Sebuah Keutamaan yang Terlupakan
Di tengah hiruk pikuk dunia yang menuntut kecepatan, ada satu ibadah yang seringkali kita lewati dengan tergesa. Ibadah menatap. Ya, menatap mushaf Al-Qur’an. Kita mungkin bangga dengan hafalan di luar kepala, dengan kelancaran lisan yang meluncurkan ayat demi ayat tanpa jeda. Itu mulia. Sangat mulia.
Tapi tunggu dulu.
Pernahkah kita merenungi bobot sebuah amalan yang terasa begitu sederhana? Amalan membuka kitab suci itu, membiarkan mata kita menyapu barisan kaligrafi ilahi, merasakan tekstur kertasnya, bahkan mencium aromanya yang khas. Sebuah interaksi yang melibatkan lebih dari sekadar ingatan.
Ada sebuah rahasia besar di sana. Sebuah keutamaan yang dahsyat, yang mungkin membuat kita semua tercenung. Rasulullah ﷺ pernah bersabda melalui sebagian sahabatnya, sebuah perbandingan yang menggetarkan jiwa.
«فَضْلُ قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ نَظَرًا عَلَى مَنْ يَقْرَؤُهُ ظَاهِرًا كَفَضْلِ الْفَرِيضَةِ عَلَى النَّافِلَةِ»
“Keutamaan membaca Al-Qur’an dengan melihat (mushaf) atas orang yang membacanya secara hafalan adalah seperti keutamaan amalan fardhu atas amalan sunnah.” (Diriwayatkan oleh Abu ‘Ubaid dalam Fadhail Al-Qur’an)
Fardhu di Atas Sunnah: Sebuah Paradigma Baru
Renungkan sejenak. Fardhu di atas sunnah. Shalat wajib di atas shalat tahajud. Puasa Ramadhan di atas puasa Senin-Kamis. Zakat di atas sedekah.
Analogi ini bukan untuk merendahkan kemuliaan para penghafal Al-Qur’an. Sama sekali bukan. Menghafal Al-Qur’an adalah mahkota kemuliaan. Namun, hadits ini mengajak kita untuk melihat dari sudut pandang yang berbeda, lebih dalam, lebih fundamental.
Mengapa memandang mushaf memiliki bobot seperti amalan fardhu?
Karena di sanalah ibadah berkumpul secara paripurna. Saat Anda membaca sambil melihat mushaf, setidaknya ada tiga ibadah besar yang menyatu dalam satu waktu. Ibadah lisan yang melantunkan. Ibadah telinga yang mendengarkan. Dan ibadah mata yang memandang Kalamullah. Ini adalah sebuah orkestra ibadah. Setiap anggota tubuh bersaksi dan tunduk pada wahyu.
Mata kita, yang setiap hari dipaksa menatap gemerlap dunia yang fana, kini kita ajak untuk beribadah. Menatap sesuatu yang paling layak untuk ditatap. Menatap sumber dari segala cahaya dan petunjuk. Ini adalah hak mata yang sering kita abaikan.
Sahabat mulia Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, seorang pakar Al-Qur’an di kalangan sahabat, memahami betul hakikat ini. Beliau berpesan dengan singkat namun menusuk kalbu.
«أَدِيمُوا النَّظَرَ فِي الْمُصْحَفِ»
“Langengkanlah (rutinkanlah) oleh kalian memandang mushaf.” (Diriwayatkan oleh Abu ‘Ubaid dalam Fadhail Al-Qur’an)
Perhatikan kata “adîmû”. Langgengkan. Rutinkan. Jadikan kebiasaan. Ini bukan anjuran sesekali, tapi sebuah ajakan untuk menjadikan mushaf sebagai sahabat pandangan kita sehari-hari.
Bukan Persaingan, Tapi Sinergi
Lalu, apakah ini berarti hafalan tidak lagi penting? Tentu tidak. Ini bukan tentang persaingan, tapi tentang sinergi yang sempurna.
Bagi seorang penghafal Al-Qur’an, kembali menatap mushaf adalah proses *recharge* dan *re-calibrate*. Ia menguatkan kembali visualisasi ayat dalam benak. Ia memastikan ketepatan setiap huruf dan harakat, menutup celah-celah kesalahan yang mungkin timbul karena hafalan semata. Ia adalah bentuk kerendahan hati, mengakui bahwa ingatan manusia terbatas dan kita selalu butuh untuk kembali merujuk pada sumber aslinya yang terjaga.
Dan bagi kita yang belum menjadi penghafal, hadits ini adalah kabar gembira yang luar biasa. Jangan pernah merasa kecil hati. Jangan pernah merasa amalan Anda remeh. Setiap kali Anda membuka mushaf, bahkan jika hanya untuk membaca satu ayat dengan terbata-bata, ketahuilah bahwa Anda sedang melakukan sebuah ibadah agung. Ibadah yang bobotnya disamakan dengan amalan fardhu.
Allah menegaskan bahwa Al-Qur’an itu sendiri adalah inti dari petunjuk dan penyembuh.
قُلْ هُوَ لِلَّذِينَ آمَنُوا هُدًى وَشِفَاءٌ
“Katakanlah, ‘Al-Qur’an adalah petunjuk dan penyembuh bagi orang-orang yang beriman.'” (QS. Fussilat: 44)
Interaksi apa pun dengannya—termasuk memandangnya—adalah proses menyerap petunjuk dan mengundang kesembuhan bagi jiwa yang lelah.
Mulai dari Sekarang, Ciptakan Momen Itu
Maka, jangan lagi tunda. Sediakan satu waktu khusus setiap hari. Bukan untuk mengejar target juz, bukan untuk melancarkan hafalan. Tapi satu waktu khusus untuk “memandang mushaf”.
Letakkan gawai Anda. Jauhkan dari segala distraksi. Duduklah dengan tenang. Bukalah mushaf itu perlahan. Biarkan mata Anda berjalan di atas barisan ayat-ayat cinta dari-Nya. Rasakan setiap lekuk hurufnya. Biarkan cahaya dari Kalam-Nya masuk melalui mata, meresap ke dalam hati, dan menerangi seluruh jiwa Anda.
Jadikan mushaf bukan sekadar buku di rak, tapi sahabat pandangan yang meneduhkan. Karena dalam pandangan itu, ada pahala setingkat fardhu yang menanti. Dalam pandangan itu, ada ketenangan yang tak akan pernah kita temukan di layar mana pun di dunia ini.
Lihatlah. Rasakan. Dan biarkan keajaiban itu terjadi.
Daftar Referensi
- الكتاب: فضائل القرآن للقاسم بن سلام
المؤلف: أبو عُبيد القاسم بن سلاّم بن عبد الله الهروي البغدادي (ت ٢٢٤ هـ)
تحقيق: مروان العطية [ت ١٤٤٤ هـ]- محسن خرابة [ت ١٤٤٠ هـ]- وفاء تقي الدين [توفيتْ ١٤٢٨ هـ]
الناشر: دار ابن كثير (دمشق – بيروت)
الطبعة: الأولى، ١٤١٥ هـ -١٩٩٥ م
[ترقيم الكتاب موافق للمطبوع]
عدد الصفحات: ٤٠١
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Informasi Executive Tahfizh:
Website: executivetahfizh.com
WA: +6281224003100


