Dalam riwayat yang mulia, kita menjumpai sebuah petuah luhur dari Nabi ﷺ yang menggugah hati dan pikiran. Beliau bersabda: «مَا أَنْفَقَ عَبْدٌ مِنْ نَفَقَةٍ أَفْضَلُ مِنْ نَفَقَةٍ فِي قَوْلٍ». Sebuah penuturan yang singkat, namun mengandung kedalaman makna yang luar biasa. Para ulama salaf, seperti Abu Ubaid, telah memberikan tafsiran yang menjelaskan bahwa Nabi ﷺ bermaksud menjadikan perkataan itu sendiri sebagai sebuah nafkah. Ini bukan sekadar analogi, melainkan sebuah penetapan nilai yang agung pada setiap untaian kata yang terucap dari lisan kita. Oleh karena itu, memahami dan Mengelola Perkataan sebagai Nafkah Terbaik dalam Islam adalah sebuah keharusan, bukan pilihan semata.

Kisah tentang Syuraih yang mendengar seseorang berbicara lantas menasihatinya, “Amlik ‘alaika nafaqataka, atau amsik ‘alaika nafaqataka,” yang berarti “Kuasailah nafkahmu (perkataanmu),” atau “Tahanlah nafkahmu (perkataanmu),” semakin menegaskan betapa berharganya setiap kata. Sebagaimana kita berhati-hati dalam menginvestasikan harta benda, demikian pula semestinya kita menjaga dan memilih setiap ucapan. Lisan adalah anugerah sekaligus amanah yang harus dipertanggungjawabkan. Setiap kata yang keluar memiliki potensi untuk membangun atau meruntuhkan, mendekatkan pada kebaikan atau menjerumuskan pada keburukan.

Perkataan: Investasi Abadi yang Menentukan

Mengapa perkataan diibaratkan nafkah? Karena nafkah adalah sesuatu yang dikeluarkan dengan harapan mendapatkan balasan atau manfaat. Ketika kita menafkahkan harta, kita berharap ia kembali dalam bentuk keberkahan, pahala, atau manfaat duniawi. Demikian pula dengan perkataan. Setiap kata yang kita ucapkan adalah ‘investasi’ yang akan kembali kepada kita dalam wujud tertentu. Perkataan yang baik akan mendatangkan kebaikan, pahala, dan simpati. Sebaliknya, perkataan buruk akan mengundang dosa, permusuhan, dan penyesalan. Ini adalah bentuk investasi yang dampaknya bisa lintas dunia dan akhirat, kekal abadi.

Konsep ini mengajak kita untuk menyadari bahwa lisan bukanlah sekadar alat komunikasi biasa, melainkan sebuah instrumen kuat yang membentuk realitas. Dengan perkataan, kita bisa menyebarkan ilmu, menguatkan iman, menghibur yang sedih, atau bahkan memicu perpecahan dan permusuhan. Maka, sungguh relevan jika Rasulullah ﷺ menyebutnya sebagai nafkah terbaik, sebab pahala dari perkataan yang benar dan bermanfaat bisa terus mengalir bahkan setelah kita tiada, menjadi sedekah jariyah dalam bentuk ilmu yang diajarkan, nasihat yang disampaikan, atau motivasi yang menginspirasi.

Urgensi Mengelola Perkataan sebagai Nafkah Terbaik dalam Islam

Memiliki kesadaran bahwa lisan adalah nafkah menuntut kita untuk berhati-hati. Layaknya seorang bendahara yang cermat menghitung setiap pengeluaran, kita harus cermat memilih setiap kata. Berapa banyak masalah yang bermula dari lisan yang tidak terjaga? Berapa banyak hubungan yang rusak karena kata-kata yang tajam? Dan sebaliknya, berapa banyak hati yang terpaut, persaudaraan yang terjalin, serta kebaikan yang tersebar karena lisan yang lembut dan bijaksana?

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar.” (Q.S. Al-Ahzab: 70)

Ayat ini adalah perintah langsung untuk bertakwa kepada Allah, dan salah satu manifestasi ketakwaan itu adalah dengan mengucapkan perkataan yang benar dan lurus (qaulan sadidan). Perkataan yang benar berarti perkataan yang sesuai dengan kebenaran, tidak mengandung dusta, fitnah, atau kebatilan. Ini sejalan dengan konsep Mengelola Perkataan sebagai Nafkah Terbaik dalam Islam, di mana setiap ucapan harus bernilai kebaikan dan kebenaran.

Praktik Nyata Perkataan Sebagai Nafkah

Bagaimana kita bisa menerapkan prinsip Mengelola Perkataan sebagai Nafkah Terbaik dalam Islam dalam kehidupan sehari-hari? Pertama, biasakanlah berkata yang baik atau diam. Ini adalah kaidah dasar yang sering dilupakan. Setiap kali kita hendak berbicara, tanyakan pada diri sendiri: Apakah perkataan ini bermanfaat? Apakah ia akan menyenangkan Allah? Jika tidak, maka lebih baik menahan diri.

Kedua, jadikan perkataan kita sebagai sarana dakwah dan penyebar kebaikan. Mengajarkan Al-Qur’an, menyampaikan nasihat yang membangun, atau memberikan motivasi kepada sesama adalah bentuk-bentuk nafkah perkataan yang sangat mulia. Kita bisa menafkahkan perkataan kita untuk mengajak orang lain kepada jalan kebaikan, sebagaimana para guru Al-Qur’an menafkahkan ilmu mereka demi generasi penghafal Qur’an.

Ketiga, hindari perkataan yang sia-sia, ghibah, namimah, atau dusta. Ini adalah bentuk-bentuk ‘pemborosan’ nafkah yang akan merugikan kita di dunia dan akhirat. Ingatlah bahwa setiap perkataan kita dicatat, sebagaimana firman Allah:

مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

“Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (Q.S. Qaf: 18)

Ayat ini menjadi pengingat kuat bahwa lisan kita selalu dalam pengawasan. Setiap “nafkah” perkataan kita tercatat dan akan dipertanggungjawabkan. Oleh karena itu, mari kita senantiasa muhasabah, mengevaluasi setiap kata yang hendak terucap.

Hikmah dari Salafus Shalih

Nasihat Syuraih, “Kuasailah nafkahmu,” adalah cerminan kebijaksanaan para salafus shalih. Mereka memahami betul kekuatan dan bahaya lisan. Mereka lebih memilih diam jika tidak ada kebaikan dalam perkataan, karena mereka sadar bahwa setiap kata adalah tanggung jawab. Mereka mengajarkan kita untuk tidak gegabah dalam berbicara, melainkan menimbang setiap kata dengan cermat. Perkataan yang terucap tidak bisa ditarik kembali, seperti anak panah yang melesat dari busurnya. Maka, bijaksanalah dalam menafkahkan kata-kata kita.

Kesimpulannya, hadits Nabi ﷺ tentang perkataan sebagai nafkah terbaik adalah sebuah seruan untuk merevolusi cara pandang kita terhadap lisan. Ini bukan sekadar ajakan untuk berbicara baik, melainkan sebuah fondasi untuk membentuk pribadi yang berintegritas, yang memahami bahwa setiap kata memiliki nilai, bobot, dan konsekuensi. Mari kita jadikan setiap ucapan sebagai sedekah, sebagai investasi kebaikan yang terus mengalirkan pahala, bukan sebaliknya.

Jika Anda rindu untuk mendalami Al-Qur’an, menata lisan dengan kalamullah, dan membentuk karakter Qur’ani yang berlandaskan pemahaman mendalam, Qur’an Learning Center Yogyakarta siap menjadi teman perjalanan Anda. Bergabunglah dengan kami dan rasakan indahnya Mengelola Perkataan sebagai Nafkah Terbaik dalam Islam melalui bimbingan Al-Qur’an.

Daftar Referensi

  • Kitab Fadha’il Al-Qur’an karya Abu Ubaid, Bab Hamil Al-Qur’an wa ma yajibu ‘alaihi an ya’khudza bihi min Adab Al-Qur’an, halaman 115. Diakses dari sumber di Perpustakaan Islam Shamela
  • Q.S. Al-Ahzab: 70
  • Q.S. Qaf: 18

—-

Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.
Founder Metode Yadain Litahfizhil Qur’an
Kepala Qur’an Learning Center Yogyakarta

Informasi dan Pendaftaran Executive Tahfizh:
kunjungi halaman ini
WhatsApp +6281224003100

Flyer Program Hafal Quran Executive Tahfizh di Yogyakarta
author avatar
Ustadz Yadi Iryadi, S.Pd.,