Ketika kita merenungi sebuah peninggalan, benak kita mungkin segera tertuju pada aset duniawi; properti, tabungan, atau perhiasan berharga. Namun, ada sebuah warisan yang nilainya melampaui langit dan bumi, sebuah pusaka yang tidak akan pernah habis terbagi, justru semakin berkah saat disebarkan. Inilah Warisan Paling Berharga Rasulullah ﷺ, yang cahayanya terus menerangi zaman.
Sebuah riwayat indah dari kitab Fadhailul Qur’an karya Imam Abu ‘Ubaid Al-Qasim bin Sallam melukiskan sebuah pemandangan yang sarat akan makna. Kisah ini membawa kita ke sebuah majelis ilmu yang penuh ketenangan, di mana seorang sahabat mulia sedang mengajarkan Kalamullah.
مَرَّ أَعْرَابِيٌّ بِعَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ، وَهُوَ يُقْرِئُ قَوْمًا الْقُرْآنَ، أَوْ قَالَ: وَعِنْدَهُ قَوْمٌ يَتَعَلَّمُونَ الْقُرْآنَ، فَقَالَ: مَا يَصْنَعُ هَؤُلَاءِ؟ فَقَالَ ابْنُ مَسْعُودٍ: «يَقْتَسِمُونَ مِيرَاثَ مُحَمَّدٍ ﷺ»
Seorang Arab Badui melewati Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu saat beliau sedang membacakan Al-Qur’an kepada suatu kaum (atau: di sisinya ada kaum yang sedang mempelajari Al-Qur’an). Orang itu bertanya, “Apa yang sedang mereka lakukan?” Ibnu Mas’ud menjawab, “Mereka sedang membagi-bagi warisan Muhammad ﷺ.” (Diriwayatkan oleh Abu ‘Ubaid dalam Fadhailul Qur’an)
Makna di Balik Jawaban Ibn Mas’ud
Jawaban Sayyidina Abdullah bin Mas’ud bukanlah sekadar kiasan puitis. Ia adalah sebuah hakikat yang menembus relung kalbu. Saat orang lain sibuk memperebutkan warisan fana, para penuntut ilmu Al-Qur’an justru sedang mengklaim bagian mereka dari peninggalan termulia. Mereka tidak sedang membagi tanah atau emas, tetapi membagi petunjuk, hikmah, dan cahaya ilahi yang diwariskan langsung oleh Sang Nabi tercinta.
Ini adalah sebuah penegasan bahwa Warisan Paling Berharga Rasulullah ﷺ bukanlah dinar dan dirham, melainkan Kitabullah yang agung. Beliau ﷺ tidak mewariskan kekuasaan atau harta benda, tetapi mewariskan sumber segala kebaikan yang akan menjamin keselamatan pengikutnya di dunia dan akhirat.
Al-Qur’an: Warisan yang Tak Lekang Waktu
Warisan duniawi memiliki sifat yang terbatas. Semakin banyak ahli warisnya, semakin kecil bagian yang diterima masing-masing. Namun, keajaiban Al-Qur’an justru sebaliknya. Semakin banyak orang yang mempelajarinya, cahayanya tidak meredup, melainkan semakin benderang. Setiap individu yang membuka hatinya untuk Al-Qur’an akan menerima warisan itu secara utuh, tanpa mengurangi jatah orang lain.
Setiap ayat yang kita hafal, setiap hukum yang kita amalkan, dan setiap hikmah yang kita renungi adalah bagian dari proses menerima warisan agung ini. Ia adalah pusaka yang tak akan pernah usang, relevan di setiap zaman, dan menjadi penolong paling setia saat semua hal lain telah meninggalkan kita.
Sudahkah Kita Mengambil Bagian?
Pertanyaan yang dilontarkan oleh orang Arab Badui itu kini seolah berbalik kepada kita. Jika hari ini ada yang melihat kesibukan kita, apa yang sedang kita lakukan? Apakah kita sedang berjuang mengumpulkan warisan dunia yang akan kita tinggalkan, ataukah kita sedang khusyuk mengambil bagian dari Warisan Paling Berharga Rasulullah ﷺ yang akan kita bawa mati?
Seringkali, kesibukan dan hiruk pikuk dunia membuat kita lupa untuk mengklaim hak kita sebagai umatnya. Kita merasa tak punya waktu, terlalu lelah, atau merasa sudah terlambat untuk memulai. Padahal, pintu pembagian warisan ini selalu terbuka, menanti siapa saja yang rindu untuk menjadi keluarga spiritual Rasulullah ﷺ.
Menjadi Pewaris di Tengah Kesibukan
Menjadi pewaris Al-Qur’an bukanlah sebuah impian yang mustahil, bahkan bagi para profesional dan eksekutif yang padat aktivitas. Justru di tengah kesibukan itulah cahaya Al-Qur’an paling kita butuhkan sebagai penenang jiwa dan pemandu langkah.
Kuncinya adalah niat yang tulus, metode yang tepat, dan lingkungan yang mendukung. Dengan bimbingan guru yang sabar dan komunitas yang saling menyemangati, proses mengambil bagian dari Warisan Paling Berharga Rasulullah ﷺ menjadi sebuah perjalanan yang indah dan menenangkan, bukan beban yang memberatkan.
Maka, mari kita sejenak berhenti dan bertanya pada diri sendiri. Kapan terakhir kali kita meluangkan waktu untuk duduk bersama Al-Qur’an? Inilah saatnya untuk tidak hanya menjadi pengagum, tetapi menjadi salah satu ahli waris yang berhak atas peninggalan termulia ini. Karena sesungguhnya, berinteraksi dengan Al-Qur’an adalah cara kita menjawab panggilan cinta dari Sang Pewaris Agung, Muhammad ﷺ.
Daftar Referensi
- Abu ‘Ubaid Al-Qasim bin Sallam. Fadhailul Qur’an. Tahqiq: Marwan Al-Athiyah, dkk. Dar Ibn Katsir.
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
Website: kunjungi halaman ini
WhatsApp: +6281224003100


