Ketenangan yang menyelimuti jiwa, kedamaian yang meresap ke dalam sanubari, dan getaran iman yang mengalir deras, semua itu adalah anugerah tak ternilai saat kita menyimak lantunan ayat suci Al-Quran. Namun, pernahkah kita merenung, bagaimana Rasulullah ﷺ mengajarkan kepada kita untuk menghadirkan Al-Quran tidak hanya sebagai bacaan, melainkan sebuah simfoni yang menggetarkan? Mari kita selami lebih dalam tentang keutamaan melantunkan Al-Quran merdu dan bertarji’, sebuah sunnah yang kerap terabaikan, padahal memiliki kekuatan luar biasa dalam mengukir spiritualitas.
Kisah ini datang dari Abu Ubaid dalam kitabnya “Fadhailul Quran”, melalui jalur periwayatan yang kokoh. Abu Nadhr menceritakan dari Syu’bah, yang kemudian dikisahkan oleh Mu’awiyah bin Qurrah, bahwa beliau mendengar sahabat mulia Abdullah bin Mughaffal Radhiyallahu ‘anhu, berkata:
قَالَ أَبُو عُبَيْدٍ حَدَّثَنَا أَبُو النَّضْرِ، عَنْ شُعْبَةَ، قَالَ: حَدَّثَنِي مُعَاوِيَةُ بْنُ قُرَّةَ، قَالَ: سَمِعْتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ مُغَفَّلٍ، يَقُولُ: رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ الْفَتْحِ عَلَى نَاقَتِهِ أَوْ جَمَلِهِ يَسِيرُ وَهُوَ يَقْرَأُ سُورَةَ الْفَتْحِ أَوْ مِنْ سُورَةِ الْفَتْحِ. ثُمَّ قَرَأَ مُعَاوِيَةُ قِرَاءَةً لِينَةً وَرَجَّعَ، ثُمَّ قَالَ: لَوْلَا أَنِّي أَخْشَى أَنْ يَجْتَمِعَ النَّاسُ عَلَيْنَا لَقَرَأْتُ ذَلِكَ اللَّحْنِ
Terjemah:
Abu Ubaid berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Nadhr, dari Syu’bah, ia berkata: Telah menceritakan kepadaku Mu’awiyah bin Qurrah, ia berkata: Aku mendengar Abdullah bin Mughaffal berkata: Aku melihat Rasulullah ﷺ pada Hari Penaklukan (Makkah) di atas untanya atau kendaraannya berjalan seraya membaca Surah Al-Fath atau sebagian dari Surah Al-Fath. Kemudian Mu’awiyah membaca dengan bacaan yang lembut dan bergelombang (bertarji’), lalu ia berkata: “Seandainya aku tidak khawatir orang-orang akan berkumpul mengerumuni kami, niscaya aku akan membaca dengan lagu itu.”
Teladan Nabi SAW: Lantunan Surah Al-Fath yang Menggetarkan
Bayangkan sejenak, di tengah riuhnya kemenangan Fathu Makkah, Rasulullah ﷺ, sang pemimpin agung, tidak larut dalam euforia duniawi semata. Beliau tetap istiqamah, bahkan di atas unta tunggangannya, melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran, khususnya Surah Al-Fath. Ini adalah pemandangan yang tak hanya menyiratkan ketawadhuan dan kedekatan beliau dengan kalamullah, tetapi juga sebuah isyarat mendalam tentang bagaimana seharusnya kita memperlakukan Al-Quran dalam setiap aspek kehidupan kita. Keadaan beliau yang sedang berkendara saat itu menegaskan bahwa membaca Al-Quran bukanlah aktivitas yang dibatasi oleh ruang dan waktu, melainkan sebuah ibadah yang dapat menghiasi setiap detik perjalanan hidup seorang mukmin.
Yang lebih menakjubkan lagi adalah cara beliau membaca. Meskipun hadits ini tidak secara eksplisit menggambarkan ‘irama’ bacaan Nabi, namun perawi, Mu’awiyah bin Qurrah, mengilustrasikannya dengan ‘qira’atan layyinatan wa rajja’a’ – bacaan yang lembut dan bergelombang, atau bertarji’. Ini bukan sekadar membaca, melainkan melantunkan dengan keindahan, memberikan penekanan pada setiap huruf dan makna, sehingga terasa meresap hingga ke lubuk hati. ‘Tarji” di sini mengacu pada pengulangan suara dengan gelombang yang indah, sebagaimana gema suara saat dibaca dengan syahdu. Inilah esensi dari keutamaan melantunkan Al-Quran merdu dan bertarji’ yang diajarkan oleh Rasulullah ﷺ secara tidak langsung melalui praktik beliau dan penjelasan para sahabat.
Mengapa Kita Perlu Menekuni Keutamaan Melantunkan Al-Quran Merdu dan Bertarji’?
Lantunan Al-Quran yang indah memiliki kekuatan magis. Ia bukan hanya sekadar deretan kata, tetapi energi positif yang memancar, menenangkan jiwa yang gelisah, dan membangkitkan semangat yang redup. Ketika kita membaca Al-Quran dengan suara yang merdu dan bertarji’, kita sejatinya sedang mengoptimalkan potensi firman ilahi untuk menyentuh hati, baik hati kita sendiri maupun hati para pendengar. Allah SWT sendiri berfirman dalam Al-Quran:
أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا
Terjemah:
“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Quran ataukah hati mereka terkunci?” (Q.S. Muhammad: 24)
Ayat ini mengajak kita untuk merenungkan, mentadabburi Al-Quran. Salah satu pintu gerbang tadabbur yang paling efektif adalah melalui indahnya lantunan. Suara yang merdu, irama yang tepat, dan bacaan yang bertarji’ akan membantu membuka ‘kunci hati’ sehingga pesan-pesan Al-Quran dapat masuk dengan lebih dalam dan menginspirasi perubahan nyata dalam diri. Selain itu, Rasulullah ﷺ juga bersabda:
زَيِّنُوا الْقُرْآنَ بِأَصْوَاتِكُمْ
Terjemah:
“Hiasilah Al-Qur’an dengan suaramu.” (H.R. Abu Dawud)
Hadits ini secara lugas memerintahkan kita untuk memperindah Al-Quran dengan suara kita. Ini bukan sekadar anjuran, melainkan sebuah tuntunan agar kita berupaya keras melatih suara dan bacaan sehingga Al-Quran yang kita lantunkan menjadi lebih indah dan syahdu. Keindahan suara saat membaca Al-Quran bukan untuk riya’ atau pamer, melainkan untuk mengagungkan kalamullah dan membantu diri sendiri serta orang lain mencapai kekhusyukan. Inilah salah satu wujud nyata dari keutamaan melantunkan Al-Quran merdu dan bertarji’.
Menghidupkan Tradisi Indah: Jalan Menuju Hati yang Tenang
Memperindah bacaan Al-Quran dengan suara yang merdu dan bertarji’ bukan hanya impian, melainkan sebuah perjalanan yang dapat kita tempuh. Langkah pertama dan terpenting adalah menguasai dasar-dasar tajwid dan makharijul huruf. Keduanya adalah pondasi yang tak boleh diabaikan. Ibarat membangun sebuah istana, fondasi yang kokoh adalah mutlak diperlukan. Tanpa tajwid yang benar, keindahan suara justru bisa merusak makna ayat. Oleh karena itu, belajarlah kepada guru yang kompeten, luangkan waktu untuk memahami setiap kaidah.
Setelah dasar-dasar tajwid kuat, kita bisa mulai melatih kelenturan suara. Latihan vokal sederhana, seperti mengatur napas, melatih resonansi, dan mencoba berbagai nada, dapat membantu melunakkan dan memperindah suara kita. Ini bukan berarti kita harus menjadi qari’ internasional, melainkan cukup agar lantunan kita enak didengar, syahdu, dan dapat menyentuh hati. Cobalah untuk merekam bacaan kita sendiri, dengarkan, dan identifikasi di mana letak peningkatan yang bisa dilakukan. Memilih waktu yang tenang, seperti setelah shalat malam atau menjelang Subuh, juga dapat mendukung proses ini, karena pada waktu-waktu tersebut hati lebih jernih dan fokus lebih terarah.
Membangun Karakter Mulia melalui Keutamaan Melantunkan Al-Quran Merdu dan Bertarji’
Al-Quran adalah pedoman hidup, sumber segala kebaikan dan akhlak mulia. Ketika kita tekun mempelajari dan melantunkannya dengan indah, secara tidak langsung kita sedang membentuk karakter kita menjadi lebih baik. Setiap huruf yang terucap, setiap makna yang direnungkan, adalah nutrisi bagi jiwa. Proses memperbaiki bacaan, melatih kesabaran, dan terus berusaha menyempurnakan kualitas lantunan, semua itu adalah latihan spiritual yang membentuk pribadi yang gigih, tawadhu’, dan penuh rasa syukur.
Keutamaan melantunkan Al-Quran merdu dan bertarji’ mengajarkan kita tentang kesungguhan dalam beribadah. Ia menuntut kita untuk memberikan yang terbaik bagi kalamullah, bukan sekadar asal membaca. Dengan demikian, Al-Quran bukan lagi hanya sebuah kitab yang dibaca, melainkan sebuah mahakarya yang kita hidupkan dengan suara dan jiwa kita. Ia menjadi cahaya yang menerangi setiap langkah, penawar bagi hati yang gundah, dan penuntun menuju keridaan Ilahi.
Marilah kita terus berupaya menghidupkan sunnah yang agung ini. Jangan biarkan Al-Quran hanya menjadi pajangan di rak buku atau dibaca tanpa penghayatan. Jadikanlah ia teman sejati yang selalu kita lantunkan dengan penuh cinta, dengan suara yang indah, dan dengan lantunan yang bertarji’, sebagaimana teladan dari Rasulullah ﷺ dan para sahabat. Semoga setiap lantunan kita menjadi saksi di akhirat kelak, dan menjadi sebab turunnya rahmat serta keberkahan dalam hidup kita.
—-
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta
Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
kunjungi halaman ini
WhatsApp +6281224003100

Daftar Referensi
- Kitab Fadhailul Quran oleh Abu Ubaid, Bab: Ma Yustahabbu Lilqaari’ Min Tahsinil Qur’an wa Tazyinihi Bisautihi, halaman 159.
- Al-Quran Surah Muhammad ayat 24.
- Hadits Riwayat Abu Dawud, dari Bara’ bin Azib, No. 1468.
