Kerap kali, shalat hanya menjadi rutinitas fisik yang hampa dari sentuhan spiritual mendalam. Kita menggerakkan tubuh, melafazkan ayat, namun hati terasa jauh. Padahal, shalat adalah jembatan terdekat seorang hamba dengan Sang Penciptanya, sebuah momen istimewa untuk menumpahkan segala harap dan cemas. Lalu, bagaimana kita bisa meningkatkan kualitas shalat, bahkan Meraup Berkah dengan Memohon Perlindungan dari Api Neraka saat Shalat
Kisah teladan dari junjungan kita, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, memberikan jawaban yang begitu gamblang. Sebuah riwayat yang agung menggetarkan sanubari, diriwayatkan oleh Imam Abu Ubaid dalam kitab Fadha’ilul Qur’an:
حَدَّثَنَا أَبُو عُبَيْدٍ قَالَ حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ، عَنِ ابْنِ أَبِي لَيْلَى، عَنْ ثَابِتٍ الْبُنَانِيِّ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي لَيْلَى، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللَّهَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي؛ فَإِذَا مَرَّ بِآيَةٍ فِيهَا ذِكْرُ النَّارِ قَالَ: «أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ النَّارِ»
Telah menceritakan kepada kami Abu Ubaid, dia berkata, telah menceritakan kepada kami Ya’qub bin Ibrahim, dari Ibnu Abi Laila, dari Tsabit Al-Bunani, dari Abdurrahman bin Abi Laila, dari ayahnya, dia berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah shalat, jika beliau melewati ayat yang di dalamnya disebutkan neraka, beliau mengucapkan: ‘Aku berlindung kepada Allah dari neraka’.” (Diriwayatkan oleh Abu Ubaid dalam Kitab Fadha’ilul Qur’an, hal. 142, Bab: Apa yang disukai bagi pembaca Al-Qur’an jika melewati ayat tentang surga untuk meminta, dan jika melewati ayat tentang neraka untuk berlindung, sebagaimana tercatat di shamela.ws)
Meraup Berkah dengan Memohon Perlindungan dari Api Neraka saat Shalat: Sebuah Teladan Kenabian
Perhatikanlah, bagaimana kepekaan spiritual Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam begitu luar biasa. Beliau tidak sekadar membaca, melainkan menghayati setiap makna yang terkandung dalam firman Allah. Ketika lisan beliau melafazkan ayat-ayat yang menggambarkan dahsyatnya api neraka, hati beliau bergetar, dan spontanitas munajat perlindungan keluar dari lisannya yang mulia. Ini bukan sekadar reaksi sesaat, melainkan buah dari kedalaman tadabbur dan khushu’ yang paripurna.
Praktik mulia ini, yaitu Meraup Berkah dengan Memohon Perlindungan dari Api Neraka saat Shalat, adalah manifestasi kepekaan spiritual yang seyogianya kita teladani. Ia mengajarkan kita untuk tidak pasif saat berinteraksi dengan Al-Qur’an. Setiap ayat adalah pesan langsung dari Allah, dan respon kita seharusnya selaras dengan isi pesan tersebut. Jika ayat itu berbicara tentang surga, maka mintalah surga. Jika ia berbicara tentang neraka, maka segeralah memohon perlindungan dari api yang menyala-nyala itu.
Mengapa respon seperti ini begitu penting? Karena ia mengaktifkan hati dan pikiran kita dalam shalat. Shalat tidak lagi menjadi rangkaian gerakan dan ucapan tanpa roh, melainkan dialog intim dengan Pencipta. Kita diajak untuk merasakan kehadiran-Nya, memahami kebesaran-Nya, dan menyadari betapa rentannya diri kita di hadapan kekuasaan-Nya. Memohon perlindungan dari neraka bukan hanya sekadar doa, tetapi juga pengakuan akan kelemahan dan ketergantungan kita kepada rahmat Allah.
Jalan Menuju Ketenangan Hati: Meraup Berkah dengan Memohon Perlindungan dari Api Neraka saat Shalat
Banyak di antara kita mungkin bertanya, “Bukankah shalat harus fokus pada bacaan saja?” Tentu, fokus pada bacaan adalah inti. Namun, fokus yang sejati adalah ketika hati dan pikiran turut serta merenungi makna. Respon spontan Nabi SAW terhadap ayat-ayat neraka menunjukkan bahwa tadabbur (perenungan) bukanlah aktivitas di luar shalat, melainkan bagian integral dari khushu’ itu sendiri.
Ketika kita secara sadar Meraup Berkah dengan Memohon Perlindungan dari Api Neraka saat Shalat, kita tidak hanya melafazkan sebuah permohonan, tetapi juga menginternalisasi rasa takut kepada Allah (khashyah) yang benar. Rasa takut ini bukan berarti kita ketakutan yang melumpuhkan, melainkan ketakutan yang memotivasi kita untuk beramal saleh, menjauhi maksiat, dan mendekatkan diri kepada-Nya. Ia adalah bahan bakar spiritual yang mendorong kita untuk menjadi pribadi yang lebih baik.
Firman Allah SWT dalam Al-Qur’an semakin menguatkan pentingnya munajat dan permohonan kepada-Nya:
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ
Dan Tuhanmu berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina.” (Q.S. Ghafir: 60)
Ayat ini menegaskan bahwa Allah adalah Dzat yang Maha Mendengar dan Maha Mengabulkan doa hamba-Nya. Ketika kita Meraup Berkah dengan Memohon Perlindungan dari Api Neraka saat Shalat, kita sedang memenuhi perintah-Nya untuk berdoa, dan pada saat yang sama, menunjukkan kerendahan hati kita sebagai hamba. Ini adalah bentuk ibadah yang utuh, yang menggabungkan dzikir (mengingat), fikir (merenung), dan do’a (memohon).
Marilah kita, sebagai umat Islam, senantiasa berupaya menyempurnakan shalat kita. Jadikanlah setiap bacaan Al-Qur’an dalam shalat sebagai kesempatan untuk berdialog, merenung, dan memohon. Ketika kita melewati ayat yang mengancam dengan neraka, biarkan hati kita bergetar dan lisan kita berucap, “Aku berlindung kepada Allah dari neraka.” Dengan demikian, shalat kita akan menjadi lebih hidup, lebih bermakna, dan insya Allah, menjadi wasilah bagi kita untuk Meraup Berkah dengan Memohon Perlindungan dari Api Neraka saat Shalat yang sebenar-benarnya, membawa kita semakin dekat pada ridha Allah SWT.
Perjalanan memahami dan menghafal Al-Qur’an adalah sebuah misi mulia yang membutuhkan bimbingan dan metode yang tepat. Di Qur’an Learning Center Yogyakarta, kami berkomitmen untuk membimbing Anda menemukan kedalaman makna Al-Qur’an dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari, salah satunya melalui program Executive Tahfizh yang dirancang khusus bagi Anda yang ingin menghafal Al-Qur’an dengan pemahaman mendalam.
Daftar Referensi
- Abu Ubaid Al-Qasim bin Sallam. Kitab Fadha’ilul Qur’an, hal. 142, Bab: ما يستحب للقارئ إذا مر في قراءته بذكر الجنة من المسألة وبذكر النار من التعوذ. Tersedia di shamela.ws.
- Al-Qur’an Surat Ghafir (40) ayat 60.
—-
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
kunjungi halaman ini
WhatsApp +6281224003100

