Kecintaan kita terhadap Al-Qur’an adalah sebuah anugerah yang tak ternilai. Proses menghafalnya, merenunginya, dan mengamalkannya merupakan perjalanan spiritual yang mulia. Namun, dalam setiap perjalanan kebaikan, selalu ada kerikil tajam yang berpotensi menghalangi laju kita menuju Allah, salah satunya adalah godaan pujian. Terkadang, secara tidak sadar, hati kita mulai terpikat pada sanjungan dan pengakuan manusia atas hafalan yang telah kita miliki. Inilah yang kita sebut sebagai “kecanduan pujian,” sebuah kondisi hati yang rentan dan perlu segera dibersihkan.

Kecanduan pujian adalah penyakit hati yang halus, namun sangat berbahaya. Ia dapat meredupkan cahaya keikhlasan dalam beramal. Ketika kita mulai menghafal atau melantunkan ayat-ayat suci dengan harapan agar didengar dan dipuji, maka tujuan utama kita telah bergeser dari mencari ridha Allah semata menjadi mencari tempat di mata manusia. Ini adalah inti dari sifat riya’, yaitu melakukan amal kebaikan dengan niat agar dilihat dan dipuji oleh orang lain. Rasulullah ﷺ telah memperingatkan kita tentang bahaya riya’, bahkan beliau menyebutnya sebagai syirik kecil, sebuah dosa yang sangat halus dan sulit dideteksi kecuali oleh hati yang senantiasa waspada.

Riya’ adalah musuh bebuyutan keikhlasan. Ia seperti parasit yang menggerogoti pahala amal tanpa kita sadari. Amal shalih yang dilakukan dengan riya’ bisa menjadi hampa di sisi Allah, bahkan bisa berbalik menjadi bumerang bagi pelakunya. Kita tentu tidak ingin jerih payah kita dalam menghafal Al-Qur’an, sebuah ibadah agung, menjadi sia-sia hanya karena kita terlalu silau dengan gemerlap pujian manusia. Allah ﷻ berfirman:

قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُوحَىٰ إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ ۖ فَمَن كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

Artinya: “Katakanlah (Muhammad): Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan Yang Esa.” Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shalih dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya.” (Q.S. Al-Kahf: 110)

Ayat ini menegaskan prinsip dasar dalam beribadah: amal shalih harus dilakukan semata-mata karena Allah, tanpa sedikit pun menyekutukan-Nya dengan tujuan atau harapan lain, termasuk pujian manusia. Menjaga hati dari riya’ adalah sebuah perjuangan yang terus-menerus. Ia membutuhkan kesadaran, muhasabah (introspeksi), dan latihan mental yang konsisten.

Strategi Praktis Melawan Kecanduan Pujian: Latihan “Menyebut Nama Allah Sebelum Nama Diri”

Lantas, bagaimana cara kita menjaga hati agar tetap murni dari godaan pujian, khususnya dalam perjalanan tahfizh? Salah satu latihan praktis yang sangat efektif adalah “menyebut nama Allah sebelum nama diri”. Ini bukan sekadar kalimat di lisan, namun sebuah penanaman pola pikir dan keyakinan dalam hati bahwa semua kebaikan, semua kemampuan, dan semua pencapaian yang kita raih, termasuk hafalan Al-Qur’an, adalah semata-mata anugerah dan pertolongan dari Allah ﷻ.

Bagaimana Menerapkannya?

  • Saat Memulai Hafalan atau Muraja’ah: Sebelum kita membuka mushaf atau memulai lantunan ayat, biasakan untuk berniat dengan tulus, “Ya Allah, aku menghafal/muraja’ah ini karena-Mu, agar Engkau ridha, agar hatiku semakin dekat dengan-Mu.” Bukan, “Aku ingin hafalan ini bagus agar orang tuaku bangga,” atau “Agar nanti bisa dipuji di depan teman-teman.”
  • Ketika Ada Pujian Datang: Jika ada seseorang memuji hafalan kita, jangan biarkan hati jumawa. Segera kembalikan pujian itu kepada sumbernya. Dalam hati ucapkan, “Alhamdulillah, ini semua dari Allah. Tanpa pertolongan-Nya, aku tidak akan bisa.” Secara lisan, kita bisa menjawab, “Alhamdulillah, semoga Allah mudahkan kita semua,” atau “Barakallahu fiik.” Ini melatih kita untuk tidak terlalu terpikat oleh pujian dan mengalihkannya kembali kepada Allah.
  • Saat Berbagi Ilmu atau Mengajar Al-Qur’an: Jika kita mendapatkan kesempatan untuk berbagi hafalan atau mengajarkan Al-Qur’an, niatkanlah semata-mata untuk menyebarkan kalamullah dan mencari pahala dari Allah. Posisikan diri sebagai perantara, bukan sebagai sumber kehebatan. Allah-lah yang mengizinkan ilmu itu mengalir melalui kita.
  • Dalam Setiap Doa: Biasakan untuk memohon kekuatan kepada Allah agar selalu diberi keikhlasan. Doa adalah senjata utama orang mukmin.

Latihan ini membantu kita menancapkan kesadaran bahwa kita hanyalah hamba yang lemah tanpa daya dan upaya melainkan dengan pertolongan Allah. Setiap huruf yang kita hafalkan, setiap makna yang kita pahami, semua adalah karunia dari-Nya. Dengan demikian, hati akan terpelihara dari virus riya’ dan ujub (bangga diri).

Penting untuk selalu mengingat bahwa tujuan akhir kita sebagai hamba Allah adalah pertemuan dengan-Nya dalam keadaan hati yang bersih dan amal yang diterima. Rasulullah ﷺ bersabda dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, mengenai tiga golongan manusia yang pertama kali diadili pada hari kiamat, salah satunya adalah seorang qari’ (pembaca Al-Qur’an) yang gugur dalam perang. Ketika Allah bertanya kepadanya tentang nikmat yang telah diberikan, ia menjawab, “Aku membaca Al-Qur’an dan mengajarkannya karena-Mu.” Namun, Allah berfirman, “Engkau dusta. Engkau membaca agar dikatakan qari’ (ahli baca Al-Qur’an) dan sungguh engkau telah dikatakan demikian.” Kemudian, ia diperintahkan untuk diseret ke neraka. Kisah ini adalah pengingat keras betapa riya’ dapat menghancurkan amal kebaikan, bahkan ibadah yang semulia membaca dan menghafal Al-Qur’an.

إِنَّ اللَّهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى أَجْسَادِكُمْ وَلاَ إِلَى صُوَرِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ

Artinya: “Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada bentuk rupa dan harta kalian, akan tetapi Dia melihat kepada hati dan amal perbuatan kalian.” (H.R. Muslim no. 2564)

Hadits ini semakin memperjelas bahwa inti dari setiap ibadah adalah hati yang ikhlas. Bentuk fisik, jumlah hafalan, atau pengakuan manusia sama sekali tidak berarti di hadapan Allah jika hati tidak tulus. Oleh karena itu, mari kita terus membersihkan hati dari segala bentuk kecanduan pujian. Jadikan setiap lantunan ayat, setiap hafalan, dan setiap amal kebaikan lainnya sebagai jembatan yang menghubungkan kita langsung dengan Allah, tanpa perlu perantara pujian manusia. Dengan menjaga niat dan mengembalikan segala kebaikan kepada-Nya, insya Allah, kita akan meraih keikhlasan sejati dan pahala yang berlimpah.

Bagi kita yang ingin terus memperdalam pemahaman dan penghayatan Al-Qur’an dengan bimbingan yang tepat, Qur’an Learning Center Yogyakarta hadir sebagai fasilitator terbaik. Di sini, kita tidak hanya diajarkan cara menghafal, tetapi juga bagaimana menanamkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam hati dan kehidupan, sehingga setiap hafalan menjadi jembatan menuju ridha Allah.

Daftar Referensi

  • Q.S. Al-Kahf: 110
  • H.R. Muslim No. 1905 (Hadits tentang tiga golongan pertama yang diadili)
  • H.R. Muslim No. 2564 (Hadits tentang Allah melihat hati dan amal)

—-

Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta

Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
kunjungi halaman ini
WhatsApp +6281224003100

Flyer Program Hafal Quran Executive Tahfizh di Yogyakarta
author avatar
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.,