Bismillah, Alhamdulillah. Puji syukur kehadirat Allah SWT atas kelahiran Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, sosok mulia yang menjadi penutup para nabi (khatamun nabiyyin) sekaligus pembawa risalah terakhir bagi seluruh umat manusia. Peringatan Maulid Nabi bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan momentum untuk merenungi kembali kedudukan agung Rasulullah SAW dan warisan terbesar yang beliau tinggalkan, yaitu Al-Quran.

Artikel ini akan mengupas tuntas makna Maulid Nabi Muhammad SAW, kedudukan beliau di antara para nabi dan rasul, dalil-dalil yang menegaskan status beliau sebagai nabi terakhir, keutamaan wahyu Al-Quran, hingga hikmah yang dapat diambil umat Islam masa kini—khususnya bagi keluarga yang ingin menanamkan kecintaan pada Al-Quran sejak dini melalui pendidikan tahfizh.

Apa Itu Maulid Nabi Muhammad SAW?

Maulid Nabi adalah peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW yang jatuh pada 12 Rabiul Awal menurut sebagian riwayat. Di Indonesia, peringatan ini identik dengan kegiatan pembacaan shalawat, kisah perjalanan hidup (sirah) Rasulullah SAW, ceramah agama, hingga santunan kepada anak yatim dan kaum dhuafa.

Secara substansi, tujuan utama Maulid Nabi adalah menumbuhkan kecintaan (mahabbah) kepada Rasulullah SAW, meneladani akhlak beliau, serta memperkuat pemahaman umat terhadap ajaran yang beliau bawa. Kecintaan kepada Nabi bukan hanya diungkapkan lewat lisan, tetapi dibuktikan dengan mengikuti sunnah dan mempelajari Al-Quran yang beliau wariskan.

Sejarah Singkat Kelahiran Nabi Muhammad SAW

Nabi Muhammad SAW lahir di Kota Mekah pada tahun yang dikenal dengan sebutan Tahun Gajah, bertepatan dengan peristiwa penyerangan pasukan bergajah pimpinan Raja Abrahah yang hendak menghancurkan Ka’bah namun digagalkan oleh Allah SWT melalui burung Ababil, sebagaimana diabadikan dalam Surah Al-Fil. Beliau lahir dalam keadaan yatim karena ayahnya, Abdullah bin Abdul Muthalib, wafat ketika beliau masih dalam kandungan ibunya, Aminah binti Wahab.

Sejak kecil, Rasulullah SAW telah dipersiapkan Allah SWT dengan kepribadian yang jujur dan terpercaya, sehingga masyarakat Quraisy menjulukinya Al-Amin. Pada usia 40 tahun, beliau menerima wahyu pertama di Gua Hira berupa lima ayat pertama Surah Al-‘Alaq, yang menjadi awal mula turunnya risalah kenabian sekaligus penanda dimulainya periode penurunan Al-Quran secara bertahap selama kurang lebih 23 tahun hingga akhir hayat beliau.

Perjalanan hidup Rasulullah SAW dari masa kecil, kenabian, hijrah ke Madinah, hingga wafatnya penuh dengan teladan yang relevan bagi kehidupan umat Islam di setiap zaman. Oleh karena itu, mengkaji sirah nabawiyah menjadi bagian penting dalam memperingati Maulid Nabi, agar umat tidak hanya mengenang kelahirannya secara seremonial, tetapi juga memahami perjuangan dan nilai-nilai yang beliau ajarkan.

Nabi Muhammad SAW dalam Rangkaian Para Nabi dan Rasul

Dalam akidah Islam, jumlah nabi yang diutus Allah SWT sangat banyak. Menurut sebagian riwayat hadits, disebutkan terdapat 124.000 nabi dan 313 di antaranya berkedudukan sebagai rasul. Dari jumlah tersebut, terdapat 25 nabi dan rasul yang wajib diketahui dan diimani oleh setiap muslim, termasuk lima rasul yang bergelar Ulul Azmi karena kesabaran luar biasa dalam menyampaikan risalah, yaitu Nabi Nuh, Nabi Ibrahim, Nabi Musa, Nabi Isa, dan Nabi Muhammad SAW.

Seluruh nabi dan rasul tersebut membawa misi yang sama, yaitu mengajak umat manusia kepada tauhid dan penyerahan diri kepada Allah SWT (Islam dalam makna generik). Allah SWT berfirman dalam Surah Ali ‘Imran ayat 84:

قُلْ اٰمَنَّا بِاللّٰهِ وَمَآ اُنْزِلَ عَلَيْنَا وَمَآ اُنْزِلَ عَلٰٓى اِبْرٰهِيْمَ وَاِسْمٰعِيْلَ وَاِسْحٰقَ وَيَعْقُوْبَ وَالْاَسْبَاطِ وَمَآ اُوْتِيَ مُوْسٰى وَعِيْسٰى وَالنَّبِيُّوْنَ مِنْ رَّبِّهِمْۖ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ اَحَدٍ مِّنْهُمْۖ وَنَحْنُ لَهٗ مُسْلِمُوْنَ

Artinya: “Katakanlah (Nabi Muhammad), ‘Kami beriman kepada Allah dan pada apa yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya’qub beserta anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa, Isa, serta para nabi dari Tuhan mereka. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka dan hanya kepada-Nya kami berserah diri (Muslimun).'” (QS. Ali ‘Imran: 84)

Ayat ini menegaskan bahwa iman seorang muslim mencakup keimanan kepada seluruh nabi tanpa membeda-bedakan, sekaligus menunjukkan bahwa risalah Islam adalah kesinambungan wahyu Allah SWT sejak Nabi Adam AS hingga Nabi Muhammad SAW.

Dalil Nabi Muhammad SAW sebagai Nabi dan Rasul Terakhir

Salah satu keyakinan pokok dalam akidah Islam adalah bahwa Nabi Muhammad SAW merupakan penutup para nabi. Tidak ada lagi nabi maupun rasul yang akan diutus setelah beliau hingga hari kiamat. Keyakinan ini disebut dengan istilah khatamun nabiyyin, dan dalilnya termaktub secara eksplisit dalam Al-Quran Surah Al-Ahzab ayat 40:

مَا كَانَ مُحَمَّدٌ اَبَآ اَحَدٍ مِّنْ رِّجَالِكُمْ وَلٰكِنْ رَّسُوْلَ اللّٰهِ وَخَاتَمَ النَّبِيّٖنَۗ وَكَانَ اللّٰهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمًا

Artinya: “Muhammad itu bukanlah ayah salah seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah utusan Allah dan penutup para nabi. Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al-Ahzab: 40)

Ayat ini menjadi landasan utama akidah bahwa risalah kenabian telah paripurna dengan diutusnya Nabi Muhammad SAW. Penegasan ini juga diperkuat oleh sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Muslim, di mana beliau menggambarkan kedudukan dirinya di antara para nabi terdahulu bagaikan batu bata terakhir yang menyempurnakan bangunan indah para nabi sebelumnya, sehingga bangunan risalah kenabian menjadi sempurna dengan kehadiran beliau.

Selain itu, Allah SWT juga menegaskan kesempurnaan agama Islam pada masa Nabi Muhammad SAW dalam Surah Al-Ma’idah ayat 3, yang secara makna menyatakan bahwa pada hari itu Allah telah menyempurnakan agama, mencukupkan nikmat, dan meridai Islam sebagai agama bagi umat manusia. Kesempurnaan agama ini selaras dengan berakhirnya risalah kenabian pada diri Rasulullah SAW, karena tidak ada lagi syariat baru yang akan diturunkan setelahnya.

Konsekuensi dari akidah ini adalah setiap klaim kenabian yang muncul setelah Nabi Muhammad SAW wafat merupakan kesesatan yang harus ditolak oleh umat Islam, sebagaimana telah disepakati oleh para ulama sepanjang sejarah Islam.

Keutamaan Wahyu Al-Quran sebagai Mukjizat Abadi

Selain diutus sebagai nabi terakhir, Nabi Muhammad SAW juga menerima mukjizat terbesar berupa Al-Quran, yaitu firman Allah SWT yang diwahyukan secara berangsur-angsur melalui perantaraan Malaikat Jibril selama kurang lebih 23 tahun. Berbeda dengan mukjizat para nabi terdahulu yang bersifat kejadian sesaat, Al-Quran adalah mukjizat yang kekal dan dapat disaksikan oleh seluruh generasi manusia hingga akhir zaman.

Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 2:

ذٰلِكَ الْكِتٰبُ لَا رَيْبَ ۛ فِيْهِ ۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِيْنَۙ

Artinya: “Kitab (Al-Quran) ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 2)

Ayat ini menegaskan bahwa Al-Quran adalah pedoman hidup yang autentik, bebas dari keraguan, dan menjadi petunjuk bagi siapa saja yang menghendaki keselamatan dunia dan akhirat. Keautentikan Al-Quran juga dijamin langsung oleh Allah SWT dalam Surah Al-Hijr ayat 9:

اِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَاِنَّا لَهٗ لَحٰفِظُوْنَ

Artinya: “Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Quran dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (QS. Al-Hijr: 9)

Jaminan Allah SWT ini terbukti sepanjang sejarah, di mana Al-Quran tetap terjaga keasliannya baik dari sisi teks (mushaf) maupun hafalan (hifzhul Quran) yang diwariskan secara mutawatir dari generasi ke generasi. Fenomena jutaan penghafal Al-Quran di seluruh dunia, termasuk di Indonesia, adalah bukti nyata dari pemeliharaan Allah SWT terhadap kitab suci-Nya.

Peristiwa turunnya Al-Quran juga diperingati sebagai malam yang penuh kemuliaan, sebagaimana disebutkan dalam Surah Al-Qadr ayat 1, bahwa Allah SWT menurunkan Al-Quran pada malam kemuliaan (Lailatul Qadr), sebuah malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan. Hal ini menunjukkan betapa agungnya kedudukan Al-Quran di sisi Allah SWT.

Al-Quran sebagai Warisan Para Nabi

Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa para ulama adalah pewaris para nabi, dan warisan yang ditinggalkan para nabi bukanlah harta benda melainkan ilmu. Dalam konteks ini, mempelajari dan menghafal Al-Quran merupakan bentuk nyata dari mewarisi ilmu para nabi, karena Al-Quran adalah inti dari seluruh ajaran yang dibawa oleh Rasulullah SAW.

Sebagaimana disampaikan dalam hadits riwayat Imam Bukhari, sebaik-baik manusia adalah mereka yang mempelajari Al-Quran dan mengajarkannya kepada orang lain. Pernyataan ini menegaskan kedudukan istimewa bagi siapa saja yang menekuni jalan tahfizh dan tahsin Al-Quran, baik sebagai penghafal, pengajar, maupun orang tua yang mendidik anaknya untuk dekat dengan Al-Quran.

Momentum Maulid Nabi menjadi waktu yang tepat untuk merefleksikan kembali seberapa dekat diri kita dan keluarga dengan Al-Quran. Kecintaan kepada Rasulullah SAW semestinya berbanding lurus dengan kecintaan kepada Al-Quran, sebab keduanya tidak dapat dipisahkan. Mencintai Nabi tanpa mengamalkan dan mempelajari Al-Quran adalah kecintaan yang belum utuh.

Rasulullah SAW juga bersabda dalam hadits lain yang diriwayatkan Imam Muslim, bahwa orang yang mahir membaca Al-Quran kelak akan bersama para malaikat yang mulia lagi taat, sedangkan orang yang membaca Al-Quran dengan terbata-bata dan bersungguh-sungguh mempelajarinya tetap mendapatkan dua pahala. Hadits ini menunjukkan bahwa Islam sangat menghargai proses belajar Al-Quran, tidak hanya hasil akhirnya, sehingga siapa pun tidak perlu merasa terlambat untuk mulai mendekatkan diri kepada kitab suci ini.

Di sinilah pentingnya lembaga pendidikan yang fokus membina generasi penghafal Al-Quran, sebab keberadaannya menjadi sarana nyata untuk melestarikan warisan Rasulullah SAW dari generasi ke generasi. Anak-anak yang dibina sejak dini untuk mencintai Al-Quran akan tumbuh menjadi pribadi yang tidak hanya kuat hafalannya, tetapi juga kokoh akhlak dan keimanannya, sebagaimana yang dicontohkan langsung oleh Rasulullah SAW semasa hidupnya.

Cara Merayakan Maulid Nabi Sesuai Tuntunan

Peringatan Maulid Nabi hendaknya diisi dengan kegiatan yang bermanfaat dan sejalan dengan semangat mencintai Rasulullah SAW, di antaranya:

  1. Memperbanyak shalawat kepada Nabi Muhammad SAW sebagai bentuk penghormatan dan doa.
  2. Mengkaji sirah nabawiyah untuk memahami perjalanan hidup, akhlak, dan perjuangan Rasulullah SAW dalam menyampaikan risalah Islam.
  3. Mempelajari dan menghafal Al-Quran sebagai warisan utama yang beliau tinggalkan untuk umatnya.
  4. Meneladani akhlak Rasulullah SAW dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam berinteraksi dengan keluarga, tetangga, maupun masyarakat.
  5. Berbagi kepada sesama, seperti memberi santunan kepada anak yatim dan kaum dhuafa, sebagaimana kepedulian sosial yang dicontohkan Rasulullah SAW.

Hikmah Maulid Nabi bagi Pendidikan Generasi Qurani

Bagi orang tua dan pendidik, momentum Maulid Nabi dapat dijadikan sarana untuk menanamkan kecintaan anak-anak terhadap Al-Quran sejak usia dini. Mengenalkan kisah kelahiran dan kepribadian Rasulullah SAW kepada anak dapat menjadi jembatan untuk menumbuhkan semangat mereka dalam menghafal dan memahami Al-Quran.

Pendidikan tahfizh yang dibangun di atas kecintaan kepada Rasulullah SAW akan melahirkan generasi yang tidak hanya hafal secara lisan, tetapi juga memahami dan mengamalkan kandungan Al-Quran dalam kehidupan sehari-hari. Inilah esensi menjadi pewaris para nabi yang sesungguhnya, yaitu menjaga, mempelajari, dan mengamalkan Al-Quran sebagai pedoman hidup.

Pertanyaan Seputar Maulid Nabi Muhammad SAW

Mengapa Nabi Muhammad SAW disebut sebagai nabi terakhir? Karena Allah SWT secara tegas menyebut beliau sebagai khatamun nabiyyin (penutup para nabi) dalam Surah Al-Ahzab ayat 40. Tidak ada nabi maupun rasul yang diutus setelah beliau hingga hari kiamat.

Apa bukti bahwa Al-Quran adalah wahyu yang terjaga keasliannya? Allah SWT menjamin langsung pemeliharaan Al-Quran dalam Surah Al-Hijr ayat 9. Jaminan ini terbukti melalui tradisi hafalan Al-Quran (tahfizh) yang diwariskan secara mutawatir dan konsisten dari generasi ke generasi hingga saat ini.

Apa hubungan antara mencintai Nabi Muhammad SAW dan mempelajari Al-Quran? Al-Quran adalah warisan utama yang ditinggalkan Rasulullah SAW bagi umatnya. Kecintaan kepada beliau semestinya diwujudkan dengan mendekatkan diri kepada Al-Quran, baik melalui membaca, memahami, maupun menghafalkannya.

Bagaimana cara terbaik memperingati Maulid Nabi bagi keluarga muslim? Selain memperbanyak shalawat dan mengkaji sirah nabawiyah, keluarga dapat menjadikan momentum ini untuk menumbuhkan semangat anak-anak dalam belajar dan menghafal Al-Quran sebagai bentuk nyata mewarisi ilmu para nabi.

Penutup

Maulid Nabi Muhammad SAW adalah momentum untuk mengenang kembali kelahiran manusia paling mulia, penutup para nabi, dan pembawa mukjizat abadi berupa Al-Quran. Dalil-dalil dalam Al-Quran dan hadits secara jelas menegaskan kedudukan Nabi Muhammad SAW sebagai khatamun nabiyyin sekaligus penerima wahyu terakhir yang dijaga keasliannya oleh Allah SWT hingga akhir zaman.

Sebagai umat yang mencintai Rasulullah SAW, sudah sepatutnya kecintaan tersebut diwujudkan dengan mendekatkan diri dan keluarga kepada Al-Quran, baik melalui pembacaan, pemahaman, maupun hafalan. Semoga peringatan Maulid Nabi tahun ini menjadi momentum kebangkitan semangat Qurani bagi kita dan generasi penerus.

Wallahu a’lam bishawab.

author avatar
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.,Kepala QLC Yogyakarta
Tokoh pendidikan Al-Qur'an di Indonesia yang dikenal sebagai Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an (dikembangkan sejak 2007). Ia merupakan pelopor gerakan akselerasi karantina tahfizh tingkat nasional yang telah berkiprah sejak 2014. Saat ini, beliau mengaplikasikan pengalamannya sebagai Pengasuh di Executive Tahfizh QLC-BMM Yogyakarta (mulai 2025) yang menjadi destinasi para penghafal dari dalam dan luar negeri