Dalam bentangan sejarah kemanusiaan, terkadang kita dihadapkan pada kejadian-kejadian yang melampaui nalar, menerabas batas-batas yang kita pahami tentang ‘kemungkinan’. Di sanalah, seringkali, kita menemukan tangan-tangan Ilahi yang bekerja, menyingkap tabir keagungan-Nya. Kisah Sayyidah Maryam dan putranya, Nabi Isa alaihis salam, adalah salah satu lukisan agung dari kanvas takdir yang demikian. Sebuah narasi yang bukan hanya menakjubkan, namun juga menjadi fondasi kokoh dalam meneguhkan keyakinan kita akan keesaan dan kemahakuasaan Sang Pencipta.

Mari sejenak, kita menyelami kembali lembaran-lembaran suci ini, bukan sekadar untuk membaca sebuah cerita, melainkan untuk merenungkan pesan yang terkandung di dalamnya; pesan yang akan mengubah cara kita memandang kekuatan Allah, dan betapa hakikat tauhid itu merangkul setiap inci kejadian di alam semesta.

Keagungan Maryam: Wanita Pilihan Allah

Sebelum kita sampai pada mukjizat kelahiran Isa, ada baiknya kita menelisik siapa gerangan Maryam, sosok wanita yang Allah pilih untuk mengemban amanah yang begitu besar. Maryam adalah putri Imran, seorang yang saleh, dan ibunya bernazar untuk menyerahkan kelak putranya ke Baitul Maqdis untuk berkhidmat kepada Allah. Namun, takdir berkata lain, yang lahir adalah seorang putri. Meskipun demikian, Allah menerima nazar sang ibu dengan penerimaan yang terbaik.

Ketika istri Imran berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku bernazar kepada Engkau anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat (di Baitul Maqdis). Karena itu terimalah (nazar itu) daripadaku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

Maka tatkala melahirkannya, dia pun berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah melahirkan seorang anak perempuan; —padahal Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu— dan anak laki-laki tidaklah sama dengan anak perempuan. Sesungguhnya aku telah menamai dia Maryam dan aku mohon perlindungan untuknya serta keturunannya kepada (pemeliharaan) Engkau daripada setan yang terkutuk.”

Maka Tuhannya menerimanya (sebagai nazar) dengan penerimaan yang baik, membesarkannya dengan pertumbuhan yang baik dan menyerahkan pemeliharaannya kepada Zakariya. Setiap kali Zakariya masuk untuk menemui Maryam di mihrab, ia dapati makanan di sisinya. Zakariya berkata: “Hai Maryam dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?” Maryam menjawab: “Makanan itu dari sisi Allah.” Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab.

(QS. Ali ‘Imran [3]: 35-37)

Maryam tumbuh dalam kesucian dan ketulusan, di bawah asuhan Nabi Zakariya alaihis salam. Ia adalah wanita yang taat beribadah, menjaga kehormatan, dan senantiasa mendekatkan diri kepada Allah. Kehidupannya yang penuh ibadah dan keistiqomahan menjadikannya wanita pilihan, yang Allah muliakan di atas wanita-wanita lain di zamannya.

Ujian Berat: Kehamilan Tanpa Suami

Puncak dari keagungan Maryam sekaligus ujian terberatnya adalah ketika Allah mengabarkan akan menganugerahinya seorang putra, tanpa sentuhan seorang laki-laki. Ini adalah sebuah peristiwa yang sama sekali di luar nalar manusia, sebuah mukjizat yang hanya bisa terjadi atas kehendak Allah semata. Malaikat Jibril mendatangi Maryam, mengabarkan berita agung ini.

Dan ceritakanlah (kisah) Maryam di dalam Al-Qur’an, yaitu ketika ia menjauhkan diri dari keluarganya ke suatu tempat di sebelah timur,

maka ia mengadakan tabir (yang melindunginya) dari mereka; lalu Kami mengutus roh Kami kepadanya, maka ia menjelma di hadapannya (dalam bentuk) manusia yang sempurna.

Maryam berkata: “Sesungguhnya aku berlindung dari padamu kepada Tuhan Yang Maha Pemurah, jika kamu seorang yang bertakwa.”

Ia (Jibril) berkata: “Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang utusan Tuhanmu, untuk memberimu seorang anak laki-laki yang suci.”

Maryam berkata: “Bagaimana akan ada bagiku seorang anak laki-laki, sedang tidak pernah seorang manusia pun menyentuhku dan aku bukan (pula) seorang pezina!”

Ia (Jibril) berkata: “Demikianlah. Tuhanmu berfirman: ‘Hal itu adalah mudah bagi-Ku; dan agar Kami menjadikannya suatu tanda bagi manusia dan sebagai rahmat dari Kami; dan hal itu adalah suatu perkara yang sudah diputuskan.’”

(QS. Maryam [19]: 16-21)

Bisa kita bayangkan betapa beratnya ujian ini bagi Maryam. Seorang wanita suci yang mendadak hamil tanpa suami, tentu akan menghadapi cemoohan dan tuduhan dari masyarakat. Namun, Maryam menerima takdir ini dengan ketabahan luar biasa, berserah diri sepenuhnya kepada kehendak Allah. Inilah titik balik yang menegaskan betapa iman yang kuat mampu menghadapi segala rintangan logika.

Kelahiran Isa: Bukti Kuasa Ilahi yang Nyata

Akhirnya, tibalah saatnya Maryam melahirkan putranya. Dalam kesendirian, di bawah pohon kurma, ia merasakan sakitnya persalinan dan kepedihan batin akibat tuduhan yang mungkin menimpanya. Namun, Allah tidak membiarkannya sendiri. Ia memberinya kekuatan dan kemudahan.

Maka Maryam mengandungnya, lalu ia menyisihkan diri dengan kandungannya itu ke tempat yang jauh.

Maka rasa sakit akan melahirkan anak memaksa ia (bersandar) pada pangkal pohon kurma, ia berkata: “Aduhai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi barang yang tidak berarti, lagi dilupakan.”

Maka Jibril menyerunya dari tempat yang rendah: “Janganlah kamu bersedih hati, sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu.

Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu.

Maka makan, minum dan bersenang hatilah kamu. Jika kamu melihat seorang manusia, maka katakanlah: ‘Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusia pun pada hari ini.’”

(QS. Maryam [19]: 22-26)

Kemudian, mukjizat berikutnya terjadi. Ketika Maryam membawa bayinya kembali kepada kaumnya, mereka tentu saja menuduhnya berbuat keji. Dan di tengah tuduhan itu, Allah memerintahkan Maryam untuk tidak berbicara, melainkan menunjuk kepada bayinya.

Maka Maryam membawa anak itu kepada kaumnya dengan menggendongnya. Kaumnya berkata: “Hai Maryam, sesungguhnya kamu telah melakukan sesuatu yang amat mungkar.

Hai saudara perempuan Harun, bapakmu sekali-kali bukanlah seorang yang jahat dan ibumu sekali-kali bukanlah seorang pezina.”

Maka Maryam menunjuk kepada anaknya. Mereka berkata: “Bagaimana kami akan berbicara dengan anak kecil yang masih dalam buaian?”

Berkata Isa: “Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi,

dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) salat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup;

dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka.

Dan kesejahteraan atasku pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali.”

(QS. Maryam [19]: 27-33)

Inilah mukjizat yang paling menakjubkan: seorang bayi yang baru lahir berbicara, membersihkan nama ibunya, dan mengumumkan kenabiannya sendiri. Ini adalah penegasan bahwa Isa alaihis salam bukanlah hasil dari perbuatan dosa, melainkan ciptaan Allah yang luar biasa.

Isa Al-Masih: Utusan dengan Berbagai Mukjizat

Sepanjang hidupnya, Nabi Isa dianugerahi berbagai mukjizat lain yang tak kalah hebat, semuanya untuk menunjukkan kekuasaan Allah dan sebagai bukti kenabiannya.

  • Ia bisa menyembuhkan orang buta sejak lahir.
  • Ia bisa menyembuhkan orang yang berpenyakit kusta.
  • Ia bisa menghidupkan orang mati.
  • Ia bisa membentuk burung dari tanah liat dan meniupkannya sehingga menjadi burung sungguhan.
  • Ia bisa mengetahui apa yang dimakan dan disimpan orang di rumah mereka.

Semua ini terjadi bukan karena kekuatan Isa sendiri, melainkan semata-mata dengan izin dan kehendak Allah. Seperti yang Allah firmankan:

Dan (sebagai) Rasul kepada Bani Israil (dia berkata): “Sesungguhnya aku telah datang kepadamu dengan membawa sesuatu tanda (mukjizat) dari Tuhanmu, yaitu aku membuat untuk kamu dari tanah berbentuk burung, kemudian aku meniupnya, maka ia menjadi seekor burung dengan seizin Allah, dan aku menyembuhkan orang yang buta sejak lahir dan orang yang berpenyakit sopak, dan aku menghidupkan orang mati dengan seizin Allah, dan aku kabarkan kepadamu apa yang kamu makan dan apa yang kamu simpan di rumahmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu adalah suatu tanda (kebenaran kerasulanku) bagimu, jika kamu orang (yang beriman).”

(QS. Ali ‘Imran [3]: 49)

Perhatikanlah frasa “dengan seizin Allah” yang senantiasa menyertai setiap mukjizatnya. Ini adalah kunci utama untuk memahami hakikat ketauhidan. Isa hanyalah seorang hamba dan utusan Allah, yang diberi kuasa untuk menunjukkan kebesaran-Nya, bukan Dzat yang memiliki kuasa itu sendiri.

Meneguhkan Tauhid: Pelajaran dari Maryam dan Isa

Kisah Maryam dan Isa adalah manifestasi nyata dari tauhid yang murni. Apa yang bisa kita petik?

  1. Kekuasaan Allah Tidak Terbatas: Kelahiran Isa tanpa ayah menunjukkan bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Bagi-Nya, menciptakan sesuatu tanpa sebab-musabab yang lazim adalah hal yang sangat mudah. Ini mengingatkan kita pada penciptaan Nabi Adam tanpa ayah dan ibu, atau Siti Hawa dari tulang rusuk Adam.
  2. Isa Adalah Hamba Allah, Bukan Tuhan: Mukjizat-mukjizat Isa, sekalipun luar biasa, selalu ditegaskan terjadi “dengan izin Allah”. Ini adalah penolakan tegas terhadap pemahaman yang keliru yang menganggap Isa sebagai Tuhan atau anak Tuhan. Ia adalah nabi, rasul, dan hamba Allah yang mulia.
  3. Maryam Adalah Wanita Pilihan, Bukan Ibu Tuhan: Maryam adalah wanita suci yang Allah muliakan. Namun, ia tetaplah manusia biasa yang mengandung dan melahirkan. Kedudukannya sangat tinggi, tetapi ia bukan ibu dari Tuhan, sebagaimana keyakinan sebagian golongan.
  4. Keimanan Mengatasi Logika: Kisah ini mengajak kita untuk tidak hanya mengandalkan akal semata dalam memahami kehendak Allah. Ada hal-hal yang melampaui logika kita, dan di sinilah iman mengambil peran. Ketika akal kita terbatas, iman pada kebesaran Allah akan membimbing kita.

Kisah ini adalah pengingat abadi akan firman Allah dalam surat Al-Ikhlas:

Katakanlah (Muhammad): “Dialah Allah, Yang Maha Esa.

Allah tempat meminta segala sesuatu.

Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan.

Dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan Dia.”

(QS. Al-Ikhlas [112]: 1-4)

Ini adalah inti dari ajaran Islam, sebuah penegasan tauhid yang tak tergoyahkan. Setiap mukjizat, setiap keajaiban di alam semesta, sejatinya adalah tanda-tanda yang mengarahkan kita pada satu kebenaran: Allah itu Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Merajut Hikmah, Meneguhkan Iman

Kisah Maryam dan Isa alaihis salam bukan sekadar cerita masa lalu. Ia adalah cermin yang memantulkan kebesaran Allah, kekuatan iman, dan hakikat tauhid. Melalui kisah ini, kita diajak untuk melihat melampaui batasan-batasan pemahaman kita, untuk berserah diri pada kehendak Dzat yang Maha Perkasa.

Bagaimana kisah ini menginspirasi kita untuk semakin mendekat kepada Al-Qur’an, kalamullah yang memuat begitu banyak hikmah dan pelajaran? Dengan merenungkan setiap ayatnya, kita akan menemukan jawaban atas kegelisahan, petunjuk di setiap persimpangan, dan kekuatan dalam setiap ujian. Mungkin, inilah saatnya kita memberikan waktu yang lebih berkualitas untuk Al-Qur’an, agar hati kita semakin terang dan pikiran kita semakin tertata sesuai tuntunan-Nya.

Semoga Allah senantiasa membimbing kita untuk memahami dan mengamalkan ajaran-Nya, menjadikan kita hamba-hamba yang senantiasa teguh dalam tauhid.

Flyer Program Hafal Quran Executive Tahfizh di Yogyakarta

Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta

Informasi dan Pendaftaran kunjungi halaman ini
WhatsApp +6281224003100

author avatar
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.,