus biasanya lahir dari prasangka buruk. Ketika kita berprasangka buruk pada seseorang, syaitan akan membisikkan rasa penasaran untuk membuktikan prasangka tersebut, dan di situlah kita mulai “mengintip” kehidupan pribadi orang lain.
Islam mengajarkan kita prinsip sataral aurat, yaitu menutup aib. Jika Allah saja Yang Maha Mengetahui bersedia menutupi aib-aib kita yang begitu banyak sehingga kita masih tampak terhormat di mata manusia, lalu mengapa kita yang penuh dosa ini justru merasa berhak menyingkap aib sesama hamba-Nya? Perintah Allah ini bertujuan untuk menjaga keharmonian sosial. Bayangkan betapa kacaunya hidup ini jika setiap orang saling memata-matai dan menyebarkan keburukan satu sama lain.
Ancaman Nyata: Aib Kita Akan Disingkap Kembali
Ada sebuah hukum alam dan hukum Allah yang sangat menakutkan terkait perilaku ini. Rasulullah SAW pernah memperingatkan bahwa barangsiapa yang sibuk mencari-cari aib saudaranya, maka Allah akan mencari-cari aibnya. Dan barangsiapa yang aibnya dicari oleh Allah, maka Allah akan menyingkapnya (mempermalukannya) meskipun ia berada di dalam rumahnya sendiri.
Inilah alasan mengapa orang yang hobi tajassus biasanya tidak pernah merasakan ketenangan batin. Hatinya selalu gelisah, penuh rasa curiga, dan selalu merasa kurang. Energi negatif yang ia lepaskan untuk menjatuhkan orang lain akan kembali kepada dirinya sendiri. Sebaliknya, orang yang sibuk memperbaiki diri dan menutup aib saudaranya, Allah akan memberikan ketenangan dan menutupi aib-aibnya kelak di hari kiamat.
Mengubah Fokus: Dari Aib Orang ke Kekurangan Diri
Lantas, bagaimana kita menyembuhkan penyakit hati ini? Solusinya adalah dengan mengubah arah pandangan kita. Mari kita gunakan “teleskop” kita bukan untuk meneropong kesalahan orang lain, melainkan untuk meneropong ke dalam hati kita sendiri. Setiap kali syaitan mengajak kita untuk mencari tahu aib seseorang, segera ingatlah dosa-dosa kita yang masih disembunyikan oleh Allah.
Kita perlu membangun budaya husnudzon (berprasangka baik). Jika melihat sesuatu yang janggal pada saudara kita, carilah 70 alasan untuk memaafkan atau memahaminya, daripada mencari satu alasan untuk menjatuhkannya. Jika memang perlu memberi nasihat, lakukanlah secara sembunyi-sembunyi (sirran) antara empat mata, bukan dengan membongkarnya di ruang publik atas nama “kebenaran”.
Menjaga Lisan dan Jari di Era Informasi
Sahabat Qur’an, di zaman yang serba terbuka ini, menjaga privasi orang lain adalah bentuk jihad tersendiri. Mari kita sepakat untuk tidak menjadi agen penyebar berita miring atau pengumpil rahasia orang. Ingatlah bahwa setiap informasi yang kita cari dan kita sebarkan akan dimintai pertanggungjawabannya di hadapan Allah SWT. Mari kita gunakan waktu kita untuk mempelajari Al-Qur’an, memperbanyak zikir, dan melakukan amal shaleh yang nyata.
Semoga Allah SWT membersihkan hati kita dari penyakit tajassus, melembutkan lisan kita agar hanya berucap kebaikan, dan menjadikan kita pribadi yang senang menutupi aib saudara kita demi mengharap rida-Nya. Mari kita fokus menjadi versi terbaik dari diri kita sendiri, tanpa perlu menjatuhkan orang lain untuk merasa tinggi.
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
Qur’an Learning Center Yogyakarta merupakan aset wakaf yang dikelola oleh Baitulmaal Muamalat.
Website: kunjungi halaman ini
WhatsApp: +6281224003100

