Suasana dunia yang kerap diwarnai konflik, peperangan, dan ketegangan, seringkali memunculkan pertanyaan di benak kita: bagaimana Islam memandang semua ini? Benarkah Islam adalah agama yang mengedepankan kekerasan, atau justru sebaliknya, agama yang membawa pesan damai yang mendalam? Terkadang, prasangka dan interpretasi yang kurang tepat membayangi pemahaman kita. Namun, marilah sejenak kita menepi dari hiruk pikuk persepsi yang ada, dan bersama-sama merenungi kembali, dengan hati yang lapang, esensi ajaran Islam terkait konflik. Kita akan mendapati bahwa di balik setiap ketentuan, ada nilai luhur yang mengalir, menuntun kita pada keadilan, perdamaian, dan kemuliaan insani.

Pergeseran Cara Pandang: Konflik Bukan Tujuan

Dalam sanubari setiap insan, pasti mendambakan kedamaian. Tidak ada satu pun dari kita yang menginginkan perselisihan apalagi pertumpahan darah. Dan memang, Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin (rahmat bagi semesta alam) datang dengan membawa misi damai yang utuh. Namun, realitas hidup ini terkadang membawa kita pada situasi yang tidak kita harapkan. Konflik, perpecahan, dan ketidakadilan bisa saja muncul. Di sinilah seringkali pemahaman kita tergelincir. Kita melihat adanya ayat-ayat Al-Qur’an atau kisah-kisah Sirah Nabawiyah yang berbicara tentang perang, lalu buru-buru menyimpulkan bahwa Islam adalah agama yang menganjurkan kekerasan. Padahal, jika kita telaah lebih dalam, perang dalam Islam bukanlah tujuan, melainkan sebuah respons terakhir terhadap kedzaliman dan bentuk pembelaan diri yang diatur dengan sangat ketat.

Keadilan sebagai Fondasi Utama

Bukankah di setiap lini kehidupan, keadilan selalu menjadi dambaan? Dalam Islam, prinsip keadilan adalah fondasi utama yang tak tergoyahkan, bahkan dalam konteks konflik sekalipun. Perintah untuk berperang bukan muncul dari nafsu semata, melainkan dari dorongan membela diri, melindungi yang lemah, dan menegakkan kebenaran. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an:

وَقَاتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَكُمْ وَلَا تَعْتَدُوا ۚ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ

“Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Al-Baqarah: 190)

Ayat ini jelas menuntun kita. Perang diperbolehkan hanya terhadap mereka yang memerangi kita, dan dengan batasan yang tegas: jangan melampaui batas. Melampaui batas berarti memulai penyerangan tanpa sebab, menyerang non-kombatan, atau merusak tanpa alasan yang syar’i. Ini bukan tentang agresi, melainkan tentang respons yang proporsional untuk mengembalikan keseimbangan dan keadilan. Islam mengajarkan, ketika kedzaliman merajalela, dan tidak ada lagi jalan lain untuk menegakkan hak-hak asasi manusia, barulah perang menjadi sebuah pilihan yang pahit namun terkadang diperlukan.

وَمَا لَكُمْ لَا تُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ وَالْوِلْدَانِ الَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا أَخْرِجْنَا مِنْ هَٰذِهِ الْقَرْيَةِ الظَّالِمِ أَهْلُهَا وَاجْعَلْ لَنَا مِن لَّدُنكَ وَلِيًّا وَاجْعَل لَّنَا مِن لَّدُنكَ نَصِيرًا

“Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang yang lemah, baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak yang semuanya berdoa: “Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini (Mekah) yang zalim penduduknya dan berilah kami dari sisi Engkau pemimpin dan berilah kami dari sisi Engkau penolong!” (QS. An-Nisa: 75)

Ayat ini kian menegaskan, motivasi utama perang dalam Islam adalah pembelaan terhadap kaum yang tertindas, yang terampas hak-haknya. Ini adalah misi kemanusiaan yang luhur, bukan nafsu kekuasaan.

Batasan dan Etika dalam Peperangan

Jika kita menyangka bahwa perang dalam Islam adalah tanpa aturan, maka kita keliru besar. Islam telah meletakkan etika dan batasan yang sangat jelas, bahkan di medan pertempuran sekalipun. Rasulullah ﷺ, sebagai teladan utama, mengajarkan kepada para sahabatnya untuk tidak membunuh anak-anak, wanita, orang tua, orang sakit, atau mereka yang tidak ikut berperang. Beliau juga melarang merusak lingkungan, membakar pepohonan, atau menghancurkan rumah ibadah. Etika ini jauh melampaui praktik perang di banyak peradaban lain pada masanya.

Ini menunjukkan bahwa tujuan perang bukanlah kehancuran total, melainkan untuk mengakhiri kedzaliman dan mengembalikan tatanan yang adil. Peperangan adalah cerminan dari prinsip dar’ul mafasid wa jalbul mashalih – menolak kerusakan dan mendatangkan kemaslahatan, bahkan di tengah-tengah situasi yang penuh gejolak.

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: وُجِدَتِ امْرَأَةٌ مَقْتُولَةً فِي بَعْضِ مَغَازِي رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَنَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ قَتْلِ النِّسَاءِ وَالصِّبْيَانِ

Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata: “Seorang wanita ditemukan terbunuh dalam sebagian peperangan Rasulullah ﷺ. Maka Rasulullah ﷺ melarang membunuh wanita dan anak-anak.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Larangan ini bukan sekadar anjuran, melainkan perintah tegas yang menunjukkan betapa tingginya nilai kemanusiaan dalam ajaran Islam.

Misi Damai: Tujuan Akhir dari Setiap Jihad

Sungguh keliru jika kita beranggapan bahwa perang dalam Islam adalah tentang kemenangan mutlak tanpa perdamaian. Justru sebaliknya, perdamaian adalah tujuan akhir yang dicari. Ketika pihak musuh condong kepada perdamaian, Islam memerintahkan kita untuk menyambutnya dengan tangan terbuka. Allah SWT berfirman:

وَإِن جَنَحُوا لِلسَّلْمِ فَاجْنَحْ لَهَا وَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

“Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya dan bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Anfal: 61)

Ayat ini dengan sangat jelas menunjukkan prioritas Islam terhadap perdamaian. Bahkan setelah konflik, upaya untuk membangun kembali jembatan persahabatan dan hidup berdampingan secara damai adalah bagian tak terpisahkan dari ajaran kita. Perang hanyalah alat untuk mencapai keadilan, dan begitu keadilan itu tegak, atau ada peluang perdamaian, maka perang harus diakhiri.

Belajar dari Sirah Nabi: Keteladanan dalam Konflik

Sirah Nabi Muhammad ﷺ adalah bukti nyata bagaimana nilai-nilai ini diterapkan. Perjanjian Hudaibiyah, misalnya, meski terlihat merugikan umat Islam pada awalnya, namun justru membuka jalan bagi dakwah yang lebih luas dan akhirnya membawa pada Fathu Makkah (Pembebasan Mekkah) tanpa pertumpahan darah yang signifikan. Di sana, Rasulullah ﷺ menunjukkan teladan pengampunan dan perdamaian yang tiada tara, bahkan kepada mereka yang pernah memusuhi beliau.

Beliau tidak membalas dendam, melainkan memaafkan, dan menjadikan Mekkah sebagai kota suci yang aman bagi semua. Ini adalah puncak dari misi damai yang dibawa Islam, bahkan di tengah-tengah kemenangan yang gemilang.

Refleksi Diri: Perang Melawan Nafsu

Tak kalah penting, ketika kita berbicara tentang ‘perang’ dalam Islam, kita juga diajak untuk merenungi ‘perang’ yang paling besar, yang paling dekat dengan diri kita: jihad al-nafs, perjuangan melawan hawa nafsu dan bisikan syaitan. Ini adalah medan perang yang tak pernah usai, sebuah pergulatan internal untuk senantiasa berada di jalan kebaikan, kejujuran, kesabaran, dan ketaatan kepada Allah.

Bukankah seringkali sumber konflik eksternal bermula dari konflik internal? Dari keserakahan, iri hati, dan kesombongan yang tak terkendali? Maka, dengan menaklukkan nafsu pribadi, kita sejatinya sedang membangun fondasi perdamaian yang lebih kokoh, baik bagi diri sendiri maupun bagi lingkungan di sekitar kita.

Semua pemahaman tentang keadilan, perdamaian, dan etika berperang ini termaktub dengan indah dalam kalam Ilahi, Al-Qur’an. Namun, untuk benar-benar menyelaminya, dibutuhkan lebih dari sekadar membaca. Kita perlu mengkaji, merenungi, dan menghidupkan nilai-nilai tersebut dalam keseharian. Memahami konteks, asbabun nuzul, dan hikmah di balik setiap ayat adalah kunci untuk mendapatkan pemahaman yang utuh dan tidak parsial.

Maka, marilah kita menata ulang cara berpikir kita. Perang dalam Islam bukanlah seruan untuk agresi, melainkan seruan untuk keadilan, pertahanan diri, dan pada akhirnya, untuk menegakkan perdamaian yang hakiki. Ia adalah sebuah ketentuan yang datang dengan batasan dan etika yang sangat luhur, berorientasi pada kemaslahatan dan keselamatan jiwa. Dengan mendalami Al-Qur’an dan Sirah Nabi, kita akan menemukan bahwa Islam adalah lentera yang menerangi jalan menuju kehidupan yang penuh rahmat, keadilan, dan kedamaian.

Jika hati kita tergerak untuk menyelami lebih dalam samudra hikmah Al-Qur’an, untuk memahami setiap ayat dengan makna yang otentik dan menghidupkannya dalam diri, kami mengajak Bapak/Ibu sekalian untuk bergabung bersama Qur’an Learning Center Yogyakarta. Di sinilah kita bersama-sama akan belajar, merenung, dan bertumbuh dalam naungan Al-Qur’an, menemukan pencerahan yang mengubah pola pikir, menggugah hati, dan membimbing kita menuju kehidupan yang lebih bermakna.

Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta

Informasi dan Pendaftaran kunjungi halaman ini
WhatsApp +6281224003100

Flyer Program Hafal Quran Executive Tahfizh di Yogyakarta
author avatar
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.,