Setiap tetes madu ilmu yang manis senantiasa dijaga oleh sengat lebah perjuangan. Sebuah keniscayaan bahwa kemuliaan tidak pernah datang dengan harga murah, apalagi kemuliaan yang diwariskan langsung oleh para nabi. Sering kali kita mendambakan kedalaman pemahaman dan keluasan wawasan, namun berhenti di gerbang pertama saat rasa lelah atau sedikit sakit menyapa. Padahal, langkah pertama untuk meneladani kesungguhan ulama dalam menuntut ilmu adalah dengan mengubah cara pandang kita terhadap pengorbanan itu sendiri. Mereka tidak melihatnya sebagai beban, melainkan sebagai obat dan jalan penyembuhan jiwa.

Para pendahulu kita yang saleh mengajarkan bahwa sedikit rasa sakit atau demam ringan bukanlah alasan untuk berhenti dari lautan ilmu. Sebaliknya, mereka justru menjadikan aktivitas belajar sebagai terapi. Saat tubuh terasa lemah, semangat untuk memahami firman Allah dan sabda Rasul-Nya justru menjadi penyembuh yang paling mujarab. Mengapa? Karena mereka sadar betul bahwa derajat yang sedang mereka daki adalah derajat pewaris para nabi, sebuah kedudukan yang tidak mungkin dicapai sambil bersantai.

Ilmu Tidak Bersahabat dengan Kenyamanan Tubuh

Sebuah kaidah emas yang dipegang teguh oleh para pencari ilmu sejati terangkum dalam ucapan Yahya bin Abi Katsir, sebagaimana dinukil dalam Shahih Muslim, “Ilmu tidak akan pernah bisa diraih dengan mengistirahatkan badan.” Kalimat singkat ini adalah sebuah tamparan lembut bagi jiwa-jiwa yang mudah menyerah pada kantuk, lapar, atau sekadar rasa malas. Ia menegaskan bahwa ada harga yang harus dibayar untuk sebuah pemahaman yang mendalam.

Perjuangan ini bahkan diabadikan sebagai jalan menuju surga itu sendiri, sebagaimana dalam sebuah hadits disebutkan bahwa surga itu dikelilingi oleh hal-hal yang tidak disukai hawa nafsu (al-makarih). Artinya, jalan menuju ke sana pastilah menanjak dan penuh tantangan. Maka, wajar jika jalan menuju ilmu—yang merupakan salah satu jalan pintas ke surga—juga dihiasi dengan pengorbanan serupa. Sebuah syair Arab kuno melukiskan hakikat ini dengan indah:

تُرِيدِينَ إِدْرَاكَ الْمَعَالِي رَخِيصَةً … وَلَا بُدَّ دُونَ الشَّهْدِ مِنْ إِبَرِ النَّحْلِ

“Engkau ingin meraih kemuliaan dengan harga yang murah? Padahal, untuk mendapatkan madu, engkau pasti akan merasakan sengatan lebah.”

Syair ini mengingatkan kita bahwa manisnya pemahaman (madu) tidak akan pernah kita reguk tanpa keberanian menghadapi proses belajar yang terkadang menyakitkan (sengatan lebah). Inilah fondasi utama dalam meneladani kesungguhan ulama dalam menuntut ilmu.

Meneladani Kesungguhan Ulama dalam Menuntut Ilmu: Sebuah Keniscayaan

Allah SWT sendiri telah menjanjikan kedudukan istimewa bagi mereka yang berilmu. Janji ini bukan sekadar pemanis, melainkan sebuah motivasi agung agar kita mengerahkan segenap daya dan upaya untuk meraihnya.

يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍۗ

“…Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat…” (Q.S. Al-Mujadilah: 11).

Ayat ini menjadi bahan bakar semangat bagi para ulama. Mereka tidak lagi melihat pengorbanan sebagai kehilangan, melainkan sebagai investasi untuk meraih derajat mulia di sisi Allah. Perjuangan mereka bukanlah tanpa arah, melainkan sebuah perjalanan yang dipenuhi keyakinan akan janji-Nya.

Kemuliaan Sebanding dengan Kesabaran

Imam Asy-Syafi’i rahimahullah, seorang lautan ilmu, memberikan nasihat abadi bagi kita semua. Beliau menegaskan bahwa hak bagi para penuntut ilmu adalah mengerahkan puncak kesungguhan mereka, bersabar atas segala rintangan yang datang, mengikhlaskan niat hanya untuk Allah, dan senantiasa memohon pertolongan-Nya. Nasehat ini adalah peta jalan yang lengkap.

Lihatlah bagaimana para bijak bestari melukiskan perjuangan ini dalam sebuah syair lain yang sangat populer:

لَا تَحْسَبِ الْمَجْدَ تَمْرًا أَنْتَ آكِلُهُ … لَا تَبْلُغُ الْمَجْدَ حَتَّى تَلْعَقَ الصَّبِرَا

“Jangan kau kira kemuliaan itu seperti kurma yang bisa langsung kau makan. Engkau tidak akan mencapai kemuliaan itu sampai engkau menjilat ash-shabir (getah pohon yang sangat pahit).”

Metafora ini begitu kuat. Kemuliaan ilmu bukanlah hidangan manis yang tersaji di meja, melainkan buah yang baru bisa dipetik setelah kita berani merasakan pahitnya kesabaran, pahitnya menahan kantuk, dan pahitnya melawan kebodohan dalam diri.

Pelajaran dari Imam Asy-Syafi’i: Kunci Meneladani Kesungguhan Ulama dalam Menuntut Ilmu

Meskipun semangat harus menyala-nyala, Islam mengajarkan keseimbangan. Kisah Imam Asy-Syafi’i yang dituturkan oleh muridnya, Ar-Rabi’, memberikan kita pelajaran berharga. Dikisahkan bahwa sang Imam hampir tidak pernah terlihat makan di siang hari atau tidur di malam hari karena sibuk menulis dan belajar. Sebuah totalitas yang luar biasa.

Namun, ada catatan penting di akhir kisah tersebut: Imam Asy-Syafi’i tidak pernah membebani dirinya di luar batas kemampuannya. Beliau tahu persis kapan harus sedikit mengendurkan tali perjuangannya agar jiwa tidak jenuh dan lari. Sebab, meneladani kesungguhan ulama dalam menuntut ilmu bukan berarti menghancurkan diri, melainkan mengelola energi secara bijak untuk perjalanan jangka panjang. Setiap kita adalah dokter terbaik bagi diri sendiri; kita yang paling tahu kapan harus memacu dan kapan harus beristirahat sejenak untuk memulihkan tenaga.

Pada akhirnya, perjalanan menuntut ilmu adalah maraton, bukan sprint. Ia membutuhkan totalitas, pengorbanan, dan kesabaran yang pahit, namun juga membutuhkan kearifan untuk mengenali batas diri. Dengan memadukan semangat membara para ulama dan kebijaksanaan dalam mengelola energi, kita bisa terus melangkah di jalan mulia ini, setahap demi setahap, hingga Allah berkenan mengangkat derajat kita dan menganugerahkan manisnya madu ilmu.

Perjalanan ini memang menantang, namun hasilnya abadi. Bagi Anda yang mendamba bimbingan dan lingkungan yang kondusif dalam perjalanan mulia menghafal Al-Qur’an, Qur’an Learning Center Yogyakarta hadir untuk mendampingi langkah Anda. Mari bersama-sama merasakan manisnya ilmu setelah berani menghadapi sengat lebah perjuangan.

Daftar Referensi

  • Al-Qur’an, Surah Al-Mujadilah: 11.
  • Al-Husain bin Al-Mansur Billah Al-Yamani. Ādāb al-‘Ulamā’ wa al-Muta’allimīn. Mengutip riwayat dari Yahya bin Abi Katsir yang terdapat dalam Shahih Muslim.

Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta

Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
kunjungi halaman ini
WhatsApp +6281224003100

Flyer Program Hafal Quran Executive Tahfizh di Yogyakarta
author avatar
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.,Kepala QLC Yogyakarta
Tokoh pendidikan Al-Qur'an di Indonesia yang dikenal sebagai Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an (dikembangkan sejak 2007). Ia merupakan pelopor gerakan akselerasi karantina tahfizh tingkat nasional yang telah berkiprah sejak 2014. Saat ini, beliau mengaplikasikan pengalamannya sebagai Pengasuh di Executive Tahfizh QLC-BMM Yogyakarta (mulai 2025) yang menjadi destinasi para penghafal dari dalam dan luar negeri