Dalam perjalanan sejarah umat manusia, masa akhir zaman diprediksi akan penuh dengan gesekan dan perselisihan, bahkan di internal umat Islam sendiri. Rasulullah SAW menyebut masa ini sebagai fase di mana fitnah datang silih berganti laksana potongan malam yang gelap. Memahami manajemen konflik akhir zaman berdasarkan hadis menjadi sangat krusial agar kita tidak terjebak dalam pusaran permusuhan yang merugikan. Kita wajib muliakan Al-Quran sebagai standar tertinggi dalam mendamaikan hati yang berselisih.
Prinsip Menahan Diri di Masa Fitnah
Rasulullah SAW memberikan panduan teknis yang sangat mendetail saat terjadi perselisihan besar antar sesama Muslim yang membingungkan. Beliau memerintahkan umatnya untuk lebih banyak menahan diri daripada ikut campur dalam kegaduhan yang tidak jelas ujung pangkalnya. Menghindari tumpahnya darah sesama Muslim adalah prioritas utama. Dalam sebuah hadis, beliau menggambarkan bahwa orang yang duduk lebih baik daripada yang berdiri, dan yang berjalan lebih baik daripada yang berlari menuju fitnah tersebut.
إِنَّ بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ… فَإِذَا نَزَلَتْ أَوْ وَقَعَتْ فَمَنْ كَانَ لَهُ إِبِلٌ فَلْيَلْحَقْ بِإِبِلِهِ وَمَنْ كَانَتْ لَهُ غَنَمٌ فَلْيَلْحَقْ بِغَنَمِهِ
“Sesungguhnya menjelang datangnya hari kiamat akan terjadi fitnah-fitnah seperti potongan malam yang gelap… Maka apabila fitnah itu terjadi, siapa yang memiliki unta hendaklah ia pergi ke untanya, siapa yang memiliki kambing hendaklah ia pergi ke kambingnya…” (HR. Muslim)
Menghindari konflik yang tidak berdasar pada prinsip syariat adalah bentuk kecerdasan spiritual. Untuk membangun kejernihan berpikir ini pada generasi muda, silakan kunjungi Executive Tahfizh pendaftaran tahfizh Al-Quran guna menanamkan nilai-nilai Al-Quran yang mengedepankan persaudaraan dan perdamaian di atas ego kelompok.
Menjaga Lisan dan Jempol dari Fitnah Digital
Di era sekarang, konflik seringkali bermula dari layar digital. Fitnah Duhaima membuat informasi palsu dan provokasi tersebar dengan sangat cepat. Manajemen konflik di zaman ini berarti mampu menguasai lisan dan jempol kita agar tidak menambah bahan bakar pada api perselisihan. Keimanan terhadap hari kiamat serta qada dan qadar mengingatkan kita bahwa setiap kata yang kita ketik akan dimintai pertanggungjawaban. Jika tidak bisa mendamaikan, maka diam adalah emas sesuai dengan wasiat Rasulullah SAW.
Ulama besar Imam An-Nawawi dalam syarahnya menekankan bahwa saat fitnah terjadi, seorang Muslim harus lebih fokus pada perbaikan diri dan ibadah (Uzlah hati) daripada menjadi hakim bagi perselisihan orang lain yang ia tidak ketahui hakikatnya. Sikap tabayyun (klarifikasi) yang diperintahkan Al-Quran harus menjadi protokol tetap sebelum kita bereaksi terhadap berita yang menyudutkan saudara seiman. Jangan sampai penyakit Al-Wahn membuat kita mudah diadu domba oleh pihak luar yang menginginkan kehancuran umat Islam dari dalam.
Kembali kepada Al-Jama’ah dan Ulama Rabbani
Saat terjadi perselisihan yang membingungkan, Sunnah mengarahkan kita untuk tetap bersama Al-Jama’ah (arus utama umat Islam yang lurus) dan mengikuti arahan para ulama rabbani yang memiliki kedalaman ilmu dan ketakwaan. Para ulama ini biasanya bersikap tenang dan tidak reaktif. Mereka menjadikan Al-Quran sebagai navigasi untuk meredam ketegangan, bukan justru memprovokasi masa demi kepentingan sesaat. Kedekatan kita dengan Al-Quran akan memberikan bashirah (mata hati) untuk mengenali mana ajakan yang tulus dan mana yang hanya tipu daya.
Persatuan umat adalah harta yang sangat mahal. Di akhir zaman, musuh-musuh Islam akan menggunakan berbagai cara untuk memecah belah kekuatan kita agar kita menjadi “buih” yang tidak berdaya. Dengan memegang teguh tali Allah dan mengikuti manajemen konflik yang diajarkan Rasulullah, kita berharap dapat terjaga dari fitnah yang menghancurkan. Mari kita perbanyak doa agar Allah menyatukan hati-hati kaum Muslimin dan menjauhkan kita dari segala bentuk perselisihan yang menjauhkan kita dari rida-Nya.
Penutup
Semoga Allah menyatukan hati umat Islam dan melindungi kita dari fitnah yang memecah belah. Ya Allah, jadikanlah kami hamba-hamba-Mu yang bersaudara. Amin.
Referensi:
- An-Nawawi, Yahya bin Syaraf. Al-Minhaj Syarh Sahih Muslim. Juz 18 (Kitab al-Fitan). Beirut: Dar al-Ma’rifah, 1994.
- Ibnu Hajar Al-Asqalani. Fathul Bari Syarh Sahih al-Bukhari. Juz 13. Kairo: Dar al-Hadith, 2001.
- Al-Mubarakfuri, Safiyyurrahman. Ar-Rahiq al-Makhtum. Riyadh: Darussalam, 1996.
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
Qur’an Learning Center Yogyakarta merupakan aset wakaf yang dikelola oleh Baitulmaal Muamalat.
Website: kunjungi halaman ini
WhatsApp: +6281224003100

