Dalam bentangan samudra kehidupan, ilmu adalah pelita yang menerangi setiap jejak langkah kita. Ia bukan sekadar deretan informasi yang mengisi benak, melainkan tuntunan yang membentuk karakter, mengukuhkan keyakinan, dan membimbing menuju keridaan Ilahi. Namun, cahaya ilmu tidak dapat dipetik begitu saja dari kegelapan; ia mengalir dari sumber yang jernih, dari lentera-lentera yang terang benderang, yaitu para guru. Di sinilah urgensi mendalami adab menuntut ilmu dari guru yang shalih menjadi sangat kentara, sebuah fondasi yang menentukan keberkahan dan kemanfaatan pengetahuan yang kita peroleh.

Memilih Lentera Kebenaran: Kriteria Guru yang Shalih

Sejarah Islam mencatat dengan tinta emas bagaimana para ulama salafus shalih sangat berhati-hati dalam memilih sumber ilmu. Bagi mereka, ilmu bukanlah sekadar teori atau dogma, melainkan “agama” itu sendiri. Oleh karena itu, kita tidak bisa sembarangan dalam menentukan siapa yang layak menjadi mursyid (pembimbing) spiritual dan intelektual kita. Mereka adalah jembatan penghubung kita dengan warisan kenabian, maka kemurnian jembatan itu harus terjamin.

هذا العلم دين فانظروا عمن تأخذون دينكم

Muhammad bin Sirin dan Imam Malik bin Anas, dua ulama besar generasi salaf, menegaskan, “Ilmu ini adalah agama, maka perhatikanlah dari siapa kalian mengambil agama kalian.” Pesan ini adalah landasan pertama dalam menerapkan adab menuntut ilmu dari guru yang shalih. Kita diwajibkan untuk meneliti beberapa kriteria esensial:

  • Ahliah (Kompetensi)
    Guru harus memiliki keahlian dan penguasaan ilmu yang mumpuni dalam bidang yang diajarkannya. Pengetahuannya harus teruji, bukan sekadar kabar angin.
  • Diyanah (Religiusitas)
    Kehidupan keagamaannya harus tampak jelas dan kokoh. Ia bukan hanya mengajarkan teori, tetapi juga menjadi teladan dalam praktik ibadah dan akhlak mulia.
  • Ma’rifah (Pengetahuan Mendalam)
    Pemahamannya terhadap ilmu haruslah mendalam, bukan sebatas kulit luar. Ia mampu merangkai ilmu dengan hikmah dan relevansi zaman.
  • Shiyanah (Integritas)
    Guru tersebut harus dikenal memiliki menjaga diri dari hal-hal yang tidak senonoh atau merusak kehormatan ilmu. Kredibilitas dan kejujurannya tidak diragukan.

Sebab, ketika kita mencari petunjuk, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” (Q.S. An-Nahl: 43). Ayat ini secara implisit menuntun kita untuk mencari sumber ilmu yang autentik dan terpercaya. Inilah sejatinya langkah awal dari adab menuntut ilmu dari guru yang shalih.

Mengapa Hormat itu Penting: Kunci Keberkahan Ilmu

Setelah menemukan guru yang memenuhi kriteria tersebut, langkah selanjutnya adalah membingkai hubungan murid-guru dengan bingkai penghormatan yang tulus. Menatap guru dengan pandangan respek dan meyakini kesempurnaan keahliannya di atas kapasitas kita adalah esensi keberkahan. Hal ini akan mendekatkan kita pada kemanfaatan optimal dari ilmu yang disampaikannya. Tanpa adab dan penghormatan, ilmu bisa jadi hanya mengalir di permukaan, tak pernah meresap hingga ke lubuk hati.

Kisah-kisah para ulama terdahulu mengajarkan kita makna penghormatan yang mendalam. Diriwayatkan bahwa sebagian dari mereka, ketika hendak mendatangi guru, akan bersedekah terlebih dahulu sambil berdoa, “Ya Allah, tutupi aib guruku dariku, dan jangan hilangkan keberkahan ilmunya dariku.” Doa ini bukan hanya memohon kebaikan bagi guru, tetapi juga mengikis ego dan kesombongan dalam diri murid, membuka hati untuk menerima ilmu dengan lapang.

Begitu pula Ar-Rabi’, salah seorang murid Imam Syafi’i rahimahumallah, pernah berkata, “Aku tidak berani meminum air sedangkan Imam Syafi’i melihatku, karena rasa segan dan takzimku kepadanya.” Sebuah ungkapan yang menggambarkan betapa agungnya rasa hormat kepada seorang guru. Bukan hanya soal etika fisik, tetapi juga rasa rendah hati dan pengakuan akan kedudukan sang mursyid. Ini adalah inti dari adab menuntut ilmu dari guru yang shalih yang patut kita teladani.

Bimbingan Agung dari Amirul Mukminin: Etika Seorang Murid

Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, seorang sahabat yang dikenal akan kedalaman ilmunya, pernah menyampaikan hak-hak seorang guru yang wajib dipenuhi oleh muridnya. Petuah ini adalah panduan komprehensif tentang adab menuntut ilmu dari guru yang shalih yang senantiasa relevan sepanjang masa:

Salam dan Penghormatan Khusus

Ketika memasuki suatu majelis atau bertemu guru, kita dianjurkan untuk menyalami semua orang yang hadir secara umum, namun mengkhususkan guru dengan sapaan dan penghormatan yang istimewa. Ini menunjukkan pengakuan akan kedudukannya yang lebih tinggi.

Posisi dan Gestur Tubuh

Duduklah di hadapan guru dengan penuh sopan santun. Hindari menunjuk-nunjuk dengan tangan saat berbicara atau mengedipkan mata yang bisa diartikan meremehkan. Jaga pandangan dan sikap tubuh agar mencerminkan ketakziman.

Menjaga Lisan dan Kehormatan Majelis

Jangan sekali-kali berkata di hadapan guru bahwa “si fulan mengatakan hal yang berbeda dengan apa yang Anda sampaikan”. Ini menunjukkan kurangnya adab dan bisa mengurangi wibawa guru. Jauhi ghibah (menggunjing) siapa pun di hadapan guru. Jangan pula berbisik atau berdiskusi dengan teman di majelis ilmu guru, karena ini dapat mengganggu konsentrasi dan menunjukkan ketidakhormatan.

Kepatuhan dan Kelembutan

Jika guru berdiri, jangan menarik pakaiannya atau menahannya. Jika guru sedang dalam keadaan lesu atau kurang semangat, jangan terus-menerus mendesak atau melontarkan pertanyaan yang berlebihan. Hindari pula menunjukkan sikap bosan atau jenuh meskipun telah lama bersahabat dengan guru. Setiap interaksi harus dilandasi rasa hormat dan empati.

Membela Kehormatan Guru

Sebuah puncak dari adab menuntut ilmu dari guru yang shalih adalah kesediaan seorang murid untuk membela kehormatan gurunya jika ada yang menggunjing atau merendahkannya. Jika tidak mampu membela, paling tidak tinggalkanlah majelis yang penuh dengan ghibah tersebut. Ini adalah bentuk loyalitas dan pengorbanan demi menjaga kehormatan ilmu dan pembawanya.

Ilmu adalah anugerah terindah yang Allah titipkan kepada hamba-Nya. Namun, anugerah itu akan berbuah keberkahan yang maksimal jika diiringi dengan adab menuntut ilmu dari guru yang shalih. Dengan meneladani etika para salaf, memilih guru dengan cermat, dan senantiasa menempatkan mereka pada posisi yang mulia, kita sejatinya sedang membuka gerbang menuju pemahaman yang hakiki, yang bukan hanya mencerahkan akal, tetapi juga menyinari jiwa. Mari bersama-sama menghidupkan kembali tradisi luhur ini, demi ilmu yang berkah dan kehidupan yang diridai.

Bagi Anda yang merindukan bimbingan ilmu Al-Qur’an dengan adab dan sanad yang terjaga, Qur’an Learning Center Yogyakarta siap menjadi rumah Anda. Ikuti program Executive Tahfizh dan raih keberkahan ilmu bersama para pengajar yang ahli dan shalih.

Daftar Referensi

  • Q.S. An-Nahl: 43
  • Perkataan Muhammad bin Sirin dan Malik bin Anas (disebutkan dalam berbagai kitab ulama, seperti Mukaddimah Shahih Muslim dan Jaami’ Bayaanil ‘Ilmi wa Fadhlihi karya Ibnu Abdil Barr)
  • Kisah Ar-Rabi’ dengan Imam Syafi’i (diriwayatkan dalam Siyar A’lam An-Nubala’ karya Imam Adz-Dzahabi)
  • Nasihat Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu (disebutkan dalam Ta’limul Muta’allim Tariqatut Ta’allum karya Imam Az-Zarnuji)

—-

Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta

Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
kunjungi halaman ini
WhatsApp +6281224003100

Flyer Program Hafal Quran Executive Tahfizh di Yogyakarta
author avatar
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.,